
Tuan Antonio saja sudah benar-benar tidak habis pikir dalam menghadapi Anindita saat itu dan berkali-kali dia mengacak kasar rambutnya ke depan dan belakang saking kesal nya dengan Anindita yang malah terlihat sangat cuek sekali dengan wajah Anindita yang terlihat begitu santai saja saat itu, padahal jelas sekali tuan Antonio melihat dengan jelas bahwa saat itu kaki Anindita terlihat cukup banyak lupa goresan bahkan lecet yang cukup parah.
Sampai tuan Antonio tidak bisa diam saja melihat keadaan Anindita yang seperti itu, hingga sesampainya di mension miliknya tuan Antonio melarang Anindita untuk turun dari mobil karena dia tidak bisa membiarkan Anindita harus kembali berjalan menurunkan kakinya ke lantai dalam kondisi yang mengkhawatirkan seperti itu.
"Hei.....berhenti, kau tidak boleh keluar seperti itu!" Ucap tuan Antonio kepadanya.
Anindita hanya menurut saja dan dia diam di dalam mobil menunggu apa yang akan dilakukan oleh tuan Antonio kepada dia sebenarnya.
Sampai tidak lama rupanya tuan Antonio malah berjalan memutar dan membukakan pintu mobilnya saat itu, dia segera berbalik dan menyuruh Anindita untuk naik ke atas punggungnya saat itu.
"Kenapa kau berbalik?" Tanya Anindita yang masih belum menyadari apa yang di maksudkan oleh tuan Antonio saat itu.
"Ayo cepat naik ke punggungku, tidak mungkin kau berjalan dengan kaki yang penuh luka seperti itu, yang ada nantinya luka di kakimu akan semakin parah, cepat naik!" Ucap tuan Antonio kepada Anindita.
Anindita tersenyum kecil karena dia mulai merasa bahwa tuan Antonio menjadi baik kepadanya, entah itu karena rasa kasihan ataupun hal yang lainnya namun kali ini Anindita tidak mau keras kepala sebab dia juga memang mulai merasakan sakit pada kakinya tersebut, sebelumnya dia tidak menyadari rasa sakit itu mungkin karena dia masih sangat sedih tapi sekarang setelah dia menjadi tenang dia malah merasaka rasa sakit di kakinya yang terdapat banyak luka saat itu.
Anindita segera naik ke atas punggung tuan Antonio dan dia mengucapkan terima kasih kepada tuan Antonio disaat tuan Antonio menurunkan Anindita di sofa depan saat itu.
"Terima kasih Antonio." Ucap Anindita yang bisa mengatakan kalimat seperti itu untuk pertama kalinya kepada tuan Antonio dan itu cukup menjadi sebuah kejutan yang mengagetkan bagi tuan Antonio sendiri, bahkan kedua bola matanya sampai terbelalak dengan sangat lebar saking kagetnya saat itu.
"Astaga....apa barusan kau sungguh mengucapkan terimakasih kepadaku? Wahh...bagus... Bagus, setidaknya sekarang kau sudah bisa menjadi manusia yang tahu diri," balas tuan Antonio kepada Anindita yang hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil saja saat itu.
Para penjaga dan bodyguard yang ada di rumah tuan Antonio mereka menatap dengan tatapan kaget dan terperangah semua melihat tuan Antonio yang untuk pertama kalinya dia mau menggendong seorang wanita di punggungnya dan membawa dia masuk bahkan saat ini tuan Antonio menyuruh pelayan pria yang ada disana untuk mengambilkan obat merah untuk mengobati luka di kaki Anindita.
"Heh...kenapa kau berdiri saja disitu? Ambilkan obat! Apa kau tidak kakinya terluka seperti ini?" Ucap tuan Antonio dengan sedikit membentak kepadanya saat itu.
Pelayan itu pun dengan cepat segera pergi mengambilkannya karena dia merasa sangat takut kepada tuan Antonio dan semburan dari. Mulutnya yang bisa menusuk hati siapapun saat itu.
Hingga setelah pelayan itu memberikan obatnya kepada tuan Antonio, Anindita dengan cepat mengambilnya dan dia berniat untuk mengobati luka di kakinya sendiri saat itu, tapi sayangnya tuan Antonio menahan tangan Anindita dengan cukup kuat dan menahan dia dengan sebisa mungkin saat itu.
"Eh..eh ..eh..mau apa kau?" Tanya tuan Antonio sambil menahan tangan Anindita yang baru saja hendak meraih obat merah yang ada di atas meja saat itu.
