
Oma langsung memarahi Anindita dan menepuk punggungnya sedikit keras.
"Plukk .. kau dasar gadis brandalan, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu, jika perlu aku akan berikan hatiku untukmu dan biarkan saja aku yang mati, dasar kau gadis bodoh!" Bentak Oma sambil menepuk punggung Anindita.
"Aaaww... Aaahh ibu lihatlah Oma mem*kul aku lagi, dia ingin menghancurkan aku" ucap Anindita yang selalu mengadu pada ibunya,
"Ya ampun Oma kenapa kau menepuk putriku, dia itu sakit Oma kau selalu saja seperti itu" ucap ibunya menegur sang Oma.
Dan hal tersebut selalu memicu gelak tawa dari Anindita juga dokter Gavin yang sudah terlalu sering melihat ibu kasih berdebat dengan oma hanya karena Anindita yang selalu mengadu pada ibunya.
"Ahahaha..... Sudah ibu, Oma jangan berdebat lagi aku ingin pulang dan istirahat ayo kita segera pergi" ucap Anindita menghentikan perdebatan diantara kedua orang yang sangat dia cintai tersebut.
Mereka pun segera pulang ke rumah dan Anindita langsung kembali ke kamarnya dia tidak benar-benar istirahat saat itu karena dia meminta segera pulang untuk menggeledah kamarnya sendiri dan mencari tahu secara langsung siapa sebenarnya wanita yang menyamar dan berpura-pura menjadi dirinya selama dia tertahan oleh pria tua pemabuk dan pencuri sialan di rumah yang jelek sebelumnya.
Tapi sayangnya disaat Anindita sudah menggeledah seisi kamarnya dia tidak bisa menemukan apapun disana dan dia justru malah sudah merasa sangat lelah sekarang karena tidak kunjung menemukan apapun.
"Aaaahhh... Sial wanita itu sungguh seperti hantu, dia tidak meninggalkan jejak apapun disini, kemana aku harus mencarinya yah?" Gerutu Anindita memikirkan terus.
Sampai tidak lama dia teringat dengan Ben dan lukisan tersebut sehingga Anindita sangat yakin bahwa dia benar-benar tertukar dengan putri dari pria pemabuk tersebut sehingga dia berniat untuk pergi menemui wanita bernama Anindya itu lagi ke tempat tinggalnya.
"Aahhh... Iya kenapa aku tidak pergi ke sana saja yah, iya betul aku harus bisa pergi ke rumah jelek itu lagi dan menemui gadis itu untuk mengembalikan lukisan yang sudah dia curi, aaahhhh aku sangat sebal ketika mengingat Ben yang malang itu" gerutu Anindita memikirkan.
Saat itu juga Anindita langsung bersiap siap untuk pergi ke sana karena dia masih mengingat dengan jelas alamat rumah tersebut namun sayangnya dia lupa bahwa ada Oma dan ibunya di rumah itu sehingga dia tidak akan bisa pergi dari sana dengan mudah dan bebas, mereka selalu tidak mengijinkan dia pergi ke luar dan selalu menyuruh dia diam di rumah dan beristirahat sedangkan Anindita sendiri sangat ingin merasakan dunia luar yang selama ini belum pernah dia nikmati.
"Aahh... Sial aku lupa ada ibu dan Oma, bagaimana cara aku bisa pergi kesana jika Oma dan ibu terus ada disana, aaahhh apa yang harus aku lakukan sekarang" gerutu Anindita terus saja kebingungan sendiri.
__ADS_1
Sampai sebuah ide mulai muncul di kepalanya, dia mulai berpikir untuk membuat tiruan dirinya.
"Aahh... Benar juga kenapa aku tidak kabur lewat jendela saja, lantai dua sampai ke taman tidak cukup tinggi bukan?" Ujar dia memikirkan.
Anindita yang selalu berontak dan dia keras kepala, dia tidak takut apapun sehingga dia mulai mengumpulkan selimut dan seprai yang ada di dalam lemarinya lalu menyambungkan semua itu satu sama lain dan mengikatkan tali itu ke balkon kamarnya hingga menjuntai ke bawah, setelah itu Anindita juga mengambil wig yang selalu dia pakai sesekali dan menaruhnya di atas bantal serta menyelimuti seluruh guling yang ada di ranjangnya dengan selimut agar tebal sehingga mulai menampakkan seperti tubuh dirinya yang tengah tertidur lelap.
"Nah ini baru bagus, aku harus pergi sekarang juga" ucap Anindita bicara sendiri.
Dia segera turun dengan selimut dan seprai yang dia satukan hingga meloncat ke bawah dan tidak lupa Anindita sebelumnya sudah membawa obat miliknya dengan jumlah yang cukup banyak, karena dia takut akan terjadi sesuatu disaat dia melakukan operasi penangkapan wanita peniru dirinya.
