
"Sekali kau memuntahkannya aku akan melemparkan dirimu ke kandang macam saat ini juga!" Ancam tuan Antonio dengan memberikan tatapan yang tajam kepada Anindita saat itu.
Karena kaget dan takut Anindita tanpa sadar menelan roti di dalam mulutnya tersebut dan dia baru sadar dengan mengedipkan matanya beberapa saat merasakan roti itu sudah hilang tertelan olehnya.
"Aahhh...rotinya...aishh..aku menelannya aaahh aku tidak ingin menelannya aku tidak ingin huaaa" rengek Anindita yang membuat tuan Antonio tersenyum kecil melihat tingkahnya yang konyol tersebut.
Anindita sama sekali tidak tahu dia harus melakukan apa saat itu sebab dia sudah terlanjur menelan roti di dalam mulutnya yang di berikan oleh tuan Antonio saat itu, dia berusaha untuk mengeluarkan kembali roti itu tapi tetap saja tidak bisa, meski dia sudah menjulurkan lidahnya keluar dan terus berusaha untuk memuntahkannya tetap saja cara tersebut tidak berhasil dan yang ada justru malah membuat seorang tuan Antonio marah kepadanya sampai menaruh gelas miliknya dengan sangat kuat pada meja.
"Duk...." Suara gelas yang di taruh ke meja dengan kuat oleh tuan Antonio saat itu.
Seketika Anindita yang sedari tadi terus saja berontak dan berusaha untuk memuntahkan roti yang sudah dia makan, Anindita langsung menatap dengan menaikkan kedua alisnya menatap.lurus pada tuan Antonio kebingungan juga sedikit kaget melihatnya menaruh gelas seperti itu.
"Ehh....apa yang kau lakukan apa kau marah padaku hah? Asal kau tahu yang harusnya marah disini adalah aku, kau yang mencuri ciuman pertamaku dan kau juga yang memaksa aku memakan selai kacang itu, aish kenapa sekarang harus kau yang jadi marah denganku dasar aneh!" Bentak Anindita dengan kesal dan dia langsung saja pergi dari sana.
Anindita segera bangkit dengan cepat saat itu juga tetapi tuan Antoni mengejar dia dan menahan tangannya dengan kuat membuat Anindita sama sekali tidak bisa berkutik saat itu dan dia langsung berbalik kembali menatap pada tuan Antonio sambil memintanya untuk segera melepaskan genggaman tangan pada dirinya.
"Eughh....apa lagi yang kau inginkan dariku, apa tidak cukup untukmu selalu mengganggu hidupku, cepat lepaskan tanganku!" Bentak Anindita sambil terus berontak berusaha.elepaskan tangannya dari tuan Antonio saat itu.
Sayangnya tuan Antonio sama sekali tidak memperdulikannya dia juga tidak berkata apapun kepada Anindita, justru tuan Antonio malah langsung saja menarik tangan Anindita dengan kuat dan menyeretnya hingga masuk ke dalam mobil lalu dia mulai menyetir mobil itu dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Eh...eh ..kau mau membawaku kemana hey, ayo hentikan mobilnya biarkan aku tetap di rumah kau mau membawa aku kemana cepat turunkan aku dari mobil ini!" Teriak Anindita yang merasa sangat tidak terima saat itu.
Dia terus saja berusaha berontak dan melepaskan diri dari tuan Antonio, namun sayangnya tuan Antonio sendiri tidak memperdulikan teriakkan dan semua pemberontakan yang di berikan oleh Anindita terhadap dirinya, dia hanya menatap lurus ke depan sambil menahan emosi di dalam dirinya sendiri, dan terus menginjak pedal gas mobilnya lebih kuat lagi hingga membuat laju mobil semakin cepat dan cepat, membuat Anindita ketakutan dan membelalakkan matanya dengan kaget ketika melihat mobil yang dia tumpangi melaju semakin cepat saat itu.
"Ah....hey .. Antonio apa yang mau kau lakukan apa kau mau membawaku ke alam baka yah? Aku masih belum mau mati, Antonio hentikan mobilnya!" Teriak Anindita sangat keras dengan mata yang terpejam juga tangannya tangan memegangi sabuk pengaman dengan erat.
Bahkan terlihat jelas bahwa urat di tangan Anindita begitu kencang saat itu dan pegangannya yang begitu kuat pada sabuk pengaman yang dia pakai saat itu, wajah Anindita juga terlihat sangat ketakutan dan panik dia sama sekali tidak tahu mengapa tuan Antonio malah melakukan semua ini terhadapnya sekan sudah bosan hidup dan membawanya menuju kematian.
