
Saat Anindita berjalan lebih dulu dia mulai semakin merasakan sakit di tubuhnya dan itu terasa semakin menjadi sehingga dia menggenggam dada atas bagian kanannya merasa sakit di bagian organ hatinya yang teramat sangat, sulit untuk dia tahan.
"AA ....a...aaaahh....kenapa ini harus terasa semakin sakit, biasanya tidak seperti ini" gerutu Anindita saat itu.
Antonio yang melihat Anindita tertunduk seperti itu dia langsung bergegas mendekati Anindita dan memegangi kedua pundaknya mencoba untuk memeriksa keadaan Anindita dan dia mencoba untuk membawanya segera masuk ke dalam mobil dengan cepat, juga segera menyuruh Seno untuk mengemudikan mobil, membawanya ke rumah sakit terdekat yang berada di wilayah itu.
"Anindya apa kau baik-baik saja?" Tanya Antonio saat itu,
"Sakit....ini sakit sekali aaahhh.....aku ingin obatku, itu ada di rumah aku tidak membawanya" ucap Anindita dengan terbata-bata karena dia menahan rasa sakit di uluh hatinya kala itu.
Antonio yang sudah mengetahui bahwa Anindya memiliki penyakit yang aneh dia langsung saja menggendong Anindita yang saat itu semakin terlihat pucat dan kesakitan seperti itu, bahkan Anindita sendiri tidak bisa melakukan apapun lagi sebab dia hanya bisa diam karena merasa sangat lemas saat itu dan hanya bisa pasrah saja ketika tuan Antonio menggendongnya saat itu.
"Seno, cepat pergi ke rumah sakit terdekat" ucap tuan Antonio memerintah saat itu.
Anindita langsung saja menggelengkan kepalanya dengan cepat dan dia berusaha untuk menolak ketika tuan Antonio hendak membawanya ke rumah sakit, dia tidak ingin tuan Antonio mengetahui mengenai penyakit kanker hati yang dia idap saat itu, padahal tanpa Anindita ketahui, tuan Antonio sebenarnya sudah mengetahui mengenai hal itu hanya dari obat yang sering di minum olehnya dimana Anindita hanya mengatakan bahwa obat tersebut hanyalah sebuah vitamin tapi tuan Antonio sama sekali tidak semudah itu untuk di bodohi, dia bahkan sudah menerima salah satu obat yang sering di minum oleh Anindita kepada dokter pribadi miliknya dan sudah mengonfirmasi secara pasti bahwa obat-obatan tersebut adalah obat kanker hati.
"Jangan.....aku tidak mau ke rumah sakit, aku hanya ingin minum obatku, jangan bawa aku pergi Antonio" ucap Anindita sambil menahan sakitnya saat itu.
"Kau tidak di izinkan untuk bicara" balas tuan Antonio dengan nada yang dingin dan datar.
Antonio tetap tidak mendengarkan ucapan dari Anindita dan dia tetap membawa Anindita untuk pergi ke rumah sakit sedangkan Anindita sendiri terus saja berusaha menahan Antonio agar tidak membawanya bahkan saat mereka sampai di depan rumah sakit, Anindita terus menolak Antonio yang hendak menggendongnya keluar saat itu.
"Antonio aku benar-benar tidak ingin ke rumah sakit, aku baik-baik saja Antonio tolong jangan paksa aku untuk pergi ke rumah sakit, aku tidak ingin pergi kesana" ucap Anindita terus menolaknya dengan sekuat tenaga yang dia miliki saat itu.
Hingga tuan Antonio yang sudah merasa kesal dan jengkel sebab Anindita yang terus saja tidak ingin pergi ke rumah sakit, padahal sudah jelas dia terlihat sangat kesakitan seperti itu.
"Anindya apa kau bodoh atau memang kau bosan hidup hah? Kau sudah kesakitan sampai seperti ini, kenapa kau tetap tidak ingin pergi, kau harus pergi setuju atau tidak aku akan tetap membawamu ke rumah sakit jadi diamlah, kau tidak akan bisa berontak dalam kondisimu saat ini!" Ucap tuan Antonio sambil langsung menggendong Anindita dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit dengan cepat.
Dia segera pergi di periksa oleh dokter dalam waktu yang cukup lama hingga kemudian dokter mulai memberikan hasil dari pemeriksaan yang sudah mereka lakukan pada Anindita dan tentu saja dokter mengetahui tentang penyakit kanker hati stadium akhir yang di idap oleh Anindita saat itu.
Sekretaris Seno yang berada di luar menunggu mereka sama sekali tidak mengetahui hal itu tetap tuan Antonio jelas mengetahui semuanya bahkan dia sudah tidak heran atau kaget sedikit pun ketika mengetahui kabar tersebut dari sang dokter karena dia sudah menduga hal tersebut sebelumnya, jauh dari hari tersebut.
__ADS_1
Sedangkan disisi lain Anindita merasa sangat tidak percaya dan keheranan sendiri melihat tuan Antonio yang terus memasang wajah datar juga terlihat santai saja ketika mendengar ucapan itu dari sang dokter, padahal Anindita pikir dia sama sekali tidak pernah membicarakan mengenai penyakitnya dan dia juga sama sekali tidak mengatakan apapun mengenai penyakitnya tersebut selama tinggal dan berada di samping tuan Antonio selama ini.
