Takdir Untuk Aqila

Takdir Untuk Aqila
Lebih dari sekedar anak


__ADS_3

Malam harinya, Aqila sudah siap dengan pakaian rapihnya, dia menghela nafas pelan sebelum menekan tombol belnya.


”Hufhh... Kenapa deg-degan gini” gumam Aqila menghela nafas pelan.


Ting Nong


Aqila menekan tombol bel sekali, tapi tidak ada jawaban, dan yang kedua kali pun sama, dan akhirnya Aqila memutuskan mengetuk pintu.


Tapi ketika akan mengetuk pintu bukan pintu yang di ketuk melainkan kening seseorang.


“E-ehh, m-maaf” ucap Aqila gugup menatap pria jangkung di hadapannya.


Iqbal menghela nafas pelan, “Iya gak papa, ayo masuk umi dan abi sudah menunggu” saut Iqbal mempersilahkan Aqila masuk.


Aqila mengangguk pelan lalu masuk ke dalam rumah di ikuti Iqbal di belakang, “Assalamualaikum umi, abi” salam Aqila ketika sudah sampai di meja makan.


Iqbal sudah duduk di hadapan Abi Syam, “Ehh sayang, waalaikummussalam sini duduk nak” jawab Umi dan Abi.


Lalu Aqila duduk di samping Iqbal awalnya ragu tapi mau bagaimana lagi, dan setelah itu menyalimi tangan umi tak lupa menangkupkan tangan kepada abi, “Maaf lama menunggu” ucap Aqila tak enak.


“Gak papa, kami juga baru selesai sholat isya kok” saut umi tersenyum.


Aqila membalas senyumannya dan mengangguk pelan, ”Ya sudah kita langsung makan malam saja” lanjut umi dan mereka memulai makan malam dengan do'a yang di pimpin abi Syam.


Keadaan di meja makan sangatlah hening tidak ada yang membuka suara sama sekali, hingga umi membuka percakapan.


“Mmm, Qila sekarang kamu sudah lulu kuliah rencana selanjutnya apa? Apakah akan langsung menikah?” tanya umi Fatimah.


“Aqila mau fokus mempelajari dulu usaha ayah dan bunda, kalau untuk menikah Aqila tidak berpikir sejauh itu” jawab Aqila.


“Ya sudah jika itu keinginanmu, kalau kamu sudah siap untuk menikah bilang sama umi ya biar nanti umi siapkan pernikahan kalian berdua” ucap umi tersenyum senang.


“Uhukkk... Uhukk”


Aqila dan Iqbal tersedak secara bersamaan, abi hanya diam saja dan umi sudah khawatir, “Ehh kalian minum dulu, pelan-pelan dong makannya” ucap umi Fatimah memberika dua gelas berisi air putih kepada kedua orang di hadapannya.


Iqbal dan Aqila menerimanya secara bersamaan, mereka pun memminumnya bareng, “Makasih umi” dan ucapan mereka pun bareng.


Iqbal dan Aqila saling pandang sebelum Aqila memalingkan wajahnya, umi tersenyum melihat mereka berdua, “Iya sama-sama, mangkanya kalau makan tuh pelan-pelan” omel umi Fatimah.


“Bukan karena makannya terburu-buru umi, tapi karena ucapan umi” saut abi Syam yang sedari tadi diam.


“Hah, ucapan umi yang mana?” tanya umi Fatimah bingung.


“Gak tau” jawab abi Syam datar.


Ternyata memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sifat dingin Iqbal turunan dari abi Syam.


Umi mendengus kesal dan mengangkat bahunya acuh, “Sudah jangan dengarkan abi, mending lanjutkan saja makannya” ucap umi Fatimah.


Iqbal dan Aqila pun mengangguk bersamaan dan mereka pun melanjutkan makan malam kembali tanpa ada yang membuka suara lagi.


Setelah mereka selesai makan malam, dan mereka pun masih stay di meja makan untuk menurunkan terlebih dahulu makanannya.


