TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Kembali pada Antonio


__ADS_3

Anindita menatap dengan wajah yang menahan kebencian saat itu dia menatap sini kepada Anindya yang memegangi tangan ibunya dengan erat dan bersikap kasar bak seperti diri dia sebelumnya.


"Keluar kau dari sini, apa lagi yang sedang kamu tunggu? Pergi dari rumahku!" Bentak Anindya yang tiba-tiba saja bisa bicara dengan kasar seperti itu kepada Anindita yang asli.


Bodohnya Ben juga sama sekali tidak mengeluarkan ucapan apapun padahal saat itu dialah saksi mata yang sangat penting sebagai orang yang mengetahui semua kebenarannya dan Anindita juga mulai memalingkan pandangan kepada Ben, dia sangat menaruh banyak harapan kepada sosok Ben agar menjelaskan semua kebenarannya saat itu.


"CK...beraninya kau bicara kasar kepadaku di saat barusan kau memelukku dan mengaku sebagai saudara kembar dariku, sekarang saat ibuku datang dan dia mengatakan tidak mau menerimamu, kau langsung berpura-pura menjadi aku dan bodohnya ibu dan omaku tertipu oleh dirimu, oke....aku tidak masalah jika mereka tidak mau mengakui aku atau tidak mengenali aku lagi, yang pasti Ben tahu segalanya dia adalah saksi mata yang jelas dan hidup disini." Ucap Anindita sambil menatap ke arah Ben.


"Apa Ben mengetahui semua ini?" Ucap ibu Kasih kepada Anindya yang mulai sedikit terlihat gugup.


Bagaimana pun dia juga merasa takut dan cemas, Anindya takut Ben tidak akan berpihak kepada dirinya karena dia tahu bahwa sejak awal Ben selalu meminta dia agar menyudahi semua hal yang keliru ini, tetapi Anindya tidak pernah mau menghentikannya meski sebelumnya dia merasa sangat senang karena sudah mengetahui bahwa dirinya adalah putri kandung dari ibu Kasih dan merupakan saudara kembar dari Anindita, tapi karena ibu Kasih tidak ingin menerimanya dia pun terpaksa melakukan semua ini dan dia harus menyingkirkan Anindita yang asli saat itu.


"Benar ibu. Ben tahu segalanya, dan dia tahu siapa Anindita yang asli dan yang mana Anindya," balas Anindya saat itu.


"Haha.. sudahlah jangan banyak basa basi lagi, Ben katakan kepada mereka semua siapa Anindita yang asli disini." Ucap Anindita kepadanya.


Ben mendapatkan tatapan dari semua orang dan dia terus menatap ke arah Anindita dan Anindya secara bergantian, dia takut jika jawabannya akan di benci oleh salah satu diantara mereka saat itu, sedangkan dia sudah sangat jelas menyukai Anindya dan dia selalu ingin Anindya hidup dengan bahagia bagaimana pun caranya, dia tidak ingin membuat Anindya kesal dan marah padanya hanya karena masalah seperti ini atau dia yang tidak berada di pihaknya dalam keadaan yang menegangkan ini.


"Maafkan aku Anindita, tapi aku harus melakukannya demi Anindya setidaknya kamu lebih lama menikmati semua kemewahan dan mendapatkan banyak kasih sayang dari ibumu sendiri, berbeda dengan Anindya yang selalu menderita dan tertekan oleh Doni sejak dia kecil dan sekarang tida di inginkan oleh ibunya sendiri." Batin Ben memikirkan semua itu sebelum dia mengatakan jawabannya di hadapan semua orang.


"Ben kenapa kamu diam saja, ayo cepat jawab Tante!" Ucap ibu Kasih yang mengenal Ben sebagai teman baru dari Anindita yang pernah membantu Oma membawakan barang di mall sebelumnya.


Padahal Ben memang sudah bersama dengan Anindya dalam waktu yang sangat lama dan mereka selalu bersekongkol selama ini melakukan semuanya bersama.


"Anindita yang asli adalah....dia yang ada di sampingmu tante, dia yang selama ini tinggal di rumah ini dan mengenakan pakaian yang Oma berikan kepada dia beberapa hari yang lalu, mungkin Oma juga masih bisa mengenali pakaiannya tersebut." Jawab Ben sangat membuat Anindita kesal dan emosi sekali.


