Takdir Untuk Aqila

Takdir Untuk Aqila
Cowok aneh


__ADS_3

Setelah mereka makan siang, mereka kembali berbincang-bincang dengan memakan makanan penutupnya.


“Abang mau ini gak? Ini enak tau” ucap Aqila menyodorkan es krim kepada Iqbal.


“Gak” jawabnya tanpa melirik Aqila.


“Abang beneran gak mau?” tanya Aqila menatap Iqbal.


Kali ini Iqbal melirik sekilas lalu kembali memalingkan wajahnya, “Gak, buat Qila aja” jawabnya.


“Ohh ya udah” Aqila kembali memakan es krimnya.


“Qila gue aja, gue mau” saut Ilham menyodorkan lengannya.


“Ihhh enak aja, Qila mah cuman nawarin abang Iqbal, bukan ka Ilham” ucap Aqila menjauhkan es krimnya, lalu kembali melahapnya hingga habis.


“Uuu dasar Qila pelit, wlee” ejek Ilham menjulurkan lidahnhya.


“Abang lihat, ka Ilham nakal sama Qila” adu Aqila pada Iqbal sembari menunjuk ke arah Ilham yang terus saja menjulurkan lidahnya.


“Tau nih anak satu gak mau banget diem” saut Yuri menatap sinis Ilham.


“Ihhh Yuri gimana sih kan dia alien, mana ada alien yang bisa diem” saut Loli menatap Ilham polos.


“Haha, sabar ya Ham, ini cobaan untuk ente” tawa Faisal menepuk lengan Ilham pelan.


“Serah lo aja” sautnya kesal tapi kemudian tersenyum ketika melihat Loli yang menatapnya.


“Lo berisik, suara lo kaya kuda keselek ban mobil” sinis Yuri kepada Faisal.


“Enak aja, suara ana bagus gini di samain sama kuda keselek, gak tau aja dia suara asli ana, ya kan Bal?” tanya Faisal menatap Iqbal.


“Iya” saut Iqbal dan kembali fokus menatap luar jendela cafe sembari tersenyum tipis, Aqila yang sedari tadi memperhatikan Iqbal mengikuti arah pandang Iqbal, ketika dia melihatnya ada rasa sakit di hatinya.


‘Ternyata sedari tadi abang lihatin ka Syifa’ batin Aqila sedih, memang di depan cafe sedang ada Syifa dengan temannya sedang duduk di bangku sembari membaca buku.


Aqila tersenyum, “Abang lihatin siapa?” tanya Aqila pura-pura tidak tau.


Iqbal spontan menoleh ke arah Aqila yang berada di depannya, “Ohh gak lihatin siapa-siapa” jawabnya datar.


“Abang bohong, Qila tau itu” ucap Aqila berusaha tersenyum.


“Apa sih Qi, udah makan lagi terus pulang” ucap Iqbal sembari meminum minumannya.


“Iya bang” saut Aqila menuruti.


“Udah yu pulang, Loli udah cape mau bobo siang” ucap Loli meletakan gelas yang sudah kosong.


“Ayo pulang, kasihan bebebnya Ilham udah cape” ucap Ilham sembari tersenyum.


“Ihh beb-beb, nama Loli bukan bebeb ya, tapi LOLI” tekan Loli menekan namanya sendiri.


“Tau nih ular jantan” saut Yuri sinis.


“Udah Yuri sama ka Faisal bayar dong” ucap Aqila tersenyum.


“Hah, gak lah” ucap Yuri bersedekap dada.


“Cewek aneh udah cepet patungan udah cape ana harus debat terus” ucap Faisal lalu mengeluarkan dompetnya.


“Enak aja gak lah” ucap Yuri memalingkan wajahnya.


“Serah kamu aja, ana cuman bayar setengahnya” ucapnya dan mengeluarkan uang seratus ribu dua lembar.


“Ohh astaga gue lupa gak bawa duit” ucap Yuri menepuk jidatnya sembari melirik Faisal.


“Ck, bohong banget” Faisal melirik sinis Yuri.


“Kalau lo gak percaya lo bisa cek tas gue” ucap Yuri menyodorkan tasnya.


“Males banget, bilang aja gak bisa bayar” sinis Faisal lalu berdiri untuk bayar, Yuri yang melihatnya tersenyum kemenangan.


‘Emang enak, huh mau melawan Yuri ya, sorry gak bisa’ batin Yuri tersenyum senang.


“Emang Yuri bener gak bawa uang?” tanya Loli menatap Yuri.


“Emang lo percaya? Ya gak lah gue mah stay is uang” ucap yuri tersenyum.


“Yuri bohong” ucap Loli.


“Gue gak bohong, cuman mau ngerjain tuh cowok aja, huh Yuri di lawan” ucapnya membanggakan dirinya.


“Ohh jadi gitu” saut Faisal yang baru datang, Yuri yang mendengarnya langsung melotot.


“Ehh kapan lo ada di situ?” tanya Yuri kaget.


“Sejak kamu bilang mau ngerjain ana” ucap Faisal.


“Sekarang kamu punya hutang ke saya dua ratus ribu” lanjutnya bersedekap dada, lalu pergi.


“Heh mana bisa gitu” teriak Yuri tak terima.


“Ihh tuh cowok bener-bener ya, awas aja nanti gue jadiin dia sayur soup” ucap Yuri kesal lalu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan teman-temannya.


“Yuri mau kemana tungguin Loli, Qila Loli duluan ya” ucap Loli lalu menyusul Yuri.


“Iya hati-hati” teriak Aqila melambaikan tangannya, dan dia melihat Yuri dan Loli pergi dengan motornya dengan kecepatan sedang meninggalkan cafe tersebut.


“Ya udah kita juga pulang” ucap Iqbal lalu pergi keluar.


“Ayo Qi” Ajak Ilham.


Sesampainya di parkiran sudah ada Faisal yang sedang berdiri di depan mobilnya, “Ayo cepat kita masih ada urusan” ucap Faisal lalu masuk ke dalam mobilnya.


“Abang mau pergi?” tanya Aqila menarik lengan baju Iqbal.


Iqbal melihat lengan nya yang di tahan oleh Aqila dia melepasnya pelan, “Iya, Qila lebih baik pulang, pasti ayah sama bunda udah nyariin, abang mau ambil mobil abang dulu” ucap Iqbal.


“Ya udah deh, hati-hati bang” ucap Aqila cemberut.


“Hmm” lalu Iqbal masuk ke mobil.


“Qi, duluan ya assalamualaikum” ucap Faisal lalu melajukan mobilnya meninggalkan parkiran cafe.


“Waalaikummussalam” jawabnya lalu Aqila juga pulang ke rumahnya.


***

__ADS_1


“Abang ko belum juga pulang ya?” gumam Aqila pelan sembari melihat ke bawah.


Aqila kini sedang berada di balkon kamarnya dia sedang menunggu Iqbal, “Lama banget lagi apa sih?” Aqila terus saja bergumam sembari menopangkan dagunya di lengannya.


“Wahh itu abang bukan?” ucap Aqila tersenyum dan duduk dengan sempurna, tapi senyuman itu luntur ketika ada seorang wanita yang turun dari mobil Iqbal.


“Wanita itu...” Aqila jadi lemas di buatnya.


“Ka Syifa” lanjutnya.


“Ngapain ka Syifa bisa bareng sama abang ya?” tanya Aqila pada dirinya sendiri.


“ABANGG” teriak Aqila tersenyum sembari melambai-lambaikan tangannya lalu dia segera berlari turun.


“ABANGG baru datang ya?” tanya Aqila menghampiri Iqbal dan Syifa.


“Iya” jawab Iqbal datar.


“Hmm, makasih ya atas tumpangannya, ana duluan assalamualaikum, Qila mari kaka duluan” ucap Syifa tersenyum di balik cadarnya.


“Iya ka, waalaikummussalam” jawab Aqila melihat kepergian Syifa.


“Abang ko ka Syifa bisa sama abang?” tanya Aqila menatap Iqbal.


“Ketemu di depan” jawab Iqbal ketus lalu hendak pergi tapi segera di tahan oleh Aqila.


“Ohh, abang ka Syifa baik ya, cantik lagi” ucap Aqila melihat Syifa yang sudah menjauh.


“Iya” jawab Iqbal pelan tersenyum tipis, tapi Aqila masih mendengarnya dia menatap Iqbal yang juga mentap Syifa.


“Abang” panggil Aqila yang membuyarkan lamunan Iqbal.


“Eh iya?” sautnya.


“Abang masuk dulu, mau istirahat” ucap Iqbal lalu masuk kedalam rumahnya.


“Iya abang, selamat istirahat jangan lupa mikirin Qila ya” Aqila sedikit bertriak.


Ketika Aqila ingin kembali kerumahnya langkahnya terhenti ketika ada yang memanggilnya, “Aqila” panggi umi Fatimah.


“Eh umi” Aqila lalu menyalimi umi Fatimah.


“Ada apa umi?” tanya Aqila menatap umi Fatimah.


“Ohh gini, umi mau minta tolong sama Qila boleh?” tanya balik umi Fatimah.


“Tentu saja boleh umi, mau minta tolong apa?” tanya Aqila lagi dengan senyuman khasnya.


“Tolong bantuin umi beres-beresin buku, udah pada numpuk bukunya dan juga banyak jadi umi mau minta Qila bantuin umi, gak papa kan nak?” saut umi tersenyum.


“Ohh tentu saja gak papa umi, Qila siap ko hehe” kekeh Aqila, lalu Aqila mengikuti umi Fatimah masuk.


“Tuh banyak banget kan Qi?” ucap umi sembari menunjuk kardus-kardus berisi banyak buku.


“Wah iya umi, banyak banget, eh ini juga ada foto Qila dengan abang waktu kecil” ucap Aqila mengambil salah satu foto berukuran kecil.


“Ihhh comelnya abang” ucap Aqila tersenyum-senyum.


“Qi sini duduk, masa berdiri aja apa gak cape?” saut umi Fatimah, Aqila pun duduk di samping umi Fatimah.


“Iya, lihat Iqbal mukanya masam gitu” saut umi Fatimah terkekeh pelan.


“Iya hehe” Aqila pun ikut terkekeh.


“Eh malah ngobrol, ayo mulai membereskannya” umi Fatimah mulai mengeluarkan beberapa buku.


“Eh iya ya umi hehe” Aqila pun mulai membantu umi Fatimah.


“Abang sangat suka membaca buku, hingga sebanyak ini” ucap Aqila melihat buku-buku Iqbal yang sudah tidak terpakai.


“Iya, belum lagi di kamarnya masih banyak” saut umi Fatimah menggelengkan kepalanya.


“Apa abang gak bosen baca buku terus?” tanya Aqila mengerutkan keningnya.


“Emang tuh anak gak ada bosen-bosennya buat baca buku, dari pagi sampai malam terus saja membaca” ucap umi terkekeh.


“Abang-abang” Aqila juga ikut menggelengkan kepalanya.


“Ohh iya umi nanti buku-buku sebanyak ini mau di kemanain?” tanya Aqila menoleh ke arah umi Fatimah.


“Mau umi sedekahkan, ini juga Iqbal yang minta” jawab umi Fatimah, Aqila hanya mengangguk paham.


“Umi” panggil Iqbal dari arah tangga.


Aqila dan umi Fatimah menoleh ke arah sumber suara, Aqila sempat terpana melihat ketampanan Iqbal yang lebih dua kali lipat dari sebelumnya, pasalnya pria tersebut baru selesai mandi.


‘Maa Sya Allah, ganteng sekali ciptaanmu ini Tuhan, pliss itu jodohnya Qila’ batin Aqila menjerit, sumpah rasanya Aqila ingin teriak.


Aqila terus saja memperhatikan Iqbal tanpa mengalihkan pandangannya, hingga Iqbal sudah berada di depannya.


“Ekhemm” dehem Iqbal membuyarkan lamunan Aqila.


“Eh abang” Aqila terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Gimana bang?” tanya umi Fatimah menatap Iqbal.


“Gak papa umi” jawab Iqbal dan membantu uminya juga.


“Ohh iya umi, abi kemana?” tanya Iqbal.


“Biasa, lagi berbisnis dengan ayahnya Qila” jawab umi Fatimah.


“Assalamualaikum” salam seseorang dari luar rumah.


“Waalaikummussalam” jawab mereka bertiga.


“Wah pasti Syifa udah datang” ucap umi Fatimah sumringah, lalu membukakan pintu rumah untuk Syifa.


“Assalamualaikum” salam Syifa ketika sudah berada di depan Aqila dan Iqbal.


“Waalaikummussalam” jawab mereka berdua dan menoleh ke arah Syifa, Iqbal sempat terdiam melihat wanita yang ada di hadapannya saat ini.


“Ehh kenapa cuman bengong, sini nak duduk” saut umi Fatimah.


“Ehh iya tan, makasih” Syifa pun duduk di samping Qila.


“Qila juga ada di sini?” tanya Syifa tersenyum di balik cadarnya.

__ADS_1


“Iya ka” jawab Aqila juga tersenyum.


“Qila, umi sengaja manggil Syifa untuk membantu juga, karena Syifa sangat pintar dalam memilih buku yang masih bermanfaat” saut umi Fatimah tersenyum.


“Ohh gitu ya umi hehe” Aqila terkekeh pelan.


“Apa ini semua bukunya tante?” tanya Syifa melihat banyak buku.


“Iya nak, tolong bantu ya” jawab umi Fatimah tersenyum.


“Iya tan, Syifa akan bantu ko” saut Syifa lembut.


Mereka pun akhirnya mulai membereskan buku-bukunya lagi, dan sedari tadi Aqila terus memperhatikan Iqbal yang terus mencuri-curi pandang kepada Syifa yang sedang fokus membantu umi Fatimah.


Ada perasaan kesal bercampur sedih dan bercampur aduk lah, ‘Ihh abang ko lihat-lihat gitu sih’ batin Aqila kesal.


“Abang lihat deh ini foto kita berdua, lucu banget ya?” ucap Aqila memperlihatkan foto yang di mana Aqila dan Iqbal sedang bermain sepeda bareng dan Aqila sedang di bonceng oleh Iqbal.


Iqbal melihat foto tersebut dan tersenyum tipis, “Iya” sautnya pelan.


“Ini waktu kita mau berangkat ngaji pake sepeda baru abang” ucap Aqila tersenyum mengingatnya.


“Abang sangat sen-” ucapan Aqila terpotong oleh umi Fatimah.


“Emm Qila umi mau minta tolong boleh?” tanya umi Fatimah cepat memotong ucapan Aqila.


“Oh iya umi boleh” jawab Aqila.


“Tolong ambilkan minum untuk Syifa, umi lupa saking pusingnya mengurusi buku-buku ini” ucap umi Fatimah.


“Oh iya umi” Aqila pun yang hendak berdiri di tahan oleh Syifa.


“Eh gak papa Qi biar sama kaka aja” ucap Syifa cepat.


“Udah gak papa nak Syifa, kan kamu cape habis jalan jauh dari rumah kamu ke sini” ucap umi Fatimah tersenyum.


“Ehh tante tapi...”


“Bener ka apa kata umi, biar Qila saja” saut Aqila cepat dan tersenyum lalu pergi ke dapur untuk mengambil minum.


Ketika Aqila sudah selesai mengambil minum, dia yang hendak kembali terhenti ketika melihat umi Fatimah dan Syifa begitu sangat akrab hingga Iqbal pun ikut tersenyum.


‘Mereka sangat dekat tanpa Qila sadar’ batin Aqila sendu.


Lagi-lagi ketika ingin melangkah Aqila terhenti ketika dia melihat umi Fatimah yang mengambil semua foto-foto Aqila dan Iqbal termasuk foto yang sedang Iqbal pegang, lalu umi Fatimah entah kemana membawa foto-foto tersebut dan Aqila pun dapat melihat Iqbal yang bingung dengan tingkah uminya tersebut, sedangkan Syifa hanya diam saja.


‘Kemanakan semua fotonya, umi bawa kemana? Kenapa umi jadi beda ya?’ batin Aqila bertanya-tanya.


Tapi sebenarnya ada rasa sedih ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri umi Fatimah membawa pergi foto-foto kebersamaan dirinya dengan Iqbal.


Tanpa memperdulikan dengan hatinya, Aqila pun segera menghampirinya, “Ini minumnya, maaf agak lama umi” ucap Aqila tersenyum dan meletakan beberapa minum.


“Iya gak papa, makasih ya Qi” saut umi Fatimah.


“Ayo nak di minum” ucap umi Fatimah kepada Syifa.


“Iya tante makasih” sautnya tersenyum, dan setelah itu mereka pun kembali membereskan buku-bukunya agar cepat selesai.


Setelah cukup lama membereskan akhirnya selesai juga, “Alhamdulillah selesai” gumam Aqila meregangkan otot-ototnya yang pegal.


“Alhamdulillah, makasih ya udah mau bantu umi” ucap umi Fatimah.


“Iya umi sama-sama” saut Aqila tersenyum dan Syifa hanya mengangguk saja sebagai jawabannya.


“Kalau begitu Syifa pulang dulu ya tan, udah sore pasti abi nyariin” ucap Syifa.


“Ehh cepat sekali nak pulangnya” ucap umi Fatimah menatap Syifa.


“Iya tan, maaf ya gak bisa lama” saut Syifa merasa tak enak.


“Ohh ya udah kalau begitu biar Iqbal antar” umi Fatimah segera memberi perintah kepada Iqbal.


Iqbal yang hendak berdiri dan mengambil kunci mobil terhenti, “Tidak usah tan, tidak papa Syifa bisa sendiri ko” ucap Syifa cepat.


“Lagian Syifa gak enak juga sama Iqbal” lanjutnya.


“Tapi...”


“Udah gak papa tan, kalau begitu Syifa pulang dulu ya” Syifa pun bangkit dari duduknya.


“Ehh tunggu dulu nak, bentar” umi Fatimah lalu pergi dan tak lama kemudian datang lagi dengan sebuah jing-jingan.


“Ini untukmu, makasih ya” ucapnya.


“Ehh ini apa tan?” tanya Syifa.


“Udah pokoknya buat kamu” umi memberikannya pada Syifa.


“Ohh iya tan, terimakasih ya” Syifa pun menerimanya.


“Iya sama-sama” saut umi Fatimah tersenyum.


“Ya sudah Syifa pulang dulu ya, assalamualaikum” Syifa pun menyalimi umi Fatimah lalu segera pergi.


“Waalaikummussalam” jawab mereka.


“Qila tolong bantu angkat ini ke sana ya” ucap umi Fatimah tersenyum kepada Aqila.


“Ohh iya umi siap” Aqila pun segera mengangkat kardus-kardus yang tak terlalu berat.


Setelah kardus terakhir yang dia simpan dan ketika hendak menghampiri Iqbal dan umi Fatimah dia tak sengaja mendengar percakapan mereka berdua yang membuatnya sangatlah terkejut ketika mendengarnya.


“Umi...” panggil Iqbal.


“Iya” saut umi Fatimah.


“Abang mau nanya” Iqbal menatap sang umi.


“Apa?” tanya umi balik menatap Iqbal.


“Kenapa tadi umi membawa semua foto-foto Iqbal dan Aqila dulu?” Iqbal menatap serius wajah umi Fatimah.


**To Be Continue....


***


Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**....

__ADS_1


__ADS_2