
Setelah mendengar bahwa Aqila berada di gudang Fauzan segera menuju gudang, karena pihak polisi mencarinya di luar area kampus.
Setelah sampai di depan pintu gudang kampus Fauzan segera mendobrak pintu gudang, tapi tak bisa sampai akhirnya pihak polisi datang dengan Juna yang memimpin, dan mereka membantu Fauzan mendobrak pintu sampai akhirnya terbuka.
Fauzan kaget melihat Aqila yang sudah pingsan dengan wajah sangat pucat, “Aqila” pekik Fauzan dan menghampiri Aqila.
Fauzan menaruh kepala Aqila di pahanya sebagai bantalan, “Qi, bangun, ini gue Fauzan, bangun Qi” ucap Fauzan dengan suara parau.
“Mending langsung saja bawa Aqila ke rumah saki” saut Juna dan di angguki oleh Fauzan.
Fauzan segera menggendong Aqila, untuk membawanya kerumah sakit, dan yang lainnya mengikuti di belakang.
“Qi, bertahan ya, maafin gue” gumam Fauzan menatap sendu wajah Aqila di dalam gendongannya.
***
Sesampainya dirumah sakit, Aqila segera di tangani, Fauzan dan Juna menunggu di depan ruangan, “Zan lo tunggu di sini saja, gue mau ngurus Fira dulu” ucap Juna bangkit dari duduknya.
“Iya, hati-hati ya Jun” saut Fauzan mengangguk.
Fauzan menatap kepergian Juna, lalu menghela nafas pelan dan mengusap wajahnya kasar, dia terus berdo’a agar Aqila bisa selamat.
Sedangkan di sisi lain Fira sedang di introgasi oleh beberapa dosen di sebuah ruangan, “Fira apa yang sebenarnya terjadi hingga kamu melakukan hal seperti ini pada temanmu sendiri?” tanya direktur menatap Fira yang terus menunduk.
“Fira jawab saya” sentaknya yang membuat Fira kaget.
“M-maaf pak” gugup Fira.
“Jawab saya Fira, kenapa kamu melakukannya?” tanyanya lagi.
“S-saya terpaksa pak melakukannya” jawab Fira.
“Terpaksa karena apa?” tanya direktur lagi.
“Bapak tidak perlu tau karena apa, tapi saya juga meara iri terhadap Aqila, seharusnya saya yang berada di posisi Aqila bukan dia” jawab Fira menatap direktur dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
“Dia juga udah mengambil kebahagian saya, dia mengambil semuanya dari saya, dia mengambil Juna sahabat terbaik saya dari kecil, lalu diam mengambil Fauzan orang yang saya cinta, dan dia juga mengambil alih perhatian kalian terhadap saya” Fira meluapkan semua isi hatinya yang selama ini ia pendam.
Semuanya teridam membiarkan gadis Indonesia di depannya meluapkan semuanya, “Awalnya saya tak terlalu perduli mungkin memang itu yang harus dia miliki dan bukan saya, tapi hingga dia yang akan mengambil kebahagianan keluarga saya, saya tidak bisa diam, karena dia saya di ancam oleh seseorang, kalau saya tidak melakukan keinginannya untuk menghancurkan Aqila bisa-bisa keluarga saya hancur di tangannya” Fira menghela nafas panjang dan menunduk agar tak menangis.
“Maaf pak, hanya itu yang bisa saya katakan” lanjutnya terus menunduk.
Semua dosen menghela nafas pelan setelah mendengar cerita Fira, mereka saling pandang dan saling mengangguk satu sama lain, “Fira kalau saya boleh tau siapa orang itu?” tanya Mr. Agam semua dosen menatap Mr. Agam yang menatap Fira.
Fira terdiam lalu menggelang tak mau menjawab, “Fira beritahu saya” ucap Mr. Agam dingin.
Fira kembali terdiam, “Maaf Mr, saya gak bisa ngasih tau Mr, saya takut dia akan menghancurkan keluarga saya yang berada di Indonesia” saut Fira.
Terdengar helaan nafas dari Mr. Agam, “Fira tidak papa kau akan aman, kau tenag saja, jika kamu mau memberihatunya mungkin kami masih bisa meringankan hukuman kamu, tapi jika kamu tidak memberitahunya maafkan kami dan jangan salahkan kami karena ini adalah keinginan kamu sendiri” ucap Mr. Agam dan dia angguki oleh semua dosen.
“Kamu bisa di keluarkan dari kampus Fira dan saya akan mencabut beasiswa ini” saut pak direktur membuat Fira kaget, dia merasa bimbang atara sekolahnya atau keluarganya.
