Takdir Untuk Aqila

Takdir Untuk Aqila
GAK MUNGKIN!!!


__ADS_3

“Sebenarnya apa?” tanya Aqila yang penasaran.


Ilham menarik nafas panjang dan menatap Aqila, “Sebenarnya... huhh, lo yang sabar ya, sebenarnya ayah dan bunda udah gak ada” ucap Ilham menatap Aqila yang terdiam.


“Maksudnya gak ada?” tanya Aqila mengerutkan keningnya tapi matanya mulai memanas.


“Ayah dan bunda udah gak ada, mereka udah gak ada di rumah” jawab Ilham.


“Ohh mereka lagi pergi, yahh padahal Aqila mau kasih mereka kejutan, nanti aja deh kalau mereka udah pulang ke rumah” ucap Aqila tersenyum.


Aqila sebenarnya paham apa yang Ilham maksud tapi dia berpikir positif saja, dia tidak mau apa yang dia pikirkan terjadi.


“Bukan itu Qi” saut Ilham menatap Aqila sendu.


“Ayah dan bunda udah meninggal, mereka sudah pergi jauh dan gak akan kembali” lanjut Ilham sendu.


Aqila terdiam, matanya berair, “Bohong, ka Ilham bohong” ucap Aqila menatap Ilham.


“Gak Qi, gue gak bohong, baru aja gue dari pemakaman, dan baru aja ayah dan bunda di kuburin” saut Ilham menatap Aqila balik.


Aqila menggelangkan kepalanya tak percaya, kakinya serasa lemas, dia sudah tidak bisa menopang tubuhnya dan Aqila ambruk ke tanah bersamaan dengan air mata yang juga jatuh.


Dia ingin memberikan kejutan kepada ayah dan bundanya tapi takdir yang memberikan kejutan untuknya, keren bukan?


“Gak, ini gak mungkin, ka Ilham bohong, ayah dan bunda pasti masih ada di dalam, mereka gak mungkin niggalin Qila” ucap Aqila menatap Ilham dengan linangan air mata.

__ADS_1


Ilham tidak menjawab dia menghampiri Aqila dan memeluknya, Aqila terisak di dalam pelukan Ilham, “Ka Ilham bohong, hikss... Ayah dan bunda ada di dalam, mereka gak mungkin ninggalin Aqila sendiri, hiks... Gak, hiks.. Gak mungkin, KA ILHAM BOHONG” teriak Aqila memukul Ilham.


“KA ILHAM PEMBOHONG, GAK MUNGKIN, HIKS... AYAH, BUNDA, AAAAAA” teriak Aqila di dalam pelukan Ilham dan terus memukul Ilham.


Ilham hanya bisa diam saja dan membiarkan Aqila memukulnya, dia juga tidak sanggup untuk melihat adik kesayangannya menangis seperti ini.


Aqila melepas pelukan Ilham, dan dia berdiri dan berlari memasuki rumahnya dengan linangan air matanya, di susul Ilham di belakangnya.


“AYAH, BUNDA, INI AQILA, AQILA UDAH PULANG AYAH, ANAK AYAH UDAH MENDAPATKAN GELAR SARJANA LULUSAN TERBAIK LHO, AYAH, BUNDA KALIAN DI MANA?” teriak Aqila matanya mengedarkan ke seluruh rumah yang kosong.


“AYAH, BUNDA” teriak Aqila terus memanggil ayah dan bundanya, tapi tidak ada yang menjawabnya dan Aqila menghampiri bibi yang berada tak jauh darinya dan menatapnya sendu.


“Bi, ayah, bunda mana?” tanya Aqila kepada bibi.


Lagi-lagi Aqila mendapatkan jawaban yang sama, jika ini mimpi plis siapapun bangunkan Aqila dari mimpi yang tidak dia inginkan sama sekali.


“Bibi bohong ya, bibi bersekongkol sama ka lham?” tanya Aqila sembari menunjuk Ilham yang berada tak jauh darinya.


“Gak non, tuan dan nyonya memang sudah tidak ada” jawab bibi yang juga menjatuhkan air matanya.


Aqila menggelengkan kepalanya, “INI SEMUA GAK MUNGKIN, AYAH DAN BUNDA, TIDAK AKAN MENINGGALKNA AQILA, KALIAN SEMUA BOHONG” teriak Aqila frustasi dan melempar semua barang yang ada di sekitarnya.


“AQILA UDAH GAK PERCAYA SAMA KALIAN SEMUA, AYAH DAN BUNDA MASIH ADA, MEREKA MASIH ADA, MEREKA HANYA PERGI SESAAT DAN AKAN KEMBALI LAGI” Aqila terus berteriak dan melempar semua barang.


“Mereka akan pulang, Aqila percaya itu, karena mereka tidak akan pernah ninggalin Aqila sendiri” lanjutnya dan sudah tidak melempar barang-barang lagi.

__ADS_1


“Sabar non, tenang, non jangan kayak gini, bibi jadi ikut sedih lihatnya” saut bibi menangis manatap Aqila.


“Jangan sedih bi, ayah dan bunda akan pulang lagi” ucap Aqila menatap bibi dan tersenyum.


Bibi yang melihatnya semakin terisak, bagaimana tidak dia sudah lama bekerja di sini, dari Aqila kecil bahkan ketika Aqila masih di dalam kendungannya.


Ilham menghampiri Aqila dan memegang pundaknya, “Qi, sabar, tapi kenyaatannya ayah dan bunda memang sudah meninggal, mereka sudah tidak ada” saut Ilham menatap Aqila sendu.


Aqila menjauh dari Ilham dia berjalan ke arah meja yang letaknya tak jauh darinya, “Kalaupun memang ayah dan bunda sudah meninggal, kalau begitu Aqila akan menyusul ayah dan bunda, agar Aqila bisa terus bersama mereka selamanya” ucap Aqila tersenyum dan mengambil pisau buah yang tak jauh darinya.


Aqila sudah frustasi, bagaimana tidak? Ayah dan bundanya harapan satu-satunya untuk dia kembali ke Indonesia kini sudah tidak ada, semangat hidupnya, kebahagian hidupnya, dan orang yang paling di cintainya kini sudah pergi, meninggalkannya seorang diri.


“Jangan non” bibi memegang tangan Aqila yang hendak menancapkan pisau tersebut ke tubuhnya.


“Lepas” Aqila mendorong bibi kuat hingga bibi terjatuh kebelakang.


Aqila menatap mata pisau tersebut yang sangat tajam, Aqila menarik nafas pelan, ‘Ayah, bunda maafin Qila’ batin Aqila dan menganggkat pisau buah yang tajam ke atas tubuhnya.


To Be Continued....


***


Harapan untuknya pulang dengan membawa gelar sarjana telah pupus, dan Aqila sangat frustasi dengan semuanya, akankah Aqila mengakhiri hidupnya? Dan menyusul ayah dan bundanya? Penasaran? Saksikan terus kelanjutan ceritanya...


Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye...

__ADS_1


__ADS_2