Takdir Untuk Aqila

Takdir Untuk Aqila
Festival


__ADS_3

Setelah hari di mana Aqila di panggil dia selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik lagi walaupun masih banyak cibiran yang dia terima tapi dia tidak memperdulikannya dan lebih fokus lagi kepada study nya, agar dia bisa segera pulang ke Negaranya sendiri.


Dan hubungan antara Fauzan dan Juna pun lebih baik dari sebelumnya karena Fauzan yang selalu mendekati Aqila dan Juna hanya mengikutinya, kalau hubungan antara Fira masih sama, tidak baik-baik saja.


“Qilaa nanti malam mau ada festival, lo mau ikut gak?” tanya Fauzan lewat sambungan telepon.


“Di mana?” tanya Aqila.


“Di dekat mall” jawabnya.


“Boleh” saut Aqila mengangguk walaupun tidak di lihat Fauzan.


“Oke nanti gue jemput ya, tenang aja sama Juna ko tidak berdua” ucap Fauzan.


“Iya” saut Aqila.


“Ya udah nanti habis isya gue jemput, lo harus udah siap awas aja kalau belum siap, gue tinggal” ucap Fauzan.


“Iya, dah assalamualaikum” salam Aqila dan langsung mematikannya sepihak.


***


Malam harinya sesuai ucapannya Fauzan akan menjemput Aqila, dan kini mobilnya sudah ada di depan hotel.


“Qilaa cepat, lama banget jalannya” teriak Fazuan.


Aqila hanya berdecak sebal saja dan langsung masuk kedalam mobil, “Udah” ucap Aqila ketika sudah duduk di belakang.


“Oke, bismillah” mobil pun melesat pergi.


Selama perjalanan hanya ada kehenigan di anatar mereka, “Zan kenapa lo gak ngajak Fira juga?” tanya Juna tiba-tiba.


“Gak papa, emang kenapa?” tanya balik Fauzan.


“Ya kasihan aja, dia gak suka di ajak” jawab Juna.


“Kasihan atau perduli?” tanya Fauzan melirik sekilas Juna.


“Kasihan” jawab Juna cepat.


“Jun, gue lihat-lihat kayaknya lo suka deh sama Fira” ucap Fauzan.


“Apaan sih ya gak lah, Fira itu sahabat gue dari kecil, mana mungkin gue suka sama dia” bantah Juna, tapi Aqila bisa melihat raut wajahnya yang beda dari sebelumnya.


“Yakin sahabat doang gak lebih gitu?” tanya Fauzan yang membuat Juna terdiam.


“Udah fokus aja nyetir jangan banyak tanya” saut Juna kesal, sedangkan Fauzan terkekeh pelan.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan akhirnya mereka sudah sampai di tempat tujuan, mereka segera turun setelah Fauzan memarkirkan mobilnya.


“Emang festival apa sih?” tanya Aqila.


“Udah lihat aja, lo pasti suka” jawab Fauzan dan jalan mendahuluinya.


“Banyak juga yang lihatnya” ucap Fauzan menatap sekelilingnya yang begitu banyak pengunjung, tidak seperti hari biasa-biasanya.


“Cepet kita beli tiketnya nanti kehabisan” lanjut Fauzan.


“Iya, sabar” saut Juna.


Lalu mereka pun membeli tiketnya, “Mas, beli tiketnya 3” ucap Fauzan kepada mas-mas kasirnya.


Mas-masnya tidak banyak bicara dan langsung saja memberikan tiketnya kepada Fauzan dan Fauzan pun membayarnya, “Makasih ya mas” ucap Fauzan dan di angguki oleh mas-masnya.


“Nih satu orang satu” Fauzan memberikan tiket kepada Juna dan Aqila.


“Ahhh ibu, mau nonton festivalnya”


Aqila menoleh ke arah anak kecil yang merengek kepada ibunya, “Tapi tikenya habis sayang” ucap ibunya kepada anaknya.


