TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Jujur


__ADS_3

Anindita benar-benar sudah di buat emosi tinggi oleh kelakuan tuan Antonio saat itu namun rasa kekesalan dan emosinya sudah bisa terobati dengan cepat karena Anindita bisa pergi ke restoran yang cukup mewah saat itu dan tuan Antonio benar-benar memperbolehkan makanan apapun untuk di nikmati oleh Anindita saat itu.


Maka langsung saja Anindita memakannya dengan lahap dan kembali memesan banyak makanan seperti orang kesurupan saat itu.


Sedangkan disisi lain Anindya terlihat sangat kaget ketika dia mengetahui ternyata obat tersebut adalah obat bagi pengidap penyakit kanker hati yang sudah kronis, dia bahkan langsung menjatuhkan obat itu hingga berserakan di lantai dan benar-benar di buat syok.


"Astaga...jadi...jadi selama ini, dia mengidap penyakit yang sangat berbahaya seperti ini, tapi kenapa dia tidak pernah memberitahuku, kenapa dia seperti dengan sengaja menyembunyikan penyakitnya dariku? Jika aku tahu dia telah menderita selama ini mungkin aku tidak akan menjadi sejahat ini padanya." Ucap Anindya yang merasa sangat sedih dan menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang baru saja dia ketahui saat itu.


Dengan cepat Anindya juga segera menghubungi Ben dan marah dengan Ben kenapa dia tidak memberitahu dirinya tentang penyakit yang Anindita derita, namun sayangnya Ben juga sama sekali tidak tahu hal itu, dia baru saja mengetahuinya ketika Anindita marah-marah tidak jelas kepadanya. Hingga saat itu juga Anindya langsung meminta Ben untuk datang ke rumahnya dan membantu dia menjelaskan kepada ibu Kasih juga pada sang Oma bahwa dirinya bukan Anindita yang asli.


Dia rasa semuanya sudah cukup saat ini dan Anindya rasa dirinya benar-benar sudah sangat keterlaluan kepada Anindita, dia sebagai kakak tetap merasa kasihan dan sangat bersalah kepada adiknya sehingga dia tidak bisa terus melanjutkan hal yang dia inginkan sendiri dengan mengorbankan kesehatan pada adiknya sendiri dan membuat sang adik kembarnya dalam bahaya.


Ben datang dengan cepat ke sana dan mereka segera bertemu, Anindya pergi menemui ibu Kasih dan Oma yang ada di ruang depan saat itu dan Ben juga ada disana.


"Kalian mau kemana?" Tanya ibu Kasih merasa heran menatap Anindita memakai tas dan bergandengan dengan Ben saat itu.


Sedangkan Anindya sendiri terlihat agak gugup untuk mengungkapkan segalanya dia takut ibu Kasih akan semakin membencinya namun Ben meyakinkan dia dan memberikan kekuatan kepadanya agar Anindya cepat mengatakan hal sebenarnya sebelum semuanya terlambat.


"Anindya ayo katakan kita tidak pernah tahu kapan batas itu pada Anindita, dia dalam bahaya jika terus tinggal dengan tuan Antonio," bisik Ben meyakinkan Anindya saat itu.


Dengan cepat Anindya mulai menarik nafas dengan dalam dan dia segera menjelaskannya yang sebenarnya tentang semua yang sudah dia lakukan dengan Anindita untuk bertukar posisi sampai dia yang mengetahui kebenaran di balik semua itu dan tidak ingin mengembalikan Anindita ke rumah ini sesuai dengan janji diantara mereka sebelumnya, sehingga hal itu membuat seorang ibu Kasih dan Oma begitu syok, bahkan Oma sendiri langsung jatuh pingsan ketika mendengarnya dan membuat suasana menjadi lebih kacau lagi.


"Apa? Jadi selama ini kau menyembunyikan hal ini dariku dan Oma?" Bentak ibu Kasih yang terlihat mengerutkan kedua alisnya merasa tidak menduga dengan pengakuan yang di ucapkan oleh Anindya saat itu.


