
Pagi harinya Aqila pergi ke kampus karena kemarin Fauzan mengirimnya pesan bahwa Aqila di panggil oleh Direktur kampus dan harus menghadap besok, jadi mau tidak mau Aqila mengiyakannya.
“Apakah benar ini kamu?” tanya sang Direktur menunjuk video rekaman cctv yang kemarin, Aqila menghela nafas pelan ketika melihatnya.
“Maaf pak, tapi itu bukan saya” jawab Aqila.
“Kalau bukan kamu terus siapa, ini jelas-jelas kamu sudah terlihat jelas di rekaman ini” ucapnya tegas.
“Itu memang mirip saya, tapi sumpah itu bukan saya” bantah Aqila.
“Rekaman ini memang belum pasti, tapi di sini sangat terlihat jelas bahwa itu kamu, jika benar itu kamu kami dari pihak kampus sangat kecewa kepada kamu, Aqila” ucapnya.
“Kamu terbilang Mahasiswa yang terbilang berprestasi, tapi karena video ini sudah menyebar nama kamu tercoreng bahkan bukan hanya nama kamu saja kampus kita juga sudah tercoreng jelek” lanjutnya.
“Maaf pak” saut Aqila menunduk.
“Huhh, dengan terpaksa bapak mencabut beasiswa kamu” ucapnya yang membuat Aqila kaget dan langsung menatap pak Direktur.
“Pak kenapa beasiswa saya di cabut, kan bapak bilang rekaman itu belum pasti kalau itu saya, jadi kenapa di cabut pak?” tanya Aqila keget.
“Saya mohon pak jangan di cabut, saya gak mau mengecewakan orang tua saya yang berada di Indonesia, pak saya janji akan memperbaiki semuanya dan saya juga tidak akan mengulang kembali kejadian itu, tapi tolong pak beri saya kesempatan kedua dan jangan di cabut beasiswanya” mohon Aqila.
Jujur saja sebenarnya jika pun beasiswanya di cabut itu tak akan menjadi masalah untuknya tapi akan menjadi masalah untuk kedua orang tuanya yang berada di Indonesia, Aqila tidak mau mengecewakan mereka.
Terdengar helaan nafas dari pak Direktur, “Baiklah, bapak akan memberikan kesempatan kedua untukmu, tapi dengan satu syarat” ucapnya.
“Apa syaratnya pak?” tanya Aqila.
“Kamu harus bisa mengembalikan nama baik kampus kita dan buat kampus kita berada di peringkat pertama kampus terbaik” jawabnya menatap Aqila serius.
“Baik pak, saya janji, In Syaa Allah. Terimakasih pak, terimakasih banyak” ucap Aqila tersenyum senang.
“Saya tunggu janji kamu” sautnya.
“Siap pak” Aqila tersenyum dan mengangguk.
“Kalau begitu kamu boleh pergi” ucap pak Direktur.
“Terimakasih pak, assalamualaikum” salam Aqila lalu segera keluar ruangan direktur.
Aqila keluar ruangan Direktur dengan senyuman yang mengembang, dan dari kejauhan ada yang melihat Aqila.
“Kenapa dia keluar dengan wajah yang bahagia? Apa dia gak jadi di keluarkan? Sial kalau sampe gak di keluarkan, gue harus cari cara lain, kalau gak bisa-bisak gue yang hancur” ucapnya dan segera pergi.
Aqila jalan di sepanjang kordior hanya diam, dan sepanjang kordior pula dia berjalan banyak yang membicarakannya dan mencibirnya, tapi kebanyakan yang mencibirnya adalah orang Indonesia tapi ada beberapa juga orang luar, tapi Aqila tak menghiraukannya dan memilih mengacuhkannya.
“Aqila” panggil seseorang dari arah belakang Aqila.
Aqila menoleh ke belakang dan dia melihat Mr. Agam yang menghampirinya dengan wajah datarnya dan mata tajam bak elang yang ingin memakan mangsnya, Aqila menelan ludahnya susah payah.
Jujur saja dia lebih takut dengan Mr. Agam ketimbang dengan Direktur, karena apa? Karena Mr. Agam di kenal Dosen killer sekampus, dan tidak ada yang berani dengan Mr. Agam. Tapi sebenarnya Mr. Agam itu baik, Aqila tau itu, tapi tetap saja auranya yang membuat dia takut.