Hingga tidak lama ketika tuan Antonio melirik sedikit ke arah Anindita dan dia melihat tangan Anindita yang menggenggam sabuk pengaman dengan begitu kuat, juga kakinya yang bergetar cukup hebat saat itu, dia mulai merasa kasihan terhadapnya.
"Apa dia setakut itu" Batin tuan Antonio dan langsung saja dia memperlambat laju kendaraannya dia juga segera berhenti lalu menepikan kendaraannya ke samping jalanan disana yang cukup sepi.
Anindita yang sangat takut dia terlihat begitu panik dengan bibirnya yang terlihat pucat pasi juga deru nafasnya yang tidak teratur, dia memang tidak takut dengan kematian tetapi kematian konyol yang di buatnya sendiri seperti itu, dia tidak menginginkan kematian yang buruk dan merusak jiwanya seperti ini, itulah yang membuatnya takut di tambah dia tengah bertukar tempat dengan orang lain sehingga dia takut jika dia mati saat itu, maka jasadnya nanti tidak akan di kenali oleh ibu dan omanya sendiri, selain itu tidak ada lagi yang perlu di takutkan oleh seorang Anindita dalam hidupnya.
"Hah...hah...hah...aku tidak ingin mati konyol eumm" ucap Anindita sambil menahan mual di perutnya.
Dia segera keluar dari mobil dengan terburu-buru dan segera memuntahkan semua makanan yang berada di dalam perutnya begitu saja di pinggir jalan, dia merasa sangat lemah karena terus memuntahkan semua makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya saat itu, sedangkan tuan Antonio sendiri segera berlari menghampiri Anindita dan berusaha membantunya saat itu, sebab dia merasa kasihan melihat Anindita yang terus saja mual juga mut'ah berkali-kali.
"Howekk.....howekk...." Suara Anindita yang terus menguras isi perutnya hingga dia terlihat begitu pucat pasi dan sangat lemas.
Bahkan cara berjalannya saja sudah tidak setegak sebelumnya, dia berjalan sempoyongan sambil memegangi perutnya yang terasa sangat tidak nyaman bahkan hampir saja terjatuh karena tersandung sebuah batu yang dia lewati saat itu, namun untunya sebelum Anindita benar-benar akan terjatuh tuan Antonio dengan cepat menahan tangan Anindita dan membantunya untuk berjalan meski saat itu Anindita tetua menolak bantuan yang di berikan oleh tuan Antoni kepadanya.
"Hei... hati-hati, biar aku membantumu" ucap tuan Antonio sambil memapah Anindita saat itu,
__ADS_1
"Lepaskan, kau sudah mau mengajakku mati bersama barusan, dan semua ini terjadi juga karena dirimu, untuk apa sekarang kau masih mau membantu aku, bukankah seharusnya sekarang kau merasa senang karena sudah membuat aku menderita seperti ini" balas Anindita kepada tuan Antonio saat itu.
Tuan Antonio langsung saja termenung dan dia menyadari kesalahan yang sudah dia perbuat kepada Anindita, bahwa dirinya terlalu mudah tersulut emosi hingga tidak mementingkan keselamatan juga kondisi tubuh Anindita yang lemah dan tidak sekuat mentalnya.
"Dia benar aku memang terlalu keras dengannya, tetapi dia memang sangat keras kepala aahhh....membingungkan saja" batin tuan Antonio merasa kebingungan sendiri saat itu.
Tapi walau begitu dia tetap tidak bisa membiarkan Anindita terus berjalan sempoyongan sendiri seperti itu sehingga dia terus menjaga Anindita dari belakang dan membantunya setiap kali Anindita akan jatuh sampai akhirnya mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil dan Anindita sungguh terlihat tidak berdaya saat itu.
"Aaahhh...perutku perih sekarang, aku sangat lapar" ucap Anindita memegangi perutnya.
Tentu saja dia sangat lapar karena barusan memuntahkan seluruh makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya, tuan Antonio juga tidak tega melihat kondisi Anindita saat itu, sehingga dia langsung saja menawarkan kepada Anindita untuk pergi makan dengannya.
"Apa yang ingin kau makan aku akan menyuruh Seno untuk membelikannya nanti" ujar tuan Antonio kepada Anindita saat itu.
