
Seperti ucapannya bunda Asih kembali menelopon Aqila pagi harinya, tapi kini di Kairo sudah malam, “Assalamualikum bunda” salam Aqila ketika panggilan video call sudah tersambung tapi dia tak melihat wajah bundanya atau ayahnya.
“Waalaikummussalam Aqila cantik” jawab sahabat Aqila dan Ilham yang tiba-tiba muncul.
Aqila kaget ketika melihatnya tapi dia tersenyum tipis sangat tipis hingga tak terlihat, “Qila kita kangen” ucap Yuri sendu.
“Iya Qi, Loli juga kangen” saut Loli juga.
“Qi, gimana keadaan lo?”
“Iya Qila kita ka-”
“Aaaa, diam kalian ini cerewet sekali sih, Qila aja belum jawab udah di berikan pertanyaan banyak, nanya tuh satu-satu, kaya gini nih, Qila adik kesayangan Ilham yang tampan apa kabarnya cantik?” tanya Ilham tersenyum sedangkan Loli dan Yuri memutar bola matanya malas dan Aqila tersenyum tipis melihatnya.
“Alhamdulillah baik ka, kaka gimana?” tanya Aqila balik.
“Alhamdulillah baik juga” jawabnya tersenyum.
“Kita gak di tanyain nih” ucap Yuri cembrut.
Aqila sempat terdiam sejenak, tapi tak urung dia pun bertanya, “Klian berdua gimana kabarnya?” tanya Aqila kepada kedua sahabtnya itu.
“Alhamdulillah baik ko, tapi kita gak baik karena gak ada Qila” ucap Loli cemberut.
“Jadi baik atau kagak sih?” tanya Ilham bingung sendiri.
“Ya baiklah, tapi gak seru karena gak ada Qila” jawab Loli dan Aqila lagi-lagi tersenyum tipis melihatnya.
“Qi, lo udah maafin kita kan?” tanya Yuri menatap Aqila.
Aqila terdiam, dia menghela nafas, “In Syaa Allah” jawabnya tersenyum tipis.
“Yeayy, gak papa deh walaupun In Syaa Allah yang penting Aqila udah maafin kita, yuhuuu” teriak Yuri tersenyum bahagia.
“ Yuri bisa gak, gak usah teriak-teriak ini tuh di rumah orang, malu tau sama om dan tante” ucap Loli menepuk Yuri pelan.
Sedangkan Yuri menatap om dan tante alias orang tua Aqila dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Hehehe, maaf om, tant, kelepasan” ucapnya tersenyum kikuk.
Dan Aqila lagi-lagi tersenyum melihatnya, sebenarnya dia juga sangat rindu dengan sahabatnya tapi mau gimana lagi ya.
“Qi di sana udah malam ya?” tanya Ilham yang melihat Aqila sudah menggunakan baju tidur.
“Iya” jawab Aqila.
“Yah kita ganggu dong” ucap Yuri lesu.
“Kita gak bisa lama dong telponannya” saut Loli juga.
“Iya” Aqila hanya membalasnya singkat.
“Qi ki-”
“Assalamualikum” salam seseorang, dan Ilham, Yuri dan Loli menoleh ke arah suara itu.
“Waalaikummussalam, Iqbal sini Bal, kita lagi Vc sama Qila” ucap Ilham melambaikan tangannya.
Aqila yang mendengarnya terdiam, dan tak lama kemudian dia melihat wajah pria tampan yang sudah lama dia tidak lihat dan sudah lama pula dia lupakan.
“Assalamualaikum Qi” salamnya tersenyum tipis.
“Waalaikummussalam” jawab Aqila.
Mereka terdiam dan saling menatap satu sama lain lewat ponsel, hingga Aqila memalingkan wajahnya, “Ohh iya ini sudah malam, besok Aqila harus lanjut kulia, Aqila matiin dulu ya, assalamualikum” ucap Aqila gugup.
“Yahh iya deh Qi, semangat ya, waalaikummussalam” dan sambungan teleponpun di matikan sepihak oleh Aqila.