Dia menatap tajam dengan kedua tangan yang di kepalkan dengan kuat menatap ke arah Ben dan Anindya di hadapannya saat itu.


Anindita tidak menduga bahwa Ben bisa menjadi setega ini dengan dia hanya karena sebuah cinta dan dia terus saja di kendalikan oleh Anindya selama ini.


"Haha..bagus..bagus sekali prok...prok...prok... Kalian benar-benar pasangan yang sangat cocok, baik...aku tidak masalah jika aku tidak dianggap dan tidak di akui disini, namun jika suatu saat nanti kalian menemukan sesuatu yang janggal dengan Anindita kalian maka kalian akan mengetahuinya, bahwa kalian telah memasukkan manusia jahat dan memanipulasi kalian ke dalam rumah ini, lalu membuang aku yang asli dengan sengaja, putri yang kalian jaga namun kalian buang bagus sekali." Balas Anindita sambil bertepuk tangan beberapa kali saat itu.


Sorot matanya sangat tajam dan penuh ancaman kepada Ben bahkan saat dia hendak pergi dari rumah itu karena kembali mendapatkan usiran dari sang Oma dia masih sempat menepuk pundak Ben dan berbisik memberikan ancaman yang menusuk kepadanya.


"Cukup! Pergi kau dari rumah ini, kamu memang sama dengan Doni sialan itu, kalian anak dan ayah sama-sama benalu, pergi kau dari sini!" Bentak Oma kepada Anindita dengan kejam.


"Aku tahu apa yang dirasakan olehmu sekarang Anindya, tapi semua ini seharusnya tidak membuatmu menjadi jahat kepadaku, padahal aku bisa membelamu dan membujuk ibu juga oma agar mau menerimamu di rumah ini jika seandainya kau tidak melakukan ini padaku." Ucap Anindita kepada Anindya dengan tatapan sinis dan gigi yang dia meratakan dengan kuat untuk menahan emosinya.


Lalu Anindita berjalan mendekati Ben dan menepuk sebelah pundaknya dengan cukup kencang dan mencengkeramnya cukup kuat sampai Ben harus menahan rasa sakit dan meringis pelan saat itu.


"Ssstt...aaaa..aahh" ringisan Ben sambil memegangi pundaknya yang di cengkram oleh Anindita dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Dan kau....kau tahu saat ini sedang berhadapan dengan siapa kan? Bukan hanya Anindita tapi juga dengan seorang Antonio yang bisa melemparkan tubuhmu kapan saja untuk santapan macan peliharaannya, kita lihat seberapa lama kau bisa lari dari pembalasanku!" Bisik Anindita pada tepat di samping telinga Ben hingga membuat seorang Ben bergetar ketakutan dan matanya terus membuka semakin lebar.


Anindita pergi dari rumah itu dengan penuh luka dan rasa sakit di hatinya dia pergi ke dengan menahan air mata sekuat tenaganya karena dia tidak ingin terlihat lemah saat itu, bahkan disaat penjaga datang untuk menyeret dia keluar, Anindita menatap tajam kepada mereka karena Anindita tahu penjaga pasti akan lebih mengenali dirinya di bandingkan ibunya sendiri yang jarang berada di rumah begitu pula dengan sang Oma yang selalu sibuk dengan treatment yang dia lakukan.


"Nona Anindita mari saya antarkan anda ke luar." Ucap salah satu penjaga yang dapat dengan mudah mengenali Anindita saat itu.


"Tidak perlu aku bukan Anindita, kau mungkin salah mengira orang karena Anindita yang asli ada di belakang," ucap Anindita sambil kembali melanjutkan langkah kakinya dengan cepat.


Penjaga itu menatap ke arah Anindya yang memberikan sebuah senyum tipis kepadanya dan hal tersebut tentu saja membuat sang penjaga tersebut keheranan dan bingung sebab nona Anindita yang dia kenal selama ini sama sekali tidak pernah memberikan senyuman kepadanya bahkan tatapannya selalu datar dan kosong sama seperti orang yang baru saja melewatinya.


Namun meski menyadari hal itu, penjaga tersebut tidak mengatakan keheranan dalam dirinya, sebab dia tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadi majikannya, dan penjaga itu lebih memilih untuk segera pergi dari sana secepatnya.


Anindita keluar dari rumah itu dan dia hanya bisa berjalan di samping jalan raya seorang diri setelah berjalan dari kawasan rumahnya yang berjarak cukup jauh untuk sampai ke jalan raya saat itu. Meski kakinya sudah terasa sakit dan lecet tapi itu semua sama sekali tidak terasa sakit oleh Anindita sebab rasa sakit di hatinya yang baru saja di khianati oleh saudara kembarnya sendiri dan oleh Ben orang yang dia taruh harapan besar, juga dengan kedua orang yang dia anggap sangat menyayangi dia dan sangat dia sayangi namun gagal mengenali dirinya sendiri saat itu.


"Bodoh...hahah...bodoh sekali, ibu da Oma memang sudah sangat tua, mereka juga jarang melihat aku ketika ada di rumah, maka dari itu mereka gagal mengenaliku, dan Ben sialan itu aku salah karena telah berharap kepadanya dan memberikan kebaikan juga kesempatan kepada wanita jahat seperti Anindya untuk bisa merebut semua yang aku punya sebelumnya,....hiks...hiks...bodoh kenapa aku malah menangis ini sama sekali tidak menyedihkan." Ucap Anindita yang terus saja mengusap air mata yang mengalir membasahi pipinya saat itu.


Dia terus saja menahan diri agar tidak mengeluarkan air mata, namun isakkannya justru mulai tidak bisa dia tahan tapi dia tetap memaksakan dirinya sendiri agar tidak menangis saat itu.


Sedangkan disisi lain tuan Antonio yang terus memantau pergerakan Anindita lewat sebuah GPS yang tertanam di dalam cincin yang dikenakan oleh Anindita dia bisa menemukan dimana titik keberangkatan Anindita saat itu, dan dia mulai mengerutkan kedua alisnya sebab tuan Antonio merasa sangat heran mengapa Anindita berada di samping jalan menuju sebuah halte bus saat itu.


"Untuk apa dia pergi ke halte bus, bukannya rumah yang sebelumnya adalah rumahnya?" Gerutu tuan Antonio memikirkan.


Karena dia merasa sangat mencemaskan Anindita sebab titik merah keberadaan sudah tidak bergerak lagi sejak beberapa menit yang lalu, jadi dia pun memutuskan untuk pergi mencarinya agar dirinya bisa memastikan dengan kedua matanya secara langsung bagaimana keadaan Anindita saat itu.


Dia segera pergi dari rumahnya meski saat itu hari sudah malam dan jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam dimana seharusnya saat ini tuan Antonio beristirahat dan sedikit bersantai setelah dia menyelesaikan pekerjaannya di kantor yang membuat dia pusing seharian ini, sebab sebelumnya dia juga harus mengikuti Anindita sampai ke rumahnya tersebut, bahkan sekretaris Seno sudah memberikan semua data informasi lewat surel milik tuan Antonio mengenai identitas dari Anindita, ibunya dan omanya yang ikut tinggal di rumah itu selama ini, namun karena tuan Antonio mencemaskan Anindita dia sama sekali tidak sempat melihat surel berisikan informasi yang sangat penting itu.


Tuan Antonio pergi seorang diri ke tempat yang menunjukkan keberadaan Anindita saat itu, dia terus mulai melajukan mobilnya dengan lebih pelan karena harus mencari Anindita dengan benar, sampai dia melihat seorang wanita yang duduk berjongkok di samping jalan dengan menatap kosong ke depan, dan orang itu adalah Anindita yang terlihat sangat kacau sekali.


"Hah? Apa dia sudah jadi gila? Kenapa malah diam di pinggir jalan seperti pengemis begitu?" Gerutu tuan Antonio yang merasa emosi ketika melihatnya.


Dia segera turun dari mobil dan menemui Anindita sambil langsung membentak dia dengan keras dan membuat beberapa orang menatap ke arahnya.


"Hei....apa kau gila ya? Kenapa kau malah berjongkok di samping jalan seperti ini, dasar manusia..." Ucap tuan Antonio yang mau mengomeli Anindita dengan kasar saat itu.


Namun sayangnya Anindita menghentikan ucapan tuan Antonio yang mengomelinya dan dengan cepat tuan Anindita tiba-tiba saja langsung bangkit berdiri lalu langsung memeluk tuan Antonio dengan erat.


Hingga hal tersebut membuat tuan Antonio langsung terdiam mematung dan dia tidak bisa melakukan apapun dengan kedua bola matanya yang membulat dan menatap kaget terus menerus dalam beberapa saat.


"Antonio akhirnya kamu datang juga, aku baru saja hendak pulang tapi aku tidak tahu jalan pulang, dan aku tidak punya rumah sekarang makanya aku berjongkok di pinggir jalan." Ucap Anindita masih dengan wajahnya yang menatap dingin dan datar bak seperti manusia yang tidak memiliki perasaan sama sekali saat itu.


Sedangkan tuan Antonio mulai merasakan detak jantungnya yang terus saja berdegup semakin kencang saat itu, dia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya dan langsung mendorong Anindita sambil membentak dia dan mengomelinya lagi untuk melampiaskan dan menyembunyikan perasaan tidak menentunya dari Anindita. Padahal saat itu Anindita juga jelas sudah mengetahui bahwa detak jantung tuan Antonio sangat kencang ketika dia memeluknya barusan.

__ADS_1


"Aish...lepaskan...ayo lepaskan aku aaahh apa yang kau lakukan malah memelukku seperti itu, kau yang memutuskan untuk kabur dariku untuk apa kau kembali lagi, sana kau pergi saja kemanapun yang kau mau aku tidak akan mempermasalahkan mengenai dirimu ataupun cincin itu lagi, biarkan saja cincinnya ada di tanganmu selamanya, atau kau bisa memotongnya pada pemadam kebakaran untuk membantu kau terlepas dari ikatan itu!" Balas tuan Antonio sambil segera saja hendak pergi dari sana.


Namun dengan cepat Anindita menahan tangannya dan dia langsung saja menarik tangan tuan Antonio dengan cepat lalu dia mengecup pipi tuan Antonio secara tiba-tiba yang membuat tuan Antonio semakin membelalakkan matanya sangat lebar dan dia semakin marah kepada Anindita yang membuat perasaannya semakin tidak menentu dan membuat jantungnya hampir meledak saking kagetnya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Anindita.


"Much.." sebuah ciuman mendarat di pipi kanan tuan Antonio saat itu.


"Astaga...hei! Apa yang baru saja kau lakukan kau mencium pipiku tanpa izinku ya? Aishh beraninya kau dasar manusia menjengkelkan, aaahhh....kau..euhhh! Jika kau bukan wanita aku akan menghajarmu atas p*lecehan ini!" Ucap tuan Antonio dengan gemas kepada Anindita saat itu.


Tuan Antonio terus saja sibuk .engusap.pipi kanannya yang bekas mendapatkan ciuman dari Anindita saat itu, karena dia benar-benar tidak pernah mendapatkan hal seperti itu dari siapapun sebelumnya.


"Antonio aku mau menerimamu aku mau menikah denganmu ataupun bertunangan denganmu, sesuai dengan apa yang kau katakan kepadaku sebelumnya, aku akan melakukan itu." Ucap Anindita yang membuat tuan Antonio semakin kaget berkali kali di buatnya.


Tuan Antonio yang tidak mengetahui apapun yang terjadi kepada Anindita saat itu dia tentu sangat kaget bahkan sampai langsung terperangah membuka mulutnya dengan lebar dan merasakan kakinya yang mula terasa lemas hingga dia hampir saja terjatuh saat itu namun untungnya dia masih sempat berpegangan pada mobilnya.


"Ha?...haha..aaahhh....kakiku apa kau baik-baik saja? Jangan-jangan kau benar-benar sudah gila ya?" Ucap tuan Antonio yang masih syok mendengarnya dan masih tidak mempercayai ucapan dari Anindita saat itu.


Tapi Anindita kembali meyakinkannya sampai membuat tuan Antonio pasrah dan segera saja membawa Anindita untuk masuk ke dalam mobilnya terlebih dahulu sebab dia sudah tidak sanggup lagi untuk mendengar ucapan dari Anindita yang membuat jantungnya tidak tenang dan membuat hatinya menjadi sangat lemah.


"Aku serius aku mau menerimamu, aku mau melakukan semuanya aku akan tinggal di sampingmu, aku akan menuruti dirimu, aku akan berusaha mencintaimu aku akan...." Ucap Anindita yang langsung saja mulutnya di bekap oleh tuan Antonio dengan cepat dan langsung menyeret dia masuk ke dalam mobil dengan cepat.


"Aishh..sudah sudah diam kau! Bikin malu saja ayo cepat masuk kita bicarakan ini di rumahku saja." Ucap tuan Antonio sambil terus membawanya masuk ke dalam mobil.


Setelah berada di dalam mobil sebenarnya Anindita sendiri merasa sangat cemas dan dia terus saja merasakan hatinya yang tidak menentu sebelumnya karena dia juga tidak pernah berbicara seberani itu kepada seorang pria bahkan kepada dokter Gavin yang sangat dia sukai selama bertahun-tahun saja dia tidak pernah merasakan jantungnya berdetak kencang seperti ini ketika dia mengungkapkan rasa sukanya pada dokter Gavin meski sering mengatakannya sekali-kali.


"Astaga...ada apa denganku kenapa hatiku terasa tidak menentu dan tidak tenang begini, jantungku juga kenapa tidak bisa berdetak dengan tenang, apa suara jantungku akan terdengar olehnya, ohh tuhan semoga saja tidak aku harus tetap terlihat cuek dan dingin olehnya, aku harus menjaga harga diriku sendiri." Batin Anindita terus saja berusaha menahan perasaan di dalam hatinya yang begitu menggebu sejak lama.


Sedangkan tuan Antonio sendiri juga merasakan hal yang sama bahkan dia lebih tidak bisa mengendalikan perasaannya di bandingkan Anindita saat itu, wajah gugup tuan Antonio terlihat begitu jelas dan dia terus saja menyetir dengan fokus menatap ke depan tidak berani mengatakan apapun selama di perjalanan.


Hanya bisa sesekali mencuri-curi pandang kepada Anindita saat itu hanya untuk memastikan keadaan Anindita, namun tuan Antonio justru malah menemukan kaki Anindita yang terlihat memiliki banyak luka lecet dan goresan saat itu.


Hingga dia tidak bisa menahan dirinya lagi untuk bertanya mengenai keadaan Anindita saat itu.


"Ada apa dengan kakimu? Apa kau terluka saat di perjalanan tadi, dan kemana sandal yang kau pakai sebelumnya?" Tanya tuan Antonio dengan sangat serius dan menatap tajam kepadanya saat itu.


"Ohhh..sendalnya putus jadi aku membuangnya," balas Anindita dengan santai tanpa basa basi.


Tuan Antonio langsung saja membentak Anindita lagi dan memarahinya karena sudah membiarkan luka di kakinya sampai seburuk itu, dan dia masih saja terlihat begitu santai.


"Heh...apa kau tidak bisa merasakannya kakimu lecet dan terluka seperti itu, kenapa kau malah santai saja dan terus berjalan tanpa alasa kaki, apa kau gila ya?" Ucap tuan Antonio yang mengatai Anindita gila untuk ke sekian kalinya sedari tadi.


"Aku memang tidak merasa sakit, lagi pula ini hanya luka sedikit tidak akan sampai membuat aku mati, kanker ganas di hatiku saja masih bisa aku tahan sendiri, apa yang perlu di khawatirkan." Balas Anindita lagi yang membuat tuan Antonio menggelengkan kepala terus menerus saat itu.

__ADS_1


"Hah...haha..kau benar-benar manusia paling aneh dan paling tidak masuk akal yang pernah aku temui selama ini, semua wanita yang merasakan itu pasti akan meringis kesakitan kenapa kau malah santai saja seperti itu, otakmu itu aahh tidak tahu lagi bagaimana cara pikirmu sebenarnya." Balas tuan Antonio yang sudah tidak mengerti lagi dengan pola pikir Anindita.


__ADS_2