TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Menguji Antonio


__ADS_3

Anindita juga segera masuk kembali ke dalam rumah tersebut dan dia mendudukkan dirinya di sofa sambil menyelonjorkan kakinya ke depan, dia benar-benar merasa sangat lega ketika sudah bisa duduk disana, meski sekarang Anindita sendiri sangat merasa semakin lemah dan rasanya dia ingin segera merebahkan tubuhnya di ranjang empuk dengan selimut lembut dan tebal, tetapi dia tahu bahwa dirinya masih harus menaiki tangga dan harus meminum obatnya dahulu sebelum tidur, agar dia bisa tidur nyenyak tanpa merasakan sakit lagi, juga bisa mendapatkan kembali energi yang sudah hilang dari tubuhnya terlalu banyak.


Tuan Antonio sendiri baru saja masuk saat itu dan dia hanya menoleh sekilas kepada Anindita sambil segera pergi hendak menaiki tangga rumahnya, namun dengan cepat Anindita kembali menghentikannya dan itu membuat tuan Antonio harus sedikit bersabar lagi dalam menghadapi Anindita yang pada nyatanya masih saja belum selesai juga.


"Antonio mau kemana kau, bantu dulu aku ambilkan air dan obat, bukannya obatku ada padamu ya" ucap Anindita dengan beraninya memerintahkan tuan Antonio begitu saja.


Tuan Antonio sampai membelalakkan matanya, dia sangat kaget dan masih tidak menyangka karena ada orang yang berani memerintah dia dengan cara seperti itu, di tambah itu di dalam rumahnya sendiri.


"Heh...bukankah pelayan disini ada banyak, kenapa kau harus menyuruhku suruh saja mereka untuk mengambilkannya, obat itu pasti ada di dapur," balas tuan Antonio saat itu.


"Baiklah, aku akan meminta pelayan mengambilkan air dan obat, sekaligus meminta penjaga di rumahmu untuk menggendongku ke kamar nanti, atau aku juga sekalian saja meminta bantuannya menggantikan pakaianku karena aku sangat lelah dan lemas sekali, semua ini juga gara-gara kau yang membiarkan aku berjalan sendiri sebelumnya, aahhh...kakiku sangat sakit sekali, bi....bi.." balas Anindita yang dengan sengaja mengerjai tuan Antonio saat itu.


Dia juga segera berteriak memanggil payan di rumah, awalnya tuan Antonio tetap tidak perduli karena dia pikir pelayan yang akan membantu Anindita adalah bibi wanita dan penjaganya tidak akan mungkin mau melakukan hal yang diucapkan oleh Anindita barusan, jadi tuan Antonio masih merasa tidak perduli, dan dia terus mulai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga lagi.


"Aahh...palingan juga bibi pelayan yang akan membantunya, para penjaga itu tidak akan berani melakukannya" batin tuan Antonio menduganya.

__ADS_1


Namun rupanya tuan Antonio melupakan sesuatu saat itu bahwa pelayan wanita di rumahnya adalah wanita yang sudah berumur empat puluh tahun ke atas dan mereka juga hanya ada tiga orang saja, tentu mereka tidak akan mempu untuk menggendong Anindita menaikki tangga apalagi untuk terus membantunya sebab semua pelayan wanita pasti akan pulang ke rumahnya ketika jam sembilang malam, itu aturan yang di buat tuan Antonio sendiri dan saat ini sudah hampir tengah malam tentu ke tiga pelayan wanitanya itu sudah tidak ada di rumah, sehingga saat Anindita memanggil pelayan yang datang malah penjaga pria, sebab hampir seluruh pegawai di rumah itu di dominasi dengan pria seluruhnya.


"Iya nona, ada perlu apa?" Ucap salah satu penjaga yang datang menghampiri Anindita dan Antonio yang masih berjalan di tengah-tengah anak tangga dia langsung menghentika langkahnya karena melihat Anindita yang bicara dengan penjaga pria di bawah saat itu.


"Ehhh...kenapa kau yang datang dimana bibi pelayannya, aku mau memintanya mengambilkan obat di dapur, sekretaris Seno pasti menyimpannya disana dan air minum juga" ucap Anindita kepada penjaga tersebut.


