
Hingga tidak lama kemudian setelah sekretaris Seno kembali dengan cepat Anindita meminta untuk segera pulang saat itu juga kepada tuan Antonio, karena dia sudah tidak sabar untuk segera kembali ke rumah dan sebenarnya saat itu Anindita sendiri merasa sangat lelah sekali namun dia tetap tidak bisa beristirahat di tempat tersebut begitu saja.
"Nah Seno sudah kembali ayo kita pulang, Seno bisa bantu aku untuk berjalan aku rasa kakiku agak merepotkan saat ini" ucap Anindita yang malah meminta bantuan kepada sekretaris Seno di bandingkan dengan tuan Antonio sendiri saat itu.
Sekretaris Seno yang sama sekali tidak mengetahui apapun dia hanya bisa membelalakkan mata dengan perasaan bingung dan tidak menentu dia menatap kepada tuan Antonio sambil menaikkan kedua alisnya seakan meminta penjelasan dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi saat ini diantara tuan Antonio dengan Anindita sampai membuat Anindita yang di pikir oleh sekretaris Seno sebagai Anindya itu malah lebih percaya meminta bantuan kepadanya di bandingkan kepada tuan Antonio yang sudah jelas dia adalah calon suaminya sendiri saat itu.
Tuan Antonio juga memasang tatapan tajam kepada sekretaris Seno sehingga hal itu membuat sekretaris Seno tidak berani untuk membantu Anindya.
"AA...AA..ahh...maafkan aku Anindya, bukannya aku tidak mau membantumu tapi aku harus membawakan barang-barang yang sebelumnya aku bawa karena aku pikir kau akan menginap disini untuk beberapa hari, dan ini aku juga harus membawa semua obat milikmu untuk satu Minggu ke depan, jadi tanganku cukup penuh, kamu mengerti kan" ujar sekretaris Seno sambil tersenyum kecil kepadanya saat itu.
Padahal Anindita sendiri sudah tahu bahwa sebenarnya bukan karena hal tersebut sekretaris Seno menolak untuk membantu dirinya melainkan tuan Antonio yang menatap tajam kepadanya hampir membua siapapun orang yang mendapatkan tatapan itu pasti akan merinding ketakutan karenanya.
"Aishh...kau juga tidak perlu berbohong sampai seperti itu, aku tahu kau takut dengan manusia yang bermata iblis disana bukan, aku sudah bisa menebaknya, sudah sana kau pergi lebih dulu dan bawa semua itu, aku benci melihatmu" ucap Anindita sangat kesal pada sekretarias Seno saat itu.
Sekretaris Seno pun hanya bisa menanggapinya dengan tersenyum kecil juga segera saja keluar dari sana secepatnya karena dia sudah tidak ingin terlibat pertengkaran apapun diantara tuan Antonio dengan Anindya yang baginya cukup menyeramkan juga sulit untuk di damaikan.
__ADS_1
"Ahaha...iya...aku lebih suka di benci olehmu daripada karirku akan terancam karenamu, permisi semoga kau selama Anindya" ucap sekretaris Seno sambil segera pergi.
Anindita yang mendengar ucapan itu dia terus saja merasa sangat kesal dan rasanya dia ingin menghajar sekretaris Seno dengan kedua tangannya sendiri tapi sayangnya dia tidak bisa bergerak dengan leluasa disaat keadaannya seperti ini, jadi dia hanya bisa menggerutu dengan kesal seorang diri saja saat itu.
"Aishh...dasar menyebalkan dia sungguh tidak mau membantuku, awas saja kau sekretaris Seno jika aku sudah sembuh akan aku pastikan kau akan menerima sebuah tendangan dariku!" Ucap Anindita memberikan ancaman kepadanya.
Kemudian saat sekretaris Seno sudah benar-benar pergi Anindita mulai berusaha sendiri untuk berjalan karena dia tidak ingin meminta bantuan kepada tuan Antonio sedikitpun, sifat gengsi yang begitu besar di dalam dirinya tidak bisa di tahan atau di abaikan oleh Anindita begitu saja, dia juga tidak bisa melawan gengsinya itu meminta bantuan kepada tuan Antonio.
