
“Bagaimana dok keadaan Aqila?” tanya Umi Fatimah to the point.
Dokter Jihan tersenyum simpul, “Tidak ada luka serius dengan nona Aqila, hanya saja...” dokter Jihan mengantung ucapannya yang membuat Umi dan Abi penasaran.
“Hanya saja apa dok?” tanya Abi.
“Hanya saja nona Aqila membutuhkan banyak darah, nona Aqila kekurangan darah sangat banyak akibat tembakan yang menembus perutnya” jelas dokter sendu.
“Kira-kira darah yang di butuhkan darah apa dokter?” tanya Umi Fatimah.
“Golongan darah nona Aqila AB+, dan setok darah AB+ ini tidak ada di rumah sakit kami, dan juga sangat langka, sekitar 2 persen orang saja yang memilikinya” jawab dokter Jihan.
Umi Fatimah dan Abi Syam terdiam, mereka saling pandang sebelum menghembuskan nafasnya pelan.
“Dan nona Aqila harus segera mendapatkan darah, jika tidak akan berakibat fatal kepada nona Aqila bahkan bisa menyebabkan kematian” lanjut dokter Jihan yang membuat Umi dan Abi sangat kaget.
“Baik dok, terimakasih kami akan segera mungkin mendapatkan darah ini” ucap Umi Fatimah.
“Kami juga akan membantu cari” ucap Dokter Jihan.
“Terimakasih Dok, kalau begitu kami pamit, assalamualaikum” saut Abi Syam, lalu pergi keluar ruangan Dokter Jihan.
...***...
“Umi, Abi, bagaimana kata dokter?” tanya Iqbal khawatir ketika melihat Umi dan Abinya menghampirinya.
Umi menghela nafas pelan, “Aqila membutuhkan banyak darah” jawab Umi.
“Darah? Darah apa yang Aqila butuhkan?” tanya Yuri.
“AB+” jawab Umi.
Semuanya terdiam, “Tidak ada darah kami yang AB+” saut Loli terduduk lemas.
“Dan kami harus segera mendapatkannya, jika tidak akan berakibat fatal kepada Aqila bahkan bisa menyebabkan kematian” ucap Abi Syam dan semuanya di buat kaget dan terdiam.
Tanpa basa-basi Iqbal pergi berlari entah kemana, “Iqba mau kemana?” tanya Ilham sedikit berteriak.
Tapi tidak di sahuti oleh Iqbal. Ilham, Faisal, dan Juna juga ikut berlari meninggalkan yang lain.
...***...
Sudah ada tiga jam lebih Iqbal dan yang lain mencari golongan darah AB+ untuk Aqila, tapi tidak menemukan sama sekali.
“Ya Allah berilah kami kemudahan” gumam Iqbal sembari mengusap peluh yang mengalir di keningnya.
“Iqbal ada telepon dari Umi” saut Ilham menghampiri Iqbal yang sedang duduk di bawah pohon.
“Angkat” ucap Iqbal.
“Assalamualaikum Umi” salam Ilham ketika sudah ke sambung.
“....”
“Iya, Umi kita masih nyari”
“....”
“Yang bener Umi, alhamdulillah”
Iqbal, Juna, dan Faisal menatap Ilham yang tersenyum senang, mereka mengerutkan keningnya bingung.
“Kenapa?” tanya Juna, tapi tidak di sahut oleh Ilham.
__ADS_1
“Iya, Umi kita akan segera ke rumah sakit” ucap Ilham tersenyum.
“Waalaikummussalam” panggilan telpon pun mati.
“Kenapa Ham?” tanya Faisal.
“Kita ke rumah sakit sekarang” ucap Ilham dan pergi menuju mobilnya.
“Emang kenapa? Kan kita belum mendapatkan darahnya” ucap Juna bingun tapi dia pun mengikutinya di belakang.
“Darahnya udah ada”
...***...
“Umi, Abi, bagaimana keadaan Aqila?” tanya Iqbal ketika masuk keruangan Aqila.
“Alhamdulillah Aqila sudah ada yang mendonorkan darahnya, dan sekarang tinggal tunggu bangun saja” jawab Umi Fatimah tersenyum.
“Alhamdulillah” saut semuanya.
“Siapa yang mendonorkan darahnya Umi?” tanya Ilham.
“Umi juga tidak tau, orang yang mendonorkan darahnya tidak mau memberitahukan identitasnya” jawab Umi menggelengkan kepalanya pelan.
“Terimakasih orang baik” ucap Fira tersenyum dan yang lain juga mengangguk.
“Yuri ayo kita pulang dulu, kamu sudah kelelahan” ucap Faisal kepada Yuri yang duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
“Iya” saut Yuri dan berdiri dari duduknya lalu menghampiri suaminya.
“Yuri, Loli ikut” ucap Loli dan mengikuti Yuri.
