
"Aaarrkkkkkk......tuan singkirkan badanmu itu!" Teriak Anindita sangat keras saking kagetnya melihat tuan Antonio yang hanya memakai handuk berwarna putih yang dia gulung di pinggangnya saat itu.
Tuan Antonio yang menyadari bahwa Anindita merasa malu karena melihat badannya dia justru tersenyum kecil dan mulai dengan sengaja menjahili Anindita dengan terus berjalan mendekatinya dan terus saja mendesak Anindita saat itu hingga Anindita yang berdiri di hadapannya sambil menutup kedua mata dengan tangannya mulai merasa cemas dan ketakutan sendiri sebab tuan Antonio mulai memegangi kedua tangannya dan menurunkan tangannya itu dengan paksa begitu saja.
"Aaahh ....tuan apa yang mau kau lakukan lepaskan aku....aaaahh...lepaskan tanganku kenapa kau malah menahanku seperti ini!" Bentak Anindita sambil berusaha untuk berontak dan melepaskan diri dari tuan Antonio sekuat tenaganya.
Namun sayangnya kekuatan Anindita tentu saja tidak sebanding dengan kekuatan yang di miliki oleh tuan Antonio sendiri sebab dia sama sekali tidak bisa melepaskan tangannya meski sudah berontak dengan kuat saat itu.
Tuan Antonio yang melihat wajah Anindita terlihat begitu cemas seperti itu dia justru merasa semakin senang untuk menggoda Anindita terus menerus dan tuan Antonio langsung saja menyuruh Anindita untuk membuka matanya dengan paksa.
"Kenapa kau terus memejamkan matamu seperti itu, apa jangan-jangan kau mau aku menciummu ya?" Ucap tuan Antonio kepada Anindita.
Anindita yang mendengar itu dia sangat kaget tidak karuan dan langsung saja dia membuka matanya sekaligus sambil menatap tajam kepada tuan Antonio serta terus melawannya dengan sekuat tenaga.
"Hah.....siapa yang mengharapkan hal menjijikan seperti itu darimu, kau jangan pernah bermimpi, ayo cepat lepaskan aku untuk apa kau menahan tanganku hah? Mungkin kau yang mengharapkan itu dariku bukan? Hah...ayo mengakulah aku bisa memberikannya kepadaku jika mau ingin" balas Anindita yang membalas tuan Antonio karena dia sangat berani melawannya saat itu.
Bahkan tuan Antonio yang tadinya berniat menggoda Anindita saja, kini justru malah dirinya yang menjadi gugup dan salah tingkah tidak karuan sebab mendapatkan jawab yang sangat berani seperti itu dari Anindita, yang pada awalnya dia pikir Anindita tidak akan berani melawan dia apalagi bicara seperti itu membalikkan omongannya sekaligus.
"AA .....AA..aahahh...siapa yang menginginkan itu, sudahlah keluar kau dari kamarku, untuk apa masih disini, cepat keluar sana, ayo keluar!" Ucap tuan Antonio sambil terus saja mendorong tubuh Anindita dengan paksa keluar dari kamarnya saat itu.
Sedangkan Anindita mulai tersenyum senang karena dia berhasil membalikkan keadaan dan melawan tuan Antonio, sampai dirinya benar-benar di dorong dengan kuat oleh tuan Antonio keluar dari kamarnya tersebut dengan kasar.
"Keluar kau sana, dan jangan pernah masih sembarangan lagi ke kamarku, apa kau mengerti!... brukk" ucap tuan Antonio sambil langsung saja menutup pintunya dengan sangat keras.
Bahkan saking kerasnya suara dari pintu tersebut Anindita saja sampai tersentak kaget Munduk ke belakang beberapa langkah karena suaranya yang sangat kencang sekali.
"Aishhh.....kenapa dia sampai seperti itu, ahaha...apa jangan-jangan dia benar-benar gugup dan takut karena jawab dariku sebenarnya ya haha....rasakan itu senjata makan tuan bukan? Kau mencoba mendesak dan menggertakmu hah!...aku bukan wanita lemah seperti kebanyakan, kau menjual tentu aku akan beli, kau berani menantangku akan aku lawan dengan senang hati" ucap Anindita menggerutu di depan pintu kamar tuan Antonio sambil tersenyum merasakan kemenangan.
