TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Bahkan disaat dia tengah memeriksa salah satu pasiennya, pikiran dokter Gavin terus saja memikirkan mengenai Anindita entah kenapa saat itu dia merasa cemas tanpa alasan pada Anindita padahal setahu dia Anindita selalu mengambil obat yang dia berikan selama ini, namun memang ada sedikit rasa aneh di dalam hati dokter Gavin sebab biasanya Anindita sendiri yang akan datang menemui dia untuk mengambil obat itu dan setiap kali ke rumah sakit untuk mengambil obat Anindita selalu saja menemui dia dan terus mengikuti dia seharian di rumah sakit.


"Kenapa aku tidak bisa berhenti untuk mencemaskan Anindita, apa sesuatu terjadi dengannya? Aahhh...kenapa ini sangat mengganggu pikiranku" batin dokter Gavin terus memikirkan semua itu dan tidak bisa menghentikan pikirannya sendiri.


Namun beberapa Minggu ini dokter Gavin sama sekali tidak pernah bertemu dengan Anindita lagi, tapi semua catatan menunjukkan bahwa Anindita sudah mengambil obat tersebut oleh ibunya bahkan di saat dokter Gavin yang terakhir kali memeriksa Anindita di rumahnya dia mereka penyakit kanker di hatinya sudah mereda walaupun tidak banyak, tetapi itu tetap harus di barengi dengan obatnya selama mereka belum bisa menemukan pendonor yang bisa memberikan hatinya untuk melakukan pencangkokan hati bagi Anindita nantinya.


"Dia juga sudah lama tidak menemuiku atau mencariku, apakah penyakitnya menjadi parah? Atau sebaiknya aku menemui dia nanti untuk menjenguk dia dan memeriksanya sekaligus, tapi bukankah ini belum waktunya untuk dia periksa? Aahhh." tambah dokter Gavin yang terus merasa resah sendiri.


Meski pun sudah ada yang bersedia melakukannya tetapi selalu saja terdapat ketidak cocokan dengan hati Anindita, seakan operasi tersebut tidak bisa di laksanakan bahkan hati ibunya sendiri tidak bisa di cangkokan pada putrinya sendiri terlebih ketika mengingat kondisi ibu Kasih yang juga sudah tidak muda lagi di tambah aktivitas yang dia jalani juga cukup keras dan berat sehingga hal itu akan terlalu beresiko jika mengambil dari hati ibu Kasih sendiri.


"Siapa pria tadi, apa dia juga mengidap penyakit yang sama dengan Anindita?" Batin dokter Gavin terus saja memikirkan.


Namun karena dia tengah mengobati pasien suster disana segera menyadarkan dokter Gavin sehingga dia bisa kembali berfokus pada pekerjaan yang tengah dia lakukan dan mengesampingkan masalah Anindita yang dia pikirkan sedari tadi.


Disisi lain tuan Antonio terus saja menunggui Anindita yang masih belum sadarkan diri, dia terus duduk di samping ranjang Anindita dan memegangi tangannya dengan erat sambil mengusapnya lembut beberapa kali dan terus memiliki banyak harapan untuknya.


"Gadis pemarah kau harus bangun, bukankah kau sangat pemberani dan bahkan kau tidak takut kepadaku atau macan peliharaanku, aku memerintahkan kau untuk bangun sekarang juga, ayo bangun dasar bodoh kenapa kau tetap tidak bangun juga" ucap tuan Antonio yang menggambarkan dan mengutarakan rasa cemas di dalam dirinya dengan cara yang berbeda dengan kebanyakan orang.


"Kalau kau tidak bangun aku akan mengungkapkan semua rahasia berharga milikmu kepada semua orang dan aku akan mencari keluargamu lalu mengatakan semua rahasia itu kepada mereka agar kau ketahuan, apa kau mendengarkan aku gadis konyol hah!" Ucap tuan Antonio terus saja bicara seorang diri pada Anindita yang masih terlihat menutup mata saat itu.


Sampai tuan Antonio sudah benar-benar merasa lelah dia tertunduk sambil memegangi tangan Anindita yang dia taruh di jidatnya saat itu, sampai tidak lama Anindita ternyata sudah siuman sejak beberapa menit yang lalu, tepat ketika tuan Antonio berbicara kepadanya, itu ternyata cukup manjur dan bisa membangunkan Anindita dengan cukup efektif.


"Antonio apa yang kau bicarakan, kau sudah berjanji untuk menjaga rahasia itu, kenapa kau mau membongkarnya disaat aku tidak sadarkan diri, CK...dasar kau tidak bisa di percaya" ucap Anindita sambil menatap tajam kepada tuan Antonio saat itu.


Mendengar suara Anindita yang memarahi dia tuan Antonio langsung saja memebalalakkan matanya dengan sangat lebar dan dia begitu senang ketika melihat Anindita sudah siuman saat itu.

__ADS_1


Namun walau begitu tetap saja tuan Antonio tidak pandai mengekspresikan rasa senang di dalam dirinya itu sehingga dia hanya tersenyum mengangkat ujung bibirnya sedikit saja, sambil tersenyum kecil kepada Anindita saat itu dan mulai membalas ucapannya barusan.