"Pantas saja kau tiba-tiba menyukai banyak warna, dan memiliki teman pria, seharusnya sejak awal aku memang mencurigai dirimu, kau memang kakak tidak berguna, kau tidak tahu apapun Anindya, kau telah merenggut semuanya dari Anindita, aku tidak membenci diriku karena apapun tapi aku benci karena kau telah mengambil hati milik Anindita saat kau kecil, dan kau tahu siapa yang melakukan itu? Ayahmu, dia yang tanpa sepengetahuanku menukarkan hati kalian berdua, lalu apa yang dia lakukan dia mengambil dirimu dariku setelah dia mengambil hati Anindita, dia seharusnya sehat, dia seharusnya tidak menderita seperti sekarang, aku juga tidak perlu bekerja dengan keras untuk berusaha mempertahankan hidupnya, dan sekarang kau tiba-tiba muncul lagi lalu kembali merebut hal paling berharga dari Anindita, kau mencoba merebut aku darinya, kau tidak akan pernah bisa mendapatkan apapun dariku, pergi kau dari sini, jika sampai terjadi sesuatu pada Anindita aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai putriku lagi!" Teriak ibu Kasih yang sangat murka saat itu.


Anindya terlihat begitu terguncang dia menangis terisak dan berusaha untuk terus meminta maaf kepada ibu Kasih dan Oma namun dia tetap tidak mendapatkan maaf darinya dan malah terus di usir hingga satpam menyeret dia dan Ben keluar dari rumah tersebut dan Oma langsung jatuh pingsan saat itu.


"Maafkan aku...ibu...hiks...hiks..aku tahu aku salah maka dari itu aku mengakui ya sekarang, aku ingin memperbaiki semua kesalahan yang pernah aku buat, meski aku tidak tahu apapun ketika aku kecil dan perbuatan ayahku, tetapi aku juga menyayangi Anindita aku tahu dia adik yang baik aku mohon maafkan aku ibu, tolong maafkan aku hiks...hiks...hiks...," Ucap Anindita bersujud di bawah kaki ibu Kasih saat itu sambil terus menangis tanpa henti.

__ADS_1


Ben sudah menahannya dan terus berusaha untuk menenangkan Anindya namun itu juga tidak akan bisa membantu apapun kepadanya dalam situasi serumit ini.


"Tidak...aku tidak akan pernah memaafkan dirimu lagi, kau tidak tahu bukan batas yang di ucapkan dokter Gavin setiap kali kau di periksa olehnya? Batasnya hanya dua Minggu lagi dan sekarang hanya tersisa beberapa hari lagi untuk dia bertahan hidup, aku sudah senang karena aku pikir ada keajaiban padanya sehingga kankernya terus mengecil dan hampir tidak ada, namun nyatanya selama ini dokter Gavin mengecek hatimu, bulan hati Anindita, dan dia telah salah besar, semua ini karenamu, Anindita tidak akan bertahan lama sekarang kau terlambat mengakuinya, kau akan membuat Anindita terbunuh, pergi kau dari sini! Satpam seret dia pergi cepat!" Teriak ibu Kasih saat itu.


"Tidak...tidak mungkin aaaahhh...jantungku," ucap sang Oma memegangi dadanya dan dia langsung jatuh pingsan saat itu juga.


Anindya sangat kaget melihat sang nenek langsung terjatuh tida sadarkan diri seperti itu sehingga dia refleks berniat membantu omanya namun sayangnya satpam sudah terlanjur datang ke tempat itu dan terus menyeret dia hingga keluar dari rumah tersebut.


"Oma? Oma kau baik-baik saja Oma....eughhh lepaskan aku...lepaskan tanganku, omaa.." teriak Anindya yang terus berontak namun dia tetap gagal untuk melepaskan diri dari beberapa orang penjaga yang menyeret dirinya dengan Ben saat itu.


