Takdir Untuk Aqila

Takdir Untuk Aqila
Titisan titant


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, selama seminggu kebelakang ini Aqila tidak pernah keluar rumah sama sekali, bahkan orang dari luar yang ingin bertemunya dia menolaknya tidak ingin bertemu. Dia butuh waktu sendiri untuk menerima kenyataan pahit ini.


Tok... Tok... Tok...


“Non... Ada yang ingin bertemu dengan non di luar” ucap bibi dari luar kamar Aqila.


“Aqila gak mau bertemu dengan siapa-siapa bi, usir aja” teriak Aqila.


“Tapi non, dia maksa, dia bilang teman non dari Kairo, bahasanya juga bahasa Arab, bibi gak ngerti, dia cuman bilang Aqila-Aqila terus” saut bibi menjelaskan.


Aqila mengerutkan keningnya, teman dari Kairo dia tidak memiliki teman dekat di Kairo apalagi sampai yang mengetahui alamat rumahnya, aneh.


“Udah bi usir aja, jangan hiraukan” balas Aqila malas.


“Tapi non...” bibi menggantung ucapannya.


“AQILA... AQILA... GUE DATANG NIH... AQILA...” teriaknya menggunakan bahasa Arab.


“Tuh non, dia teriak lagi” ucap bibi.


Aqila menghela nafas pelan, lalu beranjak turun dari kasurnya dan membuka pintunya, ketika dia membuka pintunya dia melihat bibi yang menyengir ke arahnya.


“Itu non gimana?” tanya bibi.


Aqila hanya menggelengkan kepalanya, lalu menuruni tangga dan di ikuti bibi di belakangnya.


Aqila terdiam ketika dia melihat siapa orang yang sedang beradu argumen dengan satpam rumahnya, orang tersebut yang melihat Aqila tersenyum dan melambaikan tangannya.


“Aqila” panggilnya.


Aqila menghampiri mereka berdua, “Lo ngapain di sini?” tanya Aqila ketus.


“Ya gue mau ketemu lo lah, lo gak kangen sama gue apa?” tanyanya cemberut.


“Gak” jawab Aqila ketus.


“Masa lo gak kangen sama babang Fauzan yang tampan dan menggemaskan ini sih” ucap Fauzan, ternyata orang tersebut adalah Fauzan.


Aqila memutar bola matanya malas, dan meninggalkan Fauzan yang masih berdiri di depan pintu utama, “Lho, mau kemana? Gak suruh gue buat masuk dan duduk dulu gitu?” teriak Fauzan.


Tapi tidak Aqila hiraukan, walaupun belum di suruh masuk oleh pemilik rumah, Fauzan sudah masuk terlebih dahulu.


“Apa lihat-lihat, saya tau saya ganteng” ucap Fauzan pada bibi dan satpam yang sedari tadi hanya melongo setelah itu dia menyusul Aqila meninggalkan bibi dan satpam yang menatapnya heran.


“Ko bisa bahasa Indonesia ya mang?” tanya bibi bingung.


“Sepertinya kita di bodohi neng” jawabnya, mereka berdua menggelengkan kepalanya setelah itu kembali bekerja.


***


“Ngapain?” tanya Aqila ketika dia melihat Fauzan duduk dengan tampang watadosnya.


“Ya duduklah geulis” jawab Fauzan mengeluarkan logat sundanya.


“Ya gue tau tapi lo ngapain ke sini?” tanya Aqila berusa bersabar.


“Mau mampir aja, sekalian mau ketemu sama camer hehe” jawab Fauzan terkekeh pelan.


Aqila terdiam ketika mendengarnya, dia menatap kosong, Fauzan yang melihatnya merasa aneh, “Qila, lo kenapa?” tanya Fauzan.


“Nyonya dan tuan besar sudah tiada seminggu yang lalu den” saut bibi yang baru datang dengan membawa nampan berisi minum dan makanan.


Fauzan kaget mendengarnya dan dia paham kenapa Aqila langsung terdiam, “Ehh maaf Qi, gue gak tau” ucap Fauzan.