"Aku akan membocorkan rahasia itu jika kau tidak bangun, karena sekarang kau sudah bangun maka aku akan tetap menutup mulut" balas tuan Antonio membuat Anindita tersenyum kecil menanggapi ucapannya barusan.


"Dasar kau sialan" balas Anindita sambil menahan senyum di wajahnya sendiri.


Anindita kemudian berusaha untuk bangkit berdiri di merasa tidak nyaman jika terus berbaring di ranjang rumah sakit seperti itu, meski dia tahu bahwa tubuhnya tidak sehat namun dia sama sekali tidak ingin terlihat sebagai seseorang yang mengidap penyakit kanker seperti ini, dia tidak pernah mau terlihat lemah ataupun mendapatkan empati dan rasa kasihan dari orang lain kepada dirinya, jadi sejak kecil dia sudah terbiasa untuk menjadi gadis yang kuat dan tumbuh dengan semua keberanian yang ada pada dirinya.


"Aaaahh...." Ucap Anindita yang meringis merasakan sakit.


Tuan Antonio langsung menahan Anindita dengan cepat dan dia menatap tajam dengan mengerutkan kedua alisnya, tuan Antonio langsung melarang Anindita untuk bangkit terduduk karena saat itu dia baru saja bangun siuman.


"Heh...kau mau apa? Sudah diam dan tetaplah tertidur, kau ini baru saja siuman sudah banyak bergerak apa kau ini robot atau manusia? Bagaimana bisa kau terus menahan sakit di tubuhmu terus menerus, padahal semua orang tahu rasanya mendapatkan kanker itu menyakitkan, ayo kembali tidur tidak usah duduk" ujar tuan Antonio sambil kembali membantu Anindita untuk merebahkan tubuhnya.


Anindita hanya menatap dengan penuh keheranan, dia tidak mengerti kenapa pria di hadapannya yang tidak memiliki belas kasihan pada siapapun itu justru malah menyuruhnya agar beristirahat kembali, walaupun caranya cukup kasar tetapi Anindita mengerti maksud yang tersirat dari ucapan tuan Antonio tersebut karena dia juga orang yang sama kasarnya dengan tuan Antonio sebelumnya.


Namun seiring dengan bertambahnya usia Anindita mulai bisa menerima semuanya dan dia bisa menjadi lebih baik lagi di bandingkan sebelumnya, dia bisa tumbuh menjadi Anindita yang sudah merubah dirinya, meski dia menjadi lebih tertutup dan lebih suka mengurung diri akibat hal tersebut.


Tapi kini dia malah bertemu dengan seseorang yang karakternya hampir sama dengan diri dia yang dulu, sehingga setiap kali melihat tuan Antonio marah ataupun membentak dia, Anindita selalu menahan senyum bukannya takut, sebab dia pernah ada di posisi itu juga, sehingga dia mengira dan percaya bahwa semua hal yang dilakukan oleh tuan Antonio kepadanya akan selalu memiliki alasannya sendiri dan semua tidak selamanya jahat, meskipun Anindita sendiri merasa kesal dan sedikit membencinya karena dia pernah hampir memberikan Anindita sebagai santapan macannya sendiri.


Kejadian itu tidak bisa di lupakan oleh Anindita bahkan mungkin untuk selamanya Anindita tidak akan bisa melupakan kejadian yang paling mengerikan selama hidupnya saat itu, sehingga dia terus mengingatnya dengan sangat baik di dalam memori otaknya.


Meski saat itu Anindita sendiri terus berontak dan berusaha untuk meminta pulang ke kediaman Antonio tetapi tuan Antonio tetap menahannya dengan sekuat yang dia bisa, karena dokter Leo sudah mengatakan bahwa Anindita harus di rawan setidaknya untuk tiga hari saja, agar bisa memulihkan energi di dalam tubuhnya agar dia bisa lebih kuat dan memiliki stamina yang stabil.


"Antonio aku tidak suka terus seperti ini seperti orang sakit, aku ingin pulang ayo kita pulang" ucap Anindita yang masih saja berusaha untuk bangkit dan turun dari ranjang tersebut.

__ADS_1


"Heh bodoh, apa yang kau bilang, kau ini memang tengah sakit untuk apa juga kau mau pulang kau harus tinggal di rumah sakit untuk beberapa hari dan dokter Leo akan terus memeriksa keadaanmu hingga kau membaik baru kau boleh pulang, aku juga akan tinggal di sini denganmu, apa kau mengerti hah?" Balas tuan Antonio membuat Anindita tertawa kecil menanggapi ucapan tersebut.


Anindita ini memang terlihat cukup menarik dan karakter dia berbeda sekali dengan gadis lain pada umumnya yang akan menuruti ucapan orang lain ataupun selalu berpura-pura dan bersikap lemah di hadapan pria, tetapi Anindita justru malah terus saja terlihat kuat seakan dia tidak membutuhkan apapun dan bisa menyelesaikan semuanya sendiri.


