TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Makan Banyak


__ADS_3

Mereka pun langsung masuk ke dalam restoran bersama-sama dan mulai memesan makanan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Anindita, karena dia sudah memesan banyak sekali makanan dan tuan Antonio yang cemas tidak akan bisa menghabisinya dia pun alhasil mengalah dari Anindita dan memilih untuk tidak memesan lagi.


"Anindita apa kamu yakin bisa menghabiskan semua makanan itu?" Tanya tuan Antonio sebelumnya.


"Bisa, tentu saja aku akan menghabisinya, jika nanti tidak habis kan ada kau yang bisa membantuku hehe." balas Anindita dengan mudahnya.


Membuat tuan Antonio hanya bisa pasrah saja dan dia memesan minuman saja juga makanan penutup saat itu, dia juga sempat menggelengkan kepala pelan untuk menghadapi tingkah dari Anindita yang sangat keras kepala dan sulit untuk dia kendalikan, jangankan untuk dikendalikan, diajak untuk bekerjasama saja dia sangat sulit dan tidak bisa untuk melakukannya dengan semudah itu.


Sampai setelah makanan pesanannya tiba, meja di hadapan dia hampir benar-benar penuh dengan makanan yang dia pesan dan Anindita sangat gembira melihat semua makanan di hadapannya yang sangat menggugah selera seperti itu.


Dia langsung saja mengambil makanan itu dan terus menikmatinya dengan rakus, entah karena dia sudah sangat lapar ataupun memang dia adalah orang yang selalu rakus ketika makan, sampai bibirnya saja belepotan oleh sisa-sisa makanan di sana saat itu.


Tuan Antonio yang melihat Anindita makana dengan cepat dan belepotan seperti itu, dia hanya bisa terperangah kaget dan bukannya ikut makan kini tuan Antonio malah terus memandangi Anindita yang tengah makan sendiri dengan begitu lahap dan bersemangat sekali, di hadapannya saat itu.


"Eummm... Udangnya sangat enak, aha... Ini juga sangat enak eumm aku belum pernah mencoba makanan seenak ini, biasanya ibu dan Oma selalu melarang aku makan terlalu banyak di tempat umum karena mereka bilang semua ini tidak sehat tapi aku sangat menyukainya, aku bosan selama ini terus makan menunyang sama selama bertahun-tahun lamanya, dan kali ini benar-benar bisa menikmati makanan sebanyak ini huaaa aku merasa sangat senang, ini seperti kenikmatan yang tidak ada duanya untukku," ucap Anindita sambil terus saja memasukkan makanan ke dalam mulutnya meski saat itu mulutnya sudah terlihat penuh.


"Astaga.. sepertinya aku sudah melakukan keputusan yang salah, membawa dia ke tempat umum seperti ini aishh..dia sangat membuatku malu." Gerutu tuan Antonio sambil tertunduk dan memegangi dahinya saat itu.


Dia tidak bisa menanggung malu karena kelakuan dari Anindita saat itu, ditambah dia juga takut bertemu dengan rekan bisnisnya yang selalu makan di tempat tersebut, itu akan membuat dia malu jika sampai dia harus bertemu dengan orang yang dia kenal saat itu, hal itulah yang membuat tuan Antonio terus menunduk.


Sedangkan Anindita sendiri yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan tuan Antonio saat itu, dia hanya membiarkannya dan sesekali mengajak tuan Antonio untuk menikmati makanan itu dengannya.


"Antonio ada apa denganmu, kenapa kau terus saja menunduk seperti itu, ayo makan. Bukannya tadi kau bilang sudah sangat lapar ya, kenapa sekarang malah menunduk terus seperti itu?" Tanya Anindita sambil mengajaknya makan bersama.


"Hei... Bagaimana aku bisa makan jika melihat kau makan seperti orang kesurupan seperti itu, aishh...kau sangat memalukan apa kau tidak sadar dengan hal itu?" Balas tuan Antonio dengan wajahnya yang menahan kekesalan pada Anindita.


Anindita sendiri sama sekali tidak perduli dengan hal itu sebab dia bukan tipe orang yang memperdulikan pandangan orang lain terhadapnya sehingga dia bisa terus bersikap cuek dan tidak memperdulikan apapun di sekitarnya saat itu.


"Antonio kenapa kau harus malu yang makan seperti inikan aku bukan kau, kau santai saja dan makan dengan caramu sendiri, jangan memikirkan pandangan orang biarkan saja mereka memandang ke arahku ataupun padamu, mereka tidak akan kenyang hanyandegan melihat orang lain sedang makan," balas Anindita membuat tuan Antonio kembali harus memijat keningnya yang terasa sangat pusing.


"Aishh...kau memang aahhh sudahlah, ayo makan.... Maka saja semua makananmu itu." Jawab tuan Antonio sambil terus menyuruh Anindita melanjutkan makannya saja.


Tentu saja Anindita juga tidak bisa terus makan dengan lahap seperti itu seorang diri, sedangkan tuan Antonio yang mentraktirnya malah diam saja dan hanya meminum minuman sesekali di hadapannya, itu membuat Anindita tidak bisa terima dan dia tidak senang melihatnya sehingga Anindita langsung mengambil makanannya dan mengarahkan ke depan mulut tuan Antonio sambil berniat menyuapinya saat itu.


"Aaaaa....ayo buka mulutmu, jika kau tidak mau makan karena malu aku bisa menyuapiku, aku tahu kau lapar, ayo ada apa lagi?" Ucap Anindita membuat tuan Antonio terperangah membelalakkan matanya dengan lebar saat itu.


Tuan Antonio tidak menduga bahwa Anindita bisa bersikap manis seperti itu dan perhatian kepadanya, bahkan memperdulikan perutnya yang lapar, meski saat itu tuan Antonio sedikit gugup tapi dia tetap membuka mulutnya dan menerima suapan sari Anindita tersebut sambil terlihat langsung tersenyum kecil dan mulai mengunyah makanan di dalam mulutnya.

__ADS_1


"Bagaimana, enak bukan, apa kau mau lagi?" Tanya Anindita kepadanya.


Tuan Antonio langsung mengangguk dan dia yang berpikir Anindita akan menyuapinya lagi, dia pun langsung mengangguk saat Anindita menanyakan hal itu, namun rupanya dugaan dia gagal Anindita bukan mau menyuapinya terus justru malah mengambilkan makanan itu untuk tuan Antonio lalu segera memberikannya.


"Haha..bagus ini, ayo makan." Ucap Anindita memberikan makanan tersebut.


"Hah?..." Balas tuan Antonio dengan wajahnya yang terperangah kebingungan karena kenyataan itu sama sekali tidak sama dengan apa yang dia pikirkan dan dia harapkan.


"Hah... Apa? Katanya tadi kau suka, jadi aku berikan untukmu, apa lagi, apa kau mau yang lainnya juga?" Balas Anindita yang tidak mengerti dengan reaksi yang diberikan oleh tuan Antonio kepada dia saat itu.


"Aaahh... sudahlah aku akan makan." Balas tuan Antonio sambil segera mengambil piring itu dan dia memakannya dengan menghembuskan nafas yang lesu juga wajah yang datar menahan kekesalan di dalam dirinya sendiri.


Anindita hanya tersenyum saja melihat ekspresi konyol itu dari tuan Antonio dan dia juga sudah sedikit terbiasa dengan tingkah dan raut wajah tuan Antonio yang selalu saja tidak enak untuk dipandang semua orang, apalagi disaat dia tengah kesal seperti itu.


"Haha...wajahmu kenapa, konyol sekali," gerutu Anindita saat itu.


Tuan Antonio terus saja mengambil makanannya dengan kasar dan mengunyah makanan itu dengan raut wajah yang kesal dan hembusan nafas yang sangat lesu, sama sekali tidak memiliki sedikit semangatmu, berbeda dengan Anindita yang sangat bersemangat dan dia begitu ceria sekali bahkan pelayan disana saja menyukai Anindita karena dia adalah satu-satunya orang yang bisa menikmati makanan buatan dari restoran itu dengan wajah seceria itu dan mereka merasa senang karena makanan yang disajikan bisa dinikmati dengan begitu lahap oleh pelanggannya.


Anindita benar-benar sangat kenyang sekarang dan dia tidak sanggup menghabiskan semua makanannya, sebenarnya mulut Anindita masih bisa mengunyah hanya saja perut dia sudah terisi sangat penuh sehingga tidak mungkin Anindita bisa terus memberikan masukkan secara paksa ke dalamnya itu bisa berdampak buruk bagi kesehatan dia, jadi Anindita tidak bisa memaksakan diri dan mulai mengatakannya kepada tuan Antonio saat itu.


"Huaaa... Antonio perutku sudah sangat kenyang dan penuh, kau habiskan saja makanannya ya, kau kan hanya makan sedikit sebelumnya, aku sudah tidak kuat lagi." Ucap Anindita sambil merebahkan tubuhnya ke kursi.


"Sudahlah ayo kita pergi." Ucap tuan Antonio menarik tangan Anindita.


"Antonio aku kekenyangan aku tidak bisa bergerak sekarang, tunggu beberapa saat saja ya, sampai semua makanan di dalam perutku turun dulu." Balas Anindita yang sangat malas untuk menggerakkan tubuhnya karena dia kekenyangan saat itu.


Tuan Antonio tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, dia segera menggendong Anindita dan membawanya masuk ke dalam mobil, Anindita juga sudah tidak berontak lagi dia sudah menduga Antonio akan membawanya ke dalam mobil dan saat sudah masuk Anindita kembali merebahkan tubuhnya ke belakang dia benar-benar sangat kenyang sekarang dan terus saja tersenyum lebar karena memiliki banyak energi setelah makan.


Sedangkan tuan Antonio memberikan peringatan pada Anindita agar dia tidak mekan sebanyak itu lagi sampai membuat perutnya kekenyangan seperti sekarang ini.


"Anindita aku peringati kau, jangan pernah makan serakus itu lagi di depan umum, apalagi kau sampai seperti ini, selain tidak baik untuk kesehatanmu, kau juga harus menjaga harga dirimu di depan umum, kau ini seorang perempuan, apa kau mengerti hah?" Ucap tuan Antonio memberitahunya.


"Iya...iya..kenapa kau cerewet sekali sih, sebelumnya kau tidak banyak bicara kenapa sekarang terus saja banyak bicara padaku, lama kelamaan kau sama seperti Oma selalu saja melarangku ini dan itu, tidak boleh keluar, tidak boleh sekolah dan semuanya, aku benci dikekang begitu, aku juga manusia aku ingin hidup dengan bebas dan berbaur dengan manusia lainnya, aku ingin pergi jalan-jalan ke mall membeli tes susu, dan aku ingin menonton fil horor di bioskop, aku ingin belanja pakaian seperti wanita lain, ingin pergi ke taman bermain juga ke tempat wisata lainnya, sayangnya aku tidak bisa melakukan semua itu, mungkin sampai aku mati tetap tidak bisa melakukannya." Balas Anindita sambil menatap ke samping memalingkan pandangannya dari tuan Antonio.


Melihat Anindita yang terlihat sedih ketika mengatakan hal itu, tuan Antonio tidak tega kepadanya dan dia langsung saja mengajak Anindita untuk mengabulkan semua keinginannya tersebut.


"Apa kau sangat ingin melakuka semua hal tidak berguna itu?" Tanya tuan Antonio kepadanya dengan raut wajah yang serius dan tatapan yang lekat.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan seperti itu Anindita langsung saja membalikkan pandangannya kembali pada tuan Antonio bahkan dia sampai membuka kedua matanya dengan lebar dan mengangguk kuat pada tuan Antonio saat itu.


"Eumm.. aku sangat menginginkannya, apa kau bisa mengabulkan keinginanku itu, apa kau mau mengajak aku pergi ke semua tempat itu?" Ucap Anindita sudah sangat antusias, padahal tuan Antonio belum mengatakan apapun.


"Tidak... Untuk apa aku membawa anak kucing yang nakal sepertimu ke tempat umum yang sangat berbahaya seperti itu, bisa-bisa kau akan membuat aku semakin malu nantinya, aahh...akan hancur derajatku sebagai CEO penguasa pasar saham yang dikenal dengan kekejaman dan kebijaksanaannya jika aku bermain denganmu dan melakukan semua hal kekanakan seperti itu." Balas tuan Antonio yang sengaja mengerjai Anindita saat itu.


Mendengar jawaban dari tuan Antonio, itu sungguh membuat Anindita kecewa dan sangat kesal ketika mendengarnya sebab dia sudah berharap banyak kepada tuan Antonio, dan dia pikir dengan tuan Antonio berbicara seperti itu, dia akan mengajak dirinya pergi kesana, namun dugaan Anindita salah besar jadi dia cukup kecewa karena tidak sesuai dengan ekspektasi yang dia duga sebelumnya.


"Aishh...kalau kau tidak berniat untuk membawaku kesana jangan bertanya seperti tadi seakan kau perduli denganku, menyebalkan!" Balas Anindita dengan merotasikan matanya pada tuan Antonio.


Tuan Antonio segera menyalakan mobilnya dan dia menahan senyum di wajahnya saat itu, tanpa banyak bicara tuan Antonio segera menghubungi sekretarias Seno dan mengatakan bahwa dia akan libur sepanjang hari lewat sebuah pesan singkat, hingga dia mulai kembali fokus menyetir, pergi menuju pusat mall terbesar yang merupakan cabang dari bisnis miliknya juga.


Anindita yang sama sekali tidak tahu bahwa tuan Antonio diam-diam akan membawanya kesana dia terus saja menatap cemberut ke depan dengan mood yang sudah rusak parah disebabkan oleh jawaban dari tuan Antonio sendiri saat itu.


Hingga sesampainya di depan mall dan tuan Antonio memarkirkan mobilnya, mata Anindita terus saja tertuju ke arah mall besar tersebut yang selalu ingin dia kunjungi sejak lama, dan menjadi mimpi terbesarnya selama ini.


Anindita juga sangat kaget dan tidak menduga jika ternyata tuan Antonio benar-benar membawa dia ke tempat itu saat ini, Anindita segera berbalik menatap pada tuan Antonio dengan wajahnya yang sangat cerah dan menahan diri dahulu karena dia tidak ingin kecewa lagi seperti sebelumnya.


"Antonio... Aahh..tunggu tunggu aku tidak ingin kecewa lagi olehmu, untuk apa kau menghentikan mobil disini, kau tidak mungkin akan mewujudkan keinginanku bukan, kau kan sudah harus pergi ke kantor sekarang." Ucap Anindita menahan kesenangannya dahulu.


"Ayo turun dan kita pergi ke zona bermain, sama dengan apa yang kau inginkan." Balas tuan Antonio yang membuat Anindita langsung membelalakkan matanya sangat lebar.


"Benarkah? Apa kau tidak bohong? Antonio lihat mataku, apa kau sungguh mau menemani aku?" Ucap Anindita terus bertanya memastikan berkali-kali.


"Iya.. ayo cepat, jangan membuang waktu lagi." Balas tuan Antonio sambil segera turun dari mobil secepatnya.


Anindita yang masih belum bisa tersadar, dia langsung mengejar tuan Antonio dan keluarga dari mobil secepatnya sambil mendekati tuan Antonio yang berjalan di sampingnya dengan langkah cukup besar saat itu.


"Antonio tolong berhenti dulu... Antonio apa kau tidak bercanda, apa kau sungguh mau mewujudkannya, Antonio jawab aku dulu!" Teriak Anindita menghentikan langkah tuan Antonio dengan merentangkan tangannya dan menghadang langkah tuan Antonio di hadapannya saat itu.


"Apa dengan kita masuk ke sini masih memerlukan jawaban dariku?" Balas tuan Antonio.


"Tentu saja, itu sangat penting untukku," balas Anindita dengan tidak sabar.


"Baiklah, Anindita aku akan menemanimu aku akan mewujudkan semua yang kau inginkan, apapun itu dan hari ini aku akan deganmu sepanjang hari, bagaimana apa kau sudah puas?" Balas tuan Antonio dengan memasang wajah datar karena dia sangat malah ber basa basi seperti itu.


Tapi Anindita yang mendengarnya begitu senang dia langsung memeluk tuan Antonio dengan penuh kebahagiaan dan terus berjingkrak merasa sangat senang sekali.

__ADS_1


"Aaahh...Antonio terimakasih banyak, haha...kau baik sekali, aku tidak menyesal lagi tinggal denganmu, kau harus janji denganku yah, kau harus menemaniku sampai akhir, awas aja jika kau membohongiku, aku tidak akan melepaskanmu!" Ucap Anindita sambil terus memeluk erat tuan Antonio secara tiba-tiba.


__ADS_2