
Entah saat itu dia merasa marah, kesal dan yang lainnya hanya dirinya sendiri yang tahu soal itu, tuan Antonio langsung menyuruh Seno untuk pergi mencari obat dan pendonor hati yang cocok bagi gadis tersebut secepatnya.
"Seno.... Aku tidak ingin tahu berapapun biayanya dan apapun yang harus aku keluarkan, carikan pendonor yang tepat untuk gadis itu, aku tidak ingin memiliki istri yang penyakitan nantinya, apa kau mengerti!" Bentak tuan Antonio dengan keras saat itu.
Seno hanya mengangguk patuh dan dia segera pergi secepatnya, namun tentu saja mencari pendonor hati sangatlah sulit tidak semudah mencari hal-hal lain di dunia ini, tidak banyak orang yang bersedia mendonorkan hatinya dan itu sangat sulit sebab tentu saja pendonor harus di dapatkan dari keluarga yang bersangkutan, sedangkan mereka semua juga tahu jika Anindya hanya hidup berdua dengan sang ayah saat itu, sehingga Seno langsung saja pergi menemui Doni di kediamannya malam itu juga lalu dia memaksa Doni untuk di periksa begitu saja dengan dokter yang dia bawa.
Tidak hanya itu karena dokter membutuhkan pemeriksaan yang menyeluruh kepada seseorang yang hendak mendonorkan organ hatinya terhadap orang lain maka dari itu Doni harus di periksa dengan tepat di rumah sakit dan dia di bawa secara paksa oleh Seno saat itu, dia sengaja tidak memberitahu semua itu kepada Doni bahwa semua yang dia lakukan adalah untuk putrinya sendiri, sebab tuan Antonio tidak menyuruh dia untuk memberitahunya saat itu.
Tentu saja Doni terus berontak dengan keras saat Doni membawanya ke rumah sakit sampai sang dokter harus menyuntikan obat bius kepadanya hingga dia bisa tenang dan pingsan dengan cepat saat itu, hal tersebut juga memudahkan dokter untuk memeriksanya di rumah sakit.
Tapi sayangnya setelah memeriksa dalam waktu yang sangat lama, akhirnya proses pemeriksaan pun selesai dan Doni segera di kembalikan lagi ke rumahnya lalu, Seno hanya perlu menunggu semua data yang di buat dari hasil pemeriksaan selesai.
Sekaligus mereka juga harus mencocokkannya dengan hasil pemeriksaan dari Anindya yang masih tertidur lelap saat itu.
Seno sudah melaporkan semuanya kepada tuan Antonio dan menanyakan mengenai dia yang harus memberitahu Doni masalah hal tersebut atau tidak.
"Tuan apakah saya harus memberitahu masalah penyakit gadis itu kepada Doni?" Tanya Seno dalam panggilan telponnya bersama tuan Antonio,
"Tidak perlu, aku rasa sinbodoh Doni tidak tahu mengenai hal ini, untuk saat ini biarkan saja dia tidak mengetahui apapun berikan dia obat pelupa atau semacamnya agar dia tidak ingat bahwa pernah kau periksa ke rumah sakit" balas tuan Antonio dengan tegas memberikan perintah.
Seno pun segera menutup panggilannya dan melaksanakan semua sesuai dengan apa yang di ucapkan oleh tuan Antonio sebelumnya, sedangkan di sisi lain tuan Antonio terus menatap lekat ke arah wajah Anindita yang saat itu tengah tertidur dengan lelap di ranjangnya.
__ADS_1
Tuan Antonio menaruh ponselnya di atas meja dan dia langsung berjalan mendekati Anindita lalu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gadis konyol dan pemberani, aku tidak tahu kenapa aku tertarik denganmu dan harus menyembuhkan mu, padahal kau sama sekali tidak menguntungkan dan penyakitan, apa kau sengaja membuat aku tertarik kepadamu hah?" Ucap Antonio di hadapan wajah Anindita saat itu.
Tuan Antonio hendak menyentuh pipi Anindita saat itu namun dengan cepat Anindita justru malah melatih tangannya dan menarik tangan tuan Antonio sekaligus hingga membuat seorang tuan Antonio terjatuh keatas tubuh Anindita dan membuat dirinya merasa sangat kaget juga gugup tidak karuan ketika melihat wajah Anindita yang begitu dekat dengan wajahnya saat itu.
