
Sudah hampir setengah tahun Aqila berada di kota orang, Kairo. Dan selama itu dia tidak terlalu memikirkan Iqbal, dia hanya fokus belajar, belajar, dan belajar agar bisa mendapatkan prestasi dan nilai terbaik dari yang terbaik.
Seperti saat ini Aqila mengikuti perlombaan dan alhamdulillah mendapatkan juara 1, “Aqila kami bangga padamu nak, kamu bukan hanya cantik tapi juga pintar, pasti orang tuamu bangga padamu” ucap dosen pembimbing Aqila menggunakan Bahasa Arab, panggila saja Mr. Agam.
“Alhamdulillah Mr, ini juga berkat anda dan do’an anda” saut Aqila tersenyum.
“Pertahankan prestasimu nak” ucapnya tersenyum.
“Siap Mr, makasih” saut Aqila.
“Kalau begitu kamu istirahat karena besok masih ada satu perlombaan lagi” peringatnya.
“Siap Mr, kalau begitu saya permisi dulu Mr, assalamualaikum” salam Aqila lalu pergi dari hadapan Mr. Agam.
“Waalaikummussalam” jawabnya.
***
“Aqilaa, selamat ya” ucap Fira memeluk Aqila ketika melihat Aqila menghampirinya.
“Makasih ya Fir” saut Aqila membalas pelukannya.
“Lo keren sih tadi, bisa jawab semua pertanyaannya, padahal itu susah banget lho” ucapnya tersenyum.
“Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan kepadaku” Aqila juga ikut tersenyum walaupun tipis, sangat tipis.
“Qila selamat ya” ucapan selamat kembali Aqila dengar, kali ini dari Juna.
“Iya Jun, makasih ya” saut Aqila.
“Gimana untuk merayakannya Qila traktir kita makan malam” saut pria tampan yang berdiri di sebelah Juna dengan senyumannya.
Aqila yang mendengarnya memutar bola matanya malas, “Iya bener tuh, ayo Qi” ucap Fira mengguncang-guncangkan lengan Aqila.
“Tapi-” ucapan Aqila terpotong cepat.
“Yeay, makasih ya Aqila” potong pria tersebut tersenyum.
Lagi-lagi Aqila memutar bola matanya malas dan menghela nafas pelan, “Baiklah” pasrahnya.
“Yeay, terimakasih Aqila” Fira langsung saja memeluk Aqila.
Aqila hanya tersenyum tipis saja, dan kedua pria tersebut juga tersenyum. Aqila menatap kesal pria yang di sebelah Juna, sedangkan yang di tatap hanya menampilkan giginya saja.
***
Malam pun tiba dan mereka sekarang sudah berada di warung makan depan tempat tinggal mereka.
“Heumm baunya harum banget” ucap Fira ketika mencium bau makanan yang baru saja sampai.
“Terimkasih” ucap Aqila kepada pelayannya, dan pelayan itu tersenyum lalu segera pergi.
“Fauzan jangan di habisin juga dong sambelnya” ucap Fira kesal ketika pria yang duduk di samping Juna itu menuangkan banyak sambel ke makanannya.
“Tau nih anak, suka banget kayanya sama sambel” saut Juna.
“Ihh ya gak papa, makan tanpa sambel itu tidak nikmat, benar tidak Qi” ucap Fauzan kepada Aqila.
Sedangkan Aqila hanya diam saja tidak menjawab dan mementingkan perutnya yang sudah keroncongan.
Fauzan? Ya orang itu Fauzan, masih ingetkan sama lelaki yang di halte bis. Nah itu dia orangnya, Fauzan juga sama kulian di Kairo dia juga sama mendapatkan beasiswa dari sekolahnya, hanya saja dia sendiri yang mendapatkannya.
“Dasar” saut Fira kesal.
“Udah makan” ucap Aqila dan yang lain pun langung saja memakan makanannya.
Ketika asik-asiknya sedang makan tiba-tiba ada seorang pelayan yang menghampiri mereka, “Permisi” ucapnya.
“iya ada apa?” tanya Aqila to the point.
“Ini minuman pesanan anda” ucapnya dan menaruh jus jeruk di atas meja.
“untuk saya?” tanya Aqila menunjuk dirinya.
“Iya” jawabnya.
“Maaf, tapi saya tidak memesannya” ucap Aqila bingung dan yang lain juga sama pasalnya tidak ada yang memesan jus jeruk.
“Tapi tadi anda memesannya” ucapnya kekeh.
“Mba maaf ya, tapi teman saya ini gak pesan jus jeruk dan kami pun tidak memesan jus jeruk” saut Fira membela.