Setelah lama terdiam Fira menghela nafas pelan, “Maaf pak saya tetap tidak bisa memberitahu siapa dia, karena saya lebih memilih keluarga saya selamat ketimbang beasiswa saya” ucap Fira parau menahan tangis.
Semuanya menghela nafas pelan, “Baiklah jika itu keputusan kamu, kami tidak akan bisa memaksa, kamu boleh pergi ke apartement mu dan membereskan barang-barangmu, biar kami yang akan mengurus semuanya, kamu hanya perlu bersiap dan besok kamu akan kembali ke Indonesia, maafkan kami Fira karena ini keinginanmu” ucap pak direktur.
“Kalau begitu saya pamit, assalamualaikum” salam Fira dan segera pergi dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk.
Ketika Fira membuka pintu ruangan dia kaget ternyata sudah ada Juna yang sedari tadi berdiri di depan pintu dan mendengarkan obrolan dia tadi, “Juna, ngapain lo disini?” tanya Fira sinis berusaha menutupi semuanya dari Juna.
“Fira, ikut gue” Juna menarik tangan Fira menjuah dari ruangan dan ke tempat yang cukup sepi.
“Lepasin Juna” ucap Fira menarik tangannya dan memeganggnya karena sakit.
“Maaf” ucap Juna merasa bersalah.
“Fira jujur sama gue, siapa orang itu?” tanya Juna membuat Fira kaget.
“Apaan sih Jun, orang siapa?” tanya Fira pura-pura tak tau.
“Fira jangan menutupi semuanya dari gue, gue tau semuanya, gue udah denger semuanya, lo salah Fir” ucap Juna menatap Fira sendu.
__ADS_1
“Iya Jun gue salah” saut Fira menatap balik Juna.
“Gue salah Jun, gue salah ada di kehidupan kalian, seharusnya gue itu gak ada di kehidupan kalian, ini semua salah gue, bukan salan Aqila, itukan yang mau lo bilang” lanjut Fira dengan mata berkaca-kaca.
“Lo tau kan sebab gue melakukan ini?” tanya Fira.
“Iya Fira gue tau, gu-” ucapa Juna terpotong cepat oleh Fira.
“Terus apa lagi Jun, apa lagi yang lo mau tau dari gue hah? Cukup Jun selama ini lo selalu bela Aqila, dan gak pernah bela gue, bukan hanya Aqila yang jadi korban Jun, tapi gue juga Jun dan keluarga gue sebagai ancamannya, lo tau itu Jun, Juna gue ini sahabat lo kan Jun?” tanya Fira menatap Juna sendu.
“Iya Fir, sampai kapan pun lo sahabat gue” jawab Juna sendu.
‘Tapi gue berharap lebih dari sekedar sahabat, Fira’ batin Juna.
“Kalau lo ngangap gue sahabat, lo selama ini kemana Jun, lo terus aja sama Fauzan dan Aqila, dan lo menjauhi gue, apa itu yang di namakan sahabat Jun?” teriak Fira menjatuhkan air matanya, Juna menunduk.
“Jawab gue Jun, jawab gue, selama ini lo kemana hah, di saat gue lagi butuh lo, lo kemana?” teriak Fira memukul Juna.
“JAWAB JUNA, LO KEMANA?” bentak Fira dan menghentikan pukulannya.
“Lo kemana Jun?” lirih Fira terisak.
“Gue benci sama lo Juna, gue benci... Hiks...” isak Fira.
Juna tak menjawab apapun melainkan langsung memeluk Fira erat, “Maafin gue Fira, tapi cara lo pandang salah, gue membela yang benar, dan gue mau membantu lo ke jalan yang benar, jalan yang lo ambil salah Fira” ucap Juna mengusap kepala Fira.
“Coba kalau lo cerita sama gue semuanya, mungkin gue bisa bantu lo Fira, mungkin ini juga salah gue yang kurang perhatian sama lo, maafin gue Fir” Juna memeluk erat Fira.
“Maafin gue, tapi plis jangan benci sama gue” lanjutnya menaruh kepalanya di atas kepala Fira dan memejamkan matanya.
Fira terus saja menangis di dalam pelukan Juna, dan Juna merasakan bajunya yang mulai basah, tapi dia tak perduli sama sekali.
To Be Continued....
Akhirnya Fira di kembaliin juga ke Indonesia, tapi kalau di pikir-pikir kasihan juga sama Fira, kalian kasihan gak guys? Nanti gimana sama Fira ya? Dan siapa dalang di balik ini semua yang membuat kekacauan dan menghancurkan Aqila dan kawan-kawannya di Kairo? Jahat banget sih tuh orang kayaknya, kalian penasaran? Saksikan terus kelanjutan ceritanya ya...
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye...