
“Tadi umi membawa kemana foto abang dan Aqila?” tanya Iqbal.
“Umi simpan fotonya, emang kenapa?” tanya balik umi Fatimah.
“Kenapa umi simpan fotonya?” Iqbal kembali bertanya.
“Gak papa, apa kamu gak sadar dengan Syifa, dia ketika melihat foto-fotonya cemburu, umi tau kamu menyukai Syifa dan begitu juga sebaliknya, jadi umi gak mau membuat nak Syifa sedih” ucap umi Fatimah tersenyum tipis.
“Lagian itu hanya foto kenang-kenangan denganmu dan Qila” lanjutnya yang membuat Iqbal terdiam.
Aqila terdiam mendengarnya, matanya sudah memanas dan dia juga dapat melihat Iqbal yang hanya diam ketika umi berkata seperti itu.
‘Kenapa umi bicara seperti itu’ batin Aqila sedih.
“Oh iya bang, kapan kamu akan mengkhitbah Syifa umi udah gak sabar” ucap umi Fatimah.
Aqila yang mendengarnya lagi-lagi terdiam, dia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi, ‘Maksud umi apa? Abang mau mengkhitbah ka Syifa?’ batin Aqila air matanya sudah membasahi wajahnya yang sudah memerah.
“Secepatnya” jawab Iqbal tersenyum tipis.
Lagi-lagi perkataan Iqbal membuatnya lemas, kaki Aqila sangat lah lemas ketika melihat senyuman yang terukir di wajah Iqbal dan umi Fatimah.
Sedih? Sudah pasti, bagaimana tidak sedih lelaki yang sangat di cintainya akan mengkhitbah wanita lain.
Aqila segera menghapus air matanya secara kasar, walau pun sulit untuk tidak menangis tapi sebisa mungkin dia tidak menangis ketika di hadapan umi Fatimah dan Iqbal.
“Hmmm u-umi... Qila pulang duluan ya” ucap Aqila gugup karena dia takut mengeluarkan isak tangisnya.
“Ya udah makasih ya Qi, udah mau umi repotkan” ucap umi Fatimah tersenyum.
Aqila hanya tersenyum paksa dan mengangguk, “Kalau begitu Qila pamit, assalamualaikum” Qila menyalimi tangan umi Fatimah lalu segera pergi, sebelum benar-benar pergi Aqila sempat melirik Iqbal yang terus menatapnya.
’Qila kenapa? Apa dia habis nangis? Kenapa matanya merah?’ batin Iqbal bertanya-tanya ketika melihat mata Aqila yang merah.
‘Kenapa aku sedih’ Iqbal melihat Aqila yang berlari kedalam rumahnya.
“Bang kenapa diam aja, hayu masuk” ucap umi Fatimah dan berlalu masuk ke dalam rumah.
“Iya umi” Iqbal mengikuti uminya masuk ke dalam.
***
“Qila kamu kenapa? Ko nangis?” tanya bunda Asih melihat anak gadisnya yang datang-datang dengan berderai air mata.
Aqila tidak menjawab melainkan berlari ke kamarnya, bunda Asih yang melihatnya bingung dan menyusul anaknya.
Tok... Tok... Tok
“Sayang apa bunda boleh masuk?” tanya bunda Asih mengetuk pintu kamar Aqila.
“Maaf bun, Qila cape mau istirahat” sautnya dari dalam kamar.
Bunda Asih sebenarnya gak percaya dengan anaknya yang mau langsung istirahat, pasalnya tadi suara Aqila serak seperti sedang menangis.
“Ya sudah kalau begitu, istirahat yang banyak ya nak” bunda Asih segera pergi dari depan pintu kamar Aqila.
Sedangkan Aqila di dalam kamarnya menangis tanpa suara, kalian tau kan ketika menangis tanpa suara sakitnya kaya gimana? Is another level of pain.
