
Bahkan saat hendak masuk ke dalam mobil saja saat itu tuan Antonio baru saja hendak bersikap baik kepada Anindita dan berinisiatif untuk membukakan pintu mobil bagi Anindita namun sayangnya tangan Anindita justru malah berbarengan dengan tangan tuan Antonio saat hendak menyentuh pintu mobil saat itu, bahkan wajah Anindita saja sampai menatap dengan aneh kepada tuan Antonio yang refleks langsung saja dia mengangkat tangannya dan berpura-pura menggaruk belakang kepalanya saat itu.
"Ehh.... Ada apa denganmu, kau terlihat aneh sekali hari ini, sana pergi ke kursi kemudian, untuk apa kau masih ada disini, pergi sana," ucap Anindita kepadanya saat itu.
Tuan Antonio benar-benar gagal total dia tidak bisa bersikap layaknya pria lain pada umumnya ketika memperlakukan wanitanya dia merasa keberadaan dia di samping Anindita memang tidak memberikan banyak perubahan pada hidup Anindita, apalagi saat tuan Antonio mengetahui bahwa Anindita memang terlahir dari ibu yang cukup kaya dan bisa memberikan dia segalanya ketika dia tinggal dengannya sehingga kini tuan Antonio tahu bahwa Anindita akan terbiasa dengan semua kemewahan yang dia miliki saat ini termasuk hal lain di luar sana.
Namun tuan Antonio justru malah melupakan sesuatu yang sangat penting bahwa sebenarnya Anindita tidak bahagia selama dia tinggal di rumah mewahnya itu sebab dia tidak memiliki teman karena ibunya yang terlalu ketat dalam menjaganya dan dia bahkan tidak bisa merasa rasanya bisa menempuh pendidikan di universitas favorit yang sering di pakai oleh banyak orang untuk menuntut ilmu dan bertemu banyak orang disana.
Sedangkan Anindita hanya bisa diam di dalam kamarnya seharian, dia hanya bisa duduk terdiam sendiri tanpa melakukan apapun saat itu, hanya bisa memandangi para pegawai di rumahnya ataupun bunga-bunga yang ada di halaman samping rumahnya setiap pagi dan menatap langit malam tanpa taburan bintang yang sangat kelam dan menyedihkan baginya, maka dari itu sebelumnya Anindita hanya selalu bermain game dan menghabiskan banyak waktu di depan layar komputer dan dia hanya memiliki teman-teman onlinenya saja sebab dia tidak pernah bisa pergi ke luar kecuali jika berbelanja dengan Oma nya atau ibunya, selain itu dia tidak bisa bersenang-senang melakukan apapun yang ingin dia lakukan sedangkan belanja atau shopping seperti itu sama sekali bukanlah hal yang di sukai oleh Anindita sehingga dia tidak senang ketika melakukannya meski Oma dan sang ibu selalu memberikan banyak uang padanya.
Namun kali ini semenjak dengan tuan Antonio dia bisa mengetahui banyak hal dan mencoba banyak hal juga di luar sana.
Sepertinya saat ini dimana Anindita benar-benar di bawa pergi ke salon oleh tuan Antonio saat itu, meski sebelumnya Anindita merasa heran dan kebingungan karena dia malah di bawa ke tempat yang sebelumnya belum pernah dia datangi seperti itu.
"Salon? Kenapa kau membawa aku kemari, aku lapar ingin makan bukannya mau merias diri!" Bentak Anindita dengan mengerutkan kedua alisnya dan sedikit kesal.pada.tuqn Antonio saat itu.
"Ini belum saatnya makan malam, dasar kau b*bi, selalu saja makanan yang ada di otak kecilmu itu, sudah ayo pergi kau harus merias dan mengurus dirimu dahulu baru setelah semuanya selesai aku janji akan memberikan makanan apapun yang kau ingin makan nanti," ucap tuan Antonio kepada Anindita.