"Kenapa? Aku hanya ingin mengambil obatnya bukankah kau menyuruh pelayan mengambilkan obat ini untukku, kenapa kau menahanku?" Balas Anindita yang merasa sangat heran sekali saat itu.
Dan Anindita tetap saja mengambil obat tersebut meski tanpa izin dari tuan Antonio terlebih dahulu, sedangkan tuan Antonio sendiri dengan cepat dia langsung saja merampas semua obat yang hendak di raih oleh Anindita saat itu dan dia menyuruh Anindita untuk bersikap diam saja, agar dia sendiri yang mengobati luka di kaki Anindita saat itu.
"Aishh..sudah diam saja, biar aku yang mengobatinya, wanita seperti kau ini memangnya masih bisa mengobati luka sendiri hah? Kau bahkan tidak merasakan rasa sakit dari lukamu sebelumnya bagaimana kau akan tahu mana saja yang akan butuh di obati," ucap tuan Antonio sambil merampas kapas yang ada di tangan Anindita saat itu.
Anindita mengerutkan kedua alisnya dengan kesal saat itu dan dia terus saja merasa tidak terima karena tuan Antonio mengatakan bahwa dia tidak bisa mengobati lukanya sendiri padahal Anindita masih sanggup untuk melakukannya saat itu.
"CK...aku hanya tidak merasa sakit karena aku tidak lebay bukannya buta? Aku masih punya mata dan kedua tangan tentu aku bisa melakukannya sendiri, kemarikan saja biar aku obati luka di kakiku sendiri." Ucap Anindita sambil hendak mengambil obatnya dari tangan tuan Antonio.
Namun sayangnya tuan Antonio bisa menjauhkan obat itu lebih cepat sehingga Anindita tidak bisa mengambilnya dari dia saat itu.
"Eishh..aku kan sudah bilang kau diam saja, kenapa kau sangat keras kepala sekali, sudah diam saja aku akan mengobati luka di kakimu dengan keinginanku sendiri sekalipun aku tahu kau pasti bisa melakukannya sendiri, tapi biarkan saja aku yang mengobati dirimu karena saat ini kamu yang terluka," ucap tuan Antonio dengan wajahnya yang menatap lekat kepada Anindita.
Dan membuat Anindita tidak berani lagi untuk melawannya, kini Anindita hanya pasrah dan membiarkan tuan Antonio untuk mengobati luka di kakinya.
__ADS_1
"Stttt...aaaww..kenapa kau kasar sekali itu sakit tahu!" Bentak Anindita yang meringis kesakitan dan dia langsung menahan tangan tuan Antonio yang tengah menempelkan kapas dengan obat merah pada kakinya yang terluka saat itu.
"Aahh...maaf maaf apa itu sangat sakit ya? Aku pikir kau masih tidak bisa merasakan rasa sakit seperti sebelumnya," ucap tuan Antonio yang rupanya sengaja melakukan semua itu karena dia ingin membuktikan secara nyata apakah Anindita benar-benar tidak bisa merasakan sakit atau dia hanya berpura-pura kuat saja saat itu.
Anindita yang melihat hal itu dia benar-benar sangat kesal dan emosi sekali kepada tuan Antonio dan langsung membentaknya dengan sangat keras sambil terus merutuki dia dengan puas.
"Heh..apa kau tidak punya mata ya? Aku juga manusia normal sama sepertimu aku mengatakan aku tidak merasa sakit itu karena ada rasa sakit lain yang jauh lebih menyakitkan di bandingkan kakiku yang terluka, tapi kalau kau menekannya seperti tadi ya tentu saja aku juga merasa sangat kesakitan di tambah kau malah dengan sengaja melakukannya kan!" Bentak Anindita kepadanya dengan sangat kencang dan kedua mata yang terbelalak dengan sangat lebar saat itu.
"Ya..aku kan sudah meminta maaf kepadamu, apa yang perlu di permasalahkan lagi," ucap tuan Antonio kepada Anindita dengan wajahnya yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun saat itu.
Dan Anindita hanya bisa menahan emosi yang menggebu di dalam hatinya saat itu sedangkan tuan Antonio kembali melanjutkan untuk mengobati luka di kaki Anindita dengan lebih hati-hati dan lebih pelan lagi dari pada sebelumnya, dia bahkan menyentuh kaki Anindita yang terluka dengan perlahan dan meniupi kakinya yang saat itu Anindita terus saja menahan sakit dengan sekuat tenaganya sendiri.
Anindita sangat kaget melihat tuan Antonio mau meniupi bahkan mengipasi kakinya dengan begitu hati-hati dan dia terus mengobati semuanya dengan lebih lembut dari pada sebelumnya, cara tuan Antonio mengobati luka di kaki Anindita benar-benar terlihat sangat tulus oleh mata Anindita sendiri saat itu.
