
Dada yang terus saja terasa sangat cemas juga jantungnya yang berdetak cukup kencang saat itu karena dia takut sekali jika dokter Gavin akan mengetahui tentang dirinya ataupun mengenali keberadaan dirinya saat itu, namun di sisi lain dokter Gavin justru sama sekali tidak melirik ke arahnya dia hanya berjalan melewati Anindita yang di gendong oleh tuan Antonio begitu saja, sedangkan tuan Antonio sendiri dia bisa merasakan dengan jelas detak jantung Anindita yang kencang itu dan ketika mengetahui hal itu justru tuan Antonio yang menjadi salah paham dengan hal tersebut.
"Apa dia menyukaiku kenapa detak jantungnya sekencang ini saat dia memelukku?" Batin tuan Antonio memikirkan saat itu.
Sebuah senyum kecil juga terbit di wajahnya, padahal Anindita sangat merasa cemas saat itu hingga akhirnya mereka sudah benar-benar keluar dari rumah sakit barulah Anindita bisa merasa tenang dan dia baru melepaskan pelukannya kepada tuan Antonio dan dia segera masuk ke dalam mobil secepatnya.
"Huhh ...hampir saja, aahh... bagaimana bisa ada dokter Gavin di ruma sakit pada tengah malam seperti ini" gerutu Anindita terus memikirkan.
Dia melamun untuk waktu yang cukup lama karena terus memikirkan cara untuk bisa lepas dari tuan Antonio, waktu dia dan Anindya yang akan akan kembali beralih tempat hanya tinggal tujuh hari lagi, dan dia sekarang malah semakin terjebak dengan tuan Antonio, itu membuat Anindita merasa kesulitan sendiri.
Sedangkan disisi lain Anindya yang asli dia semakin terlihat senang dan bahagia, dia terus mencari cara agar bisa mengambil rambut ibunya saat itu, bahkan malah itu ketika Anindita drop dia justru malah masuk mengendap-endap ke dalam kamar ibu Kasih yang tidak lain adalah ibu kandung Anindita, dia berusaha untuk masuk ke dalam kamar ibu Kasih agar bisa mengambil rambut itu dari kepala ibu Kasih secara langsung.
"Huh ..aku harus bisa mendapatkannya" ucap Anindya sambil menghembuskan nafas dan berusaha mengatur nafasnya agar bisa lebih tenang.
Dia mulai masuk ke dalam dan menutup pintunya secara perlahan, Anindya langsung membungkuk bahkan dia merangkak untuk sampai ke samping ranjang ibu Kasih agar tidak ketahuan karena lampu di kamar itu sudah di matikan dan hanya ada cahaya remang-remang saja dari lampu tidur di samping ranjang ibu Kasih saat itu.
Anindya sudah berada tepat di samping ibu Kasih yang tengah tertidur, dia mulai menaikkan tangannya dan berusaha untuk meraih rambut ibu Kasih, dia berusaha mengambil satu rambutnya saja dengan melipatkan kedua mulutnya dan mendekati rambut itu dengan perlahan penuh dengan ketegangan yang dia rasakan saat itu.
"Semoga dia tidak akan bangun, aku mohon tuhan jangan sampai ibu Kasih bangun" batin Anindya terus berdoa.
Hingga dia langsung menarik satu helai rambut ibu kasih sekaligus dan langsung saja merunduk ke bawah untuk bersembunyi karena saat itu ibu kasih terusik dalam tidurnya, karena dia merasakan ada seseorang yang menarik rambutnya.
Namun untungnya ibu Kasih hanya mengigau sejenak saja kemudian dia kembali tidur sambil mengusap kepalanya sendiri beberapa saat, itu membuat Anindya merasa sangat tegang dan hampir saja dia mati mematung karena ketakutan di tempat itu.
"Huh ... Astaga tadi itu hampir saja, aahh untung aku berhasil menariknya" ucap Anindya sambil segera pergi dari kamar itu secepatnya.
Anindya segera kembali ke kamarnya dan dia segera menyimpan dengan baik rambut milik ibu Kasih tersebut ke dalam sebuah plastik khusus yang akan dia berikan kepada Ben nantinya agar bisa di periksa dan di cocokan dengan miliknya saat itu.
Anindya juga menghubungi Anindita dia memberitahu Anindita mengenai hal tersebut yang akan dia lakukan dengan Ben, namun sayangnya saat hendak menghubungi ponsel miliknya Anindya baru ingat bahwa ponsel itu sudah tidak berada di tangan Anindita saat ini.
"Aishh...aku lupa ponsel itu sudah hilang, bagaimana aku menghubungi Anindita sekarang, ahh...sudahlah aku yakin dia juga pasti akan setuju dengan hal ini, pasti dia juga ingin tahu tentang kebenarannya juga bukan?" Gerutu Anindya memikirkan.
__ADS_1
Dia pun menghubungi Ben dan mulai mengatur pertemuan dengannya agar Ben segera datang ke rumahnya untuk mengambil rambut yang sudah di dapatkan oleh Anindya saat itu, Ben juga merasa senang karena akhirnya setelah beberapa hari Anindya berhasil mendapatkan rambut ibu Kasih.