Setelan Aqila mematika ponselnya dia memegang dadanya yang berdetak lebih cepat, ‘Ya Allah kenapa ketika hamba sudah mulai melupakannya engkau kambalikan hadir dirinya?’ batin Aqila setelah itu dia membaringkan tubuhnya dan menyimpan ponselnya.
__ADS_1
‘Maaf’ batin Aqila sebelum menutup matanya untuk tidur.
***
Pagi harinya seperti biasanya Aqila pergi ke kampus, sesampai kampusnya Aqila begitu di banjiri pujian dari teman-teman kampusnya.
“Aqila selamat ya”
“Iya Aqila selamat ya atas pencapaiannya”
“Aqila congratulation”
Ya kira-kira seperti itu ucapan yang Aqila terima di setiap kordior kampus, dan hanya di balas senyuman simpul dan anggukan saja oleh Aqila.
“Qi, banyak banget yang ngucapinnya” ucap Fira.
“Iya” saut Aqila.
Fira melihat Fauzan dan Juna yang sedang menuruni tangga dan ingin menghampiri mereka berdua, “Qi gue pinjam buku lo ya” ucap Fira tersenyum.
“Ohh i- eh” ucap Aqila kaget ketika Fira menjatuhkan dirinya sendiri.
“Qi, lo kenapa sih ko dorong gue” ucap Fira sengaja mengeraskan suaranya menatap Aqila.
“Hah Qila ga-” ucapan Aqil terpotong oleh seseorang.
“Astagfirullah Fira lo kenapa?” tanya Juna dan Fauzan yang baru saja datang.
“Ya jatuhlah” jawabnya dan berusaha untuk bangun sendiri.
“Ya jatuh kenapa?” tanya Fauzan.
“Ini Qila dorong gue, padahalkan gue cuma mau pinjam bukunya aja, tapi dia malah dorong gue” jawab Fira memelas sembari menunjuk Aqila yang hanya diam.
“Qila, maksud lo apa?” tanya Juna menatap Aqila.
“Apa? Qila gak do-” ucapan Aqila lagi-lagi terpotong.
“Gak Fir, gue gak marah ko” saut Aqila tersenyum tipis.
“Tapi kenapa kamu dorong Fira kalau gak marah?” tanya Fauzan menatap Aqila.
“Aku gak do-”
“Udah Qi gak papa ko, aku maafin” potong cepat Fira lalu segera pergi masuk ke kelas.
Mereka bertiga menatap kepergian Fira, “Qi, kalau lagi ada masalah cerita bukan nyakitin teman sendiri” ucap Fazuan lalu segera pergi.
Aqila manatap Juna, “Jun, kamu percayakan sama Qila?” tanya Aqila.
Juna menghela nafas pelan, “Antara percaya dan tidak percaya” jawabnya lalu segera menyusul Fira dan Fauzan.
Aqila menghela nafas kasar, “Sabar Qi” gumam Aqila mengusap dadanya pelan lalu Aqila juga ikut menyusul.
***
Setelah selesai jam kampus Aqila dan Fira segera ke kantin kampus untuk makan siang, “Kita mau duduk di mana?” tanya Fira menatap bangku yang sudah penuh.
“Gak tau” jawab Aqila singkat.
“Nah di situ aja, yu” ucap Fira menunjuk ke arah meja yang berada di sebelah pojok hanya ada satu orang saja yang duduk di situ.
Aqila mengangguk lalu mereka berdua menuju meja tersebut, “Ikut duduk ya” ucap Fira kepada orang tersebut yang sedang duduk seorang diri, dan di angguki olehnya.
Lalu mereka berdua memakan-makanannya dengan tenang hingga Fira melancarkan aksinya lagi ketika dia melihat Juna dan Fauzan dari jendela kantin.
BYURR
__ADS_1
“AHH QILA” teriak Fira setelah dia menyiram bajunya sendiri dan memberikan gelas yang kosong kepada Aqila.
Aqila tentu saja kaget dan semua orang yang ada di kantin pun sama kagetnya, “Lo kenapa nyiram gue?” tanya Fira suaranya sedikit di naikkan.
“Ada apa ini?” tanya Fauzan yang baru datang dengan Juna.
