
Setahun telah berlalu hari-hari Aqila jalani dengan penuh semangat dan pastinya jauh lebih baik dari hari sebelumnya, entah Salsa si pembuat onar itu tidak kelihatan batang hidungnya setelah waktu itu.
Dan alhamdulillah setelah Aqila menjalani berbagai rintangan akhirnya dia akan sidang, dan kini Aqila sedang menunggu waktunya masuk keruang sidang.
“Ya Allah mudahkan, semoga bisa, pasti bisa” gumam Aqila menyemangati dirinya sendiri.
“Qila lo udah siap?” tanya Juna yang juga menunggu bagiannya.
“In Syaa Allah” jawab Aqila yakin.
“Gue takut” ucap Juna.
“Takut apa?” tanya Aqila mengerutkan keningnya.
“Pembimbingnya Mr. Agam, kan dia galak” jawab Juna.
Aqila tersenyum simpul, “Mr. Agam gak galak ko, dia baik” ucap Aqila.
“Emang sih, tapi tatapan matanya itu lho yang membuat deg-degan” saut Juna.
“Bismillah aja” ucap Aqila dan di angguki oleh Juna.
Tak lama kemudian Fauzan yang sudah selesai keluar ruangan dengan wajah datarnya, Juna dan Aqila yang melihatnya bingung.
“Lo kenapa ko mukanya masam gitu?” tanya Juna.
“Lo gak lulus ya?” tanya Juna tersenyum mengejek.
Fauzan tak membalasnya melainkan menatap Juna dingin, “Gue...” Fauzan menjeda ucapannya yang membuat Juna dan Aqila penasaran.
“Gue apa cuy?” tanya Juna memukul lengan Fauzan pelan.
Fauzan mencengkram pundak Juna pelan dan menatap Juna, “Apa?’ tanya Juna lagi mengerutkan keningnya.
“Gue... Gue lulus Junaaaa, ya kali seorang Fauzan yang tampan ini tidak lulus” teriak Fauzan mengguncang-guncangkan Juna kuat.
“Aaaaa, iya, tapi jangan kayak gini juga kali” saut Juna yang sudah pusing di buatnya, sedangkan Aqila yang melihatnya terkekeh pelan.
“HAHAHA, gue seneng banget, setelah sekian lamaku berjuang akhirnya gue sarjana Kairo” ucap Fauzan dramatis.
“Ehh, biasa aja kali” saut Juna kesal.
__ADS_1
Fauzan tidak menghiraukannya dan menengadahkan wajahnya dan tangannya ke atas langit dengan senyuman khasnya di wajah tampannya, “Terimakasih Ya Allah, aamiin” ucap Fauzan, Aqila yang melihatnya menggelengkan kepalanya.
“Selanjutnya Aqila” saut dari dalam ruangan.
“Qi, bagian lo, semangat” ucap Fauzan menyemangati Aqila.
“Iya Qi, gue do’ain lo pasti bisa” saut Juna juga.
Aqila tersenyum tipis dan mengangguk, setelah itu masuk kedalam ruangan dan pintu ruangan pun tertutup, ‘Huhh, bismillah bisa’ batin Aqila dan dia pun menghadap Mr. Agam yang sudah duduk di kursi kebesarannya.
“Qila siap?” tanya Mr. Agam tersenyum.
Aqila tersenyum pula, “In Syaa Allah Mr” jawab Aqila mengangguk.
“Bismillah kita mulai” ucap Mr. Agam dan di angguki oleh Aqila.
Dan sidang pun di mulai, dalam hati Aqila terus saja berdo’a agar di mudahkan, yang bikin dia tegang adalah melihat tatapan dan suara Mr. Agam yang dingin, itu yang membuatnya tegang dan deg-degan.
***
Setelah cukup lama Fauzan dan Juna menunggu akhirnya Aqila keluar juga dari ruangan, Fauzan dan Juna mendekati Aqila, “Gimana?” tanya keduanya bareng.
“Alhamdulillah, kita lulus bareng” ucap Fauzan tersenyum.
