
Untung saja Doni masih sempat memberikan kabar kepada tuan Antonio sehingga dia tidak terlalu menganggap hal seperti itu, kesalahan disaat kita berdebat dengan orang yang tidak kita sukai adalah yang lumrah terjadi namun saat itu mungkin saja mood tuan Arfanka sedang tidak baik sehingga dia langsung marah dan sensitif ketika mendengar ucapan dari Anindita yang mengatai dia bodoh saat itu padahal kalimat bodoh di sana sebenarnya tidak bermaksud ke arahnya secara langsung, lagi pula saat itu Anindita hanya tengah marah besar saja jadi sama sekali tidak pernah berpikir untuk sampai ke arah seperti itu.
Sampai tidak lama kemudian tuan Antonio segera pergi ke kediaman Doni berniat untuk menjemput Anindita lagi dan menyelesaikan permasalahan diantara mereka berdua saat itu, dia segera pergi menjemput Anindita ketika waktu sudah sangat malam saat itu dan dia baru saja selesai dengan pekerjaannya.
Doni juga sudah menunggu kedatangan tuan Antonio sejak lama sebelumnya sehingga dia hanya duduk di ruang tengah rumahnya menunggu kedatangan tuan Antonio tidak lupa dia juga menyajikan beberapa cemilan dan makanan lainnya diatas meja untuk menyambut kedatangan tuan Antonio disana.
Sampai tidak lama ketika tuan Antonio sampai disana Doni langsung mengajaknya masuk dan mempersilahkan tuan Antonio untuk duduk sebentar di sofa rumahnya dengan cepat.
"Aahh...silahkan duduk dulu tuan, biar saya membangunkan Anindya dahulu" ujar Doni mempersilahkannya.
"Cepat bawa dia kemari aku tidak ingin menunggu lama" ucap tuan Antoni dengan wajahnya yang tegas dan cukup mengerikan saat itu.
Doni pun segera pergi dengan cepat karena dia sendiri merasa cukup takut ketika melihat raut wajah tuan Antonio yang terlihat tidak baik-baik saja dan sangat terlihat jelas bahwa dia tengah marah saat itu, hingga ketika masuk ke dalam kamar Anindya, Doni langsung saja .embangunkan putrinya itu dengan kasar dan terburu-buru sebab dia tidak ingin membuat tuan Antonio menunggu lebih lama di luar sana.
"Hey... Anindya bangunlah, Anindya bangun, aishhh anak ini kenapa sih, Anindya cepatlah kau bangun jika tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kita berdua sekarang, Anindya ayah mohon padamu" ucap Doni sambil menggoyangkan tubuh Anindita saat itu.
Sedangkan Anindita sendiri sama sekali tidak terusik dan dia yang memang sangat lelah sangat enggan sekali untuk bangun saat itu, sehingga dia terus saja menghindar dari ayahnya sendiri yang terus saja berusaha untuk membangunkan dia dan beberapa kali menarik tangannya saat itu.
Sebenarnya saat itu Anindita sudah sedikit tersadar namun dia hanya malas saja untuk bangun dan dia sangat tidak ingin pergi dari tempat itu, dia paling benci ketika dirinya di ganggu saat tengah tidur selelap itu.
Sampai hal tersebut membuat tuan Antonio yang menunggu dirinya di luar kamarnya sangat geram karena Doni tidak kunjung membawa Anindya keluar dari kamarnya sehingga dia langsung saja bangkit dan membuka kamar Anindya dengan caranya yang cukup kasar saat itu.
Dia langsung saja masuk ke dalam kamar tersebut dengan wajahnya yang terlihat sangat kesal serta gigi yang dia ketatkan saat itu dengan sangat kuat.
Doni yang melihat h tersebut dia juga merasa sangat kaget melihat tuan Antonio malah masuk ke dalam kamar Anindya dengan wajahnya yang terlihat sangat kesal seperti itu dan dia mulai merasa panik tidak karuan saat itu.
"A...a....a..a..aahhh..tuan... Anindya akan segera bangun sebentar lagi, mohon anda bersabar ya tuan, saya akan membangunkan dia dengan cepat" ucap Doni kepada tuan Antonio dengan wajahnya yang terlihat cemas.
Sedangkan Anindita sendiri terus saja tertidur dan dia sama sekali tidak memperdulikan semua itu, dia justru malah langsung menutup kedua telinganya dengan bantal yang ada disana dan melanjutkan tidurnya dengan lelap tanpa gangguan apapun.
Sehingga tuan Antonio yang melihat kelakuan Anindita seperti itu dia langsung saja menyingkirkan Doni dari jalannya yang saat itu terlihat berusaha untuk menghalangi dirinya mendekati Anindya.
"Tu...tuan...kau mau apa?" Tanya Doni yang terlihat cukup takut dan cemas sendiri mihat tuan Antonio berjalan mendekati putrinya dengan wajah marah seperti itu.
"Menurutmu apa yang bisa aku lakukan disini hah?" balas tuan Antonio dengan wajahnya yang sangat sulit di tebak saat itu.
Tuan Antonio yang merasa sedari tadi Doni terus saja menghalangi langkahnya dia langsung memberikan tatapan tajam kepada Doni dengan sangat dekat dan bicara dengan ancaman kepadanya hingga membuat Doni segera menyingkir dengan cepat dan dia sama sekali tidak bisa berkutik sedikit pun untuk melawan tuan Antonio lagi dan hanya bisa membiarkan tuan Antonio pergi mendekati putri kesayangannya Anindya yang masih saja tertidur dengan leluasa di ranjangnya saat itu, tanpa tahu bahwa dia berada dalam bahaya saat itu.
"Kau tidak bisa ikut campur Doni, ini adalah urusan aku dengan putrimu" ucap tuan Antonio kepada Doni saat itu.
"AA..ahhh..iya tuan tentu saja, saya juga tidak akan ikut campur dengan urusan kalian berdua tapi tolonglah kamu menghargai saya sebagai ayahnya dan jaga dia dengan baik baru saya akan tenang memberikan dia padamu" ucap Doni kepada tuan Antonio dengan wajah tertunduk karena takut.
"Kau tidak perlu mencemaskan aku dan seharusnya kau lebih tahu bagaimana aku Doni!" Balas tuan Antonio saat itu sambil langsung saja mendorong tubuh Doni dengan sedikit kasar hingga dia bergeser ke samping lalu tuan Antonio langsung mendekati ranjang yang di pakai untuk tidur oleh Anindita saat itu, dia langsung saja mengangkat tubuh Anindita dengan begitu gagah dan perlahan lalu menyuruh Doni untuk segera membukakan pintu untuknya karena dia menggendong Anindita yang tengah tertidur saat itu.
"Doni buka pintunya!" Ucap tuan Antonio sangat datar dan memerintah.
"Aahhh....ba..ba..baik tuan" balas Doni yang justru menurutinya dengan patuh.
Dia bahkan juga membantu membukakan pintu mobil tuan Antonio agar putrinya Anindya tersebut bisa masuk ke dalam mobil tuan Antonio meskipun dia tengah tertidur dengan lelapnya malam itu.
__ADS_1
Hingga mereka sudah masuk ke dalam mobil dan Doni segera kembali masuk ke dalam rumahnya karena takut mendapatkan tatapan tajam terus menerus dari tuan Antonio saat itu.
"Tu..tuan saya akan masuk lebih dulu, anda tolong beri tahu saya jika sudah sampai dengan selamat" ucap Doni kepada tuan Antonio.
"Pergi aku akan mengabari mu nanti" balas tuan Antonio kepada Doni.
Sehingga dia langsung saja masuk ke dalam rumahnya dengan terburu-buru saat itu, sedangkan tuan Antonio sendiri terlihat menghembuskan nafas dengan wajah yang terus saja menahan emosi juga kekesalan di dalam hatinya yang sudah sangat menggebu saat itu.
Dia benar-benar ingin bisa mengeluarkan semua api emosi di dalam dirinya namun dia sama sekali tidak bisa menyalurkan emosi tersebut kepada siapapun dan apapun saat itu dia hanya bisa menepuk stir mobilnya beberapa saat sambil menggerutu kesal sendiri ketika mengingat apa yang terjadi diantara dia dan Anindita sebelumnya.
"Aaarrkkkhhh...dasar gadis ini sangat menjengkelkan dan sangat membuatku kesal, apa aku benar-benar harus menyerah dan melepaskannya? Aaahhh...aku tidak akan bisa menemukan gadis lain lagi yang seberani dia" gerutu tuan Antonio terus memikirkan penuh kebingungan sendiri.
"Dia ini benar-benar aaaahhh" ucap tuan Antonio lagi sambil mengacak rambut belakang kepalanya dengan sangat kasar dan terlihat cukup frustasi saat itu.
Dia ingin terus menahan Anindita berada dirinya agar tidak ada wanita sembarangan lagi yang berani menggoda dia dan mendekati dia dengan ganjen hingga membuat dia sangat risih, dia juga tidak akan perlu melakukan kencan buta dengan putri-putri rekan bisnisnya hanya demi menghormati mereka ataupun demi mendapatkan persetujuan kontrak dengan perusahaan mereka saja, dia sudah sangat muak melakukan hal seperti itu karena pada ujung mereka semua yang sudah dia temui selama ini hanya perduli dengan kedudukan dan harta yang dia miliki saat ini saja tanpa mereka mengetahui kesulitan apa yang pernah dia alami di masa lalu dimana dia pada awalnya sama sekali tidak terlahi rdari keluarga yang kaya raya atau pun lulusan sekolah yang tinggi, dia bahkan baru menyelesaikan studinya sendiri ketika dia sudah menjadi seorang CEO beberapa tahun yang lalu namun dia sudah bisa membangun sebuah perusahaan dengan caranya sendiri dan semua usaha yang dia lakukan sendiri hanya dengan bantuan otak jenius yang dia milikku juga kerja keras yang tanpa henti juga tidak pernah menyerah selama ini.
Maka dari itu dia sangat merasa benci dan kesal ketika ada orang lain yang menjilati kekayaannya saat ini, apalagi hanya memanfaatkan dirinya sendiri.
Oleh karena itu juga dia memilih Anindita sebagai pasangan untuknya hanya demi menutupi kedoknya yang sudah sangat muak dengan dunianya yang selalu saja di jodohkan oleh para rekan bisnis dirinya dengan putri-putri mereka.
Namun tidak pernah dia sangka untuk mendapatkan seorang Anindya begitu sulit untuknya padahal dia sudah mencari tahu segala sesuatu informasi mengenai Anindya mulai dari internet dan dari beberapa orang yang cukup dekat dengannya bahkan dia bisa mendapatkan semua informasi tentang Anindya dengan begitu mudahnya dari ayahnya sendiri Doni saat itu.
Tetapi saat tengah menghadapi Anindya di hadapannya secara langsung dia merasa bahwa wanita yang ada di hadapannya saat ini sama sekali tidak mencerminkan seorang Anindya yang di katakan banyak orang sebagai gadis yang baik, sedikit pendiam dan ramah juga penurut tersebut.
Semuanya sangat bertolak bakang sebab Anindya yang ada di sampingnya saat ini sama sekali tidak pendiam melainkan sangat aktif, dia juga tidak ramah melainkan sangat galak, dia juga tidak penyabar melainkan mudah marah dan memiliki banyak ide licik di dalam kepalanya tersebut, sehingga hal tersebut benar-benar membuat tuan Antonio pusing dan stress di buatnya.
Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya dia menghadapi orang seperti Anindya yang bak seperti memiliki dua kepribadian seperti ini, sebab disisi lain dia juga pernah melihat bagaimana Anindya ketika berhadapan dengan ayahnya saat itu, dia terlihat sedikit sama dengan apa yang di bicarakan oleh semua orang tentang dirinya namun disaat sudah tidak ada siapapun dan hanya ada di hadapannya saja Anindya bersikap sangat keras juga terus berontak seperti itu.
Padahal disisi lain tuan Antonio masih belum mengetahui dengan jelas bahwa wanita yang ada di sampingnya saat ini memanglah bukan Anindya yang sesungguhnya melainkan seorang Anindita yang merupakan seorang wanita aktif juga sangat pemberani bahkan dia tidak takut dengan kematian karena dia tahu kapan dia akan benar-benar pergi meninggalkan dunia ini hanya karena penyakit yang sudah dia idap sejak kecil, juga cinta pertamanya dokter Gavin yang selalu menolak dia berkali-kali setiap kali dia mengatakan perasaan kepadanya bahkan di saat dia sendiri pernah mengancam untuk bunuh diri dan tidak memakan obat hanya demi mendapatkan perhatian dari seorang dokter Gavin yang terus menolak dia dengan keras setiap saat.
Tuan Antonio yang melihat wajah Anindita disaat dia tertidur lelap, dia mulai merasa jauh lebih tenang, sebeb melihat wajah Anindita yang tidur seperti itu terlihat jauh lebih menenangkan di bandingkan ketika melihat kedua matanya itu terbuka dan akan langsung membuat kepalanya sakit hingga berdenyut sakit dengan kelakuan dan tingkah ya yang sangat sulit di atur dan lebih bandel daripada anak bandel di usia labil.
Tuan Antonio terlihat menghembuskan nafas dengan perlahan dan dia mulai mendekati Anindita untuk membantu dia memasangkan sabuk pengaman dan disaat dia sudah selesai memasangkan sabuk pengaman itu Anindita yang tengah tertidur dia tanpa sadar justru melah langsung memeluk tubuh tuan Antonio begitu saja.
Hal itu tentu membuat seorang tuan Antonio sangat kaget namun dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun karena dia takut Anindya akan terbangun karena suaranya dia hanya langsung saja menatap dengan membuka kedua matanya sangat lebar melihat ke arah Anindita yang masih tertidur dan menutup matanya tanpa kesadaran sedikit pun.
Bahwa dia saat itu tengah memeluk seorang tuan Antonio yang sangat dia benci dalam hidupnya saat itu.
"Aishh...apa yang dia lakukan" gerutu tuan Antonio merasa panik sendiri.
Dia berusaha untuk melepaskan tangan Anindita dari lehernya dan berusaha untuk menjauh dari Anindita tetapi justru Anindita malah memeluk dia semakin erat hingga tuan Antonio sendiri tidak bisa menahan tubuhnya sendiri dan jatuh menimpa tubuh Anindita saat itu.
Sampai tubuh mereka saling menyentuh satu sama lain dan hal itu langsung membuat tuan Antonio memebalalakkan matanya dengan sangat lebar dan merasakan dada Anindita yang mengenai dadanya.
"Aahhhh...kau... benar-benar, aish...aku juga seorang pria apa dia sama sekali tidak sadar, aku yakin dia akan menyesali tingkah konyolnya ini seandainya dia sadar dan mengatahui kelakuannya nanti" gerutun tuan Antonio sambil terus berusaha melepaskan diri dari Anindita.
Hingga tidak lama Akhirnya tuan Antonio bisa benar-benar terbebas dari Anindita dan dia langsung saja menjauh dari Anindita dan menjaga jarak yang aman agar dia tidak bisa di raih lagi oleh Anindita, karena dia tidak ingin mendapatkan perlakuan seperti sebelumnya lagi.