Sampai dia langsung saja mendekati tuan Antonio secara tiba-tiba dan langsung memegangi dagu tuan Antonio yang membuat tuan Antonio sendiri sangat kaget di buatnya, dia bahkan sampai membelalakkan matanya dengan sangat lebar karena menerima perlakuan seperti itu dari Anindita secara tiba-tiba.
"KA..KA..kau apa yang mau kau lakukan?" Tanya tuan Antonio kepadanya saat itu.
"Antonio tatap aku dengan benar apa kau menyukai aku?" Tanya Anindita yang membuat tuan Antonio semakin syok di buatnya dan dia langsung semakin membelalakkan matanya lagi dan lagi kepada Anindita saat itu.
Tuan Antonio tidak bisa melakukan apapun lagi dan dia hanya bisa menatap dengan kedua bola mata yang membulat sempurna dan dia terus saja diam mematung saling tatap dengan begitu lekat kepada Anindita.
Sedangkan Anindita sendiri terus saja menatap tuan Antonio dengan sedikit mengerutkan kedua alisnya dia terus berusaha mencari tahu lewat tatapan mata yang diberikan oleh tuan Antonio kepadanya, dia sangat penasaran sekali bagaimana perasaan tuan Antonio kepada dia selama ini.
Karena di lihat dari cara tuan Antonio memperlakukan dia entah kenapa Anindita merasa sepertinya tuan Antonio memiliki sebuah perasaan lebih kepadanya hanya saja Anindita tidak terlalu yakin dengan hal tersebut, jadi dia menanyakannya secara langsung saat itu juga kepada tuan Antonio.
"Antonio ayo jawab aku, atau jika kau tidak menjawabnya itu artinya kau, kau benar-benar menyukai aku ya?" Tambah Anindita lagi saat itu.
"Apa? Aku...aku menyukai wanita sepertimu? Ahahaha...konyol yang benar saja darimana kau bisa berpikir seperti itu hah? Ahaha...kau ini sangat konyol sekali," ucap tuan Antonio sambil bangkit dan duduk di samping Anindita yang terlihat menghembuskan nafas dengan kasar juga memalingkan pandangannya dengan cepat dari tuan Antonio saat itu.
"Hei kenapa kau memalingkan pandangan dan memasang wajah bete seperti itu? Atau apa jangan-jangan kau yang menyukai aku ya? Ahaha...ayo mengakulah kau menyukai aku kan?" Ucap tuan Antonio yang malah membalikkan ucapan dari Anindita saat itu.
Hal tersebut membuat Anindita merasa sangat kesal dan kekesalannya menjadi semakin memuncak sebab tuan Antonio malah balik mendesak dia dan malah menduga dia yang menyukai tuan Antonio, padahal dia sama sekali tidak merasa menyukai tuan Antonio, meskipun sebenarnya saat itu Anindita memang sering merasa jantung dan perasaannya menjadi sangat aneh dan berbeda ketika dia berada di samping tuan Antonio akhir-akhir ini apalagi setiap kali tuan Antonio bersikap baik kepadanya selama ini.
Karena terus mendapatkan desakkan dari tuan Antonio terus menerus dan badan tuan Antonio yang terus mendekati dia sampai Anindita terdesak ke samping sofa saat itu, dia pun segera saja berbalik dan langsung mendorong tubuh tuan Antonio dengan sekaligus menggunakan seluruh tenaga yang dia miliki saat itu sampai membuat tuan Antonio jatuh tersentak ke belakang dan Anindita langsung mendesak dia balik, sambil mendekatkan wajahnya ke wajah tuan Antonio yang membuat tuan Antonio merasa sangat kaget dan jantung tuan Antonio semakin berdetak tidak karuan.
"Aishh....kenapa apa kau sekarang menjadi gugup, dengar ini baik-baik oleh kedua telingamu, aku Anindita sama sekali tidak menyukaimu karena aku hanya menyukai dokter Gavin seorang, camkan itu!" Ucap Anindita sambil segera menjauh dari tuan Antonio yang kini wajahnya sudah berubah dengan seluruhnya menjadi wajah yang sangat penuh emosi juga sangat kesal kepada Anindita karena dia tahu bahwa Anindita ternyata malah menyukai pria lain saat itu.
"Ohh...jadi pria bernama Gavin yang kau sukai, baguslah jika begitu saja kau pergi meminta bantuan kepadanya untuk memberimu tempat tinggal dan mengobati luka di kakimu itu, sekalian kau juga tidak perlu kembali kepadaku datang dan temui dia saja, ayo sana pergi!" Ucap tuan Antonio yang langsung mengusir Anindita dengan kasar dan tatapan yang tajam kepadanya saat itu.
