
Kini Anindita terus saja merasa resah sendiri dan dia bingung bagaimana cara berhadapan dengan Antonio nantinya, sampai tidak lama ternyata tuan Antonio benar-benar datang ke sana dan dia langsung menghampiri Anindita untuk membantunya pergi ke kamar sebab kakinya terluka seperti itu.
"Hei....apa kau sungguh meminta aku untuk menggendongmu ke kamar?" Ucap tuan Antonio kepada Anindita saat itu.
Anindita yang mendapatkan ucapan seperti itu tentu saja dia langsung menolaknya dan mengatakan tidak dengan begitu lantang kepada tuan Antonio saat itu, padahal sebenarnya dia sangat membutuhkan bantuan Antonio untuk pergi menaiki tangga sebab kakinya terasa sangat perih dan ngilu sekali saat itu.
"Tidak.... Si...siapa juga yang membutuhkan bantuanmu," ucap Anindita membohongi dirinya sendiri dihadapan tuan Antonio saat itu.
Untung saja tuan Antonio sudah mengetahui bagaimana karakter dari Anindita sehingga maske Anindita mengatakan tidak kepadanya tuan Antonio tetap saja menggendong Anindita dengan cepat tanpa aba-aba saat itu, sampai membuat Anindita sendiri merasa kaget dan langsung membelalakkan matanya dengan sangat lebar kala itu.
"Sudahlah kau tidak perlu berpura-pura kuat lagi, ayo aku akan membantumu pergi ke kamarmu ini sudah sangat larut malam," ucap tuan Antonio sambil menggendong Anindita seenaknya saja meski tanpa izin dari Anindita sendiri saat itu.
"Eh....eheehhh..Antonio hei apa yang kamu lakukan, Antonio jangan menggendong aku seperti ini aahhh," teriak Anindita saat itu sambil segera saja berusaha untuk berontak kepadanya saat itu.
Namun sayangnya tuan Antonio sendiri sama sekali tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Anindita, sebab dia sudah tahu bahwa Anindita hanya memegangi gengsinya saja saat itu, jadi tuan Antonio tetap menggendongnya dengan penuh kekuatan dan menaiki tangga dengan cepat saat itu.
Anindita juga sudah tidak berontak lagi kepadanya karena dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun lagi hingga setengah berada di depan kamarnya dengan cepat Anindita meminta tuan Antonio agar menurunkannya disana saat itu juga sebab dia tidak ingin membuat tuan Antonio harus kembali ikut masuk dengannya ke dalam kamar tersebut lagi untuk ke dua kalinya sama seperti yang terjadi sebelumnya dan itu cukup menegangkan bagi Anindita sendiri.
"Eehh sudah cukup cukup, ayo cepat turunkan aku!" Ucap Anindita dengan berontak merasa sampai akhirnya tuan Antonio pun mau menurunkannya dengan perlahan saat itu dan masih saja tetap memegangi tangan Anindita karena dia takut Anindita akan terjatuh jika dia tidak memeganginya dengan benar saat itu.
"Kenapa ka meminta aku menurunkanmu disini hah?" Ucap tuan Antonio kepada Anindita dengan kedua alis yang dia kerutkan dengan kuat sekali dan begitu tajam saat itu.
"Aahh..aku sudah bisa jalan di tempat yang datar seperti ini, jadi aku sudah tidak terlalu membutuhkan bantuan darimu lagi, aku juga hanya tidak mau merepotkan dirimu terlalu banyak, jadi sampai sini saja sudah cukup, kau bisa pergi ke kamarmu juga sekarang, selamat malam Antonio," ucap Anindita sambil memperlihatkan sebuah senyum kecil padanya agar tuan Antonio tidak marah dengan dia saat itu.
__ADS_1
Sedangkan setelah berada masuk di dalam kamarnya Anindita justru mengeluh sambil meringis kesakitan memegangi kakinya dan dengan cepat berjalan ke samping ranjang untuk segera memeriksa kakinya lagi yang sempat dia gunakan untuk berpijak saat itu dan rasanya sangatlah ngilu sekali meski dia tetap masuk dengan membuat alas karpet yang cukup empuk dan tidak sekasar benda yang lainnya.
"Ssstt....aaw...aw...aw...aishhh kenapa kaki ini baru terasa sangat sakit sekarang ini, aahhh benar-benar sakit sekali sih," gerutu Anindita saat itu.
Dia juga segera pergi ke ranjangnya dan duduk sambil memeriksa kakinya sendiri yang terlihat cukup memiliki banyak luka lebam dan goresan yang besar sampai yang kecil saat itu.
Tapi tuan Antonio sendiri justru malah terlihat semakin senang dan bahagia dia benar-benar merasakan rasanya terbang di angkasa dan terus berbunga-bunga merasakan indahnya jatuh cinta pada dirinya kepada Anindita saat ini.
Apalagi ketika dia baru saja menggendong Anindita, walaupun itu membuat tangannya sedikit sakit karena Anindita cukup berat saat dia gendong namun tuan Antonio tetap saja merasa senang karena dia sudah bisa menggendong Anindita.
Apalagi Anindita mengucapkan kalimat selamat malam padanya hal yang membuat tuan Antonio semakin berbunga-bunga karenanya saat itu.
"Huaaa....selamat malam Antonio, aaahhh dia benar-benar akan memanjakan panah asmara di dalam hatiku ini, aish bagaimana bisa dia membuat aku sampai seperti ini padahal sebelumnya aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita manapun tapi dia selalu saja bisa menarik perhatian dalam diriku meski aku sudah berusaha keras untuk menahan diri agar tidak terlihat sangat jelas bahwa akulah yang sangat mencintai dia selama ini," gerutu tuan Antonio di dalam kamarnya sendiri sambil merebahkan tubuhnya ke belakang dan menatap langit-langit kamarnya saat itu.