Oma segera di larikan ke rumah sakit bersama ibu Kasih, sedangkan Anindya terus pergi mencari Anindita dengan perasaan yang tidak menentu, dia terus saja menyusuri jalanan di sekitar pusat kota dengan Ben dan terus saja berharap bisa bertemu dengan Anindita dimana saja.


"Ben apa kita akan menemukannya? Aku sangat mencemaskan Oma dan Anindita, semua ini karenaku Ben, aku sangat sala dan semua ini karena ayahku, dia yang memulai perang antara saudara ini sebelumnya, hati di dalam tubuhku ini, seharusnya ini bukan milikku Ben...hiks..hiks...aku harus mengembalikannya pada Anindita," ucap Anindya sambil terus menangis terisak.


Ben tidak pernah berhenti untuk berhenti menenangkan Anindya saat itu dan dia terus saja meyakinkan Anindya bahwa akan selalu ada jalan lain yang bisa menyelesaikan semua permasalahan rumit ini.


Tapi Anindya tetap saja dengan pemikirannya dia terus merasa bersalah apalagi setelah mengetahui kenyataan di masa lalu dari ibu Kasih sebelumnya jika memang seharusnya sejak kecil dirinyalah yang menderita penyakit berbahaya tersebut, tapi justru Anindita yang harus menggantikan dirinya dan sekarang pun dia masih saja membuat Anindita semakin menderita sehingga hal itu benar-benar membuat Anindya merasa sangat bersalah dan terus menyalahkan dirinya sendiri atas semua hal yang terjadi saat itu.


Disisi lain Anindita baru saja selesai makan dan tiba-tiba saja dia mulai merasakan uluh hatinya yang begitu sakit, dia sudah kerap kali merasakan hatinya ini selalu terasa sakit dan kambuh dalam beberapa hari terakhir ini, namun dia sama sekali tidak memikirkannya dan terus mengabaikan rasa sakit itu karena selalu reda dan hilang ketika dia memakan obatnya.


Namun kali ini rasa sakitnya terasa begitu berat sampai dia tidak bisa menahannya lagi, hingga Anindita jatuh pingsan begitu saja ketika dia tengah berjalan di samping tuan Antonio, untungnya tua Antonio sempat untuk menangkap tubuhnya dan dengan cepat dia menggendong Anindita dengan panik membawanya ke rumah sakit.


"Anindita bangun...hei... Anindita bangun kau tidak boleh lemah seperti ini, bangunlah Anindita!" Bentak tuan Antonio terus berusaha membangunkannya namun tidak ada hasil apapun yang bisa dia lakukan.


Tuan Antonio membawanya ke rumah sakit dan kebetulan saat itu justru malah dokter Gavin yang menangani Anindita dan dia terlihat kaget ketika melihat tuan Antonio menggendong Anindita dan membawanya masuk ke rumah sakit sambil berteriak kencang memanggil dokter saat itu dan dia yang merasa mengenali sosok wanita di gendongan tuan Antonio dia langsung menghampiri dengan cepat.


"Anindita? Ada apa degannya tuan? Kenapa anda bisa dengannya?" Tanya dokter Gavin bertubi-tubi saat itu.


"Nanti saja bertanyanya, cepat kau tangani dia, cepat!" Bentak tuan Antonio kepada dokter Gavin dengan membelalakkan matanya lebar.

__ADS_1


Dokter Gavin segera menyuruh suster untuk membantunya da mereka segera membawa Anindita ke ruang rawat darurat saat itu juga.


Tuan Antonio terus menunggu di luar ruangan dengan perasaan yang tidak menentu dan dia tidak bisa merasa tenang sedikitpun, terus saja berjalan mondar mandir sambil menggigit ujung kukunya saat itu.