Hal itu juga yang membuat Anindita akhirnya menurut dan mau mengikuti ucapan darimtuan Antonio, dia segera saja masuk ke dalam salon itu dan melihat suasana disana yang begitu indah, dimana semua payannya mengenakan seragam yang sama dan mereka terlihat begitu bersih dan rapih terlebih mereka menyambut Anindita dan tuan Antonio dengan sangat ramah yang membuat Anindita merasa kagum karena dia baru tahu bahwa hal seperti ini yang akan terjadi dan akan dia rasakan ketika dia mengunjungi semua salon dan merawat dirinya bersama dengan para wanita lain yang ada disana.
"Selamat datang nona tuan, silahkan masuk dan pilihlah apa yang akan kalian lakukan di salon kami ini, silahkan tuan nona." Ucap pelayan tersebut.
"Saya ingin kau mengubah gaya rambutnya menjadi lebih berkelas dan juga kau pakaian apapun di wajahnya itu agar dia bisa terlihat cantik sampai aku tidak bisa mengenalinya, dan satu lagi urusan dia dengan baik atau salon ini bisa aku tutup!" Ucap tuan Arsen yang memerintah dan selalu di akhiri dengan sebuah ancaman dari mulutnya yang sangat menyeramkan itu.
Rasanya begitu mudah sekali untuk seseorang seperti tuan Antonio ini untuk melemparkan sebuah ancaman dan peringatan kepada orang lain begitu saja sampai membuat orang lain yang mendapatkan ancaman darinya terlihat panik dan takut karena ucapan darinya, hingga dengan cepat Anindita mulai menghentikan tuan Antonio yang mengancam pelayan disana.
"Hei ..Antonio, berhenti mengancam orang lain begitu, seakan kau tidak mempercayai siapapun di dunia ini, mereka itu bekerja disini sudah pasti akan melakukan yang terbaik karena jika tidak mereka juga tidak akan bisa bertahan di tempat kerjanya, jadi cukup bagi mereka menerima tekanan di tempat kerjanya saja, kau tidak usah menambahkan beban orang lain dengan memberikan mereka ancaman begitu, yang ada jika kau mengancamnya begitu mereka menjadi takut dan gugup alhasil nanti akan menjadi tidak optimal dalam bekerjanya." Ucap Anindita memberi tahu tuan Antonio saat itu.
"Aku tidak mengancam mereka aku hanya memberikan peringatan agar mereka berhati-hati dalam merawat mu," ucap tuan Antonio masih saja membela dirinya sendiri yang tidak pernah mau untuk di salahkan sedikit pun.
"Aishh..itu sama saja." Balas Anindita kepadanya dengan memberikan tatapan sinis.
"Sudahlah ayo cepat kalian dandani aku sesuai dengan yang pria sialan itu inginkan aku tidak ingin menunggu lama hanya untuk merias wajah di sini." Ucap Anindita kepada pelayan disana.
__ADS_1
Bahkan pelayan disana saja sampai terbelalak kaget dan mereka sulit sekali menyadarkan diri mereka saat mendengar secara langsung ada wanita yang begitu berani melawan seorang tuan Antonio di hadapan umum dimana semua orang tahu bahwa tuan Antonio adalah orang yang sangat kejam dan tidak ada siapapun yang berani melawan ataupun membalas ucapannya sekasar yang di katakan oleh wanita yang mereka tangani untuk di rias hari ini.
Sehingga hal itu membuat mereka sangat kagum kepada Anindita dan terus bertanya pada Anindita ketika merias wajahnya saat itu tentang hubungan dia dengan tuan Antonio, sebab mereka sangat penasaran sekali tentang hal tersebut saat itu.
"Eumm.... nona wajahmu padahal sudah sangat cantik gaya memakai beberapa polesan saja kau suda begitu bercahaya, wajahmu pasti kamu rawat dengan baik," ucap pelayan itu mulai ber basa basi saat itu.
"Entahlah aku hanya tidak pernah keluar dari rumah," balas Anindita dengan jujur membuat pelayan itu merasa tidak heran ketika mendengarnya.
"Aaahhh..pantas saja kulitmu sangat bagus, tetapi nona aku sangat penasaran sekali, mengapa kamu sangat berani melawannya barusan, padahal pemimpin negara ini saja takut dengannya," ucap perias itu.
"Siapa? Apa maksudmu Antonio si konyol itu?" Balas Anindita dengan beraninya mengatai tuan Antonio konyol kepada orang lain.