"Aku ingin makan yang banyak apapun itu aku akan memakannya tapi aku tidak suka selai kacang, aku sangat tidak suka" ucap Anindita sambil memejamkan matanya dan terlihat menahan sakit di perutnya saat itu,
Tuan Antonio juga terlihat merasa bersalah kepada Anindita atas semua perbuatan yang dia lakukan sebelumnya namun bagi orang sepertinya meminta maaf kepada seorang perempuan sangatlah tidak bisa dia lakukan, itu terasa sama saja dengan menurunkan harga dirinya terlebih tuan Antonio memiliki ego yang sangat tinggi dan sulit untuk dia kendalikan sendiri.
"Baiklah...aku akan membelikan makanan yang banyak untukmu" balas tuan Antonio yang hanya di anggukkan oleh Anindita saat itu.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor seorang tuan Antonio yang sangat besar dan begitu terkenal di seluruh kota bahkan negara tempat mereka tinggal dalam cerita ini.
Sedangkan disisi lain Anindya orang yang bertukar tempat dengan Anindita dia justru mendapatkan kehidupan yang sangat menyenangkan, dia mendapatkan banyak sekali uang, perhiasan juga pakaian yang sangat cantik dan mewah dengan harga pantastis dari ibu juga Oma nya.
Kini Anindya semakin merasa puas dan begitu senang untuk tinggal seterusnya di kediaman Anindita dan tidak lagi mengira dirinya sebagai Anindya.
Saat ini saja dia tengah belajar dengan mis Elen yang merupakan guru homeschooling Anindita, dia belajar dengan penuh ketekunan dan begitu antusias setiap kali Miss Elen memberikan pertanyaan atau menyuruh dia untuk mencatat, berbeda sekali dengan Anindita yang selalu bermalas-malasan dan terus menolak ketika di mintai mencatat pelajaran apalagi ketika di berikan pertanyaan oleh Miss Elen, Anindita selalu menjawabnya dengan jawaban yang ngasal dan sembarangan, meski dia di kenal dengan gadis yang jenius tetapi Anindita adalah pemalas, dia yang selalu merasa dirinya sudah jenius sejak lahir tidak pernah mau belajar di rumah apalagi dengan gurunya Miss Elen yang sudah lama mengajar dia, sehingga Anindita yang memang seorang gadis aktif dengan kepribadian yang ceria juga cerah dia selalu melakukan semua hal yang dia sukai dan apanyang dia inginkan tidak perlu apakah itu melanggar peraturan atau tidak, dia selu akan tetap melakukannya selama dia menyukai hal tersebut.
Namun kini Miss Elen sendiri merasa sedikit aneh kepada Anindita yang terlihat sangat bertolak belakang dengan Anindita yang biasa dia ajar selama ini, sehingga karena merasa muridnya tersebut bersikap aneh dia pun mulai berjalan mendekati meja Anindita lalu bertanya kepadanya dengan perkataan yang lembut dan secara hati-hati karena dia takut Anindita akan membentaknya seperti yang biasa dia lakukan kepada Miss Elen setiap saat.
"Ekhm... Anindita apa kamu baik-baik saja?" Tanya Miss Elen berbasa-basi dahulu kepadanya,
"Aku baik-baik saja Miss, memangnya ada apa menanyai aku seperti itu?" Balas Anindya yang sama sekali tidak mencurigai Miss Elen sampai ke arah yang lebih jauh.
Anindya hanya terus saja asik belajar karena selama ini dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk bisa menuntut pendidikan dengan tinggi, sebab selalu tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar seluruh biaya sekolahnya selama ini, dia hanya bisa sekolah sampai tingkat SMA saja itupun dia harus mati-matian membantu ayahnya melakukan pekerjaan yang sangat tidak dia sukai melainkan sangat dia benci selama ini.
Miss Elen yang mendapatkan jawab seperti itu dari Anindita dia pun mengesampingkan kecurigaan dan keanehan yang dia rasakan.
"Aahhh....mungkin ini hanya perasaanku saja, atau memang sekarang Anindita sudah tidak semalam dulu lagi, baguslah jika dia memiliki perubahan seperti ini, itu baik juga untuk dirinya sendiri" batin Miss Elen saat itu.
Sebenarnya saat itu Miss Elen sangat penasaran sekali dan ingin menanyakannya le ih dalam karena perubahan pada Anindita sangatlah begitu tiba-tiba sehingga membuat dia merasa kebingungan sendiri.
Tetapi karena mengingat bagaimana karakter dan sifa Anindita yang selalu keras dan marah ketika ada orang yang menanyakan tentang dirinya Miss Elen pun mengurungkan niatnya dan dia justru malah memilih untuk membuang jauh-jauh rasa keheranannya tersebut, sedangkan Anindya sendiri dia terus belajar dengan giat dan begitu senang mendapatkan pembelajaran dari Miss Elen, dia juga sama sekali tidak pernah membantah ucapan atau perintah dari Miss Elen bahkan di saat Miss Elen memberikannya tugas yang cukup banyak dia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, sebab Anindya sangat suka belajar walau dia pada dasarnya tidak sepintar Anindita.
