Takdir Untuk Aqila

Takdir Untuk Aqila
Pamit


__ADS_3

“Iqbal” panggil Ilham ketika melihat Iqbal yang ternyata tak sengaja memecahkan vas bunga.


“Ehh maaf, gak sengaja” ucapnya dan membereskan pecahan vas tersebut.


“Ehh den Iqbal gak usah den, biar sama bibi saja” saut bibi yang baru datang dengan membawa sapu dan kuntau.


“Gak papa bi, biar Iqbal bantu” ucap Iqbal.


“Gak usah, udah gak papa, masa calon nganten negebersihin ini sih, udah gak papa” ucap bibi.


Sedangkan Ilham langsung menatap Aqila yang hanya diam saja sembari memainkan si gembul, “Qii” panggil ilham pelan.


“Hmm” dehemnya.


“Maaf menganggu” saut Iqbal yang sudah berada di hadapan mereka berdua.


“Ada apa?” tanya Ilham ketus.


“Ana kesini cuman mau bilang kalau kamu di panggil sama ibu” jawab Iqbal kepada Ilham.


Ilham langsung menatap Iqbal yang menatapnya datar, lalu menghela nafas pelan, “Qii bentar ya gue mau ke ibu dulu, jagain si gembul jangan sampai kabur” ucap Ilham dan bangkit dari duduknya.


“Iya” jawab Aqila singkat.


Ilham segera pergi meninggalkan Iqbal dan Aqila berdua, sedangkan Aqila hanya diam saja tanpa menghiraukan kehadiran Iqbal, dan Iqbal pria tersebut terus saja menatap Aqila.


“Qila” panggilnya pelan.


“Gembul ayo kita main di kamar aja” ucap Aqila kepada si gembul dan mengendongnya lalu pergi ke kamarnya.


Iqbal melihat kepergian Aqila dengan si gembul, dia menghela nafas pelan, setelah itu segera pergi sebelum pergi dia melihat dulu lukisannya.


“Bagus dan cantik” guamamnya tersenyum simpul lalu segera pergi.


***


Detik berganti menit dan menit berganti jam, malam ini adalah malam terkahir Aqila berada di rumahnya sebelum dia berangkat ke Kairo.


“Aqila” panggil ayah Fikri menatap anak gadisnya yang hanya diam saja sembari menonton TV.


“Iya yah?” Aqila menatap balik sang ayah.


Ayah tidak melanjutkan ucapannya melainkan merengangkan tangannya, Aqila yang paham segera berhamburan kepelukan sang ayah.


“Qila sayang ayah” ucap Aqila yang berada di pelukannya.


“Ayah juga sayang Qila, anak gadis ayah udah besar bukan lagi anak kecil yang nagis karena gak di beliin permen, sekarang nangis karena harus menanggung masalah. Nak jika kamu ada masalah bisa cerita sama ayah jangan di pendam sendiri ayah siap menjadi pendengar untuk kamu” ucap ayah mengelus lembut kepala Aqila.


Sedangkan Aqila hanya diam saja dan sudah terisak di dalam pelukan sang ayah, “Anak ayah harus bisa jaga diri baik-baik, sekarang Aqila mau jauh dari ayah dan bunda, walaupun nanti udah jauh dari kita Aqila jangan nakal ya” ucap ayah.


“Bagaimana pun Aqila masih menjadi Aqila kecilnya ayah, masih jadi gadis kecilnya ayah” lanjutnya memeluk erat Aqila yang sudah terisak.


“Bunda gak di ajak pelukan nih” saut bunda yang baru datang.


Aqila langsung meregangkan tangannya, dan bunda juga ikut memeluk, mereka berpelukan menyalurkan kasih sayang satu sama lain.


“Ya sudah sekarang Aqila istirahat karena besok pagi-pagi harus berangkat” ucap bunda melepaskan pelukannya.