“I-iya Mr?” saut Aqila gugup.
“Ikut saya” ucapnya tegas dan mendahulukan Aqila pergi.
“Ikut kemana Mr?” tanya Aqila tapi tak urung dia juga mengikutinya dari belakang.
“Ruangan saya” jawabnya, Aqila mengangguk saja dan mengikutinya.
***
“Aqila Mr, sudah dengar semua masalah kamu, apa itu benar?” tanya Mr. Agam menatap Aqila yang duduk di hadapannya saat ini.
__ADS_1
“Iya Mr, tapi itu bukan Aqila yang melakukannya” jawab Aqila menunduk.
“Aqila saya di sini bukan di bawah, tatap saya” ucap Mr. Agam ketika Aqila menunduk saja dan tidak menatap dirinya.
Aqila perlahan menatap Mr. Agam dan tersenyum, “Iya, Mr maaf” ucap Aqila.
Mr. Agam menggelengkan kepalanya, “Ceritakan semuanya, saya ingin dengar langsung dari mulutmu” ucap Mr. Agam.
Aqila pun menceritakan semuanya dari awal Fira memfitnahnya hingga masalah ini, dan Mr. Agam yang mendengarkannya juga mnedengarkan dengan serius.
“Jadi gitu Mr, itu bukan Qila ko” ucap Aqila setelah selesai menceritakannya.
Mr. Agam mengangguk paham, “Iya Qila, Mr percaya kamu, kamu anak yang baik” ucap Mr. Agam tersenyum.
Aqila yang mendengarnya tersenyum lega, “Makasih Mr” saut Aqila.
“Tapi kenapa Fira melakukan itu padamu?” tanya Mr. Agam mengerutkan keningnya.
“Gak tau Qila juga” jawab Aqila menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah jangan terlalu di pikirkan, kamu harus bisa menggunakan kesmpatan kedua ini, dan lakukan sebaik mungkin” ucap Mr. Agam.
“Iya Mr, Qila akan memanfaatkannya” saut Aqila tersenyum.
“Ya sudah kalau begitu, kamu boleh keluar, dan ingat dengan janjimu” ucap Mr. Agam tersenyum.
“Iya Mr, makasih, assalamualaikum” salam Aqila dan keluar ruangan Mr. Agam.
“AQILAAAA” teriak Fauzan ketika melihat Aqila yang baru keluar dari ruangan Mr. Agam.
Aqila yang melihatnya memutar bola matanya malas, dan memilih membiarkannya saja, “AQILAAA, LO BENAR-BENAR YA” teriak Fauzan lagi dan berlari ke arah Aqila dan meninggalkan Juna yang terdiam.
Aqila yang tak tau bahwa Fauzan lari kearahnya kaget saat dirinya terjatuh akibat Fauzan yang berlari ke arahnya.
BRUKK
“Lo kemana aja sih Qila? Lo tau gak gue itu khawatir sama lo, gue takut lo di culik. Kalau lo di culik kayak gimana, nanti siapa yang mau gue marahin lagi, hah?” omel Fauzan menatap Aqila yang sedang duduk di bawah.
Aqila berdiri dan membersihkan bajunya yang sedikit kotor, “Itu bukan urusan lo” ketus Aqila, dan pergi meninggalkan Fauzan.
“Queenza Aqila, lo harus tanggung jawab” ucap Fauzan berdiri di hadapan Aqila dan menghadang jalan Aqila.
Aqila mentapnya datar, “Minggir” ucap Aqila dingin.
“Gak mau” saut Fauzan meregangkan tangannya.
“Bodo amat” Aqila mencoba jalan ke samping kiri tapi di hadang oleh Fauzan dan ke samping kanan juga sama, Aqila menghela nafas kasar.
“Huhh, lo maunya apa sih?” tanya Aqila menatap jengah Fauzan.
“Gue maunya lo tanggung jawab” jawab Fauzan.
“Tanggung jawab apa? Gue gak melakukan apa-apa ya” ucap Aqila kesal.
“Lo harus tanggung jawab karena semalaman gue gak bisa tidur karena mikirin lo terus, lihat mata panda gue jadi tebalkan, ini semua gara-gara lo. Selain itu juga lo harus menceritakan semuanya sama gue dari soal kemarin sampe sekarang lo di panggil Direktur dan Mr. Agam” ucap Fauzan panjang kali lebar.