Anindita berhasil mengelabui oma dan ibunya sendiri, dia pergi dengan perasaan senang karena akhirnya bisa merasakan dan kembali menghirup udara segar melihat banyak kendaraan yang melintas di sekitar sana, namun karena dia tidak membawa uang dia tidak tahu harus melakukan apa saat itu tapi dia membawa kartu ATM yang di berikan ibunya, dia sudah sangat lama tidak menggunakan kartu itu dan tentu saja di dalam tabungannya terdapat banyak uang milik dia yang dia kumpulkan selama ini, Anindita berniat pergi ke ATM terdekat untuk mencairkan uangnya dahulu tapi sayangnya tidak ada tempat pengambilan uang di sekitar sana.
"Aishh... Sial kalau begitu bagaimana aku bisa membayar taxi?" Gerutu Anindita merasa resah dan bingung.
"Aahhh... Aku terpaksa harus menipu orang lain jika begini, maafkan aku yang siapapun kamu yang menolongku aku akan sangat berterimakasih kepadamu nanti" ucap Anindita yang langsung saja menghentikan sebuah mobil yang melintas saat itu.
"Stoppp!" Teriak Anindita sambil meloncat ke tengah jalan secara tiba-tiba dan merentangkan tangannya.
Untung saja mobil tersebut mempunyai rem yang sangat kuat dan bagus sehingga masih sempat menghentikan laju mobilnya disaat jarak antara mobil bagian depan dengan tubuh Anindita hanya berjarak beberapa cm saja. Bahkan Anindita sendiri merasa sangat syok saat itu dan dia langsung jatuh ambruk ke bawah karena merasakan kakinya yang bergetar dan lemas.
"Oh... Astaga aku hampir saja mati tertabrak" ucap Anindita sambil memegangi detak jantungnya yang terus berdegup sangat kencang.
Sampai tidak lama orang yang ada di dalam mobil itu keluar berserta supirnya, dan ternyata orang tersebut adalah tuan Antonio yang sangat kejam dan menakutkan.
"Heh apakah kau bosan hidup, aku bisa membunuhmu dengan tanganku sendiri jika kau ingin mati dengan cepat" ucap tuan Antonio dengan memakai kacamata hitam,
__ADS_1
Anindita menengok ke atas dan kaget melihat ternyata itu adalah pria yang menipu lukisan tersebut.
"KAU?" Ucap Anindita dengan keras dan langsung membelalakkan matanya.
Dia langsung berusaha berdiri namun tidak bisa karena kakinya masih merasa lemas saat itu.
"Aahhh.... Hey apa kau seorang pria? Tidak bisakah kau membantu aku untuk berdiri kakiku kesemutan dan aku masih lemas" ucap Anindita dengan penuh keberanian kepada seorang tuan Antonio yang kejam.
Mendengar itu sang supir juga sangat kaget karena hanya dia wanita dan orang pertama yang berani berbicara seperti itu kepada tuan Antonio dan dia juga sudah melihat kejadian itu dia kali.
"Astaga.... Nona biar aku saja yang membantumu" ucap Seni yang merupakan tangan kanan Antonio.
Anindita langsung menghempaskan tangan Seno yang saat itu hendak membantunya berdiri dan dia langsung menunjuk ke arah Antonio yang menatap lurus ke depan dengan memakai kacamatanya dan sama sekali tidak menghiraukan Anindita sedikitpun saat itu.
"Tidak. Aku mau pria itu yang membantuku!" Ucap Anindita dengan tegas.
Antonio langsung menengok ke arah Anindita sambil membuka kacamata dan menaruh kacamata itu di di tengah-tengah kemejanya tersebut lalu dia tersenyum kecil dengan sinis menatap ke arah Anindita.
"Jangan harap aku akan membantumu, Seno ayo kita pergi saja biarkan wanita gila ini disini" ucap Antonio sambil segera masuk ke dalam mobilnya.
Seno juga segera menuruti perintah tuannya tersebut dan segera masuk ke dalam mobil, namun disisi lain Anindita yang tidak terima dia langsung berusaha bangkit meski dengan kaki yang sedikit sakit dia berusaha bangkit sendiri dan menahan pintu mobil yang saat itu hampir di tutup oleh Antonio.
"AA..a.a..aahh tunggu, aku mohon tolong aku, aku butuh tumpangan aku mohon" ucap Anindita memohon karena terpaksa.
Antonio tetap mengabaikannya dan dia terus berusaha menarik pintu mobilnya dan berusaha menyingkirkan Anindita saat itu namun sayangnya Anindita adalah gadis yang cerdik dia langsung masuk ke dalam mobil itu dengan mendorong tubuh Antonio sekaligus, lalu menutup pintu mobilnya dengan cepat hingga dia berada duduk di sebelah Antonio saat itu.
__ADS_1