“Iya bund, ayah dan bunda juga istirahat gak boleh sampe kecapean” ucap Aqila sembari mengusap air matanya.


“Iya sayang, selamat malam” ucap ayah dan bunda bareng.


“Selamat malam” Aqila segera masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.


“Anak kita udah besar ya yah, padahal baru kemari bunda lahiran” ucap bunda melihat Aqila yang memasuki kamarnya.


“Iya bund, baru kemarin juga Aqila nangis minta di beliin es krim tapi sama ayah larang karena lagi sakit” saut ayah tersenyum sembari memeluk sang istri.


“Sekarang sudah besar dan sudah mengenal kejamnya dunia” bunda meneteskan air matanya.

__ADS_1


“Sudah jangan nangis, masa udah nenek-nenek masih aja nangis” ejek ayah menghibur bunda.


“Ayahh ihhh” ucap bunda kesal dan memukul pelan lengan suaminya.


Ayah hanya terkekeh pelan, “Ya sudah ayo kita istirahat karena besok pasti acara kita padat” ucap ayah dan di angguki oleh bunda, lalu mereka pun memasuki kamarnya.


***


Sedangkan Aqila di dalam kamarnya belum benar-benar tidur melainkan sedang menatap luar, dia sekarang sedang berada di balkon kamarnya.


Aqila meregangkan tangannya membiarkan angin malam menerpa tubuhnya, Aqila menatap langit malam yang cerah tapi tidak secerah suasana hatinya.


Dia menghela nafas pelan, “Bisakah waktu di putar lagi” gumamnya pelan.


“Ya Tuhan kenapa ini terjadi padaku?” gumam Aqila.


“Kenapa engkau mengambil semuanya?”


“Astagfirullah, maafkan hambamu ini Ya Allah, dan kuatkan Qila untuk menerima semuanya” Aqila meneteskan air matanya lalu segera di hapus.


Ketika Aqila menatap balkon kamar Iqbal dia terdiam membeku, netra matanya melihat wajah tampan yang hanya di sinari lampu remang-remang.


“Abang” gumam Aqila pelan.


Aqila segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup balkon kamarnya, “Huhh, mungkin konsep menjauh untuk menjaga berlaku kepada Qila saat ini” ucap Aqila menghela nafas pelan dan duduk di bad covernya.


Aqila mengambil sebuag bingkai foto yang terlektak di atas nakasnya, dia tersenyum ketika melihatnya, “Abang...” lagi-lagi Aqila meneteskan air matanya.


***


Pagi harinya Aqila sudah siap, bukan siap untuk berangkat sekolah melainkan siap untuk berangkat meninggalkan tanah air nya.


“Aqila, sudah semuanya nak?” tanya ayah Fikri.


“Iya yah In Syaa Allah sudah semua” jawab Aqila.


“Aqila nih bawa ini, untuk kamu makan di dalam perjalanan, kan kamu sering laper, kemarin bunda sengaja membuatnya” ucap bunda memberikan paper bag berukuran sedang.


“Iya Nda” Aqila menerimanya.


“Non Qila, yang ini juga?” tanya mang Tono sembari menunjuk lukisan yang kemarin.


“Iya mang” jawab Aqila.


“Qila kamu gak mau pamitan dulu sama umi Fatimah dan abi Syam?’ tanya ayah mentap anaknya.


Aqila menghela nafas pelan, “Mau ko yah” jawab Aqila.


Lalu Aqila segera menuju ke rumah Iqbal, dia megetuk pintunya ketika sudah berada di hadapnya, “Assalamualikum” salam Aqila.


“Waalaikummussalam” jawabnya tak berselang lama pintu terbuka dan nampaklah wajah umi Fatimah.


“Ehh Qila” ucap umi Fatimah dan Aqila segera menyalimi tangan umi Fatimah.


“Ada apa nak?” tanyanya.