“Aqila” panggil abi Syam lembut.


“Iya abi?” saut Aqila menatap abi Syam.

__ADS_1


“Selain kami mengajak kamu makan malam, juga ada alasan lain yang ingin abi sampaikan padamu nak” ucap Abi Syam.


“Apa Abi?” tanya Aqila.


Abi Syam menghela nafas pelan sebelum berbicara, “Sebenarnya sebelum orang tua kamu kecelakan, mereka menitipkan kamu pada kami, tapi bukan hanya sekedar di titipkan sebagai anak...” jawab Abi Syam menggantung ucapannya.


“Lalu apa Abi?” tanya Aqila.


“Tapi nanti jangan terlalu kamu pikirkan” jawab Abi Syam tersenyum tipis.


“Iya Abi” saut Aqila mengangguk pelan.


“Hufhh... Melainkan menjadi manantu kami, apakah kamu mau?” tanya Abi Syam membuat Aqila terdiam.


Entahlah hati dan pikiran Aqila campur aduk, ada perasaan senang, sedih, dan takut. Takut? Iya takut, entah Aqila tiba-tiba merasakan takut.


“Nak Qila” panggil umi Fatimah membuyarkan lamunan Aqila.


“E-eh iya umi?” saut Aqila gugup, dan Iqbal terus saja diam.


“Jadi bagaimana jawaban kamu nak?” tanya Umi Fatimah.


“Hufhh... Mmm bolehkah kasih Aqila waktu untuk menjawabnya?” tanya balik Aqila.


“Tentu saja, dan kami pun tidak memaksa, tapi kamu harus ingat ini keinginan kedua orang tua kamu, jika kamu sudah ada Jawaban jangan lupa kasih tau kami” ucap Umi Fatimah tersenyum.


Aqila mengangguk pelan, “Mmm boleh Aqila menanyakan sesuatu?” tanya Aqila.


“Tentu saja boleh, ingin bertanya apa?” tanya balik Abi Syam.


“Apakah Abi tau alasan bunda dan ayah yang secara tidak langsung menjodohkan Aqila?” tanya Aqila hati-hati.


Aqila tersenyum menanggapinya, dia paham dengan sikap Abi Syam yang jarang bercanda, jadi Aqila tak memperpanjang pertannyaan walaupun banyak sekali yang ingin dia tanyakan.


...***...


“Tidak, aku harus apa sekarang?” tanya seorang gadis kepada dirinya sendiri.


“Haruskah aku memberitahu mereka semua atau tidak?” lanjutnya meraup wajahnya lelah.


Ting


Satu notifikasi masuk ke dalam ponselnya, dia membukanya dan membacanya.


“Sialan, nomer asing sialan” teriaknya frustasi dan melempar ponselnya ke atas kasurnya.


“Sekarang aku harus gimana?” tanyanya lirih pada dirinya sendiri dan duduk di tepi ranjangnya.


...***...


Bintang dan bulan yang terang menghiasi malam yang indah ini, dan gadis cantik yang sedang menatapnya dari bumi, dia sedang duduk di bangku taman depan halaman rumahnya.


“Jika bulan dan bintang tidak bisa bersatu, lantas kenapa mereka selalu bersama-sama untuk menerangi bumi di malam hari?” tanya gadis tersebut terus menatap langit.


“Dan ketika ada pelangi datang di malam hari atensi manusia beralih padanya, padahalkan pelangi tak bisa menerangi bumi di malam hari, berbeda dengan bulan dan bintang yang selalu setia” lanjutnya bergumam.


“Sebenarnya bulan dan bintang ingin sekali bersatu, tapi mereka berdua tau bahwa mereka tidak akan pernah bersatu, karena mereka berbeda dan memiliki perannya masing-masing. Karena jika mereka bersatu akan berbeda makna dan peran, dan cahaya yang menerangi bumi pun tidak akan besar, tapi jika Allah sudah berkehendak mereka bisa saja bersatu, sama halnya dengan kita” saut pria yang ternyata sedari tadi sudah berdiri di belakang si wanita.