Aqila menatap Fauzan, “Iya gak papa” saut Aqila.

__ADS_1


“Bibi kebelakang dulu” ucap bibi pamit.


“Iya bi makasih” ucap Aqila tersenyum dan di balas pula oleh bibi.


“Qi, lo gak papa kan? Gue gak bermaksud” ucap Fauzan merasa tak enak.


“Santai” balas Aqila.


Fauzan tersenyum, “Ohh iya gue bawa oleh-oleh nih buat lo” ucap Fauzan mencoba menghibur Aqila sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang di bawanya.


“Nihh gue bawa boneka lucu sama seperti pemiliknya” lanjutnya dan memberikan sebuah boneka seperti patung minekin yang lucu kepada Aqila.


Aqila menerimanya dan melihat boneka tersebut yang hampir mirip dengannya, dia tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak terlihat.


“Makasih” ucap Aqila.


“Iya sama-sama, gue juga bawa coklat, bawa apalagi ya banyak deh, lo gak sempat belanjakan di Kairo, jadi gue beliin buat lo deh” ucap Fauzan dan kembali mengeluarkan beberapa barang-barang yang lain.


“Bodoh” saut Aqila ketus.


Fauzan menatap Aqila bingung, “Maksud lo apa?” tanya Fauzan.


“Lo bodoh, memberikan semua ini sama gue” jawab Aqila ketus.


“Ya gak lah, gue kan baik hati dan tidak sombong jadi apapun akan gue kasih ke lo” ucap Fauzan tersenyum khasnya.


Aqila memutar bola matanya malas, “Terserah” sautnya.


“Ya udah kalau terserah nih buat lo semua, lo terima gue senang banget, gue ke sini juga mau pamit” ucap Fauzan.


Aqila langsung menatap Fauzan dan mengeriyitkan keningnya, “Maksudnya pamit?” tanya Aqila bingung.


“Ya gue mau balik ke Bandung, karena nenek gue sakit, gue juga udah kangen sama nenek gue” jawab Fauzan.


Fauzan memang asli orang Bandung, dan dia di Jakarta karena kedua orang tuanya yang bekerja di Jakarta jadi dia ikut orang tuanya.


“Iya gue salamin kok, salam dari calon cucu mertua ya hehe” kekeh Fauzan menatap Aqila.


Aqila kembali memutar bola matanya malas, “Gue minum ya, ceket nih” ucap Fauzan sembari mengambil cangkir teh.


“Hmm” Aqila hanya berdehem saja sebagai jawaban.


“Oh iya gue lupa tanya kabar lo, lo baik kan?” tanya Fauzan basa-basi.


Aqila hanya mengangguk pelan, Fauzan sebenarnya paham Aqila sedang tidak baik-baik saja, “Qi, dapat salam dari Juna dan Fira, mereka bilang mereka kangen sama lo” ucap Fauzan mengalihkan pembicaraan.


“Iya, salam balik, kabar mereka gimana?” tanya Aqila.


“Ya alhamdulillah baik, mereka bilang kapan-kapan kita kumpul lagi” jawab Fauzan dan Aqila mengaguk paham.


“Seminggu ini lo di rumah ajakan, gimana kalo sekarang kita jalan-jalan sebelum gue berangkat, gimana?” usul Fauzan tersenyum.


Aqila langsung menggelengkan kepalanya, dia masih malas untuk keluar rumah, “Maaf, gak bisa” ucap Aqila.


“Yah, kali ini aja Qi, ayo dong, dari pada di rumah lo nanti sedih terus” saut Fauzan memohon.


“Tap-” ucapa Aqila terhenti ketika ada suara teriakan.


“YUHUUU AQILA I’M COMING” teriak seseorang dari arah pintu utama.


Aqila dan Fauzan saling pandang, dan tak lama kemudian datang seorang pria tampan berlari ke arah mereka dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


Dan tanpa tahu malu dia langsung memeluk Aqila, “Qilaa, lo seminggu ini ngurung diri terus gue kangen tau” ucapnya cemberut tanpa melepaskan pelukannya.