"Ben....aku berhasil mendapatkannya kau segera mencari cara untuk masuk menyusup ke kamarku karena aku tidak mungkin keluar dari rumah ini mereka tidak mengijinkan aku pergi seorang diri" ucap Anindya dalam panggilan telpon dengan Ben saat itu.
"Tenang saja aku akan mencari cara dan kau juga harus bersiap untuk kembali bertukar dengan Anindita, bukankah waktunya tinggal tujuh hari lagi kan?" Ucap Ben mengingatkan Anindya.
Ketika mendengar hal tersebut Anindya terlihat tidak terima dan dia sangat enggan untuk meninggalkan tempat dan semua kenikmatan yang dia dapatkan dari keluarga Anindita saat itu, namun dia juga tidak berontak lagi dengan Ben karena sudah terlanjur berjanji sebelumnya, Anindya hanya meminta agar Ben bisa memberikan dia hasil dari tes DNA tersebut sebelum waktu pertukaran dia tiba.
"Tenang saja Ben aku tidak akan mengingkari janji itu dengan Anindita meski aku tidak ingin pergi dari sini, kau hanya perlu memberikan aku hasil dari tes DNA nya saja" balas Anindya yang langsung di setujui oleh Ben saat itu juga.
Panggilan pun terputus dan Anindya mulai merebahkan tubuhnya di ranjang empuk yang sudah dia tempati semala berminggu-minggu ini, dia tersenyum kecil dan sangat berharap bahwa dirinya dan Anindita adalah saudara, karena dia ingin tetap tinggal di rumah itu selamanya, dia tidak ingin kembali harus menjalani hidup yang sangat menyedihkan dengan ayahnya, Anindya lebih suka hidup dengan ibu Kasih dan Oma meski dia harus di kurung terus di rumah itu setiap hari dan hanya bisa keluar jika bersama dengan Oma atau ibunya tersebut.
"Aku sangat yakin ibu Kasih adalah ibuku dan ayah pernah membicarakan bahwa aku memiliki saudara dan aku sangat mirip dengan Anindita, aku yakin dia memiliki hubungan darah denganku, aku sangat percaya itu" ucap Anindya yang sangat mengharapkannya.
******
Di sisi lain Anindita mulai merasakan hidungnya gatal dan dia bersin beberapa kali juga mengusap tubuhnya sendiri karena merasa cukup dingin sebab dia memakai pakaian piyamanya yang cukup tipis saat itu.
Tuan Antonio yang melihat itu dia segera memberikan jas yang dia gunakan kepada Anindita dan menyuruh Anindita untuk memakai jas miliknya segera.
"Ambil itu dan pakailah secepatnya agar kau tidak kedinginan" ucap tuan Antonio melemparkan jasnya pada pangkuan Anindita begitu saja tanpa menatap ke arahnya.
Karena saat itu matanya terus saja menatap lurus ke depan dan dia fokus menyetir terus menerus, belum lagi wajahnya yang tetap saja terlihat datar seperti manusia yang mati.
Anindita sendiri merasa sedikit kaget melihat tuan Antonio yang terus memperhatikan dia sejak dia hampir di berikan sebagai mangsa makan siang hewan buas peliharannya tersebut, sehingga tentu saja Anindita menatap tajam dan memasang kecurigaan kepada tuan Antonio saat itu, karena perubahan sikap ya sangat sulit sekali untuk di tebak, dan Anindita pikir dia harus berjaga-jaga dengan hal itu.
"Wahh ...tuan Apa kau sungguh sehat? Bagaimana bisa kau memberikan aku jas milikmu, kenapa aku merasa mau bersikap baik kepadaku seharian ini, atau ini hanya perasaanku saja ya?" Ucap Anindita sambil mengerutkan kedua alisnya terlihat tidak bisa menerima semua keanehan tersebut yang dia rasakan.
"Aku tidak baik, aku hanya malas jika harus mengurusi orang merepotkan sepertimu, jadi menjagamu agar tidak sakit dan tidak merepotkan aku lebih banyak lagi, jangan terlalu percaya diri" balas tuan Antonio membuat Anindita refleks menurunkan bibirnya.
"CK... Aku bukan percaya diri, aku hanya merasa saja, jika pun kau tidak mengaku tidak masalah untukku" balas Anindita saat itu.
__ADS_1
Tuan Antonio mengeratkan pegangannya kepada stir mobil dan menahan diri agar tidak marah atau membentak Anindita saat itu dia juga tidak berani untuk melihat wajah Anindita karena sudah bisa di pastikan jika dia mihatnya itu akan sangat menyebalkan baginya dan bisa saja dia akan marah kepada Anindita dan membuatnya kembali memandang dia secara berlebihan.
Anindita juga segera mengenakan jas milik tuan Antonio dan saat dia mengenakannya Anindita bisa mencium parfum yang sangat menyengat dari jas nya tersebut dan parfum tersebut sama sekali tidak seperti parfum yang biasa di gunakan oleh tuan Antonio yang biasa dia cium baunya setiap kali berpapasan atau berada di dekat tuan Antonio.