“Ini aku kena siram sama Aqila” jawab Fira menunjuk Aqila.
“Qi, maksud lo apa sih, sampe nyiram Fira lihat dia sampe basah kan, lo kalau ada masalah bicarain baik-baik dong” ucap Fauzan kepada Aqila.
Dan Aqila hanya diam lalu dia tersenyum miring, “Udah bicaranya?” tanya Aqila kepada Fauzan.
“Bagus banget ya aktingnya” lanjutnya mentap Fira.
“Ternyata sifat lo yang sebenarnya kaya gini, keren” ucap Aqila terus menatap Fira.
“Udah ya kalau mau fitnah bukan di sini tempatnya” lanjutnya.
“Tau kan kalau fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan?” tanya Aqila sinis.
“Qi, ko lo kayak gitu sih sekarang, lo nyalahin gue gitu, lo nuduh gue fitnah lo?” tanya balik Fira matanya sudah berkaca-kaca.
Aqila yang melihatnya terkekeh pelan dan memalingkan wajahnya, “Cukup deh, akting lo terlalu bagus, gue gak bisa akting” ucap Aqila mengambil tasnya dan hendak segera pergi tapi di tahan oleh Fauzan.
“Qi, jelasin dulu semuanya” sautnya.
“Jelasin apa? Ini semua udah jelas, kalau lo mau percaya sama wanita pembohong ini silahkan tapi intinya gue gak pernah melakukan apapun kepadanya kalau gak percaya tanya aja nih sama orang ini” ucap Aqila kepada orang yang tadi duduk di hadapannya lalu setelah itu dia pergi.
Semuanya menatap kepergian Aqila, dan mereka juga kaget dengan Aqila yang marah-marah pasalnya selama ini Aqila tidak pernah marah dia hanya diam saja.
Fauzan menatap Fira setelah itu dia segera menyusul Aqila, “Qi, Qila lo mau kemana?” tanya Fauzan meninggikan suaranya.
Aqila tidak menghiraukannya dia terus saja melanjutkan jalannya hingga dia berhenti di pinggir jalan dan menghetikan Taxi yang lewat, setelah itu dia masuk ke dalam Taxi.
“Pak jalan” ucapnya dan Taxi pun segera pergi.
“QILA, LO MAU KEMANA? QILAA TUNGGU” teriak Fauzan berlari mengejar Taxi tersebut.
TOK... TOK... TOK
“Qi buka Qi, lo mau kemana? Qila jangan kaya gini Qi, bisa di bicarain baik-baikkan, Qila” Fauzan mengetuk kaca mobil sembari terus berlari.
“Pak bisa cepat” ucap Aqila.
“Iya” lalu mobil pun melaju lebih cepat hingga Fauzan tak bisa mengejarnya lagi.
Aqila menoleh kebelakang dia melihat Fauzan yang menopang tubuhnya dengan meletakan tangganya di lututnya, ‘Maaf’ batin Aqila lalu memalingkan wajahnya dari Fauzan.
‘Semuanya sama saja, tidak ada yang dapat di percaya, abang semuanya sama aja sama seperti abang’ batin Aqila sendu.
***
Sedangkan di negara Indonesia lebih tepatnya di sebuah kamar bernuansa gelap seorang pria tampan sedang memandang langit malam di balkon kamarnya.
“Qila, dia sedang apa ya?” gumamnya ketika pikiranya tiba-tiba teringat kepada gadis keras kepala itu.
“Apa dia masih seperti dulu?”
“Entahlah, intinya aku merindukannya”
Pria tersebut terus saja bergumam sembari memandang langit malam yang cerah, “Kau salah, kau adalah sang rembulan, bukan sang bintang yang hilang di dalam kegelapan” lanjutnya tersenyum tipis.
“Maaf, aku telah menyakiti hatimu demi wanita itu, maafkan aku dan cepatlah kembali, aku merindukanmu”
**To Be Continue....
***
__ADS_1
Wow Fira ternyata sudah meluncurkan aksi jahatnya nih, kira-kira akting apa lagi ya yang akan di lakukan untuk memfitnah Aqila? Penasaran? Saksikan terus kelanjutan ceritanya....
Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**...