Anindita merasa sangat tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada tuan Antonio saat itu sebab gaya bicaranya dan ekspresi yang dia berikan kepada dia langsung saja berubah dengan cepat hanya karena dia mengatakan bahwa dia menyukai pria lain tapi sebelumnya tuan Antonio sendiri mengaku tidak menyukai dirinya, namun dirinya malah marah dan langsung mengusir dia seperti ini.
"Hei....ada apa denganmu, bukannya kita saling membutuhkan satu sama lain ya? Kau butuh aku untuk menjadi tunanganmu atau menikah denganmu agar kau bisa terbebas dari banyak wanita yang mengelilingi dirimu karena rekan bisnis yang selalu menjodohkan dirimu dengan putri mereka dan aku membutuhkanmu untuk membalas dendam pada seseorang, jadi harusnya kita bekerjasama sekarang." Ucap Anindita kepada tuan Antonio saat itu.
Namun dengan cepat tuan Antonio langsung saja bangkit berdiri dan hendak pergi dari sana karena dia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi jika terus berada di samping Anindita seperti itu.
"Aku sudah tidak membutuhkan dirimu lagi, lagipula aku bisa menemukan gadis manapun yang bisa aku pintai untuk menjadi pasangan bohonganku, tidak hanya kau saja," ucap tuan Antonio kepada Anindita saat itu.
__ADS_1
Bahkan tuan Antonio berbicara seperti itu sambil berdiri dan hanya menatap sinis dengan ujung matanya kepada Anindita, namun dengan cepat Anindita menahan tangan tuan Antonio dengan cepat.
"Tidak...kau tidak bisa mendapatkan wanita lain!" Ucap Anindita kepada tuan Antonio sambil menahan tangannya dengan kuat.
"Kenapa aku tidak bisa?" Balas tuan Antonio membalikan ucapannya.
"Karena hanya aku gadis yang berani untuk melawan wanita lain, dan hanya aku yang berani melakukan apapun denganmu, bahkan untuk melawan semua musuh-musuhmu yang begitu banyak di luar sana, aku wanita kuat dan yang lainnya hanya akan benar-benar mencintai dirimu lalu mereka hanya mengharapkan hartamu, aku berbeda dengan mereka dan karena itu kau memilih aku sebelumnya," balas Anindita membuat tuan Antonio tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kenapa kau diam? Apa semua ucapanku itu benar? Antonio aku akan menjagamu meski aku tidak mencintaimu saat ini, tapi aku nyaman ada disini, bersama pria kejam yang ditakuti oleh semua orang ini, pada pria yang hanya sering di manfaatkan oleh wanita karena tampang dan hartanya saja, aku bahkan tidak mengharapkan apapun darimu aku hanya ingin kau tetap menjadi tunanganku, jika dulu kau yang memaksaku untuk tetap tinggal disini, maka sekarang aku yang akan menahanmu agar tidak mengusir aku dari rumah yang sudah terlanjur membuat aku nyaman," balas Anindita yang membuat tuan Antonio langsung berbalik menghadap dia lagi dengan perlahan.
"Aku memberikan kau kebebasan agar kau bisa keluar dari cengkramanku, kau ingin hidup bebas kan, kau ingin melihat dunia luar, seharusnya kau tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena aku tidak akan pernah memberikan kesempatan kedua kepada siapapun!" Ucap tuan Antonio memperingati Anindita saat itu.
"Aku sudah yakin dan tinggal denganmu bukan berarti aku di kurung ataupun di penjara bukan? Aku tetap bisa pergi ke tempat manapun yang ingin aku kunjungi bahkan tanpa aku harus menghabiskan uangku sendiri karena ada kau, kau Antonio yang akan menemani aku kemanapun aku ingin pergi mulai sekarang." Balas Anindita yang sangat membuat tuan Antonio senang mendengarnya.
Tetapi walau merasa sangat bahagia dengan jawaban yang diberikan oleh Anindita saat itu, tetapi tuan Antonio tetap saja berusaha untuk menyembunyikan perasaan dia yang sebenarnya, dan dia terus diam saja berusaha untuk menahan kesenangan di dalam dirinya sendiri hingga memutuskan untuk segera pergi dari sana secepatnya.
"Sudahlah kalau itu keinginanmu aku tidak akan mengusirmu lagi, tinggallah disini selama kau ingin," balas tuan Antonio yang membuat Anindita sangat senang sekali.