Sedangkan disisi lain tuan Antonio sendiri masih merasakan jantungnya yang berdetak kencang dan tidak beraturan saat itu, sedangkan dia sendiri tidak mengerti mengapa semua itu bisa terjadi kepadanya dan dia terus saja merasa jengkel sendiri dengan kelakuan dari Anindita saat itu, ingin rasanya tuan Antonio memberikan pelajaran pada Anindita yang sudah berani memperlakukan dia seperti itu dengan sangat berani dan menurunkan harga dirinya terlalu banyak sebagai Antonio yang terkenal sangat kejam dan di takutkan oleh semua orang.
Namun semenjak munculnya Anindita kini sudah muncul pengecualian dimana hanya Anindita seorang yang tidak takut pada tuan Antonio dan berani untuk melawannya seperti itu bahkan di hadapan siapapun itu.
"Aaarrghhhh... bagaimana bisa aku malah kalah dengannya seperti ini, aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terus saja terjadi, awas saja kau Anindita sialan aku akan memberikan hukuman dan balasan yang lebih parah lagi padamu!" Ucap tuan Antonio dengan emosi dalam dirinya.
Dia terus saja mengusap dadanya sendiri sambil segera memakai pakaian tidurnya lalu segera pergi mengistirahatkan diri, begitu pula dengan Anindita yang sudah tidur lebih dulu di kamarnya sejak dia keluar dari kamar tuan Antonio beberapa saat yang lalu.
Hingga saat ditengah malam, Anindita terbangun dari tidurnya karena dia merasakan dadanya mulai terasa sakit lagi, dia bangkit terbangun dan berusaha untuk mengambil obat miliknya yang ada di laci meja rias di kamarnya tersebut Anindita terus saja berusaha mengambil obat itu namun sialnya dia justru malah menjatuhkan obat tersebut sehingga obatnya berserakan di lantai dan ada sebagian yang jatuh ke bawah ranjang tempat tidurnya sehingga Anindita sulit untuk mengambil obat yang masuk ke dalam bawah ranjangnya tersebut, di tambah obatnya hanya tinggal beberapa biji lagi saat itu karena dia lupa untuk membelinya.
"Brakkk.....aaahhh.... Sial, kenapa harus jatuh ke bawah tempat tidur" gerutu Anindita merasa sangat kesal.
__ADS_1
Anindita terus berusaha untuk menjangkau obat tersebut namun dia terus merasa kesulitan karena tangannya tidak sampai sedangkan jika dia masuk ke bawah tempat tidur tersebut itu juga tidak muat untuk tubuhnya.
Untuk memasukkan tangannya saja cukup sulit, apalagi memasukkan badannya, dia benar-benar merasa sangat kesulitan sedangkan dadanya semakin terasa sakit, hingga Anindita ingat bahwa ada sebungkus lagi obat miliknya yang di simpan oleh Antonio di kamarnya, obat itu adalah pemberian dari dokter pribadinya Antonio saat pertama kali Anindita jatuh pingsan dan tidur di kamar Antonio saat pertama kali dia datang ke rumah Antonio saat itu.
"Ohh....iya...masih ada obat di kamar Antonio aku harus pergi...aaaahhh...untuk mengambilnya...astaga .. kenapa ini sakit sekali sih" ucap Anindita terus saja berjalan sambil merangkak karena dia tidak tahan dengan rasa sakit di dada atas bagian kanannya saat itu.
Anindita membuka pintunya dengan susah payah dan terus saja berjalan sambil memegangi dinding tembok untuk menggapai pintu kamar Antonio saat itu dia berusaha untuk membukanya namun kini pintu itu di kunci dari dalam sehingga Anindita tidak bisa membukanya seperti yang dia lakukan sebelumnya.
"Arrgghhh...sial kenapa dia mengunci pintunya....Antonio!" Teriak Anindita memanggil nama tuan Antonio sangat kencang yang bisa dia lakukan saat itu,
"Tok.....tok.....tok....Antonio buka pintunya Antonio....aaaahhh....Antonio aku tidak tahan lagi...Antonio!" Teriak Anindita sambil mengerang kesakitan terus menerus.
Anindita terus saja memegangi dada bagian kanannya dengan semakin kencang karena dia merasakan rasa sakit itu semakin menusuk dan menyakiti hatinya, dia benar-benar mulai merasa sangat lemas hingga dia kesulitan untuk berdiri, dan duduk bersimpuh di hadapan pintu kamar tuan Antonio saat itu.
Meski sudah sangat lemah dan tidak memiliki banyak energi lagi dalam tubuhnya tetapi Anindita masih berusaha untuk menepuk nepuk pintu kamar Antonio dengan tangannya yang sangat lemas dan sulit untuk dia angkat karena hampir kehilangan seluruh energinya sendiri saat itu.