__ADS_1
Sampai pelajaran hari ini selesai Anindya langsung saja pergi kembali ke kamarnya dan segera membersihkan diri, dia selalu mencoba pakaian baru setiap harinya dan memakai banyak gaun berwarna warni yang selalu dia ganti dengan banyak aksen pada gaun tersebut, hal tersebut sangatlah bertolak belakang dengan Anindita yang hanya menyukai warna hitam dan abu, dia sama sekali tidak pernah memakai gaun lain selain dua warna itu dan di dalam lemarinya hampir semua pakaian yang dia miliki berwarna hitam.
Tetapi semenjak Anindya tinggal di rumah itu dan berpura-pura sebagai Anindita, dia justru malah meminta sang ibu untuk memberikannya baju berwarna dengan banyak motif yang cantik bahkan dia meminta baju baru setiap harinya hingga saat ini saja ketika Oma mengajaknya pergi berbelanja ke mall bersama, dia begitu senang dan segera pergi dengan mengenakan pakaian yang begitu mencolok, sebuah gaun berwarna merah muda dengan aksen bunga yang cantik di pinggang juga bagian renda bawahnya.
Dia terlihat sangat feminim ketika mengenakan gaun tersebut dan Oma juga terlihat sangat senang mihatnya walau sebenarnya di dalam hati kecilnya Oma merasa Anindita telah banyak berubah, tetapi perubahan yang seperti ini membuat Oma merasa cukup senang sebab dia merasa bahwa Anindita sekarang sudah kembali memiliki semangat hidup itulah yang selalu Oma pikirkan ketika melihat Anindita begitu tertarik dengan pakaian yang berwarna dan terlihat lebih banyak bicara juga memiliki kelembutan layaknya wanita feminim pada umumnya.
"Anindita, apakah kamu sudah memutuskan untuk berubah juga menikmati hidupmu? Sebelumnya kamu tidak pernah menyukai pakaian yang berwarna apalagi merah muda seperti wanita feminim seperti ini, apa yang membuat kamu memutuskan dan merasa yakin untuk berubah menjadi seperti sekarang ini?" Tanya Oma kepada Anindita saat mereka baru saja sampai di depan mall yang sangat besar di pusat kota saat itu.
Seketika Anindya kaget mendengar pertanyaan dari Omanya Anindita tersebut, dia terperangah dan mulai merasa bingung untuk menjawabnya, dia berusaha untuk mencari alasan yang tepat agar bisa membuat sang Oma mempercayai jawaban darinya.
"Eumm..euu...aku...aku hanya ingin menikmati hidupku saja Oma, dan aku rasa hal seperti ini tidak akan bisa aku dapatkan lagi suatu saat nanti" balas Anindya dan langsung terlihat cukup sedih saat dia mengingat bahwa memang dirinya hanya meminjam sebentar identitas dari Anindita.
Dia juga sudah membuat perjanjian yang sakral dengan Anindita sehingga dia tentu saja harus menepati janji yang sudah mereka berdua sepakat saat itu.
Setelah menjawab pertanyaan dari sang Oma Anindya langsung kembali merubah ekspresi di wajahnya karena dia tidak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan karena baginya saat itu menikmati semua kenikmatan ini salah hidup adalah yang lebih penting sebelum dia benar-benar akan kehilangan semuanya ketika waktunya sudah habis nanti.
Sang Oma juga langsung mengusap lembut pundak Anindya yang dia pikir sebagai Anindita saat itu, Oma memeluk Anindya dengan penuh kasih sayang dan memberikan ucapan penenang terhadapnya.
"Sayang sudahlah jangan terlihat murung dan sedih lagi seperti itu, Oma sudah merasa sangat senang ketika melihat kamu mau berubah dan mau menikmati hidupmu kembali, kamu hanya perlu menikmati semuanya dan harus lebih ceria lagi daripada sebelumnya, apa kamu mengerti?" Ucap sang Oma kepada Anindya sambil tersenyum cerah.
Anindya segera mengangguk patuh dan mereka segera masuk ke dalam mall besar tersebut dan berbelanja banyak sekali makanan juga barang Anindya kembali membeli beberapa pasang pakaian yang sangat cantik dan berwarna terang dia yang menyukai warna merah muda terus saja membeli banyak barang yang sebelumnya tidak pernah sempat bisa dia miliki saat tinggal bersama ayahnya dan disaat dia menjadi Anindya.