__ADS_1
“Tapi kakanya udah bayar untuk jus jeruk ini, udah ya ka saya pemisi, saya hanya melakukan tugas saja” setelah berucap seperti itu dia segera pergi.
“Ihh aneh banget ya tuh pelayan”saut Fira menatap pelayan itu yang sudah pergi.
“Udah gak papa” ucap Aqila.
“Tapi nanti siapa yang minum, malam-malam minum jus” ucap Fira.
“Biar nanti Qila saja yang minum” ucap Aqila tersenyum tipis.
“Huhh” Fira menghela nafas pelan.
Sedangkan Fauzan menatap jus keruk itu dengan tatapan yang sulit di artikan, dan ketika Aqila hendak meminum jus tersebut Fauzan segera menahannya.
“Jangan di minum” henti Fauzan.
Aqila dan yang lainnya mentap bingung Fauzan, Aqila menaiki satu alisnya meminta jawaban.
“Ya jangan di minum aja, itu bukan pesanan kita, jadi jangan di minum” jelas Fauzan.
Aqila langsung meletakan kembali gelas tersebut dan tidak jadi meminumnya, “Emang kenapa dah?” tanya Fira kepada Fauzan.
“Aku takut aja, kalau ada sesutu di dalam minuman itu” jawabnya sembari membuang jus jeruk itu ke tanah.
“Kita gak tau siapa yang ngirimnya, siapa tau si pengirim memiliki niat jahat” lanjutnya dan kembali meletakan gelas itu.
“Tapi kita gak boleh su'udzon dulu sama orang” saut Aqila menatap Fauzan datar.
“Iya kita harus husnudzon” ucap Juna membenarkan.
“Bukannya su'udzon, tapi berhati-hati” Fauzan membela dirinya.
“Iya dah terserah aja” saut Fira.
“Udah kita pulang, ini udah malam” ucap Aqila berdiri dari duduknya yang di susul yang lainnya.
Setelah Aqila membayar semunya, barulah mereka kembali ke tampat tinggal mereka, “Makasih ya Qila” ucap Juna ketika masih di perjalanan.
“Iya sama-sama” saut Aqila.
“Makasih Qila” saut Fira tersenyum.
Aqila menatap kesal Fauzan, sedangkan Fauzan terkekeh melihatnya, “Cie ada yang kesal” ucap Fauzan melirik Aqila.
“Apaan sih Zan, berisik” ucap Aqila ketus.
“Haha kalau gak kesal gak mungkin pipinya merah gitu” ucap Fauzan terkekeh.
Aqila langsung memalingkan wajahnya, dan itu semakin membuat Fauzan tertawa, sedangkan Fira dan Juna hanya diam dan melihat mereka saja.
‘Qila beruntung banget’ batin Fira tersenyum tipis.
Sesampainya mereka di depan kamar Aqila dan Fira, mereka berhenti, “Selamat malam, sampai ketemu besok pagi” ucap Fira tersenyum dan melambaikan tangannganya.
“Iya, selamat malam” saut Juna tersenyum.
Dan kedua lelaki itu kembali melanjutkan langkahnya untuk segera sampai di kamar mereka, “Qila selamat malam” teriak Fauzan pelan dan terkekeh.
Sedangkan Aqila yang mendengarnya memutar bola matanya malas, dan segera masuk kamar di susul Fira di belakangnya.
“Qi” panggil Fira.
“Iya” saut Aqila.
“Kayaknya Fauzan suka deh sama kamu” ucap Fira sembari duduk di kasurnya.
“Apaan sih Fir, gak lah mana mungkin” bantah Aqila.
“Iya, soalnya dia terus aja bercandain kamu, sedangkan ke wanita lain dia itu cuek, hanya sama kamu aja dia kayak gitu” ucap Fira lagi yang membuat Aqila terdiam.
“Udah gak usah bahas itu, mending tidur” ucap Aqila segera membaringkan tubuhnya.
“Heem, selamat mlam Qila” ucap Fira dan mematika lampu lalu membaringkan tubuhnya juga.
'Qi, andai gue ada di posisi lo' batin Fira menatap pungungu Aqila.
***
pagi harinya Aqila sudah bersiap untuk mengikuti kembali acara lomba, karena hari ini adalah hari terakhir lomba, dan lomba akan di adakan dua bulan kemuadian lagi.
“Aqila apa kamu sudah siap nak?” tanya Mr. Agam pada Aqila.
__ADS_1
“In Syaa Allah, Mr saya siap” jawab Aqila tesenyum tipis.
“Bismillah ya nak, dan siapkan diri kamu karena lomba akan di mulai 5 menit lagi” ucapnya tersenyum.