Dan setelah mengatakan hal itu tuan Antonio langsung pergi ke kamarnya dengan cepat dan terus saja masih berusaha keras menahan ekspresi datar di wajahnya sampai dia masuk ke dalam kamar dan langsung berjingkrak kegirangan seperti orang gila yang begitu bahagia.
"Jiaaa...hahaha..hore.hore..syalalal..syalala..lalala..ahahah..aku berhasil hola gila..Yeay... Awas saja kau Anindita meski kau sekarang mengatakan tidak menyukai aku, tapi sebentar lagi aku akan membuatmu jatuh hati denganku, hahah lihat saja nanti!" Ucap tuan Antonio dengan penuh telat di dalam dirinya saat itu.
Dia terus saja naik ke atas ranjangnya dan meloncat dengan sekuat tenaga dan sangat tinggi di kamarnya saking merasa senangnya mendengar Anindita yang menahan dirinya agar tidak mengusir dia dari rumah ini, semua ucapan dari Anindita yang begitu tegas terdengar sangat menyenangkan di telinganya.
Tuan Antonio tidak bisa berhenti merasa sangat gembira atas semua ini bahkan dia sampai lupa dengan usianya saat itu yang terus berjingkrak di atas ranjangnya bak seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah besar di hari ulangtahunnya.
Sedangkan disisi lain Anindita hanya terlihat berjalan dengan hati-hati untuk menaiki tangga dan dia merasa kesal juga cukup emosi kepada tuan Antonio karena sudah pergi menaiki tangga menuju kamarnya seorang diri dengan meninggalkan dirinya begitu saja padahal saat itu kaki Anindita baru saja selesai di obati dan dia harus berjalan menaiki tangga yang cukup tinggi disana.
Baru melihat lengkungan anak tangganya saja itu sudah membuat Anindita terbelalak dan harus menghembuskan nafas dengan lesu.
"Aaahhh...apa aku bisa berjalan dengan kaki begini menaiki tangga yang panjang dan melengkung tinggi ini?" Gerutu Anindita yang sangat sebal saat melihat tangga itu.
Dia baru saja hendak menurunkan kakinya ke lantai namun disaat baru saja dia hendak menginjakkan kakinya dan menahan tubuhnya sambil hendak berjalan dia sudah langsung meringis kesakitan dan kembali harus duduk lagi di sofa karena rasa sakitnya justru malah semakin parah dan terasa begitu banyak setelah di obati oleh obat merah.
Karena rasa peringatan itu me.buat Anindita tidak bisa menurunkan kakinya lagi ataupun membuatnya untuk berjalan menaiki tangga seperti itu.
"Aaaahh..sial kenapa malah semakin sakit begini," gerutu Anindita terus menggerutu kesal.
Dia bingung sendiri memikirkan cara agar dia bisa pergi menaiki tangga dan pergi segera dari sana namun tidak ada yang bisa dia lakukan selain dari meminta bantuan pada pelayan pria yang ada disana Maret saat itu sudah cukup malah pelayan wanita sudah pasti pulang dan tidak ada di rumah tersebut pada jam segini.
"Pak...pak..hei... bisakah kau panggilkan penjaga di depan untuk membantu menggendongku menaiki tangga, setidaknya sampai ke depan kamar," ucap Anindita meminta tolong pada seorang pelayan yang terlihat sudah cukup tuan untuk memanggil penjaga di depan.
Namun pelayan itu justru malah membelalakkan matanya dengan sangat lebar dan dia malah langsung mengatakan bahwa tuan Antonio akan segera membantu Anindita saat itu.
"Ohhh..maaf nona tetapi tidak ada siapapun yang bisa menggendong anda kecuali tuan Antonio dan jika anda kesulitan biar saya akan memanggilkan tuan Antonio untuk anda, permisi nona tuan Antonio akan segera tiba nanti," balas pelayan itu yang membuat Anindita langsung membelalakkan matanya dengan sangat lebar dan tidak habis pikir lagi dengan pelayan tersebut yang malah mau memanggilkan Antonio untuknya.
"Aishh...hei.. tunggu...hei jangan panggil dia aku bisa sendiri saja jika penjaga tidak ada yang bisa membantuku!" teriak Anindita untuk menahan pelayan tersebut saat itu.
__ADS_1
Namun sayangnya pelayan itu sama sekali tidak mendengarkan teriakkan dan ucapan dari Anindita saat itu dan dia malah terus saja pergi menaiki tangga untuk mencari tuan Antonio sama seperti yang dia katakan kepada Anindita sebelumnya.
Anindita benar-benar sangat kesal sekali sampai dia menggerutu keras sebab pelayan itu tidak mendengarkan ucapan dan perintah darinya untuk berhenti saat itu.