Padahal dia sendiri jelas sangat membutuhkan hal tersebut, hanya saja dia memilih untuk tidak mengatakannya karena satu hal, dia takut tuan Antonio tidak akan mau membantunya, hanya karena sebuah alasan simpel seperti itu saja Anindita terus merasacemas dan memilih untuk tidak meminta bantuan kepadanya.
Dia berjalan pelan sekali sambil menempelkan tangannya ke dinding dan berusaha untuk berjalan melangkahkan kakinya secara perlahan sedikit demi sedikit saat itu.
Sehingga membuat tuan Antonio merasa sangat kesal dibuatnya dan tuan Antonio langsung saja memilih untuk melakukannya lebih dulu, dia langsung pergi menghampiri Anindita meski sebelumnya berdecak kesal dan menggerutu sendiri.
"CK....sudah kesulitan sampai seperti itu saja, dia masih tidak mau meminta bantuan kepadaku, apa dia sebenci itu padaku atau apa yang membuat dia sampai sebegitu enggannya kepadamu" gumam tuan Antonio merasa begitu kesal.
__ADS_1
Tuan Antonio tidak bisa terus membuat Anindita kesulitan berjalan seperti itu seorang diri di tambah jalannya yang sangat pelan tentu saja akan membuat mereka lama sampai untuk keluar dari rumah sakit sehingga dengan cepat tuan Antonio menggendong Anindita secepatnya dan dia segera pergi dari sana dengan segera.
Meski saat itu Anindita langsung menepuk dada bidangnya dan berusaha berontak sambil meminta tuan Antonio untuk menurunkannya namun tuan Antonio sama sekali tidak mendengarkan permintaan tersebut dari Anindita, jangankan untuk mendengarkannya bahkan tuan Antonio sama sekali tidak menggubris apapun yang keluar dari mulut Anindita saat itu.
"Ehh..tuan lepaskan aku eugh...Antonio lepaskan, kenapa kau malah menggendong aku seperti ini, cepat lepaskan aku Antonio atau aku akan mengigit dadamu dengan gigiku!" Ucap Anindita mengancamnya.
Tuan Antonio sama sekali tidak takut dengan ancaman yang di berikan oleh Anindita dan dia terus saja berjalan menggendong Anindita tanpa melirik kesana kemari.
"Silahkan saja kau menggigitku jika kau mau aku lempar sampai tulangmu patas semua, biar sekalian kau bisa diam dan aku tidak perlu terus memaksamu lagi karena sudah pasti kau akan menurut jika semua tulangmu patah tidak bisa kau gerakkan lagi" balas tuan Antonio membalikkan ucapan dari Anindita.
Mendengar itu justru malah Anindita yang kini merasa sangat takut dia kesulitan menelan salivanya sendiri ketika mendengar ucapan tersebut dari tuan Antonio.
Dan sialnya disaat Anindita tengah kesal dan berniat memalingkan pandangan darinya dia justru malah melihat sosok dokter Gavin yang tengah mengobrol sambil berjalan dengan seorang suster di hadapannya.
"Astaga ...itu dokter Gavin, aahh bagaimana aku menghindar darinya Antonio akan berjalan melewati dia dan aku berada di gendongannya, aahhh terpaksa aku harus memeluknya agar dokter Gavin tidak mencurigai aku" batin Anindita memikirkan saat itu.
__ADS_1
Hanya itu yang bisa Anindita lakukan sehingga ketika mereka hampir berpapasan dengan cepat Anindita melingkarkan kedua tangannya pada leher tuan Antonio sekaligus menyembunyikan wajah dia pada dada bidang tuan Antonio secepatnya.
Mereka sangat dekat dan Anindita terus saja menyembunyikan wajahnya pada dada bidang tuan Antonio karena dia sangat takut dokter Gavin akan melihat wajahnya, dan mereka benar-benar berpapasan begitu saja saat itu.