
Dua minggu setelah kejadian itu keadaan kembali seperti semula, dan Aqila pun kembali ke apartementnya karena di suruh oleh Mr. Agam, jadi mau gak mau dia menurutinya.
“Qila, lo mau ikut kita makan siang gak, Juna traktir” ucap Fauzan tersenyum menatap Juna yang menatapnya datar.
“Boleh” saut Aqila.
Dan mereka mencari tempat makan yang nyaman, higenis, dan ekonomis hehehe, setelah menemukannya mereka langsung saja memesannya.
“Bagaimana dengan Fira?” tanya Aqila kepada Juna.
“Baik” jawab Juna singkat, Aqila mengangguk.
Tiba-tiba ponsel Aqila bergetar dan tertera nama Iqbal yang menelponnya, semua mata menatap kepada ponsel Aqila, termasuk Fauzan, ‘Siapa Iqbal?’ batin Fauzan bertanya.
Aqila yang melihatnya segera mengambilnya dia juga menjauh dari Juna dan Fauzan, setelah cukup jauh Aqila menganggkatnya.
“Waalaikummusslam” jawab Aqila.
“Kenapa?” tanya Aqila to the point.
“Qila ini kita, Yuri dan Loli” sautnya dari sebrang telepon.
Aqila tersenyum, “Kalian, apa kabar?” tanya Aqila pelan, jujur saja dia masih canggung dengan sahabatnya.
“Alhamdulillah kami baik, kamu bagaimana Qila?” tanya Loli di sebrang telepon.
“Alhamdulillah” jawab Aqila singkat.
“Hmm, kenapa ponsel bang Iqbal ada di kalian?” tanya Aqila gugup, Aqila juga merasa aneh ketika dia menyebut kembali nama Iqbal.
“Ohh kami meminjamnya, soalnya setiap kami mengirim lo pesan dan menelpon gak lo angkat atau lo bales, sebenarnya kenapa?” tanya balik Yuri di sebrang sana.
“Hp gue ganti beserta nomernya” jawab Aqila.
“Qi, ini bener lo kan?” tanya Yuri kaget.
“Iya, emang kenapa?” tanya balik Aqila.
“Logat bicara lo beda Qi” jawabnya membuat Aqila terdiam.
Aqila berdehem untuk menutupi kegugupannya, “Iya” saut Aqila singkat.
“Qi, tapi ini masih lo yang kita kenalkan?” tanya Yuri lagi memastikan.
“Mungkin” jawab Aqila.
Terdengar helaan nafas dari sebrang telepon, “Ohh ya, nanti gue chat lo ya, nanti lo simpan nomer gue” ucap Yuri.
“Yang Loli juga” saut Loli.
“Iya” balas Aqila.
__ADS_1
“Kalian udah nelponnya?” tanya seorang pria dari sebrang telpon.
Aqila terdiam ketika mendengar suaranya, dia sangat mengenali suara itu, ‘Abang’ batin Aqila.
“Iya-iya, nih, elah pelit banget sih” ucap Yuri di sebrang telpon.
“Qila” panggil pria tadi membuyarkan lamuanan Aqila.
“E-eh i-iya?” tanya Aqila.
“Abang tutup dulu ya telponnya, kamu baik-baik di sana” ucap Iqbal.
“Iya” saut Aqila mengangguk walaupun Iqbal tak melihatnya.
“Ya sudah assalamualaikum...... Bye-bye Aqila” salam Iqbal dan di iringi dengan suara teriakan kedua sahabatnya.
“Waalaikummussalam” jawab Aqila dan mematikan panggilan telponnya.
Aqila tersenyum menatap layar ponselnya, dia memegang dadanya yang kembali berdetak lebih cepat, ‘Lagi’ batin Aqila ketika merasakan degupan jantungnya yang tidak seperti biasanya.
Sedangkan Fauzan sedari tadi terus menatapnya dari kejauhan, ‘Kenapa Aqila kayak yang bahagia gitu, siapa sebenarnya Iqbal’ batin Fauzan menatap Aqila yang berjalan menghampirinya.
“Udah datang?” tanya Aqila duduk kembali di bangkunya.
“Iya” jawab Juna.
Dan mereka memakan-makan siangnya, dengan tenang dan tidak ada yang membuka obrolan satu sama lain, dan Fauzan terus saja berkecamuk dengan pikirannya, memikirkan masalah yang tadi, dia terus saja bertanya-tanya di dalam hatinya, siapa lelaki yang bernama Iqbal yang menelpon Aqila tadi.
***
“Urusan apa?” tanya Fauzan menyelidik.
“Mau ke perpustakaan terdekat, mau nyelesain tugas, biar gue bisa cepat skripsi” jawab Aqila.
“Gue ikut” ucap Fauzan dingin, Aqila dan Juna mengerutkan keningnya bingung dengan sikap Fauzan.
“Terserah” saut Aqila ketus.
“Naik” ucap Fauzan dan lebih dulu masuk kemobilnya yang di susul Juna di belakangnya.
“Kenapa gak masuk?” tanya Fauzan ketika melihat Aqila hanya diam saja.
“Gak papa” jawab Aqila dan langsung masuk.
Mobil pun melesat pergi, selama perjalanan hanya ada keheningan dan tidak ada yang membuka suara satu sama lain, dan Aqila memilih memainkan ponselnya.
