
Waktu berlalu dan kini adalah hari yang paling di tunggu-tunggu bagi sebagian mahasiswa/i, hari ini adalah hari wisuda mereka, begitu pun dengan Aqila, Fauzan dan Juna.
“Qi, orang tua lo tau kalau hari ini adalah hari wisuda lo?” tanya Fauzan.
“Enggak, gue mau kasih mereka kejutan” jawab Aqila menggelengkan kepalanya.
Fauzan mengangguk paham dan acara pun di mulai dengan penuh bahagia, dan tak lama kemudaian pengumuman mahasiswa lulusan terbaik.
“Kita panggil mahasiswa terbaik kita di tahun ini yaitu, ananda Queenza Aqila dari Indonesia, kepdanya mohon di persilahkan naik ke atas podium dan memberikan sambutan” ucap MC.
“Wahh selamat ya, Qi” ucap Fauzan dan Juna bareng dan di balas senyuman oleh Aqila.
Dan Aqila pun berdiri dan naik ke atas podium dengan di iringi tepuk tangan yang meriah dari para hadirin.
Aqila menatap semuanya dan tersenyum, “Assalamualaikum Wr. Wb” salam Aqila.
“Waalaikummussalam, Wr. Wb” jawab para hadirin kompak.
__ADS_1
“Kepada para dosen yang terhormat dan kawan-kawan seperjuangan saya, saya meminta izin untuk berbicara” ucap Aqila dan mendapat anggukan dari para dosen.
“Sebelumnya perkenalkan nama saya, Queenza Aqila saya hanyalah anak yang mendapatkan beasiswa dari sekolah saya di Indonesia, saya juga tak menyagka kalau saya bisa menjadi lulusan terbaik, alhamdulillah” ucap Aqila menjeda kalimatnya.
“Saya berdiri di sini juga berkat jasa para guru dan dosen yang telah mendidik saya dan membimbing saya selama ini hingga saya bisa mendapatkan gelar sarjana, dan saya juga mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya karena jasa mereka tidak akan pernah saya lupakan hingga kapanpun, dan saya meminta maaf jika selama saya di bimbing oleh mereka saya belum baik, mungkin bisa di katakan nakal, hehe” lanjut Aqila terkekeh dan menatap para jajaran dosen yang juga terkekeh pelan dan tersenyum kepadanya.
“Selain jasa para guru dan dosen yang bisa membuat saya berada di sini, ada juga do’a kedua orang tua saya yang selalu menyertai setiap langkah yang saya ambil, walaupun mereka jauh dari saya tetapi do’a mereka tidak akan pernah jauh dari saya, karena mereka selalu ada di dalam hati saya” ucap Aqila tersenyum dan menatap kembali para hadirin.
“Jasa orang tua saya lebih besar dari apa pun, jika kedua orang tua saya berada di sini dan melihat saya, saya ingin sekali mengatakan kepada mereka bahwa gadis kecil mereka kini sudah tumbuh besar dan bisa menjalani hidup di negara orang bahkan bisa menempuh pendidikan di sini dan mendapatkan presatasi yang terbaik, dan juga saya ingin mengatakan maaf, karena jika selama ini saya belum bisa menjadi anak yang terbaik yang mereka inginkan. Bunda, ayah, Aqila akan segere pulang tunggu Aqila, Aqila sayang bunda dan ayah” lanjut Aqila tersenyum dan menatap kamera berharap bunda dan ayahnya melihatnya dari acara tv, dan ketika Aqila mengatakan kaliamat yang terkahir dia menggunakan bahasa Indonesia yang hanya di tunjukan kepada ayah dan bundanya yang berada di Indonesia.
“Mungkin tak banyak kata yang saya ucapkan, sekali lagi saya berterimakasih kepada para jejeran dosen, dan kepada kawan-kawan saya jangan berkecil hati, karena kunci kesuksesan tidak di lihat dari besarnya angka atau nilai IPK, melainkan dari usaha dan do’a, jadi jangan bersedih dan berkecil hati, semuanya sama mau yang lulusan terbaik ataupun yang tidak, yang penting kita sudah lulus” ucap Aqila di akhiri tawa pelan dan yang lain pun tertawa.
Aqila duduk kembali di kursinya, “Orang tua lo pasti bangga” celetuk Fauzan ketika Aqila baru saja duduk.
“Aamiin” saut Aqila tersenyum tipis.
“Gue aja bangga aja punya teman kayak lo, Qi, good luck ya” saut Juna tersenyum.
__ADS_1
“Makasih, kalian juga lulusan terbaik ko, di hati orang tua kalian” ucap Aqila.
Fauzan dan Juna tersenyum dan mengangguk, lalu mereka tertawa bersama, dan Aqila seperti biasa hanya tersenyum saja.
‘Tapi kenapa ya akhir-akhir ini bunda sama ayah susah sekali di hubungi, perasaan juga gak enak’ batin Aqila merasa gelisah, tapi dia berpikir positif dan tak menghiraukannya dan kembali melanjutkan acaranya.
***
Di negara Indonesia, di sebuah ruangan seorang pria sedang bermain ponselnya, hingga dia melihat wajah Aqila yang berbicara bahasa Arab tapi dia mengerti apa yang Aqila katakan, hingga Aqila mengatakan menggunakan bahasa Indonesia dia terdiam dan menatap wajah Aqila yang tersenyum bahagia.
“Qi...” ucapannya terhenti, dia menghela nafas pelan dan menoleh ke samping yang menampilkan dua orang yang terbaring lemah.
To Be Continued....
***
Guys, ada apa ya kenapa Aqila gelisah merana? Apa yang terjadi sebenarnya? Lalu yang terbaring lemah itu siapa? Penasaran? Saksikan terus kelanjutan ceritanya...
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye...