
Untungnya Anindya tidak sekeras kepala Anindita sehingga tidak terlalu sulit untuk berbicara dan menjelaskan semua kejadian yang sebenarnya terjadi diantara mereka semua dalam beberapa waktu ini.
Ben pun langsung saja menjelaskan semua yang dia rasakan sejak pertama Ki dia bertemu dengan Anindya yang untuk pertama kalinya dia pikir itu adalah Anindya sampai hari ini dimana dia pergi ke kediaman Anindya dia melihat dengan jelas dan mendengarkannya secara langsung dengan kedua telinganya sendiri bahwa Anindita benar-benar dalam bahaya sebab dia sudah berurusan secara langsung dengan tuan Antonio yang menyebabkan dirinya akan di bawa pulang oleh tuan Antonio juga akan dijadikan istri olehnya saat itu, Anindya yang mendengarkan semua penjelasan dari Ben dia sangat kaget dan langsung saja membuka matanya dengan lebar sambil menutup mulutnya yang terbuka secara cepat saat itu, saking kagetnya mendengar berita yang sangat besar seperti itu dari Ben.
"Ya ampun Ben, apa kamu sungguh mengatakan yang sebenarnya? Kamu tidak berbohong kepadamu bukan?" Tanya Anindya dengan wajah yang cemas kepadanya saat itu,
"Tentu saja benar, aku sama sekali tidak berbohong kepadamu Anindya dan kau sendiri tahu juga bahwa aku sama sekali tidak pernah berbohong kepadamu bukan, dia wanita itu wanita yang memiliki wajah mirip denganmu sedang dalam bahaya sekarang kita harus menyelamatkannya bukan?" Ucap Ben begitu panik dan sangat antusias.
Dia merasa bertanggung jawab kepada Anindita karena semua itu juga terjadi akibat Anindita bertukar tempat dengan Anindya bahkan gadis itu sudah berani berkata jujur kepadanya tentang semua rahasia yang sebesar ini, dimana Anindya sendiri juga tidak memberikan dia penjelasan mengenai hal ini sebelumnya.
Tetapi saat itu disaat, Ben begitu panik dan bicara dengan raut wajah yang mengkhawatirkan Anindita juga mengajak Anindya untuk segera menyelamatkan Anindita dan membantunya terbebas dari tuan Antonio, Anindya sendiri sama sekali tidak menunjukkan rasa cemas atau keperduliannya kepada Anindita sedikitpun saat itu.
Sepertinya dia memang sudah terlalu nyaman menikmati hidupnya dengan penuh kasih sayang dari ibu dan omanya Anindita yang di rasakan selama tinggal di kediaman Anindita dan berpura-pura menjadi orang lain.
Sehingga ketika Ben memintanya untuk bertukar kembali dengan Anindita dan menghentikan hal penukaran tempat seperti ini Anindya langsung menolaknya dengan keras.
"Anindya kenapa kau diam saja, kau mau kan untuk bertukar tempat kembali dengan gadis itu, aku akan membawa kabur dan kita bisa menjalani hidup yang baru juga lebih baik di tempat yang baru nantinya, aku janji kepadamu Anindya" ucap Ben sambil menggenggam kedua tangan Anindya dengan erat.
"Tidak Ben... Aku tidak ingin membantunya apalagi kembali bertukar tempat dengannya, kau sama sekali tidak mengetahui apapun tentang kesepakatan aku dengannya, dia sendiri yang sudah memberikan aku kesempatan ini dan aku akan menjalaninya sesuai kesepakatan awal yang sudah dia bicarakan denganku bahkan kami berdua memiliki bukti fisiknya secara nyata, jadi aku tidak akan merubah keputusanku sedikitpun!" Ucap Anindya dengan tegas sambil menghempaskan tangannya yang di genggam oleh Ben saat itu.
Ben yang lihat Anindya yang dia kenal dulu kini telah berubah, tentu saja dia merasa sangat heran dan kaget, dia menatap Anindya dengan tatapan heran dan terus saja membelalakkan matanya dengan sangat lebar.
"Anindya apa kau sudah tidak menyukai aku lagi, apa yang dikatakan eh wanita itu sebuah kebohongan?" Ucap Ben bertanya kepada Anindya,
"Dia benar Ben...aku memang mencintaimu, dan aku sangat menyayangimu aku juga ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamamu tapi tidak dengan meninggalkan kota ini, aku tidak ingin hidup di tempat yang asing untukku, aku belum menemukan ibu kandungku dan aku masih ingin bisa melihat ayahku" balas Anindya kepada Ben,
"Lalu kenapa? Kenapa kamu tidak ingin membantu wanita itu, kenapa kamu tidak ingin kembali ke tempat dimana kamu tinggal dan berada seharusnya, kenapa Anindya?" Tanya Ben dengan perasaan yang tidak menentu.
Anindya langsung saja tertunduk untuk beberapa saat dan dia terlihat menatap dengan satu ke arah Ben hingga dia mulai menjawab pertanyaan Ben barusan dengan jawaban yang sanga memohon dan membuat Ben sangat kaget ketika mendengarnya.
"Karena aku sangat mencintai semua yang di miliki oleh Anindita di tempat ini, aku suka kamarnya aku suka di berikan kasih sayang dan perhatian oleh keluarganya, oleh ibu dan Oma Anindita yang sangat mencintai dia dengan tulus juga penuh kasih, aku juga bahagia karena bisa memiliki ponsel pintar yang canggih, aku bisa bermain game sepuasnya di kamarku dan aku bisa mendapatkan pendidikan secara khusus di rumah mewah ini, aku juga bisa membeli dan mendapatkan apapun yang aku ingin disini, lihatlah Ben aku bisa memakai gaun cantik dan semua hal yang mewah disini, jika aku bisa mendapatkan semua ini kenapa aku harus kembali ke tempat kumuh dan menyedihkan itu, apalagi tuan Antonio selalu saja menghantui aku dan ayah, dia Anindita sudah merasakan semua kesenangan ini sejak dia kecil dan aku tidak mendapatkannya, bukankah ini sangat tidak adil untukku jika aku menyia-nyiakan kesempatan emas ini?" Balas Anindya dengan wajahnya yang benar-benar berubah dari sebelumnya.
Ben yang mendengar jawaban itu dia langsung menggelengkan kepala dengan pelan juga mulutnya yang terbuka setengah, dia tidak bisa menduga dan sangat tidak menyangka Anindya yang di kenal sebagai gadis tulus dan baik hati bisa memiliki pikiran pendek seperti itu dan memiliki perasaan iri terhadap apa yang di miliki orang lain dalam hidupnya.
__ADS_1
Ben bahkan sampai mengibaskan rambutnya dan dia memijat keningnya pelan saking merasa herannya dan tidak tahu lagi harus berbicara apa kepada Anindya untuk menyadarkan dia kembali padah sifatnya yang dulu lagi.
"Anindya aku tidak tahu rasa sakit sedalam apa yang kamu rasakan tetapi, Anindita adalah pemilik sesungguh dari semua yang kamu dapatkan saat ini, dan kamu tidak.pantas bersikap seperti ini Anindya kau sudah salah jalan" balas Ben masih berusaha untuk menyadarkannya,
"Hahah.... Apa kau bilang Ben, aku salah jalan, tidakkah kamu pikir aku dan Anindita memiliki banyak sekali persamaan, wajahku, tinggi badan kami, dan ukuran pakaian juga sepatu kami semuanya sama, bahkan tanggal lahir dia di KTP nya sama dengan milikku, wajah kami juga sangat mirip bahkan golongan darahnya juga sama, tidakkah kamu berpikir bahwa kemungkinan aku dan dia adalah saudara kembar yang terpisah, dan ibunya adalah ibuku, juga ayahku adalah ayahnya? Jika semua itu benar aku tidak akan rela melepaskan semua kebahagiaan ini dan dia juga harus merasakan semua penderitaan yang aku rasakan selama ini Ben!" Bentak Anindya berbicara dengan begitu keras kepada Ben.
Mendengar itu Ben lagi-lagi merasa sangat kaget, dan dirinya juga baru terpikirkan dengan kemungkinan yang Anindya ucapankan saat itu, sampai Ben memiliki telat untuk mencaritahunya sendiri sebelum Anindya menemukan kebenarannya lebih dulu dan itu akan menjadi sangat bahaya bagi Anindya sendiri ataupun Anindita nantinya.
"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu Anindya, bukankah kamu bilang kalian hanya bertemu sekali, dan bukan hanya kalian berdua saja yang terlihat memiliki kesamaan seperti itu di dunia ini, banyak orang lain yang seperti itu tetapi mereka memiliki kedua orangtua yang berbeda jadi kau jangan berpikir sempit seperti itu Anindya, kau sudah buta dengan harta dan kemewahan yang kamu rasakan sesaat, sadarlah Anindya dan kembalilah seperti Anindya yang dulu, Anindya yang baik hati dan aku sangat mencintaimu" ucap Ben berusaha untuk menyadarkan Anindya lagi.
Dia masih memiliki keyakinan bahwa Anindya yang dulu masih terdapat di dalam hati Anindya yang ada di hadapannya saat itu, maka dengan sekuat tenaga Ben terus berusaha menyadarkan dia dan membuat dia agar tidak terus di buatkan dengan kebahagiaan sesaat yang memang seharusnya tidak di miliki oleh ya sebab semua itu milik Anindita bukan dirinya sepenuhnya.
Tapi meski Ben sudah berusaha menyadarkan Anindya dan terus mengatakan semuanya dengan banyak harapan kepada dirinya agar bisa kembali seperti dulu lagi, tetapi saja Anindya tidak bisa melepaskan semua kebahagiaan dan rasa nyamannya di rumah tersebut.
"Maafkan aku Ben tapi jika kau benar-benar mencintaiku maka tolong dukunganlah semua keputusanku, aku hanya ingin menyelesaikan semua ini sesuai perjanjian antara aku dan Anindita, aku janji setelah itu aku akan kembali lagi kepada ayah jika memang aku dan Anindita benar-benar bukan siapa-siapa" balas Anindya dengan tatapan sendunya.
"Anindya kembalilah sekarang, aku juga bisa memberikan semua ini kepadamu, rumah mewah, pakaian yang cantik dan mahal, ponsel pintar juga kasih sayang yang banyak untukmu, aku bisa memberikan itu semua kepadamu asal kau mau kembali sekarang dan membebaskan Anindita orang yang tidak bersalah dari masalah dengan Antonio" ucap Ben berusaha membujuknya tanpa henti.
Hal tersebut membuat Anindya menjadi kesal sebab Ben sedari tadi seakan terus saja berpihak kepada Anindita yang baru saja dia temui beberapa hari, bahkan Ben terus membujuknya agar bisa membantu melepaskan Anindita dari masalah tersebut, sehingga Anindya mulai merasa kesal dan cemburu karenanya dan dia langsung saja membentak Ben dan mengusirnya dari sana secepatnya.
"Tidak Anindya maksudku tidak seperti itu aku juga jelas akan melakukan hal yang sama, jika semua itu terjadi padamu aku akan menymatkanmu aku akan membawamu pergi dan melindungimu sepanjang hidupku" balas Ben namun sayangnya Anindya sudah tida mempercayai ucapannya sama sekali.
"Aku tidak butuh bantuan darimu lagi, dan sebaiknya kau pergi dari rumahku, pergi dari sini Ben sebelum aku akan menyeretmu keluar atau memanggil pelayan untuk mengusir dirimu" ucap Anindya mengusir Ben dengan ancaman juga perkataan yang kasar saat itu.
Ben sudah menyerah dia merasa Anindya memang sudah benar-benar berubah saat itu dia juga tidak bisa melakukan apapun jika memang Anindya sendiri yang mengusirnya dari situ dan dia sendiri yang tidak ingin melihat wajahnya lagi, sehingga Ben hanya bisa mengangguk dengan perasan yang hancur.
"Baik....aku akan pergi, dan aku kecewa kepadamu Anindya, dia sudah mau membantumu merasakan berada di posisinya dan mengorbankan semua yang kau rasakan saat ini yang mau anggap sangat sulit untuk kau tinggalkan tapi kamu sendiri justru tidak bisa membantu hanya untuk hal seperti ini saja" balas Ben untuk terakhir kalinya.
Dia kemudian benar-benar pergi dari rumah itu dengan perasaan kesal dan tidak menentu, Ben yang selama ini tidak pernah terlihat menangis kini dia justru menjatuhkan air mata dari pelupuk matanya tanpa henti hingga membasahi pipinya sendiri.
Dia tidak menyangka bahwa Anindya yang dia kenal sejak kecil, dengan kepolosannya dan hatinya yang begitu baik kini telah berubah hanya dalam beberapa hari saja dan semua itu hanya karena sebuah tempat yang dia ambil dari orang lain.
"Anindya aku sangat kecewa padamu, kenapa kamu harus berubah seperti ini Anindya kenapa? Aaarrhhhhhkkkkk!" Teriak Ben yang terus saja m*m*kul stir mobilnya cukup kencang saat itu.
__ADS_1
Dia tidak tahu lagi bagaimana cara meluapkan emosi dalam dirinya sendiri, selain dari berteriak dan meninju bagian mobil miliknya.
Tidak hanya itu dia langsung kembali pergi ke kediaman Doni untuk menjemput Anindita dan dia rasa dia memang harus tetap menyelamatkan Anindita agar tidak di bawa pergi oleh Antonio yang terkenal sebagai bos dunia bawah yang sangat kejam dan di takuti oleh semua orang juga dirinya yang kebal akan hukum sebab dia menjadi salah satu penyumbang dana terbesar kepada negara.
"Baiklah jika Anindya tidak bisa membantunya, maka aku akan tetap menganggap dia sebagai Anindya, tunggu aku Anindita aku akan menyelamatkanmu sebagai sahabat sejati yang baik!" Ucap Ben dengan penuh keyakinan.
Dia terus melakukan mobilnya dengan lebih cepat lagi sebab bagaimana pun dia juga memiliki rasa cemas kepada Anindita, sampai di depan rumah Anindya dia melihat saat itu Anindita baru saja keluar dari rumah Doni dengan di gendong secara paksa oleh Antonio dan di bawa masuk ke dalam mobilnya.
Mihat itu Ben tidak menunggu waktu lama lagi dia langsung menghentikan mobilnya sembarangan dan berlari ke arah mobil tuan Antonio untuk menghentikan mobil tersebut dan berniat menghadangnya namun sayangnya mobil itu sudah terlanjur melaju dan Doni berusaha menahan tangan Ben yang saat itu masih sempat berlari sambil mengetuk kaca mobil Antonio.
"Ohh ...tidak...berhenti, jangan bawa dia.... Antonio jangan bawa dia kau mengambil orang yang salah, Antonio!" Teriak Ben yang sudah terlambat saat itu karena mobil yang dikemudikan oleh tuan Antonio sudah melesat pergi dari sana dengan cepat.
Ben berniat untuk mengejarnya dan dia hendak lari kembali ke mobilnya saat itu tapi lagi-lagi sayangnya Doni malah menahan tangan Ben dan membuatnya mengulur waktu untuk mengejar Antonio saat itu.
"Aku harus segera mengejarnya, aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja" ucap Ben sambil berniat masuk ke dalam mobilnya saat itu,
"Ehhh....eh....tunggu Ben apa yang mau kau lakukan mereka itu sudah menjadi pasangan kekasih tidak baik kau mengganggunya, dan sebaiknya kau cari saja wanita lain yang bisa kau jadikan sahabat baru lalu kau nikahi, putriku sudah bahagia dengan tuan Antonio dan aku akan hidup sejahtera selamanya jika mereka sungguh menikah, kau jangan coba-coba mengacaukan semua ini oke" ucap Doni menahan tangan Ben saat itu.
Ben yang sangat kesal dia terpaksa harus mendorong Doni meski sebenarnya dia tidak ingin berlaku kasar kepada orang tua, apalagi kepada calon ayah mertuanya tapi hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menyingkirkan Doni agar tidak menghambat waktunya lagi.
"Maafkan aku om tapi aku harus menyelamatkan dia karena aku tahu dia tidak mencintai Antonio" ucap Ben sambil langsung mendorong tubuh Doni hingga dia jatuh tersungkur ke tanah.
"Brukkk...adujkk...hey...kau dasar anak sialan, awas saja kau jika sampai putriku tidak jadi pada tuan Antonio sekalipun aku tidak akan memberikan restu pada orang sepertimu aishh....dasar si Ben sialan itu, awas kau!" Teriak Doni merutuki Ben dengan kesal.
Ben sama sekali tidak menghiraukan teriakkannya itu dan dia terus saja mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tinggi untuk segera mengejar mobil tuan Antonio yang sudah membawa Anindita pergi saat itu.
Ben sudah berusaha keras untuk mengejar mobil tersebut namun sayangnya dia kehilangan jejak sebab Doni yang sudah menghambatnya cukup lama saat itu, dia merasa sangat kesal dan frustasi karena tidak berhasil mengejar Anindita dan menyelamatkannya malam itu.
"Dukkk....sial...kemana mobilnya itu pergi, aku harus mencari tahu alamat tempat tinggal manusia kejam itu secepatnya agar bisa menyelamatkan Anindita, sebelum semuanya terlambat" ucap Ben sambil menepuk setirnya lagi dengan kuat.
Dia segera membalikkan mobilnya dan pergi ke rumahnya dengan cepat untuk segera duduk di ruang kerja pribadi dia lalu segera mencari informasi yang lengkap mengenai tuan Antonio, mulai dari siapa dia, dimana tempat tinggalnya dan apa saja yang dia miliki di kota tersebut.
Ben benar-benar mencari informasi tentang tuan Antonio secara lengkap dan jelas dia meminta berbagai hal tentang Antoni bahkan menyuruh sekretarisnya untuk membantu dia agar bisa menemukan alamat jelas tempat tinggal Antonio secara cepat.
__ADS_1
Dia terus saja merasa cemas tidak karuan selama mencari informasi tersebut, karena dia sendiri sudah mengetahui sebegara kejam dan seganas apa seorang Antonio selama ini, dan lebih parahnya dia juga tidak pernah pandang bulu kepada siapapun entah perempuan ataupun laki-laki dia selalu senang untuk memperbudak mereka sesuai dengan apa yang dia inginkan dan selalu melakukannya hingga dirinya puas tanpa memperdulikan perasaan orang lain yang menjadi korbannya.
"Anindita aku mohon bertahanlah aku akan segera menyelamatkan mu aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan kau" ucap Ben sambil terus menganalisis data yang dia dapatkan saat itu.