
Meski Anindita terus bersih keras untuk melakukannya tetapi Doni tetap berusaha juga untuk menahan putrinya tersebut, karena mau bagaimana pun dia tetap sangat menyayangi putri semata wayangnya tersebut, yang menemani dia sejak lama dan hanya putrinya Anindya saja yang mau menemani dia hingga di detik ini meski pekerjaannya seperti itu.
"Anindya ayah mohon kepadamu, tolong jangan melakukan hal berbahaya seperti itu seorang diri, brandal jalanan itu bukanlah brandal biasa mereka tidak bisa kamu singgung sayang, kamu tidak boleh membuat mereka marah apalagi menargetkan dirimu, jika mereka mengetahui bahwa berlian merah ya hilang dan di curi, mereka pasti akan terus mengejarmu, dan ayah tidak mau sesuatu terjadi kepadamu Anindya" ucap Doni menahan tangan Anindita dengan erat.
Ketika melihat sorot mata sang pria tua tersebut, entah kenapa Anindita merasakan sangat senang bisa di cemaskan oleh seseorang ayah meski dia tidak benar-benar memiliki ayah saat itu, dia merasa senang ketika bisa di cemaskan olehnya.
Anindita menarik nafas panjang dan dia langsung saja memegangi kedua pundak ayahnya Doni tersebut untuk meyakinkan dirinya bahwa memang semuanya akan baik-baik saja.
"Ayah tenang saja, aku bukan Anindya yang lemah lagi aku adalah putrimu dan aku sama sepertimu, aku juga bisa bela diri walaupun hanya sedikit dasarnya saja tetapi aku janji padamu aku akan mencuri berlian itu dengan sangat rapih tanpa di sadari oleh para brandal itu sedikitpun" ujar Anindita dengan wajah yang serius dan sedikit tersenyum kepada Doni untuk meyakinkan ayahnya tersebut.
"Tapi Anindya setidaknya kau harus pergi dengan ayah jika akan melakukan hal se berbahaya itu, kau pikir ayah akan bisa tenang saja diam di rumah jika kau sendiri pergi melakukan hal berbahaya seperti itu?" balas Doni dengan wajahnya yang sangat mencemaskan Anindya.
Meski Anindya sudah berbicara seperti itu kepadanya namun sayangnya Doni tetap saja merasa cemas kepada putrinya tersebut sebab yang dia ketahui putrinya itu selalu lemah dan tidak pernah bisa berbuat kasar apalagi bela diri, terlebih putrinya Anindya sejak dulu juga tidak pernah setuju untuk melakukan hal-hal seperti itu namun kali ini justru dirinya sendiri lah yang bersih keras untuk tetap melakukannya.
"Anindya ayah mohon padamu" ucap Doni memohon untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Tapi sayangnya Anindya saat itu bukanlah Anindya sungguhan dia adalah Anindita yang pemberani dan bahkan tidak takut dengan kematian karena dia sendiri sudah tahu bahwa dirinya memang akan bertemu dengan kematian itu sendiri dalam 16 bulan lagi bahkan waktu juga sudah berlalu dan hanya tinggal tersisa 15 bulan lagi untuk dia bertahan hidup dengan bantuan semua obat yang dia konsumsi setiap harinya.
Obat yang berbagai warna dan bentuk yang harus dia minum dalam satu tegukan setiap hari, obat yang selalu membuatnya merasa kesal dan muak pada dirinya sendiri juga penyakit yang dia idap sejak dia kecil.
Meski Doni sudah menahannya itu sama sekali tidak membuat niat Anindita menjadi mengecil ataupun ciut, dia justru malah menjadi semakin lebih bersemangat dan langsung saja pergi dari sana dan melepaskan tangan Doni yang menggenggam tangannya menahan dia untuk tidak pergi ke tempat berandal tersebut.
Anindita dengan penuh keberanian dia langsung saja pergi ke markas para brandal tersebut yang terdapat di sebuah bar di pinggiran kota dimana terdapat ruangan khusus di bar tersebut tempat para brandal sialan itu berkumpul juga mengumpulkan benda hasil curian mereka mulai dari yang paling berharga hingga yang biasa saja.
Anindita dengan uang yang dia punya, dia bisa memiliki akses untuk masuk ke dalam bar itu dengan sangat mudah terlebih dengan wajahnya yang cantik dan penampilannya yang seksi juga cukup modis saat itu.
Anindita mencari kesana kemari hingga dia mulai menemukan seorang pria dengan wajah yang gagah serta terlihat cukup garang saat itu.
"Permisi tuan, apakah pria barusan bernama Mr R?" Tanya Anindita pada salah satu pelayan disana.
Pelayan itu mengangguk menandakan bahwa memang pria tersebut yang dia cari, Anindita langsung saja berjalan mendekati pria tersebut dan dengan sengaja mengajaknya untuk meminum wine di sana, dia terus saja membuat pria tersebut mabuk hingga akhirnya semua pria di sana tidak sadarkan diri, dan di saat itulah Anindita mulai melancarkan aksinya.
__ADS_1
"CK... Dasar para brandalan bodoh, hanya dengan membuatnya mabuk itu sangat mudah untuk aku mengambil berlian merahnya" gerutu Anindita sangat puas.
Dia langsung saja pergi mencari berlian tersebut setelah dia bertanya tempat dimana dia meletakkan berlian tersebut, karena mereka semua dalam keadaan yang mabuk tentu saja mereka tidak sadar bahwa mereka mengatakan semuanya dengan jujur kepada Anindita bahkan pria bernama Mr R yang di ketahui sebagai ketua para brandalan itu mengantarkan langsung Anindita ke tempat dimana dia menaruh berlian merah yang sangat mahal itu.
Sampai mereka tiba di sebuah ruangan bawah tanah dimana disana terdapat banyak sekali barang curian yang sangat mahal dan luar biasa namun yang tidak di duga oleh Anindita adalah dia tidak pernah tahu bahwa ternyata berlian merah itu adalah sebuah cincin dengan mata berlian merah yang sangat cantik.
Bahkan cincin itu mirip sekali seperti sebuah cincin pernikahan atau pertunangan.
"Bukankah berlian merah itu sebuah berlian saja kenapa malah menjadi sebuah cincin begini, apa si Antonio itu mau menipuku atau memang pria mabuk ini yang keliru?" batin Anindita memikirkannya,
"Apakah ini sungguh berlian merahnya? Kau tidak sedang menipuku bukan?" Ucap Anindita bertanya memastikan lagi,
"Tentu saja sayangku, ini adalah barang yang paling berharga di markasku dan aku akan memberikannya kepadamu dengan senang hati, pakailah ini sayangku aaahhh" ucap pria bernama Mr R tersebut sambil memasangkan langsung cincin berlian merah itu pada jari manis Anindita begitu saja.
Awalnya Anindita sendiri merasa sangat kaget dan dia refleks langsung saja mundur menjauhi pria tersebut karena dia merasa sedikit takut dengan sikapnya yang terlihat mulai liar, Anindita pun segera memasukkan obat bius yang bisa membuat siapapun yang menelan obat itu akan segera tidak sadarkan diri bahkan orang tersebut tidak akan ingat apa yang terjadi padanya sebelumnya.
__ADS_1
"Aishhh.... Beraninya kau mencoba menyentuh wajahku, makan ini kau tidak akan ingat apapun yang terjadi malam ini, dasar berandal sialan" ucap Anindita sambil langsung memasukkan obat yang sudah dia persiapkan itu ke dalam mulut Mr R tersebut.