
Dua orang wanita dan dua lelaki di belakangnya mengahampiri mereka bertiga dengan tatapan kesal kepada Ilham.
“Lo, enak duduk di sini sedangkan kita di suruh berdiri di depan pintu” ucap salah satu wanita kepada Ilham.
“Ya sorry, lupa gue” ucap Ilham santai.
“Sorra-sorry kagak ada sorry, huh” sautnya kesal.
“Ya elah udahlah sekarang bisakan kalian duduk, clek duduk” ucap Ilham sembari menepuk kursi yang kosong.
Aqila dan Fauzan hanya diam saja, Aqila menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan sedangkan Fauzan menatap mereka dengan bingung karena belum pernah bertemu sebelumnya.
“Kalian siapa?” tanya Fauzan mengerutkan keningnya.
“Titant lo kuded banget sih, masa gak tau siapa kita” ucap Ilham ketus.
“Ya gue gak tau, kan gue juga baru balik dari Kairo” ucap Fauzan tak mau kalah.
“Harusnya kita yang nanya sama lo, lo siapa? Kenapa ada di sini?” tanya salah satu wanita.
“Iya kamu siapa?” tanya teman wanitanya.
“Gue Fauzan, temannya Aqila waktu di Kairo tapi bentar lagi jadi calonnya” ucap Fauzan memperkenalkan dirinya dengan senyum manisnya.
“APA!?” pekik kedua wanita tersebut saling pandang dan langsung menatap Aqila.
“Duh berisik bengat sih” ketus Ilham menutup telinganya.
Tapi tidak mereka hiraukan, “Qila, dia calon lo?” tanyanya.
Aqila menggelengkan kepalanya cepat dan menatap tajam Fauzan yang tersenyum menatapnya juga, “Bukan, hanya teman” jawab Aqila.
JLEB
Rasanya sakit seperti di tusuk beberapa belati, ketika Aqila mengatakan hanya teman, Fauzan menatap Aqila sendu, “Hanya teman? Ahh gak papa teman hidup” ucap Fauzan kembali tersenyum, bawa enjoy.
Aqila memutar bola matanya malas, setelah itu tatapannya jatuh pada mata teduh yang telah lama tidak dia tatap.
“Kalian siapa?” tanya Fauzan membuyarkan lamunan Aqila.
“Kami sahabatnya Aqila dari SMP, gue Yuri” ucap Yuri memperkenalkan dirinya.
“Aku Loli” saut Loli tersenyum lucu.
“Ahh neng Loli tambah lucu deh, pengen cepat-cepat di halalin” pekik Ilham.
Loli yang mendengarnya salting tujuh keliling hingga memukul Ilham menggunakan tas selempang nya, “Ka Ilham bisa aja deh” saut Loli tersenyum malu.
Ilham yang mendapatkan pukulan hanya tersenyum paksa, sakit bestie.
__ADS_1
“Kalian berdua?” tanya Fauzan menunjuk kedua lelaki yang sedari tadi hanya diam saja.
“Faisal dan ini Iqbal” ucap Faisal memperkenalkan dirinya dan Iqbal yang terus menatap Aqila dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sedangkan Aqila sedari tadi sudah kalang kabut dengan tatapan aneh Iqbal, tapi dia berusaha menutupinya.
“Iqbal?” tanya Fauzan mengerutkan keningnya.
“Iya, abang Iqbal” saut Ilham membenarkan.
‘Ternyata dia yang namanya Iqbal, harus waspada nih, bisa jadi saingan’ batin Fauzan menatap Iqbal yang kali ini menatapnya.
“Kalian kok masuknya gampang sih?” tanya Fauzan, pasalnya dia masuk sangat susah karena di hadang satpam.
“Gampang lah, tinggal ting udah” jawab Ilham sembari menjentrikkan jarinya.
“Gak adil banget pak satpam” kesal Fauzan.
“Qila, kita tuh kangen banget tau, jadi keganggu karena kenal-kenalan” ucap Yuri langsung memeluk Aqila dan di susul Loli.
“Iya kita kangen banget, belakangan ini Qila gak mau ketemu kita” saut Loli.
Aqila tersenyum tipis, “Iya” balas Aqila singkat.
Loli dan Yuri melepas pelukannya, “Lo gak papakan?” tanya Yuri.
“Gak papa” jawab Aqila.
“Iya, gak papa” saut Aqila tersenyum tipis.
“Qila, maafin Loli juga” ucap Loli tersenyum, Aqila mengangguk.