“Iya Mr, emm Mr saya izin permisi ke air dulu ya” ucap Aqila dan di angguki oleh dosennya.
Aqila segera pergi ke toilet, setelah selesai dan ketika Aqila ingin membuka pintu, pintunya tidak bisa di buka,”Ko gak bisa di buka sih?” gumam Aqila menarik-narik pintunya.
“TOLONG... TOLONG SIAPAPUN BUKAIN PINTU” teriak Aqila menggedor-gedorkan pintu.
“Bagaimana ini, mana 2 menit lagi akan mulai acarnya” guam Aqila panik sembari melihat arloji di tangannya..
“TOLONG SIAPAPUN ITU TOLONG” teriak Aqila lagi tapi tidak ada sahutan.
“Kepada seluruh peserta di mohonkan untuk menaiki podium kalian masing-masing, terimakasih”
Suara pemberitahuan sudah terdengar dan itu semakin membuat Aqila panik, “Ya Allah bagaimana ini” gumam Aqila terus berusaha untuk membuka pintu.
“Maaf ya sayang, kamu harus di kurung dulu di kamar mandi” ucap seseorang dari luar kamar mandi.
Aqila yang mendengarnya kaget, “Siapa kamu? Tolong bukain” ucap Aqila.
“Nanti ya setelah acaranya selesai, bye-bye sayang” ucapnya dan dia pergi di iringi dengan suara tawa.
Sedangkan Aqila di buat kesal oleh orang tersebut, “Bagaimana ini” Aqila terus saja membuka pintunya tapi tetap saja tidak bisa hingga dia kelelahan dan sudah pasrah saja.
Sedangkan di sisi lain Mr. Agam sudah khawatir karena Aqila tak kunjung kembali, “Kemana Aqila? Katanya mau ke air” gumamnya.
Mr. Agam segera memperintahkan seseorang untuk menyusul Aqila di kamar mandi, dan orang tersebut pun menuruti perintahnya.
“Aqila” panggilnya ketika sudah sampai di kamar mandi.
“Aqila” panggilnya lagi ketika tidak ada sahutan.
Sedangkan di sisi lain Aqila yang mendengarnya segera menempelkan telinganya, “Iy-” ucapan Aqila terhenti ketiak ada yang sedang berbicara.
“Maaf anda sedang apa di sini?” tanya seseorang kepda orang suruhan Mr. Agam.
“Oh saya se-” ucapannya terpotong cepat.
“Permisi Bu, ibu di panggil Mr. Agam” ucap seorang mahasisawa kepada wanita suruhan Mr. Agam.
“Ohh iya, mari kami permisi” ucapnya dan langsung segera pergi.
Sedangkan Aqila yang mendengar suara langkah kaki mulai menjauh di buat kesal, “Permisi apa masih ada orang?” ucap Aqila.
Tapi tidak ada sahutan sama sekali, “Ihhh Aqila bodohnya kamu, kenapa tadi kamu hanya diam saja sih” gumam Aqila kesal dan memukul kepalanya pelan.
‘Ya Allah bagaimana ini? Pasti acaranya sudah di mulai, lalu siapa yang menggantikanku’ batin Aqila meraup wajahnya.
***
“Bagaimana bu?” tanya Mr. Agam.
“Maaf Mr, tapi sepertinya tidak ada” jawabnya.
“Lalu bagaimana ini” ucapnya cemas.
“Mr. Biar saya saja yang menggantikan Aqila” ucap seseorang menghampiri mereka.
“Fira” kaget Mr. Agam.
“Iya Mr, apakah boleh?” tanyanya tersenyum.
Mr. Agam menatap Fira yang tersenyum dan menatap ke podium, di mana hanya podium kampusnya saja yang kosong, “Huh, baikalah, lakukan yang terbaik untuk kampus kita” ucapnya pasrah dan menghembuskan nafasnya pelan.
“Iya Mr, pasti saya akan melakukan yang terbaik, terimakasih ya Mr” ucap Fira tersenyum dan langsung naik ke atas podium setelah di setujui oleh Mr. Agam.
“Mr, serius?” tanya wanita yang di sebelah Mr. Agam.
“In Syaa Allah” jawabnya dan menatap Fira.
Sedari tadi ternyata ada yang terus menatap mereka dari kejauhan, ‘Aqila di mana kamu?’ batinnya dan langsung pergi.
**To Be Continue....
***
Luplup kira-kira siapa ya yang mengurung Aqila di kamar mandi? Penasaran gak nih? Tunggu aja kelanjutan ceritanya...
Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**...
__ADS_1