Bahkan saking senang dan bahagianya tuan Antonio ke esokan paginya tepat di akhir pekan itu tuan Antonio sudah bangun sangat awal sekali dan dia dengan sengaja membuat sarapan secara khusus untuk Anindita dan dirinya.
"Ehhh.. Anindita ya ampun kenapa kau tidak berteriak memanggil aku saja disaat kau mau turun, kau kan masih sakit begini, ayo...cepat aku bantu kau berjalan," ucap tuan Antonio yang membuat Anindita merasa sangat aneh dan begitu heran dengan sikap tuan Antonio yang begitu berubah seratus delapan puluh derajat kepadanya saat itu.
"Hah...ada apa dengan orang ini, apakah dia sempat salah makan tadi malam atau apa dia sudah bermimpi aku akan membalas dendam dengannya sampai dia tiba-tiba saja menjadi pria yang baik dan perhatian seperti ini?" Batin Anindita yang terus saja merasa keheranan sendiri.
Dia hendak duduk tuan Antonio bahkan dengan cepat segera menarikkan kursi di depan meja untuk Anindita dan dia mempersilahkan Anindita untuk segera mencicipinya saat itu, padahal Anindita tidak ingin makan atau mencicipi sesuatu dengan di paksa dan harus terburu-buru seperti saat ini.
"Anindita ayo silahkan makan, ini masakanmu sendiri loh, aku sudah berkutik sejak subuh sekali untuk membuat sebuah nasi goreng spesial seperti ini saja, setelah makan kau bisa meminum obatmu bukan dan aku akan membawamu untuk memeriksa kesehatan hatimu ke rumah sakit lagi nanti," ucap tuan Antonio kepada Anindita lagi.
__ADS_1
Dia benar-benar berubah sangat berbeda sekali, mulai dari perhatian yang dia berikan kepada Anindita, cara bicaranya dan sampai ke cara memperlakukan Anindita semuanya benar-benar sangat berbeda sekali dengan apa yang Anindita rasakan sejak dia pertama kali mengenal tuan Antonio saat itu.
Sehingga karena terus merasa heran dan Anindita benar-benar tidak terbiasa dengan keanehan ini, dia pun langsung saja menanyakan semua itu kepada tuan Antonio itu.
"Hei....hei...hei...tunggu! Antonio ada apa denganmu apa kepalamu baru saja terbentur saat kau tidur semalam ya? Coba kemari aku ingin lihat bagian mana yang terluka dari kepalamu, cepat kemari ayo cepat" ucap Anindita terus saja hendak memaksa seseorang saat itu dan dia benar-benar sangat baik sekali saat itu.
Sedangkan tuan Antonio sendiri yang merasa dirinya tidak berubah sebanyak itu dia hanya menanggapi dia dengan sebuah senyuman biasa saja saat itu.
"Aahhhh.. Anindita sudahlah jangan memikirkan hal-hal aneh seperti itu, semuanya baik-baik saja dan aku sama sekali tidak terbentur apapun bahkan aku tidur dengan sangat nyenyak malam tadi," balas tuan Antonio kepada Anindita sampai tersebut dengan lebar membuat Anindita merasa semakin bingung mendapatkan tatapan seperti itu darinya secara terus menerus.
"Aishhh..kau ini benar-benar terlihat aneh untukku Antonio," balas Anindita kepadanya.
Dia selesai makan dan hendak mengambil minuman namun dengan cepat tuan Antonio membantu Anindita mengambilkan minuman itu untuknya dan mendekatkan gelas itu pada Anindita, sambil segera saja memberikannya dengan sebuah senyuman yang sangat lebar sekali saat itu dan wajahnya terlihat begitu ramah juga sangat bersahaja sekali kepada Anindita.
"Sini biar aku ambilkan, ini ayo minum biar aku yang memeganginya," ucap tuan Antonio yang benar-benar membuat Anindita sangat tidak menentu saat itu.
"Heh...aku punya tangan untuk apa kau mau memegangi gelasku, kemari berikan padaku aku akan memeganginya sendiri!" Ucap Anindita sambil merampas gelas berisi air putih itu dari tangan tuan Antonio sangat cepat dan kasar.
Tapi tua Antonio sama sekali tetap tidak marah ataupun menegur Anindita sedikit pun, dia justru malah terus menatap dengan lekat wajah Anindita yang tengah menikmati sarapan yang sudah di buatkan oleh tuan Antonio sebelumnya.
"Bagaimana apa makanannya enak?" Tanya tuan Antonio kepada Anindita saat itu sambil terus saja memberikannya tatapan yang begitu lekat sekali dengan senyuman tipis yang dia perlihatkan saat itu.
"Hah...apa yang terjadi dengannya? Apa dia sudah menjadi gila ya?" Batin Anindita saking merasa herannya dengan kelakuan tuan Antonio di hadapannya saat itu.
__ADS_1
Dan karena hal itu juga Anindita menolak ajakan dari Antonio yang meminta dia untuk pergi ke rumah sakit dan memeriksa kesehatan dia lagi saat itu.
"Antonio aku tidak akan pergi ke rumah sakit, obatku masih banyak dan aku tidak merasakan keluhan apapun di bagian uluh hatiku jadi untuk apa aku menemuinya, yang ada dokter itu akan merasa semakin jengkel denganku nantinya, dan aku hanya tinggal ingin terus menghabiskan uangnya, sementara aku juga belum tentu menjadi jodohmu seumur hidup," balas Anindita kepada tuan Antonio saat itu.