Aqila menatap Iqbal yang terus menatapnya, “Lo sehatkan?” pertanyaan yang di lontarkan Yuri mampu membuat Aqila kaget.
“Ehh apa?” tanya balik Aqila.
“Qila, lo ternyata gak berubah sepenuhnya ya, masih kurang fokus aja kalau ada ekhem” ucap Yuri tersenyum.
“Gak ko, gue baik” ucap Aqila.
Mereka semua menghela nafas pelan terkecuali Fauzan, dan lagi-lagi Aqila menatap Iqbal dan mereka saling pandang, ‘Aneh, kenapa abang masih seperti dulu’ batin Aqila bingun.
‘Dia berubah’ batin Iqbal.
“Ekhemm... Mau sampai kapan saling tatap, bicara aja kali jangan diam-diam” saut Ilham.
Aqila dan Iqbal langsung membuang muka satu sama lain, Fauzan yang melihatnya menghela nafas pelan, ‘Berat nih’ batin Fauzan lesu.
DRET... DRET...
__ADS_1
Terdengar dering telpon dari ponsel Fauzan, Fauzan mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnya, dia menghela nafas pelan, “Qila, maaf ya gue gak bisa lama, soalnya udah di telpon sama nyokap, nanti kalau gue ke Jakarta lagi kita jalan-jalan” ucap Fauzan tersenyum dan berdiri dari duduknya.
“Iya, salam buat orang tua lo dan nenek lo semoga cepat sembuh” ucap Aqila ikut berdiri.
“Iya, pasti gue salamin, jaga diri lo” ucap Fauzan tersenyum.
“Gua berangkat dulu, assalamualaikum” salam Fauzan.
“Waalaikummussalam” jawab yang lain dan Fauzan pun pergi.
“Lo kayaknya deket banget sama dia” saut Ilham menatap punggung Fauzan.
“Gak juga” balas Aqila.
“Bal saingan nih” ucap Faisal menyenggol lengan Iqbal.
Iqbal mengangguk-anggukan kepalanya dan menatap Aqila yang juga menatapnya, ‘Saingan? Maksudnya apa?’ batin Aqila bingung.
***
Malam ini langit begitu cerah secerah perasaan Aqila, Aqila menatap langit dengan senyuman yang mengembang di wajah cantiknya.
Senyuman yang telah hilang kini kembali lagi, “Ya Allah, hamba tidak bisa membencinya, sesakit apapun dia memberikan luka, tapi hamba tidak bisa membencinya apalagi hingga melupakannya” gumam Aqila menghela nafas pelan.
Aqila kembali tersenyum ketika mengingat kejadian tadi siang, ketika dia dan teman-temannya memainkan truth or dare walaupun sudah tidak zaman, tapi mereka ingin mengulang waktu dulu.
“Truth or dare?”
“Truth”
“Siapa wanita yang masih di hati dari dulu hingga sekarang bahkan hingga akhir hayat?”
“Queenza Aqila”
Aqila tersenyum ketika mengingatnya, ucapan itu terus terngiang di kepalanya, di mana Ilham memberika pertanyaan konyol kepada Iqbal.
“Astagfirullah Qila, kamu gak boleh gitu, bang Iqbal itu sudah berkeluarga, dan itu hanya sebuah permainan dan pertanyaan konyol” gumam Aqila menggelangkan kepalanya.
Aqila menghela nafas ketika dia mengingat bahwa Iqbal sudah berkeluarga, OMG memikirkannya saja sudah membuatnya malas, sudah lupakan.
“Ikhlas, apa yang Tuhan berikan adalah yang terbaik dari yang terbaik itu sudah pasti Aqila, kau hanya perlu menjalankannya saja dengan benar sudah cukup itu” ucap Aqila mengigatkan dirinya sendiri.
“Huh, baiklah kita mulai dari awal, dengan membuka lembaran baru dan perasaan baru” lanjutnya tersenyum dan setelah itu masuk ke kamarnya dan menutup pintu balkon karena hari sudah sangat malam.
Di sebrang sana ternyata ada yang terus memperhatikannya, “Kau tidak tau apa-apa, Aqila” gumamnya.
**To Be Continued...
***
__ADS_1
Iqbal meresahkan ya guys, ingin ku tendang ke sungai amazon😍, guys kira-kira apa yang tidak Aqila tau ya? Yang penasaran saksikan terus kelanjutan ceritanya....
Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**...