Pelayan itu kembali di buat kaget dengan ucapan yang keluar dari mulut Anindita karena dia sangat takut tuan Antonio akan mendengar ucapan dari Anindita yang cukup keras saat itu, dan dia juga takut itu akan berimbas pada dirinya.
"Aduduh..nona tolong jangan terlalu kencang mengatakannya nanti aku juga akan terkena imbasnya jika tuan Antonio mendengar ucapanmu barusan," ucap wanita itu pada Anindita lagi dengan raut waja yang panik.
"Hei...tenang saja jika dia kemari dan berani melakukan apapun padamu aku kan masih ada aku akan melarangnya dan aku yakin dia tidak akan bisa melakukan apapun yang aku larang, jika sampai dia berani tidak mendengarkan aku sudah pasti aku akan melawan dia dan memelintirkan tangannya itu sampai dia meminta ampun padaku." Balas Anindita yang benar-benar terdengar cukup menyeramkan bagi perias wanita tersebut.
"Astaga...nona kamu sangat tangguh, apa kamu pacarannya tuan Antonio?" Tanya perias itu mencari tahunya.
Karena pelayan yang merias wajah Anindita merasa memiliki tanggung jawab yang besar saat itu, bukan hanya untuk kelangsungan pekerjaan dia saja, tetapi juga untuk kelangsungan seluruh salon ini ada di tangan dia sekarang ini.
Sedangkan disisi lain Anindya mulai bertengkar dengan Ben, karena saat itu Ben terus saja meminta Anindya untuk berkata jujur pada ibu Kasih dan menghentikan tingkah dia yang egois seperti ini sampai mengorbankan adik kembarnya sendiri berada di luar sana tidak jelas dan akan membalas dendam kepada dia sekarang.
Tetapi walau sudah di desak oleh Ben, Anindya tetap saja tidak bisa melepaskan semua itu dari dirinya, dia sudah terlanjur nyaman menjadi Anindita di rumah itu.
"Maafkan aku Ben..tapi aku tidak bisa, kau mendengarkan bukan bahwa ibu Kasih dan Oma tidak menganggap aku sebagai putrinya dan jika aku bicara jujur aku akan semakin di benci oleh mereka aku tidak ingin semua itu terjadi Ben aku tidak mau berpisah lagi dari ibuku dan aku tidak ingin kembali hidup menderita dan menjadi gadis miskin yang lemah seperti dulu lagi, aku tidak mau!" Bentak Anindya yang terus saja keras kepala dengan keputusan dia yang sangat egois saat itu.
Tanpa mereka ketahui bahwa di kamar itu anak buah tuan Antonio sudah menyimpan alat penyadap suara yang sangat canggih sekali.
Dan bisa mendengarkan semua ucapan yang mereka katakan saat itu dengan begitu jelas, bahkan bisa langsung otomatis tersimpan dan masih dalam ponsel tuan Antonio secara langsung.
Ben benar-benar sudah tidak tahu lagi harus berbicara dan menjelaskannya seperti apa lagi pada Anindya agar dia mau menyerahkan dirinya dan meminta maaf kepada semuanya saat itu agar dia tidak menyakiti siapapun dan tidak membuat Anindita sampai melakukan balas dendam yang akan sangat berbahaya bagi dirinya sendiri saat itu.
__ADS_1
"Anindya apa kau tidak menyayangi adikmu sendiri setelah kalian berpisah bertahun tahun lamanya? Apa kau akan menjadi tega seperti ini kepada adikmu yang terpisah denganmu bertahun-tahun lamanya hanya mengikuti ego di dalam dirimu saja?" Ucap Ben berusaha menyadarkan dia lagi.
Namun Anindya tetap saja tidak bicara apapun lagi dia hanya terus menunduk dan merasa bingung sendiri hingga Ben memutuskan untuk pergi dari sana karena dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap dari Anindya yang sulit untuk dia bujuk saat ini.
Bahkan Ben merasa bahwa Anindya yang dia temui saat ini sudah benar-benar berubah dengan Anindya yang dia kenal di masa lalu saat dia masih menjadi gadis manis yang lembut dan baik hati, sekarang Anindya itu sudah benar-benar hilang dan berganti dengan Anindya yang kejam dan jahat bahkan pada adik kembarnya sendiri.
