TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Membantu Anindya


__ADS_3

Saat mendengar itu dari Anindya seketika Anindita terperangah kaget dan dia tidak menduga jika ternyata dia sudah berperasangka buruk kepada tuan Antonio, dan dia juga sudah berbicara kasar serta menuduh dia sebegitu penipu serta pencuri lukisan tersebut sebelumnya.


"Aishh.... Kenapa kau baru mengatakannya sekarang aaahhh aku akan dalam masalah jika bertemu orang itu lagi" gerutu Anindita merasa cemas sendiri.


Anindya tidak mengerti apa yang terjadi dengan Anindita saat itu sehingga dia hanya bisa menatapnya dengan heran lalu Anindya mulai mengajak bicara lagi pada Anindita yang saat itu tengah kebingungan sendiri sebab dia merasa takut dan cemas kepada tuan Antonio sebab sudah bersikap cukup kasar pada orang asing bernama Antonio tersebut.


"Eummm apa namamu Anindita?" Tanya Anindya kepada Anindita yang langsung membuat dia menatap kepadanya.


"Iya, memangnya kenapa? Kau juga Anindya si pencuri barang antik itu kan, aishh kau tahu tidak, sahabatmu Ben sangat menyukaimu dia memberikan kau hadiah lukisan bunga matahari buatanmu sendiri, itu palsu dan dia memajangnya di pameran seni miliknya aahhh itu sangat mengganggu pikiranku, aku ke sini juga demi sahabatmu Ben aku tidak tega melihatnya di bohongi begitu, tapi mau bagaimana lagi jika memang kenyataannya lukisan itu milik si manusia datar, mungkin memang Ben yang kurang beruntung, aahhh dia terlalu bodoh untuk seorang pecinta seni" ucap Anindita sambil terus saja menggelengkan kepala dan kedua tangan yang berkacak pinggang.


Anindya juga merasa bersalah kepada Ben dan dia sebenarnya juga sangat mencintai Ben, namun sayangnya dia tidak bisa menerima Ben, sebab dia sadar dengan keadaan dirinya sendiri dan posisi ayahnya yang seperti itu, dia hanya tidak ingin membuat Ben merasa malu dengan identitas keluarga dirinya yang sangat kacau di tambah ayahnya yang seorang pemabuk, itu terlalu buruk untuk merusak citra Ben yang sangat baik selama ini.


Anindya hanya tertunduk lesu hingga membuat Anindita merasa heran dan kasihan ketika melihatnya.


"Hey... Kenapa kau terlihat sedih seperti itu, apa kau tidak mencintai si Ben bodoh itu?" Ucap Anindita dengan cukup keras,

__ADS_1


"Aku sangat mencintainya bahkan aku memendam perasaan ini sudah sangat lama, aku ingin menjadi pasangan hidupnya tapi itu tidak mungkin" balas Anindya dengan senyum kecil yang sangat menyedihkan bagi Anindita,


"Ehhh... Kenapa tidak mungkin, dia juga mencintaimu, apa kau bodoh kalian berdua saling mencintai kenapa juga kau tidak langsung menerima dia saja" balas Anindita yang merasa sedikit kesal,


"Tidak bisa Anindita, keluargaku sangat buruk untuknya sedangkan dia dari keluarga yang terpandang, aku hanya akan mempermalukan dia dan keluarganya jika menjadi pasangan hidupnya, lebih baik aku dan dia terus bersahabat seperti sekarang saja, dengan begitu aku tidak akan pernah kehilangan dia" balas Anindya yang membuat Anindita semakin geram,


"Heyy... Kau ini terlalu naif dan konyol, untuk apa kau memikirkan hal yang belum pasti akan terjadi, kau hanya akan menyakiti dirimu dan Ben jika kau melakukan semua itu, aishh tidak tahu lagi bagaimana aku mengatakannya padamu yang pasti aku selalu mengejar seorang dokter sialan yang menolak cintaku setiap waktu tapi aku tidak pernah menyerah hingga saat ini, bahkan mungkin sampai aku mati, tapi kau disaat kalian saling mencintai kenapa kau malah menghalangi cinta itu untuk bersama? Aaahhh kau memang bodoh!" Balas Anindita yang membuat Anindya terus berpikir atas ucapannya itu.


