TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Kedatangan Antonio


__ADS_3

Anindita terus mengajari Anindya untuk memakai ponsel canggih yang sangat bagus itu, namun sayangnya Anindya yang sama sekali tidak pernah menggunakan ponsel secanggih itu bahkan dia baru memeganginya kali ini, sehingga dia sedikit kesulitan untuk belajar mengenai ponsel tersebut.


Bahkan saking sulitnya Anindya belajar bermain dan memfungsikan ponsel tersebut, Anindita yang mengajarinya sampai memegangi jidatnya dan menepuk jidatnya itu dengan keras beberapa kali dan terus berdecak kesal karena melihat Anindya yang sulit diajarkan olehnya meski sudah mengulangi cara menggunakan ponsel tersebut berkali-kali.


"Aishh... Kau pakailah sendiri, dan tekan apa saja sesukamu aku tidak perduli lagi, sudah cepat sana kau pergi membuat aku pusing saja!" Bentak Anindita kepadanya sambil langsung memberikan ponsel itu dengan paksa pada Anindya.


Dan dia pun segera pergi dari sana dengan secepatnya karena dia sudah sangat kesal dan pusing di buatnya, dia kembali masuk ke dalam rumah dan langsung saja mengusir Anindya dan menyuruhnya untuk cepat pergi dari sana sebelum ada orang lain yang bisa melihat wajah mereka yang terlihat sangat mirip satu sama lain.


"Aishhh.... Apa lagi yang kau tunggu, dasar keras kepala, sana cepat kau pergi!" Ucap Anindita dengan membentaknya cukup keras dan mengibaskan tangannya keras kepada Anindya dengan wajahnya yang mengerutkan kedua alis hampir menyatu satu sama lain.


Setelah Anindita sudah mihat Anindya pergi dari sana barulah dia bisa merasa sangat senang dan bisa masuk ke dalam rumahnya menemui sang ayah yang terlihat sangat gembira dengan banyak uang yang dia hitung di atas meja dan dijejerkan dengan rapih.


"Ahahaha... Sayang kau sudah kembali, lihatlah uangmu ini sangat banyak, dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini, apa kau menabungnya sejak kau kecil yah, wahhh ini sangat luar biasa" ucap Doni sambil tertawa gembira dan dia mengibaskan uangnya itu sebagai kipas untuknya dan dia terus tertawa dengan keras menikmati banyaknya uang yang dia hitung di atas meja.


Sedangkan Anindita sendiri justru malah langsung merebahkan tubuhnya di kursi tepat di samping Doni saat itu.


"Ayah tahu itu tabunganku jadi aku harap kau harus menggunakannya dengan bijak, jangan membelikannya untuk minuman sialan itu, ingat kau juga tidak boleh melakukan hal kriminal lainnya, aku bisa membiayai hidupmu" ucap Anindita kepadanya.


Sang ayah Doni pun langsung mengangguk dengan begitu senang sedangkan tidak lama disaat mereka tengah menghitung banyaknya uang itu tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu yang sangat keras dari luar sana.

__ADS_1


"Tok....tok....tok... Doni keluar kau, hey... Doni keluar atau aku akan mendobrak pintu rumahmu!" Teriak seseorang yang terdengar sangat marah di luar sana.


Anindita dan ayahnya langsung saja saling tatap satu sama lain dan mereka merasa heran karena ada yang bertamu dengan cara kasar seperti itu di waktu hampir malah seperti itu, sehingga Doni langsung pergi untuk membukanya dan disaat dia membuka pintu rupanya itu adalah anak buah tuan Antonio dan mereka langsung saja menerobos masuk ke dalam sehingga membuat Anindita yang mengetahui itu lebih dulu, dia langsung menyembunyikan semua uang diatas meja dan menaruhnya ke bawah sofa dengan cepat sebelum mereka masuk ke tempat itu.


"Tuan... Ada apa kau menemui aku lagi, tuan jangan masuk tuan" ucap Doni berusaha menahannya namun kedua tangannya di pegang dengan kuat oleh kedua bodyguard tuan Antonio saat itu.


Hingga ketika tuan Antonio masuk dan dia melihat Anindita yang tengah duduk dengan santai memegang remote tv di sofa tersebut, Doni langsung berusaha melepaskan diri dan dia segera menghampiri tuan Antonio saat itu dengan cepat.