“Huwaaa mau nonton” anak kecil itu mulai menangis sembari menari baju ibunya.


“Mau nonton mau nonton” rengeknya.


“Kita lihat yang lain aja ya, tiketnya sudah habis” bujuk sang ibu kepada anaknya yang terus menangis.


“Gak mau, festival ini cuman ada setahun sekali, kalau sekarang gak nonton gak akan ada lagi dan harus nunggu tahun depan, gak mau... mau nonton” rengeknya terus.


Aqila yang melihatnya merasa tak tega dan menghampiri mereka berdua, “Assalamualaikum” salam Aqila.

__ADS_1


“Waalaikummussalam” jawabnya.


“Kenapa adeknya nangis?” tanya Aqila basa-basi.


“Mau nonton tapi kehabisan tiket” jawab sang ibu.


“Oh iya, ini kaka punya satu tiket, buat adek aja” ucap Aqila memberikan tiketnya.


“Tapikan kamu juga mau nonton nak” ucap sang ibu.


“Iya, gak papa ambil aja, kaka udah sering nonton festival” saut Aqila tersenyum ramah.


“Horeeee, nonoton festival” soraknya bahagia, Aqila yang melihatnya juga ikut bahagia.


“Tapi-”


“Gak papa bu” potong Aqila cepat dengan tersenyum.


“Makasih ya nak” ucap sang ibu tersenyum.


“Iya sama-sama bu” saut Aqila.


“Aqila” panggil Fauzan yang membuat wanita beda generasi itu menoleh.


“Iya” saut Aqila.


Fauzan tersenyum dan menghampiri mereka, “Ini buat ibunya, biar menjaga anaknya ketika sedang melihat festivalnya” saut Fauzan memberikan tiketnya kepada sang ibu.


“Gak usah nak, gak papa” tolak sang ibu.


“Gak papa bu, ambil aja kasihan kalau anaknya nonton sendiri” kekeh Fauzan.


“Ibu... Ayo itu sudah mau mulai” saut anak kecil mearik baju ibunya.


“Iya nak sebentar” sautnya.


“udah bu ambil aja, saya gak mau kalau nonton gak bareng sama masa depan saya” ucap Fauzan tersenyum sembari menatap Aqila.


“Tapi nak...” ucapannya tergantung.


“Ibu ayooo” rengek anaknya.


“Iya bu, aamiin” saut Aqila mengaminkan.


“Mari, assalamualaikum” salamnya sebelum masuk ke area festival.


“Waalaikummussalam” jawab Fauzan dan Aqila.


“Kenapa lo ngasih tiket punya lo?” tanya Aqila menatap Fauzan.


“Terus kenapa lo ngasih tiket lo juga?” tanya balik Fauzan menaiki satu alisnya.


“Kasihan sama anaknya” jawab Aqila lalu meninggalkan area sekitar festival.


“Gue juga kasihan sama ibunya” kekeh Fauzan mengikuti Aqila.


“Ehh Juna mana?” tanya Aqila.


“Lah iya mana tuh anak” Fauzan pun sadar kalau teman satunya itu tidak ada.


“Woii, lo ninggalin gue” teriak Juna dari arah belakang.


Mereka menoleh ke belakang dan melihat Juna yang jalan menghampiri mereka, “Kemana aja lo?” tanya Fauzan ketika Juna sudah ada di hadapannya.


“Kalian yang habis dari mana? Dari tadi gue nyariin kalian berdua tau” ucap Juna kesal.


“Ya maaf, kita mah gak jauh-jauh habis dari situ” ucap Fauzan sembari menunjuk tempat yang tadi.


“Terus kenapa gak pada masuk, kan udah mulai” ucap Juna menatap gerbang area festival yang sudah di tutup.


“Lah lo kenapa gak masuk?” tanya balik Fauzan.