“Hiks... Abang jahat sama Qila... Hiks... Abang gak nepatin janji abang”
“Qila benci abang... Hiks”
“A-abang....”
__ADS_1
“Hiksss.... Ya Tuhan kenapa seperti ini, kenapa sesakit ini rasanya”
Aqila terus menangis dengan memukul dadanya yang sakit, sangat sakit seperti di tusuk ribuan belati.
“Hiks... Ayah...”
Sudah cukup lama Aqila menangis hingga dia lelah dan tertidur dengan mata sembabnya.
Sedangkan di sisi lain Iqbal berdiri di luar balkon, dia terus saja melihat ke arah kamar Aqila yang tertutup, biasanya gadis itu selalu membuka pintu balkon untuk melihat wajahnya, tapi kenapa sekarang tidak ada.
“Kemana Qila?” gumam Iqbal bertanya.
“Qi... Ya Tuhan perasaan apa ini, kenapa rasanya sakit” Iqbal memegang dadanya yang merasakan sakit.
“Qi ada apa denganmu?”
Entah kenapa dia tiba-tida memikirkan Aqila terus, “Kenapa denganku?” Iqbal terus saja menatap balkon kamar Aqila, bahkan lampu kamarnya saja tidak nyala biasanya gadis itu mau siang mau malam, atau apa pun itu selalu menyalakan lampu kamarnya jika dia sedang di kamar, karena Aqila takut dengan kegelapan.
***
Pagi harinya Aqila sudah siap dengan seragam sekolahnya, dengan keadaan yang lebih segar dari sebelumnya.
“Selamat pagi ayah, bunda” sapa Aqila sembari menuruni tangga.
“Pagi juga anak ayah, sini nak sarapan dulu sebelum berangkat” ucap ayah Fikri tersenyum.
“Iya yah, hmm wanginya enak nih, bunda masak apa?” tanya Aqila ketika mencium bau yang sangat menyengat enaknya.
“Bunda masak kesukaan kamu, ayam kecap” jawab bunda Asih sembari meletakkan sajiannya di atas meja.
“Wah enak nih, pasti makan banyak” ucap Aqila sumringah dan segera mengambil nasi.
“Enak-enak juga jangan lupa baca do'a dek” saut ayah Fikri menggelengkan kepalanya.
“Heumm ini eunak pol bun” ucap Aqila dengan mulut yang penuh dengan nasi.
“Makannya jangan sambil ngomong nantinya kesedak” peringat bunda Asih menatap sang anak.
“Hehe iya bun maaf” Aqila pun melanjutkan makannya.
Dan mereka sarapan tanpa ada yang mengeluarkan sauara lagi, dan hanya dentingan sendok yang terdengar.
Setelah sarapan Aqila segera pamit untuk berangkat sekolah, “Bunda, ayah, Qila berangkat dulu” ucap Aqila sembari menenteng tasnya.
”Iya nak hati-hati” ucap bunda tersenyum.
“Assalamualaikum” salam Aqila.
“Waalaikummussalam” jawab ayah dan bunda bersamaan.
Setelah salim, Aqila segera keluar rumah, dan betapa kagetnya dia ketika ada sebuah mobil yang tak asing di matanya.
“Aihh, ini bukan mobilnya...” ucap Aqila menggantung.
“Aqila” panggil seseorang dari dalam mobil, orang itu tersenyum kepadanya.
“Abang, ngapain abang di sini?” tanya Aqila mendekat.
“Pengen anter Qila sekolah, yu naik” jawab Iqbal tersenyum.
Ahh rasanya Aqila ingin teriak melihat senyumannya yang sangat manis, senyuman yang sama seperti 8 tahun yang lalu, kini dia melihatnya lagi, OMG!!!
“Ahh m-maksud abang apa?” tanya Aqila gugup ketika di senyumin Iqbal.
__ADS_1
“Ya maksud abang, abang akan mengantar Qila sampai sekolah, ayo naik nanti keburu telat” ucap Iqbal kembali tersenyum yang membuat Aqila salting hingga Aqila sadar pipinya memerah, sedangkan Iqbal yang melihatnya terkekeh pelan.