"Ehh ..kenapa aku mencium.bau parfum perempuan di jasmu? Apa kau sekarang sudah bisa dekat dengan seorang wanita ya?" Ucap Anindita berbicara begitu saja sambil terus mengendus jas milik tuan Antonio untuk memastikan bau di dalamnya yang dia hirup saat itu.
Hal itu membuat tuan Antonio merasa semakin kesal kepada Anindita dan langsung saja tuan Antonio membalas dia dengan ucapannya yang selalu mendominasi siapapun.
"Heh...kalau kau tidak mau menggunakannya tidak usah digunakan kenapa kau banyak sekali berkomentar, mau itu parfum wanita atau parfum apapun apa urusannya denganmu?" Ucap tuan Antonio kepada Anindita dengan nada bicaranya yang cukup tinggi.
Anindita merasa semakin heran dengan tuan Antonio ini karena dia pikir dirinya hanya bertanya saja dan dia juga sama sekali tidak perduli jika itu benar parfum seorang perempuan karena wajar saja untuk seorang laki-laki ketahuan dekat dengan seorang perempuan sampai jasnya tertempel bau parfum wanita itu.
"Hah...ada apa denganmu? Kenapa kau menjawabku dengan nada bicara yang meninggi seperti itu, memangnya apa masalahnya jika kau benar-benar dengan seorang wanita di luar sana, apa urusannya denganku aku hanya bertanya saja kau tidak perlu membalasku dengan nada menyebalkan seperti itu" balas Anindita kepadanya dengan kesal.
"Aaahh ..sudahlah jangan berpikiran macam-macam itu hanya sekretaris klien yang tidak sengaja menabrakku saat di kantor dan dia malah memelukku begitu saja, dia memang sangat menjengkelkan padahal aku sama sekali tidak membalas pelukannya dan berusaha berontak dengannya, dia malah terus memelukmu erat, itu sangat menjengkelkan mungkin itu alasan parfumnya menempel pada jasku" balas tua Antonio yang tanpa sadar dia malah menjelaskan masalah tersebut begitu saja kepada Anindita tanpa di minta sedikit pun.
Dia mah menjelaskan semuanya begitu saja kepada Anindita membuat Anindita semakin kebingungan dengan sikap aneh yang di miliki oleh tuan Antonio saat itu.
"Eehhh? Kenapa kau menjelaskan semua itu dengan sangat detail kepadaku, aku sama sekali tidak mau mendengarnya, aku juga tidak perduli mau kau mendapatkannya dengan apapun, jadi jangan menjelaskannya padaku, itu terdengar seakan kau adalah kekasihku, aishhh" balas Anindita terlihat kesal.
Sedangkan tuan Antonio sendiri yang baru menyadari hal itu dia langsung saja membuka matanya dengan sangat lebar dan tanpa sadar dia juga malah mengatakannya begitu saja, dia tidak bisa mengendalikan mulutnya sendiri saat itu dan dia hanya ingin mengatakan semua itu begitu lugas kepada Anindita.
"Ahh....sial kenapa juga aku malah menjelaskan semua itu kepadanya? Dasar konyol aahhh" batin tuan Antonio merasa kesal dengan dirinya sendiri yang keceplosan dan tidak bisa menahan diri ketika di hadapan Anindita.
"Kenapa kau terlihat memasang wajah seperti itu, apa kau menyesal hah? Hey...menyesal tidak ada gunanya kau sudah mengatakan semuanya dan aku sudah mendengarnya apa yang harus kau sesali sampai memasang wajah jelek seperti itu" balas Anindita yang membuat tuan Antonio semakin kesal tidak karuan di buatnya.
"Apa? Aku jelek? Aishh....beraninya kau mengataiku sepertiku itu, apa kau tidak pernah bercermin ya lihatlah pipimu yang besar itu dan tubuhmu yang pendek, aaahh...kau benar-benar buta dalam melihat dirimu sendiri kau lebih jelek dariku kau buruk rupa dan kurcaci yang menjengkelkan" balas tuan Antonio terus saja melepaskan kekesalan yang sudah dia tahan dengan sekuat tenaga sebelumnya.
Anindita kaget dan terus terperangah membuka matanya semakin lebar dan lebar ketika mendengar tuan Antonio yang terus meledeki dia dengan semua penghinaan yang tertuju kepadanya, mulai dari mengatai pipinya tinggi badannya dan semua tentangnya dengan sangat keras saat itu.
Langsung saja Anindita menghentikan ucapan dari tuan Antonio yang tidak ada habisnya memberikan penghinaan kepada dia terus menerus.
__ADS_1
"Stop! Aahhh...kau benar-benar ya...aku memang jelek aku pendek, pipiku tembam dan besar aku juga tidak sehat, aku merepotkan dan lemah apa lagi hah? Terus saja kau mengejekku sampai kau merasa puas..aishhh..." Balas Anindita membentak tuan Antonio dengan sangat kencang.