Dia adalah sosok wanita yang terlalu mandiri dan selalu tidak ingin terlihat lemah atau meminta bantuan pada orang lain, karena dia tidak terbiasa dengan hal semacam itu.


"Haha....apa yah kau ucapankan barusan, apa kau bercanda ya? Ahahah...Antonio untuk apa aku tinggal disini, lihat aku baik-baik, aku sehat dan sudah baik-baik saja, tadi itu hanya kelelahan dan telat tidak memakan obat sebab obatku sudah habis, jadi aku hanya pingsan biasa saja, aku sering seperti ini, untuk apa harus di rawat di rumah sakit memangnya aku ini lumpuh, sampai tidak boleh bergerak dan bangkit dari ranjang" balas Anindita yang tetap berusaha bangkit terduduk sendiri, padahal saat itu infusan masih menempel di tangannya tapi dia masih saja bisa mengatakan hal seperti itu seakan dia benar-benar wanita yang sangat kuat.


"Heh...jangan bersikap sok kuat di hadapanku, karena kau tetap sangat lemah di mataku, jadi menurut saja jangan merepotkanku lebih banyak lagi, apa kau mengerti" balas tuan Antonio.


Namun sayangnya ucapan dari Antonio itu sama seki tidak bisa menghentikan seseorang seperti Anindita yang memiliki tekad yang cukup kuat, dia tetap saja tidak memperdulikan Antonio dan malah melepas infus yang menempel di tangannya sekaligus tanpa rasa sakit sedikit pun.


"Nih....lihat aku baik-baik saja melepaskan infus saja aku bisa melakukannya sendiri, sudahlah jika kau tidak mau pulang, kau saja yang tinggal di sini sendiri, aku malah mencium bau rumah sakit, karena aku tidak sakit" balas Anindita yang langsung berdiri turun dari ranjangnya.


Namun disaat Anindita hendak berjalan dia merasakan kepalanya sedikit pusing hingga dia langsung saja hendak terjatuh saat itu, tapi untungnya dengan cepat tuan Antonio menangkap tubuhnya dan mulai bicara lagi kepada Anindita di hadapannya ketika dia memegangi tubuh Anindita sendiri dengan kedua tangannya.


"Nah kan...mana yang kau bilang kau tidak sakit, buktinya berjalan saja kau sempoyongan seperti ini, sudahlah Anindita menurut sedikit dan tetaplah disini, tidak ada salahnya jika kau di rawat untuk beberapa hari saja, kau juga manusia dan bisa beristirahat jika kau mau, apa kau mengerti hah?" Balas tuan Antonio menahannya lagi saat itu.


Anindita yang mendapatkan ucapan seperti itu dari tuan Antonio dia segera melepaskan diri dari pegangan tangan tuan Antonio secepatnya dan tetap saja dengan keinginannya untuk segera pulang dan meninggalkan rumah sakit tersebut.


Bukan karena apapun tetap Anindita memang sangat membenci rumah sakit dia tidak ingin datang ke rumah sakit manapun apalagi Anindita tahu bahwa itu adalah rumah sakit yang sering di kunjungi dokter Gavin, dia hanya merasa cemas dan takut dokter Gavin tengah berada di rumah sakit itu dan bisa saja menemukan keberadaan dia di tempat ini, dan nanti dia tidak bisa menjelaskan semuanya kepada dokter Gavin lagi.


"Antonio aku tetap ingin pulang jika aku hanya perlu di infus aku kan bisa melakukannya di rumah, bukankah kau ini orang kaya tidak mungkin kau tidak bisa menyewa dokter ke rumahmu untuk memeriksaku secara khusus, aku tidak ingin disini, aku benci rumah sakit dan dengan izin atau tidak sekalipun darimu aku tetap akan pergi" balas Anindita dengan semua sifat keras kepala yang dia miliki sambil menghempaskan tangan tuan Antonio yang menahan tangannya saat itu.


Anindita terus saja berjalan perlahan untuk pergi menuju pintu keluar dan tuan Antonio merasa sangat kesal juga tidak memiliki pilihan lain sehingga dia langsung saja menghampiri Anindita lalu mulai mengijinkannya dan menuruti keinginan dia untuk kembali ke rumah saat itu juga.

__ADS_1


"Anindita berhenti, oke.... Kau boleh pulang tapi tunggulah sejenak sampai sekretaris Seno kembali baru kita akan pergi sekarang kau duduk dahulu dia tengah mengambil obat untukmu" ucap tuan Antonio yang pada akhirnya harus tetap mengalah juga karena Anindita sangat keras kepala bahkan lebih keras kepala di bandingkan siapapun yang pernah dia hadapi selama ini.


Bahkan tuan Antonio harus berkali-kali mengatur nafas dan mengontrol emosi di dalam dirinya dalam menghadapi Anindita tapi dia tetap melakukan yang terbaik untuk kebaikan Anindita juga saat itu, sebab dia tidak ingin jika harus kembali melihat Anindita kesakitan seperti sebelumnya di hadapan dia dan tuan Antonio sendiri tidak bisa melakukan apapun untuk bisa menolongnya saat itu.


__ADS_2