Nafasnya sudah menderu dan tubuhnya terasa panas saat itu, dia hampir saja tidak bisa menahan dirinya ketika melihat wajah polos Anindita saat itu maka dari itu tuan Antonio langsung memalingkan pandangannya keluar dan dia membuka jendela mobilnya sedikit sambil segera melanjukan mobil dengan cepat meninggalkan tempat tersebut menuju kediaman dia yang sebelumnya.
__ADS_1
Tuan Antonio bahkan harus menyetir dengan terus saja mengipasi dirinya sendiri dan berusaha menghilangkan pikiran kotor di dalam otaknya saat itu yang terus saja mengganggu dirinya dan sangat membuat dia tidak karuan sekali saat itu.
"Huuhh.... benar-benar dia sudah menguji kesabaranku, aaahhhh....sial, bagaimana aku bisa terpancing oleh wanita seperti dia, padahal banyak sekali wanita yang bahkan memperlihatkan seluruh tubuhnya kepadaku tapi aku sama sekali tidak pernah tertarik, tapi kenapa degannya aku bahkan tidak tahan aahhhh sial!" Gerutu tuan Antonio yang sangat kesal pada dirinya sendiri saat itu.
Dia melajukan mobilnya dengan cepat sedangkan Anindita masih saja tertidur dengan lelap hingga tidak lama ketika mereka akhirnya sampai juga di kediaman tuan Antonio Anindita mulai terbangun dan dia mengerjakan matanya perlahan saat itu, dia mulai melihat ke depan dan sadar bahwa dia tengah berada di dalam mobil sampai dia langsung berbalik menatap ke samping lalu mihat sosok tuan Antonio yang berada di sampingnya saat itu dan dia terlihat tengah menghentikan mobilnya.
"Aaahhhh....kau? Kenapa aku bisa ada di dalam mobilmu?" Tanya Anindita dengan sangat kaget dan kedua matanya yang terbelalak cukup lebar saat itu.
"Oh...kau akhirnya bangun juga, aahhh baguslah jadi kau bisa berjalan sendiri untuk pergi ke kamarmu bukan? Ayo cepat keluar" ucap tuan Antonio begitu saja dengan santainya dan wajahnya yang datar saja.
Dia langsung keluar lebih dulu dan meninggalkan Anindita sendiri di dalam mobilnya saat itu, sedangkan Anindita sendiri hanya bisa mengerutkan kedua alisnya merasa sangat heran dan masih kebingungan karena terakhir kali dia ingat bahwa dirinya tidur di kamar Anindya tetapi kini malah sudah berada di dalam mobil tuan Antonio sehingga tentu saja dia merasa sangat heran tidak karuan.
Karena melihat tuan Antonio yang keluar dari mobil dengan cepat dia pun segera membuka pintu mobil tersebut namun disaat dia hendak mengangkat kakinya dia merasakan kedua kalinya kesemutan sehingga dia tidak bisa menggerakkannya dengan leluasa seperti biasanya dan dia mulai meringis menahan sakit saat itu.
"Ssstttt.....aaahhh Antonio tunggu!" Teriak Anindita menghentikan tuan Antonio yang saat itu baru saja hendak masuk ke dalam kediamannya.
Mendengar Anindita memanggil namanya dia langsung saja berbalik dan menatap dengan wajah yang sudah sangat lelah saat itu.
"Ada apa hah?" Balas tuan Antonio kepadanya dengan nada yang sangat datar dan dingin.
"Tolong aku, kakiku kesemutan mungkin karena udara dingin dan aku tidak mengubah posisi dudukku selama tertidur, aku sungguh tidak bisa menggerakkannya" ucap Anindita dengan memasang wajah yang menyedihkan dan tertunduk lesu saat itu.
Tuan Antonio ayng sebenarnya masih sangat kesal dan dia berusaha menahan dirinya dari godaan Anindita kini dia terpaksa harus kembali menghampiri Anindita dan menolongnya karena dia kesemutan seperti itu.