“Semuanya kami pamit pulang dulu” ucap Faisal.
“Assalamualaikum” salam Faisal dan segera berlalu pergi dengan Yuri dan Loli di belakangnya.
“Waalaikummussalam” jawab yang lain.
“Umi, Abi, saya dan juga Fira mau pulang terlebih dahulu” saut Juna.
“Iya nak” ucap Umi.
“Assalamualaikum” salamnya.
“Waalaikummussalam”
Setelah kepergian mereka tersisa, Iqbal, Umi, Abi, dan juga Ilham, “Abang, Umi titip Aqila, Umi mau pulang dulu, Umi sedikit pusing” ucap Umi Fatimah sembari menyentuh kepalanya.
“Iya Umi, Umi istirahat di rumah saja, Aqila biar sama Abang dan Ilham” ucap Iqbal.
“Ya sudah kami pulang dulu, Ilham jangan berisik ya kamu, ini di rumah sakit” peringat Abi Syam kepada Ilham.
“Iya Abi siap” saut Ilham memberikan tanda hormat.
“Assalamualaikum” salam Umi dan Abi.
“Waalaikummussalam” jawab mereka berdua.
Umi dan Abi pun pulang kerumah, dan tersisa Iqbal dan Ilham. Iqbal beralih duduknya jadi di samping brangkar Aqila.
Iqbal terus memandang wajah ayu yang masih lelap dalam tidurnya, ‘Dek, bangun yuk’ batin Iqbal sendu.
Ketika sedang asik-asiknya Iqbal memandang Aqila, tiba-tiba ada bau yang kurang sedap.
__ADS_1
“Hmm bau apa ini?” gumam Iqbal menutup hidungnya dan memandang Ilham.
Ilham menyengir kuda, “Hehe, kelepasan Bal, sorry, gue ke air dulu ya udah di ujung tanduk nih” ucap Ilham cengengesan dan berlari pergi ke kamar mandi.
Iqbal menghela nafas pelan dan menggelengkan kepalanya pelan, dan kembali menatap wajah Aqila.
“Dek bangun, maafin abang ya” gumam Iqbal.
“Maafin abang gak bisa jagain adek, maafin abang gak sempat selamatin adek, maafin abang dek” lanjutnya sendu.
“Adek, kalau adek bangun abang janji bakal tepati janji abang, abang sayang adek” Iqbal berbisik di telinga Aqila setelah itu tersenyum pelan.
“Abang”
Iqbal langsung menatap Aqila, “Adek udah bangun, mau minum?” tawar Iqbal.
Aqila menganggukan kepalanya pelan, dan Iqbal mengambil air putih di atas nakas lalu membantu Aqila untuk minum.
“Maaf ya dek” ucap Iqbal.
“Maaf untuk apa?” tanya Aqila ketika sudah selesai minum.
“Maaf tadi abang gak sengaja sentuh adek” jawab Iqbal.
Aqila menahan senyumnya, karena tadi ketika Iqbal membantu Aqila berdiri dirinya tak sengaja menyentuh lengan Aqila.
“Iya gak papa” saut Aqila.
“Adek laper? Mau makan apa?” tanya Iqbal lagi.
“Pengen nasi goreng buatan Umi” jawab Aqila.
Iqbal terdiam, setelah itu tersenyum, “Makan yang ada dulu, nanti kalau sudah sehat boleh makan itu” saut Iqbal dan mengambil bubur di atas nakas.
Aqila hanya diam saja, menurut apa kata Iqbal, “Suapin atau makan sendiri?” tanya Iqbal lagi.
“Sendiri aja” jawab Aqila dan ketika hendak mengambil mangkok tangan yang di infus ketarik dan merasakan sakit.
“Aws...” ringis Aqila.
“Sakit?” tanya Iqbal merasa khawatir.
“Sedikit” jawab Aqila.
“Biar abang suapin saja” ucap Iqbal dan mulai menyendok bubur.
“Makasih” ucap Aqila dan mulai membuka mulutnya.
Suapan demi suapan Aqila terima, Iqbal begitu telaten dan cekatan menyuapi Aqila makan.
Sesekali mengusap sisa bubur yang ada di sudut bibir Aqila dan memberikan minum.
Dan tanpa mereka sadari, sedari tadi ada yang terus memperhatikan mereka dari kejauhan.
“Sebaiknya aku yang mengalah, jahat kalau aku memisahkan dua insan yang saling mencintai” gumamnya setelah itu pergi.
...To Be Cintinued...
...***...
...Guys maaf ya kemarin gak up soalnya sibuk sama pramuka di sekolah, jadi gak sempat up, maaf ya......
...Guys kira-kira siapa ya yang memberikan darah untuk Aqila? Penasaran? Saksikan terus kelanjutan ceritanya.......
__ADS_1
...Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye.......