Penjaga itu pun memberitahu mengenai ketiga bibi tersebut dan aturan yang berlaku di rumah itu, sesuai dengan yang di buat oleh tuan Antonio selama ini.


"Nona apa kamu tidak tahu, pelayan wanita hanya di perbolehkan bekerja sejak pagi sampai jam sembilan malam saja, jadi mereka tentu sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu, jadi biar saya saja yang membantu anda ambilkan obat dan air minumnya" ucap penjaga itu sambil bergegas pergi mengambilka obat dan minumnya setelah Anindita menganggukkan kepala.


Mendengar itu, Anindita semakin tersenyum lebar, dia pikir semua rencananya berhasil untuk mengerjai Antonio, sekaligus Anindita sengaja menguji Antonio apakah dia akan membiarkan orang lain menggendong dirinya atau tidak.


Disisi lain tuan Antonio yang baru mengingat aturan itu dia langsung saja kaget juga berpikir mengenai semua hal yang diucapkan oleh Anindita sebelumnya dia bahkan membayangkan hal tersebut sehingga membuat dirinya semakin panik tidak karuan.


"Aaahhh.. tidak-tidak itu tidak boleh terjadi, aishhh..dia benar-benar sangat merepotkan dan selalu saja mempermainkan aku, aaahhh" gerutu tuan Antonio yang dengan terpaksa dia harus kembali menuruni tangga sambil menghampiri Anindita dengan cepat.

__ADS_1


Kebetulan saat tuan Antonio baru saja menghampiri Anindita, penjaga tadi yang hendak memberikan obat dan minum juga tiba di sana tepat waktu, sehingga dengan cepat tuan Antonio langsung merampas obat dan minuman dari penjaga tersebut, sambil langsung saja dia mengusir penjaga itu agar segera pergi dari sana secepatnya.


"Aishh..sini biar aku saja yang memberikannya, kau kembali sana ke tempatmu!" Ucap tuan Antonio dengan wajah menyeramkan bagi penjaga tersebut.


Penjaga itu langsung pergi, sedangkan Anindita yang sudah lebih dulu mengetahui bahwa hal seperti itu akan terjadi dia tetap berpura-pura seakan tidak menduganya.


"Ini cepat minum obatmu" ucap tuan Antonio yang datang-datang langsung memberikan obat juga ais minum ke hadapan Anindita telat di hadapan wajahnya.


"Ehhh ..kenapa malah jadi kau yang membawakannya? Perasaan tadi aku meminta bantuan penjaga yang tampan dan masih muda itu, kemana dia sekarang?" Tanya Anindita sengaja ingin membuat tuan Antonio kesal.


Walaupun sebenarnya saat itu Anindita hanya mencoba mengetes tuan Antonio saja, dia ingin tahu apakah dugaannya yang merasa tuan Antonio seperti memperdulikan dia itu benar atau tidak, karena Anindita tidak ingin hanya menduga-duga semata saja, dia ingin sebuah hal yang pasti sehingga untuk mengetahui itu Anindita harus memanfaatkan kesempatan emas ini.


Benar saja pancingan dari Anindita di santap dengan tepat oleh tuan Antonio, dia langsung menaruh gelas itu dengan keras ke atas meja sambil membentak Anindita dengan keras sekali.


"Tak...." Suara gelas kaca yang ditaruh dengan keras pada meja oleh tuan Antonio,

__ADS_1


"Anindita, beraninya kau memuji pria lain di hadapanku, apa kau sama sekali tidak tahu siapa kau sekarang, dan apa statusmu saat ini? Hah!" Bentak tuan Antonio dengan kedua mata yang terbelalak sangat lebar.


Anindita sempat tersentak kaget saat mendengar suara gelas tersebut, namun dia bisa dengan cepat menenangkan dirinya lagi, lalu membalas ucapan dari tuan Antonio dengan menggelengkan kepala pelan, dan hal itu kembali membuat tuan Antonio terlihat semakin kesal kepadanya.


__ADS_2