Fauzan terus melihat Aqila lewat spion kaca mobil, dia melihatnya kesal ketika Aqila senyum-senyum sendiri sembari memainkan ponselnya, ‘Pasti lagi chatan sama cowok yang tadi, si Iqbal-Iqbal itu’ batin Fauzan kesal.
Aqila yang merasa terus di perhatikan dia melihat juga kaca spion dan melihat Fauzan yang memalingkan wajahnya, Aqila menggelengkan kepalanya melihat sikap aneh Fauzan.
Aqila tidak menghiraukannya dan kembali fokus dengan ponselnya, dan tak lupa kembali tersenyum simpul, lagi-lagi Fauzan yang melihatnya kesal sendiri, Fauzan berdehem tapi tidak di hiraukan oleh Aqila maupun Juna yang juga memainkan ponselnya, merasa di abaikan Fauzan segera menancapkan gasnya lebih cepat dari sebelumnya.
__ADS_1
Aqila dan Juna yang tidak tau apa-apa kaget dan menatap Fauzan kesal, “Zan, lo gila lo mau bawa kita mati hah?” kesal Juna menatap Fauzan.
“Zan pelan-pelan, gue masih muda” saut Aqila yang ikut kesal.
Tapi Fauzan tidak menghiraukannya dan malah semakin mempercepat laju mobilnya, “FAUZAN, LO JANGAN GILA, GUE BELUM SIAP MATI” pekik Juna memegang pegangan yang ada di atas pintu mobil, kalian tau mungkin🗿.
Aqila hanya diam saja sembari mulutnya terus membaca do’a dan berdzikir agar hal yang tidak di inginkannya tidak terjadi, Fauzan yang melihat Aqila menutup matanya menghela nafas pelan, dan sedikit menurunkan kecepatan laju mobilnya.
Tapi Aqila terus saja menutup matanya, dan Juna terus mengumpat Fauzan hingga mereka sudah sampai di perpustakaan, “Turun” ucap Fauzan ketus.
Aqila membuka matanya dan melihat sekeliling ternyata mereka sudah berada di area parkiran perpustakaann, dan dia segera turun menyusul Fauzan dan Juna yang sudah turun duluan.
DUG
“Awshh...” Fauzan meringis sakit karena Aqila tiba-tiba memukulnya dengan tas selempangnya.
“Lo gila hah, lo mau bawa kita mati tadi, kalau tadi kecelakaan kayak gimana, gue gak mau mati konyol ya” omel Aqila menatap Fauzan kesal.
“Iya sorry” ucap Fauzan sembari mengusap lengannya.
“Sorry-sorry, udah kena omel baru minta maaf” ketus Juna kesal.
“Ck, iya maaf. Udah ayo jadi gak?” tanya Fauzan cemberut.
Aqila tidak menjawab melainkan langsung pergi dengan Juna di belakangnya meninggalkan Fauzan sandiri, Fauzan yang melihatnya menghela nafas pelan, “Harusnya gue yang ngambek sama dia, kenapa dia yang ngembek sama gue sih, dasar cewek” gumam Fauzan kesal dan menyusul Aqila dan Juna.
Fauzan mencari Aqila dan Juna pasalnya tuh dua orang tidak kelihatan batang hidungnya, “Ck, nih anak dua kemana sih?” gumam Fauzan kesal dan terus muter-muter mencari Aqila dan Juna.
BRAK
“Ehh maaf” ucap Fauzan ketika tak sengaja menabrak seorang wanita.
“kalau jalan lihat-lihat dong” omelnya kesal dan mengambil beberapa buku yang terjatuh.
“Iya maaf, kan saya sudah minta maaf” ucap Fauzan dan memberikan salah satu buku yang terjatuh.
“Udah nabrak ngo-” ucapannya terpotong ketika dia menatap wajah Fauzan.
Wanita tersebut terdiam dan tidak berkedip, Fauzan yang melihatnya bingung dan melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajahnya, “Mba... Hey mba” ucap Fauzan.
Ketika sadar wanita tersebut segera tersenyum manis, “Ahh, iya mas, hmm maaf tadi saya mungkin yang jalannya kurang berhati-hati, maaf ya” ucapnya lembut beda dengan yang tadi.
Fauzan merasa heran tapi dia tidak memperdulikannya, “Maaf ya mba, kalau begitu mari saya duluan” ucap Fauzan dan segera pergi.
Wanita tadi terus menatap Fauzan dengan senyumnya yang mengembang, “Ganteng banget, siapa dia, gue kayak pernah lihat” gumamnya pelan.
“Ahh, dia juga kan dari Indonesia, jangan bilang dia lelaki yang... Ahh gue harus dapetin dia” gumamnya tersenyum licik.
“Baru sadar tenyata lelaki yang di maksud cewek bodoh itu tampan juga” lanjutnya dan setelah itu segera pergi.
To Be Continued...
__ADS_1
OMG guys, Fauzan kesal atau cemburu sih sama Iqbal? Hmm author juga gak tau sama nih satu anak, dan ya siapa wanita yang menabrak Fauzan ya? Apakah dia punya niat jahat atau gak? Dan siapa cewek bodoh yang di maksudnya? Penasaran? Saksikan terus kelanjutan ceritanya....
Oke terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye...