Takdir Untuk Aqila

Takdir Untuk Aqila
Khawatir atau perasaan aneh


__ADS_3

“Apa kalian melihat Aqila?” tanya Fauzan kepada beberapa mahasiswa/i yang berkerumun.


“Tidak” jawab mereka kompak sembari menggelengkan kepalanya.


“Ohh oke, makasih” ucap Fauzan dan segera pergi dan menanyakan hal yang sama kepada mahasiswa/i yang lain.


Cukup lama Fauzan mencari Aqila tapi tetap saja tidak menemukannya dan semua orang yang dia tanya pun tidak mengetahuinya, “Astagfirullah di mana kamu, Qi?” gumam Fauzan mengusap wajahnya kasar.


“Fauzan” panggil seseorang dari arah belakang.


Fauzan menoleh ke belakang dan dia melihat Fira yang berlari ke arahnya, dia segera saja pergi tanpa memperdulikan gadis tersebut.


“Fauzan tunggu” Fira mencekal tangan Fauzan.


Fauzan yang melihatnya segera menghempaskannya kasar, “Apa lagi? Lo mau apa lagi hah?” tanya Fauzan ketus.


“Fauzan soal yang waktu itu aku benar-benar minta maaf” ucap Fira menundukan kepalanya.


“Fauzan kamu mau kan memaafkan aku” lanjutnya dan menggenggam tangan Fauzan kembali dan menatap Fauzan.


Fauzan kembali menghempaskannya dengan kasar, “jangan harap lo dapat kata maaf dari gue” sinis Fauzan lalu setelah itu pergi meninggalkan Fira yang menatapnya.


“Kenapa sih? Kenapa setelah aku menyingkirkan Aqila, dia masih saja sama?” gumam Fira sendu bercampur kesal dan menghentakan kakinya setelah itu pergi.


“Ternyata dugaan gue benar, lo memang gila Fira, maaf kalau gue akan membuat perhitungan kepada lo, karena lo harus mendapatkan balasan yang sesuai dengan apa yang lo perbuat, gue harus cari waktu yang tepat” gumam seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.


***


Di sisi lain, negara Indonesia seorang pria tampan tak sengaja menumpahkan minuman ke salah satu pengunjung cafe.


BYUR


“Astagfirullah maaf mas, saya tak sengaja” ucapnya meminta maaf.


“Iya mas, gak papa” sautnya sembari membersihkan sendiri bajunya.


“Mari mas saya duluan” lanjutnya setelah itu pergi dengan kekasihnya.


“Bal, kenapa lo meleng jalannya?” tanya Ilham menatap Iqbal.


“Gak, perasaan ana kok gak enak ya Ham” ucap Iqbal memegang dadanya.


“Maksud lo apa?” tanya Ilham.


“Gak tau, aneh aja perasaannya, kayak ana merasa khawatir” jawabnya gelisah.

__ADS_1


“Qila” gumamnya pelan tapi masih bisa terdengar oleh Ilham.


“Udah jangan mikir yang aneh-aneh, Qila baik-baik aja kok” saut Ilham yang paham dan langsung menarik tangan Iqbal pergi.


***


“Assalamaulaikum” salam Ilham memasuki rumah ayah dan bunda Aqila.


“Ayah, bunda, Ilham pulang nih bawa pesanan ayah dan bunda” teriak Ilham tapi tak ada sahutan sama sekali.


PRANG


Tiba-tiba ada suara gelas pecah, Ilham dan Iqbal saling pandang lalu segera menuju ke asal suara yaitu di dapur.


“Astagfirullah, bunda kenapa?” tanya Ilham menghampiri bunda Asih yang terjatuh dan ada pecahan gelas di sekelilingnya.


Ilham dan Iqbal membantu bunda berdiri dan menuntunnya untuk duduk di kursi, “Bunda kenapa bisa jatuh? Ayah mana?” tanya Ilham duduk di samping bunda Asih.


“Bunda gak papa, bunda cuman pusing aja” jawabnya.


“Assalamualaikum” salam ayah Fikri memasuki rumah.


“Astagfirullah, bunda kenapa?” tanya ayah Fikri menghampiri istrinya dan Iqbal berdiri untuk mempersilahkan ayah duduk di samping istrinya.


“Kenapa tiba-tiba bund?” tanya ayah mengerutkan keningnya.


“Pokoknya ayah telepon Qila sekarang” kekeh bunda menatap suaminya kesal.


“Iya ayah telepon sekarang” pasrahnya.


Ayah Fikri mulai menelpon Aqila, “Gimana apakah di angkat?” tanya bunda Asih.


“Enggak” jawabnya.


“Telpon lagi” titah bunda lagi.


“Kenapa sih bunda?” tanya ayah bingung.


“Ayah, pokoknya telpon lagi sampai ke angkat” jawabnya kesal.


Ayah Fikri pun mencoba menelpon Aqila lagi, tapi jawabannya tetap sama, tidak di angkat, “Bagaimana apakah di angkat?” tanya bunda penuh harap.


“Enggak bunda, nomernya gak aktif” jawab ayah memperlihatkan layar ponselnya.


Bunda Asih menghela nafas kasar dan bersandar di kursi, “Ayah Qila kenapa ya?” tanya bunda Asih khawatir.

__ADS_1


“Qila gak papa bunda, dia baik-baik saja, mungkin lagi tidur” jawab ayah menenangkan istrinya.


“Tapi perasaan bunda mengatakan bahwa Qila tidak sedang baik-baik saja yah” ucap bunda menatap ayahnya, yang membuat ketiga pria beda generasi itu terdiam dan menatap balik bunda.


“Qila pasti baik-baik saja kok bund, bunda tenang aja” saut Ilham menenangkan bunda Asih juga.


“Tenang gimana? Qila jauh dari bunda, mana bunda bisa tenang” ucap bunda Asih khawatir.


Ikatan batin ibu dan anak memang menyatu, walaupun mereka berjauhan tapi ikatan batin tidak bisa terpisahkan.


“Sudah bunda tidak usah berpikir yang macam-macam, mungkin bunda sedang lelah, mending bunda istirahat saja, nanti kita coba telepon Aqila lagi, kalau tidak pihak kampusnya” ucap ayah dan di angguki oleh istrinya.


“Ya sudah yuk ayah antar ke kamar, Ilham, Iqbal ayah tinggal sebentar ya” ucap ayah Fikri menatap Iqbal dan Ilham.


“Iya yah” saut mereka berdua bareng.


Seperginya bunda dan ayah mereka berdua saling diam dengan pikirannya masing-masing, “Bener perasaan gue” gumam Iqbal dan Ilham menatap Iqbal yang menatap kosong ke arah depan, dia menghela nafas panjang.


“Berdo’a saja” ucap Ilham.


***


Di sisi Aqila, Aqila terus saja menangis tiada henti, jujur dia belum menjadi wanita kuat, dia masih menjadi Aqila yang dulu yaitu cengeng dan takut dengan kegelapan, hanya saja dia pura-pura untuk terlihat kuat di depan orang-orang, walaupun ada sedikit perubahan sifat dan sikap.


“Ayah, bunda, Qila takut” cicitnya terus memeluk tubuhnya yang bergetar kuat.


“Qila takut di sini, Qila mau pulang yah” gumam Aqila.


“Qila gak sanggup lagi, Qila mau pulang, Qila mau sama ayah dan bunda aja selamanya, semua orang jahat yah sama Qila” gumam Aqila terisak.


“Ayahhh, Qila takut, biasanya kalau Qila takut ayah akan peluk Qila, ayahh”


“Ayahh, jemput Qila pulang, Qila pengen pulang”


“Ayah, bunda... Hiks... Tolong Qila”


Aqila tak henti-hentinya bergumam dengan terisak-isak, berharap ada keajaiban yang menolongnya, hingga dia jatuh pingsan tak sadarkan diri.


To Be Continued...


***


Kasihan ya sama Aqila, di bab selanjutnya kayak gimana ya, semuanya bakal terungkap atau belum? Penasaran? Saksikan terus kelanjutan ceritanya...


Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye...

__ADS_1


__ADS_2