"Tu...tu...tuan... Aku minta maaf karena merahasiakan semua ini darimu, tapi sekarang kamu sudah tahu semuanya jadi sebaiknya kita memang tidak perlu melanjutkan rencanamu untuk menikahi aku" ucap Anindita dengan tertunduk berpura-pura sedih saat itu.
Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa karena dia merasa takut dan cemas tuan Antonio akan mengetahui identitas aslinya karena penyakit tersebut, dan jika sampai ayah ya Anindya mengetahui hal tersebut juga mengira bahwa putri ya mengidap penyakit seperti ini, Anindita pikir dia benar-benar akan menghancurkan hidup Anindya nantinya jadi dia memutuskan untuk berbicara lebih dulu pada tuan Antonio dan memakai kesempatan ini untuk memutuskan hubungan dengannya, barulah setelah itu dia akan memikirkan mengenai ayahnya Anindya ke depannya dan cara menjelaskannya nanti.
Tapi sayangnya rencana yang sudah di pikirkan oleh Anindita sama sekali tidak berhasil dengan baik dan mulus seperti yang dia harapkan, karena tuan Antonio sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, dan dia merasa sangat yakin bahwa penyakit Anindita ini bisa di obati sebab dia memiliki segalanya dan bisa membawa Anindita berobat ke luar negeri atau mencari dokter terbaik di manapun berada untuk mengobati penyakitnya tersebut.
"Kenapa kau meminta maaf, aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu" balas tuan Antonio yang membuat Anindita merasa sangat kaget juga langsung membelalakkan matanya dengan sangat lebar saat itu.
"HAH?...kau...apa kau sudah gila yah, penyakitmu ini sangat berbahaya dan ini sudah stadium akhir, aku tidak akan hidup lebih lama lagi, kau akan menyesal jika menikah denganku" ucap Anindita mengatakan semuanya dengan lantang,
"Justru aku akan menyesal jika tidak mempertahankan hidupmu, penyakitmu itu masih bisa di obati dokter mengatakan kau masih bisa melakukan pencangkokan hati" balas tuan Antonio saat itu,
Anindita hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan dari tuan Antonio barusan, karena sebelumnya dia sudah mencari sejak lama bahkan hingga bertahun-tahun lamanya untuk mencari seseorang yang mau mencangkokkan hatinya untuk dia, atau mendonorkan hatinya, tapi sayangnya tidak ada siapapun yang mau melakukan itu meski ibunya sudah menawarkan bayaran yang sangat fantastis sekalipun.
"Apa kau tahu Antonio seberapa persen kemungkinan pencangkokan hati itu berhasil? Atau aku mungkin bisa menerima donor agar bisa sembuh total tetapi memangnya ada orang yang memiliki kecocokan denganku, dan jika ada belum tentu orang itu mau melakukannya Antonio" balas Anindita mengatakannya,
"Bisa, asal denganku semuanya pasti bisa aku akan mengusahakan apapun yang terbaik untukmu, dan kau tidak perlu mencemaskan apapun, kau akan sembuh dan kita akan tetap menikah" balas Antonio yang masih saja meras kepala dengan keputusannya tersebut.
"Antonio kau benar-benar konyol dan bodoh, kenapa kau melakukan semua ini untukku, apa kau sangat menyukai aku?" Ucap Anindita saat itu.
"Tidak... Aku hanya ingin menikahimu saja, dengan begitu aku bisa menghindari semua perjodohan dari banyak orang dan klien ku sendiri, aku bisa hidup dengan bebas jika aku menikahi wanita sepertimu" balas Antonio kepada Anindita.
Mendengar semua itu Anindita semakin di buat kesal dan tidak habis pikir dengan pemikiran yang di buat oleh Antonio pada dirinya, dia tahu mungkin dirinya tidak memiliki banyak waktu dan umur yang lebih lama lagi di dunia ini tetapi bukan berarti sisa-sisa hidupnya akan mengalami masa yang sangat menyebalkan seperti ini, menikah dengan pria yang tidak dia cintai secara terpaksa karena tertekan dan hanya di jadikan sebagai bahan tameng saja, itu terlalu menyakitkan dan sangat menyedihkan bagi Anindita.
Dia tidak bisa menerima semua penderitaan itu, karena baginya mendapatkan kanker hati ini sudah sangat membuatnya menderita dalam waktu yang lama.
"Antonio jika kau tidak mencintai aku, dan hanya menjadikan aku sebagai tamengmu saja, kau bisa berpura-pura mengakui aku sebagai tunanganmu atau pacarmu, tidak perlu aku menjadi istrimu, aku tidak ingin menyia-nyiakan sisa hidupku yang berharga ini hanya dengan menikah pada orang yang tidak aku cintai, dan aku mencintai orang lain" balas Anindita saat itu, dia sengaja mengatakannya bermaksud agar Antonio bisa menghentikan rencana miliknya kepada dia.