Aqila menghela nafas lelah dan memutar bola matanya malas, “Gue bilang itu bukan urusan lo” tekan Aqila dan kembali melewati Fauzan.
“Gak bisa-gak bisa, ini juga urusan gue” ucap Fauzan kembali menghadang jalan Aqila.
“Lo gila ya” ucap Aqila kesal menatap Fauzan.
“Iya, gue gila karena lo” saut Fauzan menatap balik Fauzan.
__ADS_1
“Udah deh, lo gak usah ngurusih hidup gue, urus aja hidup lo sendiri dan teman kesayangan lo itu” ucap Aqila dan mendorong pelang tubuh Fauzan untuk menyingkir.
“Qilaaa, lo mau kemana lagi?” tanya Fauzan menatap Aqila yang pergi, tapi tak di balas oleh Aqila.
“Udahlah Zan, ngapain lo terus mikirin dia, dia aja udah kaya gitu sama kita” saut Juna menghampiri Fauzan.
“Juna, bagaimana pun Aqila tetap teman kita, dan gue yakin dia gak salah, gue percaya sama dia” ucap Fazuan menatap Juna.
“Lo beneran percaya?” tanya Juna meyakinkan.
“Iya” jawab yakin Fauzan.
“Terus kalau lo percaya sama Qia lo gak percaya sama Fira, dan selama Qila di Fitnah sama Fira kenapa lo gak percaya sama dia?” tanya Juna yang membuat Fauzan terdiam.
“Lo gak 100% percaya sama Qila, tapi lo 100% suka sama dia” lanjutnya dan segera meinggalkan Fauzan sendiri.
‘Iya gue merasakan perasaan itu, tapi gue juga gak yakin’ batin Fauzan menatap punggung Juna.
***
Sedangkan di Negara Indonesia, keadaan juga sama sedang tidak baik-baik saja.
“Heh yang bener aja dah? Jangan ngada-ngada lo pada” ucap Yuri kesal.
“Ini benar Yuri” jawab Loli.
“Tau nih anak satu, kagak percaya banget sih” saut Faisal.
“Diem lo” sungut Yuri kepada Faisal.
“Heh yang bener, gue gak percaya?” tanya Yuri lagi.
“Ini bener Yuri, astagfirullah Loli harus bilang apa lagi sih, ini udah jelas” ucap Loli kesal.
“Sabar sayang” saut Ilham tersenyum kepada Loli sedangkan Loli memalingkan wajahnya.
“Kalau gak percaya, kamu bisa langsung tanyain aja sama Iqbal” ucap Faisal.
“Iya bener” saut Ilham mengangguk.
“Pantesan aja ka Iqbal tambah datar tuh muka” ucap Yuri menatap layar ponsel.
“Kenapa gue baru tau sekarang sih?” tanya Yuri.
“Ana aja teman dekatnya baru tau sekarang, itu juga ana lihat sendiri, ya karena Iqbal menutupi semuanya dari kita” jawab Faisal.
“Gak nyangka sih gue” ucap Yuri menggelengkan kepalanya tak percaya.
“Jangankan lo yang gak nyangka yang baru kenal beberapa hari, lah gue sama keluarga Iqbal termasuk Iqbalnya aja gak nyangka, bahkan bapaknya aja gak nyangka” ucap Ilham sembari meminum minumannya.
“Tapi Qila tau gak masalah ini?” tanya Yuri menatap mereka bertiga.
Mereka bertiga menggelengkan kepalanya, “Kalau kata bunda sama ayah sih Qila jangan di kasih tau, biar dia fokus dulu aja sama study nya, kalau tau yang ada dia tambah stres” jawab Ilham.
“Ya udah jangan kasih tau Qila kalau gitu sampe Qila pulang” saut Loli.
“Iya, tapi kapan ya Qila pulangnya, gue kangen sama dia” ucap Yuri menghela nafas pelan.
“Sabar aja, nanti juga pulang, gak akan lama, ana yakin itu” saut Faisal dan di angguki oleh Ilham, Yuri, dan Loli.
**To Be Continued....
***
__ADS_1
OMG apakah bener Fauzan suka sama Aqila, menurut kalian gimana nih? Lalu apa yang membuat Yuri and the geng gak percaya? Dan gak percaya sama apa ya kira-kira? Penasaran? Saksikan terus kelanjutan ceritanya okey....
Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**...