Hingga tiba-tiba saat mereka sibuk membicarakan hal tersebut terdengar keributan dari luar dan nampak ayah Anindya tengah di seret oleh tuan tanah disana dan di paksa untuk membayar sewa atau dia akan benar-benar di usir dari rumah tersebut.


"Ayo keluar kau dari rumahku, ini sudah bukan rumahmu lagi, aishh dasar kau pengangguran sialan!" Bentak sang tuan tanah sambil menyuruh dia bodyguard yang memiliki badan tinggi dan tegak itu menyeret pak Doni dengan kuat,


Anindita dan Anindya yang melihat itu mereka seketika kaget dan membelalakkan matanya dengan lebar, dia sisi lain Anindya terlihat sangat sedih dan dia tidak sanggup melihat sang ayah yang merendahkan dirinya sendiri pada wanita tuan tanah tersebut dengan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya, dan Anindita yang melihat itu entah kenapa hatinya begitu tergerak dan dia ikut marah juga kesal ketika melihat hal tersebut sehingga dia pun menyuruh Anindya untuk tetap bersembunyi disana dan biarkan dia yang menyelesaikan masalah itu dengan segera.


"Anindita kau mau kemana?" Ucap Anindya menahan tangannya,

__ADS_1


"Tenang kau tunggulah disini aku akan menyelesaikan permasalahan bodoh ini, tetap sembunyikan sampai aku kembali lagi nanti, mengerti!" Ucap Anindita dan dia segera melepaskan tangan Anindya yang menggenggam tangannya.


Lalu Anindita langsung menaikkan kedua lipatan pakaian di tangannya dan langsung saja berteriak keras menghina tuan tanah tersebut sesuka hatinya.


"Hey... Wanita kribo" teriak Anindita sampai membuat wanita tuan tanah itu langsung berbalik menatap ke arahnya dan wajahnya mulai terlihat marah,


"Kau... Kenapa siapa kau mengatakan wanita kribo?" Tanya wanita tuan tanah itu masih menahan emosinya,


"CK... Masih belum sadar dengan bentuk rambutmu sendiri yang seperti sarang tawon itu yah, tentu saja aku bicara padamu dasar wanita jelek!" Balas Anindita sambil melipatkan kedua tangannya di dada tanpa rasa takut sedikitpun.


Doni yang melihat putrinya berbicara sekasar dan seberani itu dia sangat kaget dan merasa sangat cemas sebab dia tahu bahwa rentenir tuan tanah itu bukan orang yang bisa di permainkan apalagi di hina seperti itu.


"Astaga.. Anindya apa yang kamu katakan ayo cepat meminta maaf dan bersujud lah denganku, aaahh kau benar-benar cari mati yah" ucap Doni sambil terus melambaikan tangannya menyuruh sang putrinya untuk bergabung dengan dia.


"Ayah kau tenang saja aku bisa membeli kembali seluruh bangunan ini jika aku ingin, dan kau tuan tanah yang jelak aku juga bisa membeli wajah jelekmu itu" balas Anindita sambil menunjuk dan menatap tajam kepada wanita tuan tanah tersebut.

__ADS_1


Tentu saja wanita tuan tanah itu sangat marah besar dan dia langsung menantang Anindita yang di kira sebagai Anindya untuk membuktikan ucapannya dan harus membeli seluruh rumah itu kembali saat itu juga.


"Hey..... Beraninya kau menghinaku, silahkan saja kau beli kembali rumah ini jika kau mampu dan aku akan memberikannya jika kau membeli rumahnya detik ini juga? Bagaimana apa kau mampu? Ahahaha aku sudah tahu kau tidak akan mampu Anindya" balas wanita tuan tahan itu menyepelekan karena melihat Anindita yang hanya diam saja saat itu.


__ADS_2