‘Abang Iqbal kesambet apa ya semalem, ko jadi berubah, ke sambet tokek lewat kali ya’ batin Aqila bingung.
“Kenapa hanya diam, ayo naik” lanjut Iqbal membuyarkan lamunan Aqila.
“Ahh i-iya” Aqila segera naik kemobil Iqbal dan dia duduk di depan.
“Sudah siap?” tanya Iqbal menoleh ke arah Aqila, sedangkan Aqila hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
“Baiklah, bismillah” Iqbal segera melajukan mobilnya pergi menuju sekolah Aqila.
***
Selama perjalanan hanya ada keheningan saja, karena jujur saja mereka berdua sangat canggung.
“Hmm abang, habis ini mau kemana?” tanya Aqila menoleh ke arah Iqbal.
“Gak tau, mungkin mau cari inspirasi aja” jawabnya tanpa menoleh dan fokus menyetir.
“Hah Inspirasi?” tanya Aqila mengerutkan keningnya.
“Iya, abangkan sudah lulus kuliah, jadi abang mau kerja di sini saja, tapi abang gak mau kerja kantoran, abang mau berdagang saja seperti abi” jelas Iqbal tersenyum melirik sekilas ke arah Aqila.
Aqila tersenyum dan menganggukan kepalanya paham, “Ohhh, abang mau dagang apa?” tanya Aqila lagi.
“Itu rahasia, nanti Aqila juga tau, abang juga belum menemukan tempat yang bagus untuk berdagang jadi abang tidak akan mengasi tau dulu” jawabnya.
“Ihh abang nih, main rahasia-rahasian segala sama Qila” ucap kesal Aqila bersedekap dada.
“Oh ya bang tadi abang bilang tempat yang bagus untuk dagang? Qila tau tempat yang strategis untuk dagang” ucap Aqila tersenyum.
”Benarkah, dimana?” tanyanya.
“Di taman kota, di situ tempatnya adem gak panas tapi strategis karena banyak yang berkunjung ke taman kota, udah mah rukonya nyaman bersih dan juga murah” ucap Aqila terkekeh.
“Wah sepertinya enak tampatnya, Qila nanti anter abang untuk melihatnya ya?” ucap Iqbal tersenyum.
“Heem boleh, nanti pulang sekolah atau kapan bang?” tanya Aqila tersenyum senang.
“Pulang sekolah boleh, nanti abang jemput Qila” jawabnya dan memberhentikan mobilnya karena sudah sampai hingga di depan gerbang sekolah.
“Nah sudah sampai” ucap Iqbal tersenyum tipis.
“Alhamdulillah, ya sudah bang Qila masuk sekolah dulu, abang inget ya pulang sekolah lho” ucap Aqila mengingatkan kembali.
“Iya, abang janji” ucapnya tersenyum.
”Bener ya bang”
“Iya, ya sudah belajar yang bener jangan nyontek” Iqbal menatap Aqila.
“Iya bang, tenang aja Queenza Aqila gak pernah nyontek walaupun sekarang ujiannya matematika, kan udah di ajarin sama abang jadi pasti Qila bisa” ucap Aqila tersenyum bangga.
“Hehe iya, jangan nakal di sekolahnya” saut Iqbal terkekeh.
“Iya bang siap, ya sudah Qila berangkat dulu ya bye-bye calon suami selalu kangen Qila ya” setelah mengatakan itu Aqila segera pergi masuk ke sekolahnya.
Sedangkan Iqbal terdiam ketika Aqila berkata seperti itu, “Maafkan abang Qi” gumam Iqbal menatap punggung Aqila yang mulai menjauh, setelah itu dia segera menancapkan gasnya meninggalkan sekolah Aqila.
**To Be Continue....
***
__ADS_1
Terimaksih udah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**....