“Ya gue nunggu kalian lah, masa gue sendiri” jawab Juna.


“Kita gak masuk” saut Aqila.


“Kenapa?” tanya Juna.


“Gak ada tiket” jawab Aqila.

__ADS_1


“Lah bukannya tadi beli 3 ya?” tanya Juna mengerutkan keningnya.


“Iya tapi kita kasih ke seorang ibu-ibu dan anaknya” jawab Fauzan.


“Kenapa ko di kasih?” tanya lagi Juna.


“Kasihan anaknya nangis kehabisan tiket jadi Aqila kasih tiket miliknya dan gue kasih tiket ke ibunya” jawab Fauzan dan di angguki Aqila.


“Ohh, terus gue gimana?” tanya Juna menunjuk dirinya.


“Gimana apanya?” tanya balik Aqila.


“Tiket gue” jawab Juna.


“Ya masuk aja, masih bisa ko” ucap Aqila.


“Gak ahh, masa sendiri sih gak seru” ucap Juna lalu membuang tiketnya.


“Ya udah lebih baik kita cari makanan aja” saut Fauzan.


“Setuju” sorak Aqila.


“Ayo” ucap Juna.


Lalu mereka mencari makanan yang berada di sekitar situ, walaupun tidak jadi lihat festivalnya yang penting jadi makannya, hehe.


“Kita makan empal gentong khas Cirebon-Indonesia aja” ucap Aqila sembari menunjuk warung yang tak terlalu jauh dari meraka berdiri.


“Boleh” saut Fauzan.


Dan mereka pun masuk kedalam warung yang ternyata banyak pembelinya juga, dan mereka mencari tempat duduk yang kosong dan, mendapatkan di paling ujung, gak papalah yang penting bisa duduk.


“Ibuu, pesan tiga ya” teriak Fauzan.


“Iya mas, siap” jawabnya.


“Ohh iya bulan depan mau ada perlombaan lagi, lo mau ikut?” tanya Juna kepada Aqila.


“Ikutlah” jawab Aqila.


“Iya Qila harus ikut” saut Fauzan tersenyum dan Juna mengangguk.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang, “Silahkan di nikmati” ucap sang ibu pedagang.


“Iya bu, makasih” saut Aqila tersenyum ramah.


“Iya sama-sama, eh kalian dari Indonesia?” tanya sang ibu menatap mereka bertiga.


“Iya bu” jawab Fauzan.


“Ohh pantes saja, ibu juga dari Indonesia lebih tepatnya dari kota Cirebon” ucap sang ibu tersenyum.


“Iya bu” saut Juna tersenyum dan mengangguk.


“Ya sudah di makan ya” ucap sang ibu lalu segera pergi.


Mereka lalu memakan makanannya tanpa ada yang bersuara satu sama lain, hingga Juna tiba-tiba berdiri yang membuat Aqila dan Fauzan kaget.


“Juna kenapa sih? Ngagetin aja” ucap Fauzan kesal.


“Ehh gak papa maaf, gue ke air dulu ya” ucap Juna dan segera pergi.


Mereka berdua menatap kepergian Juna yang sepertinya sedang buru-buru, “Udah makan lagi Qi” saut Fauzan.


“Iya” Aqila memakan lagi makanannya tapi tatapan matanya terus mengikuti arah Juna pergi pasalnya Juna tidak pergi ke toilet yang berada di situ melainkan ke arah lain yang lebih tepatnya di belakang warung.


‘Kemana Juna pergi?’ batin Aqila bertanya.


‘Kenapa perginya gak ke arah toilet?’ Aqila terus saja membatin.


‘Ahh entahlah’ Aqila kembali fokus ke makanannya lagi.


**To Be Continued...


***


Kira-kira Juna kenapa ya? Kalau kalian penasaran capcus langsung aja ikuti terus kelanjutan ceritanya...


Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya**...

__ADS_1


__ADS_2