Dia membeli boneka hello kitty yang berwarna merah muda, membeli sepatu hak tinggi yang berwarna merah muda juga dia bahkan membeli sebuah pengharum ruangan yang memiliki stiker hello kitty, hal tersebut sempat mencuri perhatian sang Oma karena ini begitu bertolak belakang sangat jauh dari Anindita yang dirinya kenal.
"Sayang apakah kamu yakin ingin membeli semua benda merah muda tersebut?" Tanya sang Oma yang merasa sedikit aneh dan heran,
"A....ahh...aku memang suka warna hitam Oma tetapi aku benar-benar ingin merubah diriku aku ingin mencoba menjadi wanita yang feminim dan bisa menyukai banyak warna yang bagus seperti merah muda dengan begitu aku akan terlihat berbeda, iya kan Oma" ucap Anindya beralasan dan berbohong lagi.
Setiap kali Oma merasa heran dan menanyakan ke anehan yang di perbuat oleh Anindya dalam berbagai hal, Anindya selalu saja bisa membuat alasan dan membohongi Oma nya tersebut, bahkan tidak hanya kepada Oma saja, tetapi kepada Miss Elen juga kepada ibu Kasih yang merupakan ibu kandungnya Anindita sendiri.
Dia tega membohongi banyak orang di kehidupan Anindita hanya demi kesenangan dirinya saja, padahal dalam perjanjian mereka sebelumnya mereka berdua sudah sepakat untuk tidak merubah karakter atau apapun yang sebelumnya dimiliki oleh mereka berdua, di sisi lain Anindita selalu berusaha agar dirinya tidak mencurigakan bagi sang ayah Doni, dia juga bahkan terus berusaha bersikap seperti Anindya pada umumnya ketika berinteraksi dengan ayahnya Anindya Doni.
Tetapi Anindya sendiri justru malah melanggar kesepakatan yang dirinya buat, dia sama sekali tidak memperlihatkan sedikit pun didinya sebagai Anindita yang asli, dia terus saja membohongi orang lain dan menipu semuanya seakan bahwa saat itu Anindita sudah berubah, dia tidak lagi menyukai warna hitam dan justru malah menyukai warna merah muda dan putih, cat di kamar Anindita sudah dia ganti dengan warna putih dan merah muda, yang awalnya berwarna hitam juga abu, bahkan semua perlengkapan di kamar itu yang terlihat seperti kamar orang mati kini sudah berubah total secara perlahan karena Anindya sudah mengubah semuanya satu per satu dan itu tidak membuat ibu dan Oma nya Anindita merasa curiga, sebab semua itu yang mereka harapkan agar terjadi kepada Anindita sejak lama.
Mulai dari ranjang, tirai dan lemari semuanya suda di rubah total, kamar bernuansa hitam abu juga terlihat dingin dan mencekam kini sudah berubah menjadi seperti kamar seorang putri di negeri dongeng, banyak bonka berjajar rapih di ranjangnya juga semua hal yang berhubungan dengan hello kitty, bahkan Anindya memiliki gelas khusus yang sangat langka dengan bentuk kepala hello kitty tersebut.
Sampai semua orang kini mulai mengenal Anindita dengan kepribadian dirinya yang baru, yang padahal itu bukanlah Anindita yang sebenarnya.
Anindya benar-benar telah berhasil menghipnotis semua orang dalam kehidupan Anindita, parahnya mereka semua merasa curiga dan keheranan atas perubahan Anindita tetapi tidak mencoba mencari tahu sebab dan apa yang sebenarnya terjadi kepada putri mereka saat itu.
Ben juga diam-diam selalu memperhatikan Anindya yang terlihat semakin menjadi-jadi, dia sudah berkali-kali memperingati Anindya agar tidak melakukan hal seperti ini, dan mengkhianati perjanjian dirinya bersama dengan Anindita secara perlahan seperti ini.
Karena Ben saat itu tidak berhasil mencari tahu keberadaan Anindita, dia hanya memiliki satu cara yakni meyakinkan Anindya yang asli agar mau kembali pada tempatnya semula dan mengakhiri semua hal yang tidak masuk akal ini.
__ADS_1
Tapi begitulah Anindya yang sudah terlanjur begitu menikmati semua kemewahan dalam hidup yang seharusnya tidak menjadi milik dirinya saat itu, dia tidak bisa menghentikannya dan tidak bisa kembali ke tempat yang dia benci selama hidupnya.