Sedangkan dokter Gavin bersama semua orang yang menangani Anindita terus berusaha dengan keras untuk menyelamatkan dia karena saat itu tiba-tiba saja dokter Gavin mendapatkan bahwa kanker di dalam hati Anindita sudah mulai menggerogoti hampir seluruh bagian pada hatinya saat itu.


Dan dia juga panik dalam menanganinya, sambil terus melakukan yang terbaik yang bisa dia lakukan dengan rekannya yang lain.


"Ya ampun kenapa kondisinya bisa seburuk ini, aku rasa baru beberapa hari lalu aku memeriksanya dan dia terlihat baik-baik saja bahkan aku sudah memprediksi bahwa kankernya sudah berkurang dan berhasil di tekan tali kenapa sekarang malah separah ini? Apa yang sebenarnya terjadi kepada Anindita?" Batin dokter Gavin memikirkan saat itu.


Di tempat lain Anindya terus tidak merasa tenang hatinya tiba-tiba merasa sangat cemas seakan hatinya benar-benar tertaut pada Anindita sang pemilik hati sesungguhnya, dia terus merasa sangat cemas dan tidak menentu sekali, hatinya begitu kacau dan dia terus meminta agar Ben tidak menghentikan pencarian Anindita malam itu padahal ini benar-benar sangat malah sekali bahkan Ben sudah merasa sangat lelah dan berkali-kali meminta agar Anindya menghentikan mencari Anindita lagi saat itu.


"Anindya apa tidak sebaiknya kita beristirahat dulu saja, ini sudah malah aku begitu mengantuk tidak akan aman menyetir dalam kondisi seperti ini kita lanjutkan mencarinya besok setelah kamu merasa lebih tenang," ucap Ben yang langsung mengarahkan mobilnya ke jalanan menuju kediaman dia saat itu.


Tapi Anindya tetap tidak setuju dia bersih keras untuk mencari Anindita saat itu juga dengan alasan hatinya yang terus merasa cemas dan tidak bisa berhenti memikirkan Anindita saat itu.


"Tidak Ben aku mohon kita harus menemukan dia malam ini juga, aku tahu dia tidak akan bertahan lama aku tidak mau berpisah lagi dengan adikku aku tidak ingin dia menderita lagi, jadi aku harus menemukannya, aku merasa dia dalam bahaya saat ini, aku tidak bisa berhenti Ben." Ucap Anindya menolaknya.


Ben tetap tidak mendengarkannya karena dia tahu semua ini sangat berbahaya jadi dia tetap saja melakukan mobilnya menuju kediaman dia dan lama kelamaan Anindya menyadari hal itu sehingga dia berontak pada Ben dan langsung menarik tangan Ben untuk membelokkan mobilnya saat itu juga agar tidak kembali ke rumahnya, namun yang terjadi justru sebuah truk tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka dan Ben harus segera membanting stir mobilnya ke samping dan menabrak sebuah benteng yang ada disana dengan sangat kencang sampai benteng itu rubuh dan menimpah setengah dari mobilnya.


"Ben..kenapa kau tetap pulang ..aku tidak mau ayo belokkan mobilnya Ben cepat kembali ke jalanan raya cepat Ben!" Teriak Anindya saat itu sambil terus saja menarik tangan Ben membuat dia sulit untuk mengendalikan mobilnya.


"Anindya lepaskan kau tidak boleh seperti ini, Anindya ini sangat bahaya, Anindya!" Teriak Ben memeringati dia lebih dulu.


Tapi Anindya tetap tidak mendengarnya sehingga kecelakaan itu tidak dapat di hindari lagi.


"Ben....awas.....aarrkkkkm trakkk....braakksss..." Teriakkan terakhir mereka berdua sebelum menabrak benteng di samping sana dengan keras dan langsung tidak sadarkan diri keduanya saat itu.


Untungnya sang supir truk itu tidak melarikan diri dan dia segera membawa Ben juga Anindya ke rumah sakit terdekat secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2