__ADS_1


Wanita menoleh kebelakang dan dia menatap si pria yang terus menatap langit, “Kita tidak akan bersatu karena kita berbeda, tapi jika Allah berkehendak, kita akan bersatu walaupun sebesar apapun perbedaan yang kita miliki, dan kalaupun kita tetap tidak bisa bersatu kita akan selalu bersama-sama” lanjut si pria dan beralih menatap si wanita.


Mereka berdua saling pandang satu sama lain, sebelum si pria kembali melanjutkan ucapannya.


“Dan satu lagi, karena pelangi memiliki warna dan lebih indah dari bulan dan bintang walaupun dia tak bisa memancarkan cahaya, tapi pelangi bisa memberikan warna di gelapnya malam yang tak memiliki warna, dan pelangi sama halnya denganmu” lanjutnya tersenyum tipis.


Si wanita memalingkan wajahnya yang sudah memerah, “Mmm lagi apa l-lo di sini?” tanya si wanita gugup.


“Umi menyuruh memberikan ini padamu” jawabnya dan memberikan paper bag kepada wanita.


“Bilang kepada umi, makasih” ucap si wanita menerima paper bag.


“Iya, Aqila” sautnya tersenyum tipis.


“Lebih baik kamu masuk, angin malam ini tak baik untukmu, abang gak mau kamu sakit” lanjut Iqbal menatap Aqila.


“I-iya, assalamualaikum” salam Aqila dan langsung masuk ke dalam rumahnya.


“Waalaikummussalam” jawab Iqbal dan menatap Aqila hingga masuk ke dalam rumahnya.


Iqbal menghela nafas pelan, “Hufhh... Tapi aku ingin menjadi bulan dan kamu menjadi bintang, walaupun mereka tidak akan pernah bersatu setidaknya mereka selalu bersama” ucap Iqbal panjang sembari menatap langit malam dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Sedangkan di siai Aqila, Aqila menatap Iqbal dari balkon kamarnya, Aqila tersenyum miris ketika samar-sama mendengar ucapan Iqbal.


“Karena kau tak pernah ingin kita bersatu” gumam Aqila sendu terus menatap Iqbal, setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya.


Di sisi lain Iqbal, “Karena jika kamu menjadi pelangi dan aku malam ataupun bumi, kita tidak akan selalu bersama apalagi bersatu, karena pelangi tak akan selalu ada setiap saat walaupun ia memberikan warna, tapi percuma jika hanya sekejap setelah itu pergi” lanjut Iqbal dan setelah itu kembali ke rumahnya.


Kembali di posisi Aqila, dia menghela nafas pelan dan duduk di tepi ranjang, tiba-tiba pikirannya teringat dengan percakapan tadi ketika makan malam.


“Apa yang harus ku jawab? Apakah aku harus menerimanya? Atau menolaknya?” gumam Aqila bertanya pada dirinya sendiri.


Ting


Satu pesan masuk ke ponselnya, Aqila menghela nafas pelan ketika melihat siapa yang mengirim pesan.


...• Via Chat •...


_____________________________________________


Fauzan


_____________________________________________


...Today....


-Asslamualaikum cantik, selamat malam, sebentar lagi aku kembali tunggu aku untuk menjemputmu.- 09.10//


_____________________________________________


“Dan Fauzan akan kembali” gumam Aqila setelah membaca pesannya.


...To Be Continued......


...***...


...Guyss sorry ya kalau katanya ****pabeulit****....

__ADS_1


...Guys apa jawaban Aqila ya? Terima or tolak? Dan bagaimana dengan Fauzan ya guys? Apakah nanti akan ada persaingan? Penasaran? Saksikan terus kelanjutan ceritanya......


...Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye.......


__ADS_2