"Uuuhhhhhh....Antonio...buka pintunya...aku mohon Antonio...aarrkkk....sakit sekali...." Ucap Anindita terus saja berharap Antonio akan membuka pintu itu dengan cepat.
Sedangkan di dalam kamar tuan Antonio baru saja terbangun dan dia menggerutu kesal karena mendengar suara ketukan pintu yang terus menerus dari pintunya tersebut, dia juga sudah menduga jika itu pasti Anindita, sebab tidak ada siapapun lagi yang tinggal di rumah tersebut ketika malam karena pelayan sudah pasti telah kembali ke kediaman khusus pelayan di belakang rumah yang sudah dia siapkan.
"Asihhh...ada apa lagi sih wanita itu, dia sangat menggangguku" gerutu tuan Antonio sambil segera bangkit dengan wajahnya yang sangat kesal.
Melihat Anindita yang setengah sadar dia langsung saja menggendong Anindita dan langsung membawanya keluar dari rumahnya sambil terus berteriak memanggil supir pribadinya yang saat itu untungnya masih berada tengah memasukkan mobil ke garasi rumahnya.
"Pak ...cepat siapkan mobil, ayo cepat bawa mobilnya kemari jangan dimasukkan ke garasi, cepat pak!" Teriak tuan Antonio dengan suaranya yang sangat keras dan terdengar bergetar sangat cemas.
Anindita menatap dengan mata dan nafas yang sangat pelan dia mihat dengan jelas bagaimana Antonio menggendongnya sambil berlari dengan wajah yang mencemaskan Anindita, bahkan Antonio membentak supirnya sendiri hanya karena supir itu terlalu lama menyiapkan mobil untuknya.
Padahal saat itu sudah hampir jam dua belas malam, dia bahkan keluar menggendong Anindita dengan mengenakan piyama tidurnya dengan rambut berantakan dan wajah yang terlihat jas masih membengkak sedikit karena baru bangun tidur saat itu.
"Cepat buka pintunya bodoh!" Bentak tuan Antonio sampai memakai pak supir saat itu,
Untungnya pak supir sudah mengetahui sifat dari majikannya tersebut sehingga dia langsung bekerja dengan cepat dan membukakan pintu mobil hingga Antonio langsung membawa masuk Anindita dengan cepat bahkan dia terus memeluk Anindita meski itu di dalam mobil, saking cemasnya Antonio kepada Anindita saat itu.
Tuan Antonio terus membentak dan berteriak sangat kencang pada supirnya agar melajukan mobil dengan kencang dan terus lebih kencang ke rumah sakit terdekat yang bisa mereka datangi malam itu juga.
Sedangkan Anindita sudah tidak tahan lagi dia hampir kehabisan nafas karena terus menahan rasa sakit di uluh hatinya yang semakin luar biasa, dia memegangi tangan Antonio dengan sangat erat dan kini mulai menyentuh wajah Antonio berniat untuk menenangkannya saat itu.
"Aaa...Antonio ...." Ucap Anindita sambil menatap ke arah tuan Antonio dengan tatapannya yang sayu.
__ADS_1
Tuan Antonio sangat senang mendengar Anindita ternyata masih sadar dan mendengar dia memanggil namanya meskipun terdengar sangat pelan dan jelas sekali terlihat bahwa dia menahan sakit yang luar biasa di dalam tubuhnya saat itu.
"Ada apa Anindita, aku disini, aku ada bersamamu kau tidak perkerasan cemas kau akan baik-baik saja selama aku di sampingmu, kau mengerti pegang tanganku pegang dengan erat" ucap Antonio kepada Anindita saat itu,
"Aku tidak tahan lagi Antonio, jika aku tidak bertahan..... Tolong ...tolong kembalikan aku....aaaahhh....kembalikan...ke...rumah...ku...." Ucap Anindita sampai akhirnya dia kehilangan kesadaran dan tangannya terjatuh dengan lemas.
Melihat itu tuan Antonio membelalakkan matanya sangat panik dia semakin mendesak sang supir untuk melajukan mobilnya dengan lebih cepat lagi.
"Anindita tidak....kau harus bertahan.... Anindita bangun apa kau bodoh hah! Bangun gadis konyol! Kau tidak boleh membantah ucapanku!" Bentak tuan Antonio sambil terus berusaha membangunkan Anindita namun tetap saja tidak berhasil.