“Tapi gue belum” saut Juna cemberut.
“Yahh gue sama Qila doang dong” ejek Fauzan.
“Ihh apaan sih, gue juga lulus kali, lihat aja nanti” ucap Juna ketus.
Fauzan dan Aqila terkekeh pelan melihat Juna yang kesal, “Udah ahh gue mau menghadap Mr. Agam dulu, bye” ucap Juna dan langsung masuk kedalam ruangan karena dia tadi sudah di panggil.
Lagi-lagi Fauzan dan Aqila terkekeh pelan melihatnya, Fauzan menatap Aqila yeng tersenyum tidak seperti biasanya, tarpancar senyuman kebahagiaan dari wajah cantiknya.
“Qi” panggil Fauzan lembut, Aqila menoleh ke Fauzan dan menatapnya.
Aqila menaiki satu alisnya sebagai jawaban, “Lo bahagia?” tanya Fauzan yang membuat Aqila tersenyum.
“Banget” jawab Aqila.
“Gue bahagia banget karena gue bisa cepat pulang, dan ketemu sama bunda dan ayah, nanti gue mau kasih mereka supraise dengan kedatangan gue” lanjut Aqila tersenyum senang.
__ADS_1
“Gue juga udah gak sabar, mau ketemu sama calon mertua” ucap Fauzan terkekeh pelan.
Aqila yang paham langsung menampilkan wajah datar dan tatapan dingin, Fauzan yang melihatnya tertawa pelan, “Lo lucu, hehe” kekeh Fauzan mengusap pelan kepala Aqila.
Aqila yang mendapatkan perlakuan seperti itu segera menghindar, “Dari lahir” saut Aqila ketus.
Lagi-lagi Fauzan tertawa padahal tidak ada yang lucu sama sekali, “Iya gue tau, karena gue pernah lihat foto lo waktu masih bayi, bahkan waktu masih SD juga gue pernah lihat” ucap Fauzan tersenyum.
Aqila melototkan matanya kaget, “Lihat dari mana?” tanya Aqila menatap Fauzan.
“Ada deh, pokoknya lo lucu haha” jawab Fauzan kembali tertawa.
“Terserah” tekan Aqila malas.
Tak lama kemudian Juna keluar, Fauzan yang melihatnya menghentika tawanya dan beralih menatap Juna, “Ko cepat?” tanya Fauzan bingung.
“Iya lah cepat, ngapain lama-lama, kan gue pintar, jadi gak ada kata lama” jawab Juna membanggakan dirinya.
Fauzan dan Aqila yang mendengarnya memutar bola matanya malas, “Sombong banget sih bang” ucap Fauzan ketus.
“Biarin, yang penting gue lulus, hahaha” saut Juna tertawa.
“Kirain gak lulus” ucap Fauzan mengejek.
“Enak aja Lo, kagak lah gue lulus” ucap Juna tak terima.
“Iya deh, yang penting kita tahun ini lulus, dan bisa segera pulang ke tanah air kita yang tercinta” ucap Fauzan tersenyum dan di balas senyuman serta anggukan oleh Juna dan Aqila.
Mereka saling pandang lalu tertawa bersama, dan Aqila hanya tersenyum saja, lalu mereka pergi dari depan ruangan tersebut dengan Juna dan Fauzan saling rangkul dan Aqila di samping mereka, sepanjang perjalanan mereka penuh canda dan tawa, tapi seperti biasa Aqila hanya tersenyum saja.
To Be Continued...
***
Guyss, detik-detik Aqila pulang ke Indonesia nih, nanti ketika Aqila sudah di Indonesia kayak gimana ya alur ceritanya? Dan kehidupan Aqila? Apakah dia akan bertemu dan kembali kepada Iqbal atau tidak? Penasaran? Saksikan terus kelanjutan ceritanya....
Ehh btw, author kurang ngerti sama dunia perkampusan jadi selama ini kalau ada yang salah mohon maklumi aja ya hehe....
Hari ini double up guyss, kali-kali lah ya...
Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye....
__ADS_1