Antonio terlihat menatap sangat tajam tatkala mendengar bahwa Anindita sudah menyukai orang lain, dan dia tahu sudah pasti itu bukanlah dirinya sebab Anindita membenci dia sejak awal bahkan hingga saat ini.
__ADS_1
Tapi walau sudah mendengar ucapan dan pengakuan dari Anindita seperti itu, Antonio tetap saja tidak perduli dan tidak mempermasalahkan mengenai hal itu, dia hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan apapun lagi selain itu, bahkan sepertinya dia memang tidak perduli sedikitpun kepada Anindita yang dia kira sebagai Anindya.
"Aku sama sekali tidak perduli jika kau menyukai orang lain, kau bisa bersama orang kau cintai itu, tapi kau harus tetap menikah denganku" balas Antonio yang masih tidak dapat dirubah atas keputusan konyol dan tidak masuk akal yang dia buat sendiri.
"Hah...... Antonio aku ini bukan Anindya, apa kau tetap akan menikahi aku hah?" Bentak Anindita yang keceplosan saat itu saking kesalnya terhadap Antonio yang terus saja tidak menyerah untuk menikahi dirinya.
Hingga dia lupa bahwa dia telah membocorkan sebuah hal yang rahasia dan sangat penting kepada Antonio saat itu.
Antonio yang mendengar wanita di hadapannya mengaku bukan Anindya dia langsung sangat kaget dan membelalakkan matanya dengan sangat lebar, dia merasa sangat aneh dan mulai menaruh banyak kecurigaan kepada wanita di hadapannya saat ini, terlebih dengan semua hal yang bergitu bertolak belakang diantara cerita orang-orang tentang Anindya dengan Anindya yang dia temui selama ini.
Anindita yang baru sadar bahwa dia sudah membocorkan hal paling penting dan rahasia dalam dirinya, dia langsung saja mematung tidak dapat berkata apapun lagi dan hanya bisa merasa cemas juga gugup tidak karuan.
"Astaga...apa yang baru saja aku katakan, aaahh ini akan sangat kacau sekarang, semoga dia tidak curiga aaahh ini akan sulit" gumam Anindita di dalam hatinya yang merasa sangat cemas tidak terkendali.
"Hey ...lihat aku dan katakan siapa kau sebenarnya?" Ucap Antonio yang mulai mencari tahu dengan tatapan sinis yang menusuk saat itu.
Anindita langsung merasa sangat takut dan gugup, wajah Antonio seketika berubah menjadi cukup menakutkan dengan raut wajahnya yang begitu serius dan sangat tajam menatap ke arahnya sambil terus mendesak dirinya.
"Ya tuhan apa yang harus aku katakan padanya sekarang, ayo cari alasan otak, ayo bekerjalah" batin Anindita mencari alasan,
"Kenapa kau terlihat gugup seperti itu, ayo jawab pertanyaan dariku, jika kau bukan Anindya putrinya Doni, lantas siapa kau sebenarnya?" Ucap Antonio saat itu.
Dia bertanya dengan sangat serius karena dia takut seseorang sengaja mengirimkan mata-mata kepadanya terlebih ini berhubungan dengan seorang Doni yang terkenal dengan kelicikan dan ke cerdikan yang dia miliki.
Sehingga yang Antonio takutkan saat itu, dia hanya merasa cemas Doni telah membohongi dia dan menipunya dengan seorang wanita yang mirip dengan putrinya.
"AA..AA..ahhh..kau salah dengar maksudnya itu...tadi aku bukan Anindya yang sehat...iya begitu, aku belum selesai bicara tadi" balas Anindita mengeles dan berusaha membuat Antonio untuk bisa mempercayai ucapannya.
Sayangnya tuan Antonio tidak bisa dia bodongi dengan hal seperti itu, dia terus menyelidiki Anindita dan tidak mempercayai apapun yang di katakan oleh Anindita saat itu meskipun Anindita terus saja berusaha menjelaskan kepadanya bahwa dia sebelumnya salah bicara dan tidak sempat menyelesaikan ucapannya itu.
"Aku .. sungguh mengatakan yang sebenarnya, tadi ..aku hanya salah bicara saja aku belum selesai bicara, begitu haha" ucap Anindita lagi berusaha meyakinkan,
__ADS_1
"Heh....apa kau tahu, siapa orang yang mau hadapi saat ini? Apa kau pikir aku manusia bodoh? Aku sudah mencurigai dirinya dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang antara Anindya yang banyak mereka bicarakan sesuatu informasi sebelumnya, kau sama sekali tidak lemah lembut, dan kau selalu menentang ku sedangkan Anindya di kenal sangat feminim dan dia adalah wanita penurut bukan pembangkang sepertimu, jadi jika kau ingin aman, sebaiknya kau berkata jujur denganmu" ucap Antonio kepada Anindita dengan tatapan sinisnya saat itu.
Anindita benar-benar merasa sangat tegang dan merasakan sulitnya menelan saliva sendiri saat mendengar ucapan dari Antonio yang cukup mengerikan untuk dia dengar saat itu, sedangkan disisi lain dia sungguh tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena ini antara masa depan dua orang bukan hanya dirinya saja.