"Sudahlah Anindya aku tidak habis pikir dengan, aku sangat kecewa padamu!" Ucap Ben saat itu dan langsung pergi dengan cepat dari sana.
Sedangkan Anindya mulai berpikir keras sendiri dan dia menyerap apa yang Ben katakan pada dia saat itu, sampai Anindya mulai berpikir dan sadar bahwa apa yang telah dia lakukan memang sangat salah dan dia juga merasakan bahwa dirinya telah banyak berubah saat ini.
"Maafkan aku Ben aku telah mengecewakan dirimu dan aku tahu kau mungkin tidak akan menyukai aku lagi, aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang menyayangi aku, aku hanya tidak ingin kembali kesepian seperti dulu lagi itu saja Ben," gerutu Anindya bicara sendiri di dalam kamar saat itu dan dia menangis terisak sendiri meratapi kesalahan yang sudah dia perbuatan sendiri.
Hingga tidak lama Oma masuk ke dalam kamar da memberikan obat seperti biasa kepada Anindya dengan cepat dia menghapus air matanya dan langsung mengambil obat tersebut, kini Anindya mulai merasa curiga dengan obat yang selalu diantara oleh Oma atau ibunya secara langsung kepada dia, bahkan mereka tidak mempercayai pelayan untuk memberikannya pada Anindita semala dia di anggap sebagai Anindita di rumah itu.
"Sebenarnya obat apa ini, kenapa harus selalu ibu atau Oma saja yang harus mengirimkannya padaku, dan kenapa seorang dokter tampan itu terus memeriksa aku dalam setiap bulan, aku harus mencari tau tentang obat ini," batin Anindya merasa curiga saat itu.
Dia pun segera mencari di internet mengenai obat tersebut satu persatu.
Sedangkan disisi lain Anindita sudah selesai di rias dan dia mulai menampakkan dirinya dihadapan tuan Antonio dan saat pelayan yang meriasnya datang menghadapkan Anindita kepada tuan Antonio, langsung saja tuan Antonio terperangkap cukup lama saat itu, karena dia benar-benar kagum dengan wajah cantik dan body yang bagus milik Anindita saat itu, apalagi hiasan rambutnya yang di tata dengan sangat bagus dia bahkan merasa dia bukan seperti Anindita yang dia kenal sebelumnya.
"Wahhhh....bagus...kau ternyata bisa jadi cantik juga ya?" Ucap tuan Antonio yang baru tersadar saat itu.
Tapi ucapannya membuat Anindita merasa tersinggung dan agak kesal kepadanya.
"Hei...memangnya selama ini aku tida cantik apa? Aishh...dasar kau mata buta," balas Anindita sambil berjalan pergi ke luar lebih dulu saat itu, sedangkan tua Antonio dengan cepat menyelesaikan administrasinya dengan cepat karena dia masih harus segera menyusul Anindita ke luar dari sana.
"Anindita tunggu, kenapa kau meninggalkanku begini, aishh...dia benar-benar menguji kesabaran dirimu terus menerus," gerutu tua Antonio yang segera mengejar Anindita dengan cepat saat itu.
Yang rupanya Anindita sudah masuk ke dalam mobilnya dengan cepat saat itu.
Bahkan saat dia melihat tuan Antonio berlari kecil dan segera masuk ke dalam mobil menyusul dirinya, Anindita dengan sengaja mengejek dia dan mengatainya begitu lambat.
"Dasar lambat aku baru sadar kalau kau berlari seperti siput." balas Anindita untuk membalas ucapan dari tuan Antonio kepada dia di dalam salon sebelumnya.
__ADS_1
Anindita memang tidak akan bisa merasa puas dan lega jika dia belum membalasnya jadi dengan sengaja dia melakukan hal itu pada tuan Antonio sedangkan tua Antonio sendiri hanya bisa menahan emosi dan mengusap dadanya berkali-kali sambil mengatur nafasnya agar tidak marah pada Anindita saat itu meski dia merasa sangat jengkel dalam menghadapinya selama ini, bahkan sekarang dia suda sangat tidak tahan lagi sehingga memilih untuk memalingkan pandangannya ke arah lain dan segera mengemudikan mobilnya.