“Gak ada apa-apa umi, Qila kesini cuman mau pamitan sama umi dan abi” ucap Aqila tersenyum simpul.


“Pamitan kemana nak?” tanya umi Fatimah mengerutkan keningnya.


“Aqila mau kulian di Kairo umi, alhamdulillah Qila dapat beasiswa” jawab Aqila tersenyum.


“Maa Sya Allah, selamat ya nak, umi ikut senang dengarnya” ucap umi Fatimah mengelus kepala Aqila lembut.


“Iya umi, makasih” saut Aqila tersenyum simpul.


“Bentar umi panggilkan abi dulu ya, ABIII” umi meneriaki abi Syam.


“ABII” teriaknya lagi ketika tidak ada sahutan.

__ADS_1


“Iya umi apa sih teriak-teriak?” tanyanya menghampiri mereka.


“Ini lho ada Aqila, oh iya nak masuk dulu yu” ucap umi Fatimah.


“Iya umi makasih” lalu mereka masuk dan duduk.


“Kenapa umi?” tanya abi.


“Ini Aqila dia kan mau berangkat ke Kairo” jawab umi Fatimah.


“Hah bener nak?” tanya abi Syam kaget menatap Aqila.


“Iya abi” jawab Aqila tersenyum.


“Maa Sya Allah, alhamdulillah ya nak” ucap abi.


“Kenapa baru bilang sekarang nak?” lanjutnya bertanya.


“Gak papa abi, suprais” jawab Aqila terkekeh.


“Tapi ini dadakan sekali nak” saut umi Fatimah.


“Hehe iya umi maaf” ucap Aqila tersenyum.


“Kamu jadi gak bisa ngehadirin acara khitbahnya Iqbal dong” ucap umi sendu, sedangkan Aqila terdiam lalu tersenyum tipis.


“Maaf umi, tapi emang jadwalnya sekarang” ucap Aqila, umi menghela nafas pelan.


“Berapa lama nak?” tanya abi.


“Kurang lebih sampai Qila lulus S1” jawab Aqila.


“Lama juga ya nak” ucap umi Fatimah.


“Iya Umi” saut Aqila mengangguk.


“Ya sudah umi, abi Aqila berangkat dulu ya” saut Aqila berdiri dari duduknya.


“Ehh bentar dulu nak” cegah umi Fatimah lalu pergi ke dapur.


“Ini bawa ini” ucap umi Fatimah memberikan paper bag kepada Aqila.


“Ini apa umi?” tanya Aqila.


“Ini makanan kesukaan kamu, kemarin umi membuatnya, kirain umi kamu bakalan ikut acaranya mangkanya umi membuatkannya untukmu” ucap umi Fatimah tersenyum.


“Ehh iya umi makasih ya” Aqila menerimanya.


“Iya sayang sama-sama” umi Fatimah tersenyum.


“Ya sudah Aqila pamit dulu ya umi, abi” Aqila memeluk umi Fatimah.


“Iya nak hati-hati ya, maaf kami tidak bisa memberikan apa-apa dan tidak bisa mengantarmu ke bandara” ucap umi Fatimah mengelus lembut kepala Aqila.


“Iya umi gak papa, ini juga udah cukup ko” saut Aqila melepas pelukannya.


“Hati-hati ya nak, jaga diri kamu baik-baik” ucap abi Syam mengelus kepala Aqila pelan.


“Iya abi, Aqila pamit dulu ya umi, abi, assalamualikum” Aqila menyalimi tangan umi Fatimah saja karena dia tau abi Syam tidak pernah menyentuh wanita yang bukan mahramnya.


“Iya nak waalaikummussalam” jawabnya.


Aqila lalu keluar rumah dan berjalan menghampiri mobil yang sudah terparkir, tapi langkahnya terhenti ketika ada yang memanggilnya, “Aqila” panggil seseorang dari arah belakang.


**To Be Continue....


***


Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**...

__ADS_1


__ADS_2