Sedangkan Aqila hanya diam saja tidak membalas pelukan maupun menolaknya, Fauzan yang melihatnya kesal, dan langsung menarik lelaki tersebut, “Maksud lo apa hah peluk-peluk Aqila?” tanya Fauzan menatapnya tajam.

__ADS_1


Lelaki tersebut menatap Fauzan tak kalah tajam, “Emangnya kenapa kalau gue peluk Aqila hah, siapa lo? Kelurga atau kerabatnya aja bukan” ucapnya ketus dan bersedekap dada.


“Belagu banget ya” saut Fauzan kesal.


Aqila yang melihatnya menghela nafas pelan, “Hei sudah-sudah kenapa malah berantem sih?” tanya Aqila kesal.


“Dia duluan Qi” tunjuknya pada Fauzan.


“Lo lah yang datang-datang langsung peluk-peluk” saut Fauzan membela dirinya.


Aqila menghela nafas pelan dan Aqila hanya menatap kedua pria tersebut yang saling menyalahkan satu sama lain.


“Lo, lo siapanya Aqila?” tanya Fauzan sembari menunjuk wajah lelaki tersebut.


“Gue? Siapanya Aqila?” tanyanya menunjuk dirinya sendiri.


“Iya” jawab Fauzan.


“Ekhem, perkenalkan gue Ilham kaka angkatnya Aqila” Ilham memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangannya dengan wajah sombongnya.


Fauzan terdiam dan berkedip, Fauzan menatapnya cengo, “Qi, bener?” tanya Fauzan menatap Aqila.


“Menurut lo?” tanya balik Aqila menaiki satu alisnya.


“Gue gak yakin, gue kira dia makhluk astral” ucap Fauzan menggelengkan kepalanya pelan dengan menahan senyumnya.


“Pala lo botak, gue ganteng gini di katain makhluk astral” saut Ilham kesal.


“Terus lo siapa hah? Ngapain di rumah adik kesayangan gue?” tanya Ilham menatap Fauzan mengintrogasi.


“Gue calonnya Aqila, ya kan Qi” jawab Fauzan menatap Aqila dan menaik turunkan alisnya.


Aqila memutar bola matanya malas, “Bukan” jawab Aqila ketus.


“Tau lo, mana mungkin Aqila mau sama titisan titant kayak lo” saut Ilham menatap sinis Fauzan.


“Enak aja, pasti mau lah gue ganteng gini kayak oppa korea siapa sih yang gak mau sama gue” ucap Fauzan mengibaskan rambutnya kebelakang.


“PD banget” sinis Aqila.


“Ihh lo kok gitu sih Qi” ucap Fauzan cemberut.


“Idih, bibir tuh kayak bebek kegenjet trotoar” sinis Ilham ketika melihat Fauzan memanyunkan bibirnya.


Fauzan memutar bola matanya malas, dan mendeliki Ilham, “Kakak ke sini sama siapa?” tanya Aqila.


“Ohh iya gue lupa” Ilham menepuk jidatnya.


“Lupa apa?” tanya Aqila mengerutkan keningnya.


“Di depan...” Ilham mengantung ucapannya sembari menunjuk pintu depan.


“Di depan apa?” tanya Aqila.


“Di de- hehe” Ilham tak melanjutkan ucapannya melainkan terkekeh pelan ketika dia menoleh ke arah pintu depan.


Aqila dan Fauzan mengikuti arah pandangnya, Aqila terdiam beberapa saat, hingga ada suara yang memanggilnya.


“Aqila”


**To Be Continued....


***


...Guys ternyata Fauzan orang Bandung, siapa nih yang di sini orang Bandung juga, guys menurut kalian siapa kira-kira yang memanggil Aqila ya? Yang penasaran saksikan terus ya kelanjutan ceritanya... ...

__ADS_1


...Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**... ...


__ADS_2