"Tuan ada apa kau datang kemari, kita bisa membicarakan mengenai bisnis di luar saja disini ada putriku ayo mari tuan" ucap Doni dengan perasaan yang cemas.


Sebenarnya dia hanya takut tuan Antonio akan memberikan dia tugas untuk mencuri atau menjadi mata-mata lagi, sedangkan dia sudah jelas tidak akan bisa menerima tawaran dari tuan Antonio jika disana ada putrinya Anindya yang selalu saja tidak menyukai pekerjaan seperti itu sejak dulu hingga saat ini.


"Diam kau! Atau aku akan memerintahkan kedua bodyguardku untuk memutuskan lehermu itu!" Ancam tuan Antonio dengan tatapan yang tajam,


Seketika Doni langsung membungkap mulutnya dan dia tidak berani mengatakan sepatah katapun saat itu,


Sedangkan Anindita yang melihat hal tersebut dia langsung saja terperangah kaget sampai membuka mulutnya lebar dan membelalakkan matanya sangat besar, dia langsung berbicara kepada Antonio agar melepaskan Doni.


"Hey.... Apa yang kau lakukan lepaskan dia kenapa kau malah menyandra ayahku, cepat lepaskan dia!" Bentak Anindita dengan keras dan menatap tak kalah tajam kepada Antonio saat itu.

__ADS_1


Anindita bahkan tidak memiliki rasa takut sedikitpun ketika dia melawan seorang tuan Antonio yang sangat kejam dan bisa memb*Nuh mereka semua kapan saja dia ingin, bahkan hanya dengan menjentikkan jarinya saja.


"Wahh... Berani sekali kau berbicara selantang itu kepadaku, apa kau memiliki dua nyawa sampai tidak takut mati ketika berani melawanku berkali-kali" ucap Antonio yang mulai kesal dengan tingkah Anindita saat itu,


"CK... Aku memang tidak takut mati, bahkan aku sudah tahu kapan aku akan mati dan aku memang tidak memiliki dua nyawa tapi aku memang sudah bosan hidup, memangnya kenapa? Kau mau membunuhku? Silahkan lakukan saja sesukamu aku sama sekali tidak takut!" Balas Anindita yang justru sengaja malah menantang Antonio.


Antonio hanya tersenyum kecil dengan sorot matanya yang sinis, beralih kepada Doni yang masih dalam sandraan kedua bodyguardnya saat itu, wajah Doni terlihat begitu cemas menatap ke arah Anindita dan dia terus menggelengkan kepala seakan menyuruh sang putri untuk tidak melawan tuan Antonio lagi.


"Ya ampun Anindita apa yang baru saja kau katakan sayang, kau akan membuat tuan Antonio benar-benar memb*Nuh dirimu dan aku tidak ingin kau mati sia-sia" gumam Doni mencemaskan putri satu-satunya yang dia miliki untuk menemani dirinya selama ini.


"Lihatlah putrimu ini Doni, aku datang kemari secara sengaja hanya ingin memberikan bisnis denganmu tapi kau lihat sendiri bagaimana putri kesayanganmu ini malah menantang aku dengan wajahnya yang sangat menyedihkan" ucap Antonio sambil dia berjalan pelan mendekati Anindita.


Anindita sama sekali tidak merasa takut dan dia tetap menyipitkan matanya menatap tajam pada Antonio bahkan disaat Antonio mendesak dia, dia tetap bersikap tenang dan tidak mundur sedikitpun.


Sehingga hal itu membuat Antonio semakin tertarik dan penasaran kepada Anindita sebab dia terlihat berbeda dengan banyak gadis di luar sana yang biasanya akan langsung memohon ampunan atau bahkan menyerahkan dirinya untuk melayani dia agar mendapatkan ampunan itu, namun gadis yang satu ini justru malah menantang dia dan tidak terlihat sedikitpun ketakutan dalam sorot matanya.


"Prok....prok...prok...." Suara tepukan tangan dari seorang Antonio yang membuat Anindita muak melihatnya,


"Bagus... Kau memiliki seorang putri yang sangat pemberani, mengapa kau mengatakan padaku jika putrimu seorang penakut dan tidak bisa membantumu menyelesaikan tugas besar dariku?" Ucap Antonio sambil melirik sekilas pada Doni yang ada di belakangnya saat itu.

__ADS_1


__ADS_2