"Huuuhh....kenapa kau sangat merepotkan sekali sih" ucap tuan Antonio menggerutu dengan kesal sekali.
Dia pun segera berjalan menghampiri Anindita kembali ke mobilnya dan dengan cepat dia langsung saja menggendong Anindita di depan dengan kedua tangannya yang kuat dan kekar itu.
Hingga dia mulai membawanya masuk ke dalam rumah dan menyuruh Anindita untuk membukakan pintu kamarnya saat itu karena dia tengah menggendong tubuh Anindita.
"Buka pintunya, apa yang kau lihat dariku" ucap tuan Antonio yang sebenarnya saat itu merasa sedikit gugup karena Anindita menatap ke arah wajahnya beberapa saat.
"CK...aku hanya melihat wajahmu sebentar saja apa tidak boleh" balas Anindita sambil segera membukakan pintunya.
Tuan Antonio langsung membawa Anindita masuk ke dalam kamar Anindita yang sudah di siapkan oleh dia sebelumnya, dia menurunkan Anindita dengan lembut di ranjangnya secara perlahan lalu langsung saja berbalik dan hendak pergi dari sana, namun disaat dia baru saja berbalik Anindita langsung mengehentikan langkahnya karena dia memanggil nama tuan Antonio lagi.
"Antonio tunggu" ucap Anindita menghentikan dia lagi,
"Aishhh..ada apa lagi hah?" Balas tuan Antonio yang sudah sangat jengkel karenanya saat itu.
"Kenapa kau sangat sensitif sekali sih, aku hanya ingin bertanya padamu apa kau menjemput aku ke rumah, sebab seingatku sebelumnya aku tidur di ranjangku kepada tiba-tiba ada di dalam mobilmu?" Tanya Anindita dengan wajahnya yang sangat penasaran sekali dengan hal tersebut.
Antonio langsung menepuk jidatnya sendiri saking kesal dan pusingnya dalam menghadapi Anindita saat itu sebab dia tidak menduga jika Anindita menghentikan langkahnya hanya demi menanyakan hal yang tidak penting seperti itu yang padahal dia bisa mendapatkan jawaban itu tanpa harus menanyakannya secara langsung karena dia sudah jelas berada di dalam mobil dirinya dan dia bawa kembali ke rumah tersebut yang sudah pasti bahwa dia yang menjemput dirinya dan membawa dia kuat dari rumahnya tersebut.
"Aishhh...jadi kau menghentikan aku hanya demi menanyakan hal konyol seperti itu saja hah?" Balas tuan Antonio yang tidak habis pikir dengan pemikiran Anindita saat itu.
Anindita hanya membalasnya dengan anggukan saja karena memang hanya itu yang ingin dia tanyakan kepada tuan Antonio tidak ada hal yang lainnya lagi.
"Kau dengarkan ini baik-baik dan aku tidak akan mengulangnya lagi di tambah kau tidak bisa memanggil namaku lagi dan menahan langkahku seperti itu" ucap tuan Antonio yang membuat Anindita merasa sangat heran saat mendengar ucapannya yang memperingati dirinya dengan cara aneh seperti itu.
__ADS_1
"Aku... yang menjemput kau dari rumahku dan aku juga yang menggendongmu berkali-kali sampai membuat tanganku sakit dan pegal sekarang, kau itu sangat berani dan cerewet juga sangat menjengkelkan di tambah satu lagi kau sangat, sangat merepotkan, jadi tolong jangan membebani aku lagi, apa kau mengerti hah?" Ucap tuan Antonio dengan tegas dan wajahnya yang begitu tegang kepada Anindita.
Membuat Anindita sendiri merasa sedikit bingung juga takut melihat wajah tuan Antonio yang memberitahu dia dengan cara bicaranya yang seperti sangat gemas dan ingin memangsa aku sepertinya.