"Aaahhh ....astaga...apa yang dia lakukan? Dasar wanita sialan, bisa-bisanya dia menarik aku sekuat itu disaat dia sakit dan tertidur aahhh dia benar-benar wanita berbeda" gerutu tuan Antonio pelan sambil langsung merebahkan tubuhnya di samping Anindita saat itu.
Namun konyolnya Anindita justru malah berbalik menghadap ke arah tuan Antonio dan tangannya justru malah memeluk tubuh tuan Antonio tanpa sadar dia bahkan berada sangat dekat dan memeluk tuan Antonio dengan erat saat itu.
Antonio yang merasakan itu dia langsung membelalakkan matanya dengan lebar dan tubuhnya seketika tidak bisa bergerak sedikitpun karena dia merasa sangat kaget dan gugup dalam satu waktu yang bersamaan saat itu.
Dia mencoba untuk mengangkat tangan Anindita namun usahanya itu tetap gagal dan sia-sia sebab Anindita terus saja memeluknya lagi dan lagi dengan cepat sampai tuan Antonio benar-benar merasa jengkel terhadapnya dan hanya bisa diam serta pasrah menerima hal tersebut.
Dia mengesampingkan badannya dan menatap dengan lekat wajah Anindita yang terlihat sangat cantik dan mendamaikan hatinya yang saat itu jelas tengah marah besar.
"Ahhh.... Kenapa amarahku langsung mereda hanya karena melihat wajahnya yang tertidur, ini benar-benar aneh untukku!" Ucap tuan Antonio lagi dengan perasaan tidak karuan.
Tuan Antonio tidak memperdulikan apapun lagi saat itu dan dia langsung saja membalas pelukan Anindita yang dia anggap sebagai Anindya Putri dari Doni anak buahnya saat itu, dia memeluk Anindita dengan lembut dan ikut tertidur bersama dengannya malam itu.
Hingga ke esokan paginya Anindita yang bangun lebih awal dia merasakan badannya yang terasa berat dan seperti tertindih sesuai di pinggangnya saat itu.
__ADS_1
"Eummm...Oma apa kau tidur di kamarku lagi?" Ucap Anindita yang dia pikir itu adalah omanya.
Sebab hanya omanya saja yang selalu tidur di kamarnya dan memeluk pinggang dia ketika tertidur semalaman namun disaat Anindita mengucek matanya dan melihat dengan jelas siapa yang ada di hadapannya saat itu, Anindita begitu kaget tidak karuan dan refleks menutup mulut dia yang hampir saja akan berteriak saat itu.
"Aahhh....astaga...., Ke..kenapa dia bisa tidur denganku?" Ucap Anindita pelan dengan matanya yang terbuka sangat lebar.
Sampai tidak lama tuan Antonio sendiri juga ikut terbangun saat itu, namun dia sama sekali tidak kaget saat melihat Anindita ada di sampingnya bahkan dia hanya mengucek matanya pelan dan membenahi rambutnya, lalu tiba-tiba saja dia tersenyum kecil pada Anindita dan mengecup keningnya pelan sambil mengucapkan selamat pagi kepadanya.
"Kau.... Much.... selamat pagi" ucap tuan Antonio begitu saja.
Membuat Anindita semakin kaget dan dia hanya bisa mengedipkan matanya beberapa kali lalu berusaha untuk mengumpulkan semua kesadarannya.
Hingga dia langsung berteriak sangat keras tidak bisa menahan dirinya sendiri lagi.
"Aarrrkkkkhhh........" Teriak Anindita sangat keras membuat tuan Antonio merasa heran dan menaikkan kedua alisnya bersamaan saking bingungnya dengan sikap Anindita yang berteriak sangat keras di pagi-pagi buta seperti itu.
Tuan Antonio yang mendengar itu dia dengan cepat menutup mulut Anindita dengan tangannya sedangkan Anindita terus saja berontak dengan keras dan sekuat tenaganya dia terus berusaha melepaskan tangan tuan Antonio yang menutup mulutnya dengan kuat saat itu.
"Eumm...eummm...bwaaahhh... Aishh kenapa kau malah membekap mulutku aahhh aku hampir saja sesak nafas karenamu" bentak Anindita dengan kesal sambil menghempaskan tangan tuan Antonio dengan sekuat tenaganya,
"Siapa suruh kau berteriak seperti itu, apa kau pikir aku ini tuli hah?" Balas tuan Antonio lagi tak kalah menakutkan bagi Anindita.
__ADS_1