Hingga sesampainya di rumah sakit tanpa basa basi lagi saat sang supir membukakan pintu mobil tuan Antonio langsung saja berlari masuk ke dalam rumah sakit sambil segera memanggil dokter dengan sangat keras bahkan teriakkannya itu bisa sampai membangunkan para pasien di sekitar sana yang tengah beristirahat.
"Dokter....dimana kalian cepat keluar atau aku akan menutup rumah sakit ini, dokter!" Teriak tuan Antonio begitu menggila.
Semua dokter langsung menghampirinya karena mereysudah mengenali suara tuan Antonio yang sangat menggelegar itu, bahkan putra dari kepala dokter disana yang tidak lain adalah teman Antonio sendiri dia juga segera menghampiri sahabatnya tersebut yang sangat menggila terus saja memanggil dokter seperti itu.
"Antonio ada apa denganmu, kenapa kau berteriak seperti orang gila seperti itu hah?" Ucap dokter Leo yang merupakan sahabat dari Antonio sendiri saat itu.
"Leo tolong selamatkan dia ...dia memiliki riwayat kanker hati yang kronis tolong selamatkan dia, aku akan menghancurkan rumah sakit ini jika kau tidak bisa menyelamatkannya!" Ancam tuan Antonio yang membuat dokter Leo beserta dengan beberapa dokter yang ada disana langsung merinding ngeri mendengarnya.
"Astaga....Antonio kau tidak perlu mengancamku seperti itu, aku akan berusaha menyelamatkannya, suster ayo siapkan ruangannya!" Ucap dokter Lea dengan cepat bergerak karena dia sudah tahu bagaimana sikap dari temannya tersebut.
Bahkan disaat salah satu suster yang lain hendak membawa Anindita masuk ke dalam ruang UGD tuan Antonio sendiri yang menahannya seakan dia sangat ketakutan sekali untuk kehilangan Anindita saat itu dan terus saja memperingati para suster itu beserta temannya Leo untuk memeriksa Anindita dengan benar dan hati-hati.
"Tunggu....kalian harus melakukannya dengan hati-hati atau nyawa kalian ada di tanganku setelah ini, apa kalian mengerti!" Ucap tuan Antonio yang membuat tangan suster disana bergetar takut mendengar ucapan itu,
Dokter Leo yang melihat sahabatnya sangat mencemaskan gadis yang baru dia lihat saat itu dia mulai merasa curiga namun dengan cepat dokter Leo segera berusaha untuk menenangkan sahabatnya tersebut agar semua bisa berjalan dengan cepat dan lancar.
"Hey ..hey ..Antonio sebaiknya kau tenangkan dirimu dahulu, dan jangan mengancam para perawat seperti itu mereka akan ketakutan dan itu bisa berdampak buruk pada pasien juga, jadi sebaiknya kau percayakan semuanya pada kami, kit akan melakukan yang terbaik untuknya" ujar dokter Leo menenangkan tuan Antonio sambil menepuk sebelah pundaknya beberapa kali saat itu.
Tuan Antonio pun mengangguk dan dokter Leo juga beberapa asistennya masuk ke dalam UGD mulai memeriksa dan memberikan tidakkan medis yang tepat dan cepat kepada Anindita, mereka juga memeriksanya secara keseluruhan termasuk pada kanker hati yang di ucapkan oleh Antonio sebelumnya, dan betapa kagetnya dokter Leo saat melihat kanker itu benar-benar sudah menyebar hampir ke seluruh jaringan hati milik Anindita dan tidak ada yang bisa dia lakukan selain memberikan obat pereda juga suntikan untuk menenangkan dan menahan kanker itu semakin menyebar, dan menjadi semakin ganas.
Melihat kondisi gadis tersebut terlihat cukup buruk dan sangat mengkhawatirkan dokter Leo merasa sangat cemas karena tidak ada cara lain lagi selain dari operasi pengangkatan seluruh jaringan hatinya dan mengganti dengan donor hati atau pun pencangkokan hati yang bisa di lakukan untuk menyembuhkannya, bahkan pencangkokan hati pun itu masih sulit di lakukan kecuali benar-benar menggantinya dengan hati yang baru.
"Dokter bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan?" Ucap salah satu asisten yang membantunya di ruangan tersebut,
"Berikan saja penekan kankernya dia masih akan bertahan dengan itu, sepertinya dia memang selalu mengonsumsi obat pereda nyeri juga yang lainnya" ucap dokter Leo memberikan solusi.
Mereka segera melakukan yang terbaik untuk Anindita dan terus mengupayakan agar Anindita segera tersadar, termasuk memberikan bantuan infus dan hal lainnya yang dia perlukan saat itu.
__ADS_1