Takdir Untuk Aqila

Takdir Untuk Aqila
Isi hati


__ADS_3

PLAK


PRANG


Satu tamparan Aqila terima dari Ilham bersamaan dengan pisau yang terjatuh dari genggaman Aqila, Aqila menoleh ke samping dengan tatapan kosong, Ilham segera memeluk Aqila erat, “Jangan bodoh Qi” ucap Ilham sendu.


Aqila jatuh kelantai dan Ilham terus memeluknya, “Kenapa? Kenapa ka Ilham melarang Aqila bunuh diri, Aqila mau nyusul ayah dan bunda, Aqila mau ketemu mereka” ucap Aqila.


“Jangan bodoh Qi, kalau lo bodoh kayak gini, yang ada ayah dan bunda akan sedih, nanti mereka akan berpikir bahwa mereka telah gagal mendidik lo” jawab Ilham.


“Percuma ka, kalau Aqila masih hidup, tapi ayah dan bunda udah gak ada, Aqila sama siapa nantinya ka? Aqila gak punya siapa-siapa lagi selain ayah dan bunda, tapi sekarang mereka udah pergi, lantas untuk apa Aqila tetap melanjutkan hidup?” ucap Aqila.


“Lo salah Qi, masih ada gue di sini sama lo, masih ada sahabat lo, masih ada umi dan abi, masih ada Iqbal, bibi juga ada di sini sama lo, jadi lo gak sendirian, masih ada kita” saut Ilham.


Aqila tidak lagi melanjutkan ucapannya dia terus menangis di dalam pelukan Ilham, “Ka, tau gak?” tanya Aqila pelan.


“Apa?” tanya balik Ilham.


Aqila tersenyum di dalam pelukan Ilham, “Ayah pernah ngomong gini loh sama Qila, ayah bilang, suatu saat nanti ayah dan bunda akan pergi jauh dari Qila, tapi ayah juga bilang, Qila akan selalu ada di dalam hati ayah dan bunda, hiks...” ucap Aqila terisak.


“Ayah dan bunda bohong tau ka sama Qila” ucap Aqila melepas pelukannya.

__ADS_1


Ilham tak menjawab dan mendengarkan apa yang akan Aqila katakan, “Ayah bohong sama Qila, ayah bilang nanti kalau Aqila sudah pulang ke Indonesia lagi, ayah mau ajak Aqila beli permen dan es krim yang banyak, tapi ayah gak nepati janji ayah, hikss...” lanjut Aqila.


“Bunda juga sama, bunda bilang bunda akan bahagia banget kalau Aqila pulang, dan nanti bunda akan membuatkan makanan kesukaan Aqila, tapi bunda juga ingkari janji” Aqila manatap kosong ke arah depan dengan linangan air mata yang terus jatuh.


“Dan sekarang Aqila udah pulang, tapi malah ayah dan bunda yang pergi, ayah juga pernah bilang gini, ayah gak akan pernah membiarkan siapapun yang membuat gadis kecil ayah nangis, ayah mau lihat Aqila terus tersenyum, tapi sekarang ayah sendiri yang membuat Aqila nangis, hikss...” Aqila terus saja berceloteh dengan air mata yang terus mengalir.


Ilham yang mendegarnya tak sanggup lagi dan langsung menarik Aqila kedalam pelukannya kembali, “Aqila percaya gak kalau ayah dan bunda sekarang lagi lihat Aqila dari surga?” tanya Ilham.


Aqila menggelengkan keplanya, “Sekarang ayah dan bunda lagi lihat Aqila dari surga, mereka sedih, kalau lihat Aqila kayak gini, mereka ingin melihat Aqila yang tersenyum dan tertawa, bukan menangis seperti ini” ucap Ilham.


Ilham melepas pelukannya dan menangkup wajah Aqila, Ilham menatap mata Aqila yang sudah merah dan sembab, Ilham menghapus air mata Aqila yang terjatuh lalu dia tersenyum.


“Ayah dan bunda, selalu ada di hati Qila, itu yang Qila bilang sendiri, dan ayah dan bunda akan selalu menyayangi Qila sampai kapanpun” ucap Ilham tersenyum.


“Qila sudah dewasa, Qila tau mana yang salah dan mana yang benar, dan Qila seperti ini itu salah, jadi kaka mohon jangan melakukan hal seperti tadi lagi” Ilham tersenyum dan kembali menghapus air mata Aqila.


“Qila mau ya, kembali tersenyum dan bahagia dan jangan melakukan hal seperti tadi lagi untuk ayah dan bunda, dan untuk diri Qila sendiri?” tanya Ilham.


Aqila mengangguk pelan, Ilham yang melihatnya tersenyum dan mengusap kepala Aqila lembut, “Sekarang kita ke makam ayah dan bunda” ucap Ilham menuntut Aqila berdiri.


“Maaf ka” ucap Aqila menunduk.

__ADS_1


“Maaf Qila udah bikin kaka khawatir maaf, hanya saja Qila belum bisa menerima kenyataan” lanjutnya.


Bagaimana tidak menerima kenyataan, harusnya dia pulang di sambut dengan senyuman bahagia kedua orang tuanya, dia pulang membawakan kebanggaan untuk kedua orang tuanya, tapi takdir berkata lain dia mendapatkan apa yang tidak dia inginkan, dan ini di luar ekspetasinya.


“It’s okey, jangan di ulangi lagi” ucap Ilham.


“Iya” saut Aqila.


“Aqila juga minta maaf bi” ucap Aqila kepada bibi dan memeluknya.


“Iya non, jangan kayak tadi lagi bibi takut kehilangan non, cukup tuan dan nyoya yang pergi, non jangan” ucap bibi mengusap punggung Aqila lembut.


Aqila melepaskan pelukannya dan tersenyum walaupun air matanya terus mengalir, “Iya bi” saut Aqila mengangguk.


Ketika Aqila dan Ilham membalikan badannya mereka melihat orang yang sangat familiar yang menatap mereka berdua sendu, terutama menatap Aqila.


To Be Continued...


Siapa ya orang-orang tersebut? Dan untungnya Aqila tidak jadi bundir....


Maaf ya sering pendek, lagi mumet soalnya...

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye...


__ADS_2