
"Wahh...dia ini memang pria yang suka mencari perhatian di sekilingnya, benar-benar jauh berbeda dengan tipe pria idamanku" batin Anindita saat itu sambil menatap wajah tuan Antonio dari bawah.
Setelah itu Anindita kembali menyembunyikan wajahnya pada dada bidang tuan Antonio karena dia tidak ingin ada satu pun orang yang mengenali wajahnya tersebut atau melihatnya sedang di gendong oleh tuan Antonio di tempat umum seperti itu.
Tuan Antonio sendiri justru malah terlihat tersenyum kecil saat dia berhasil menggendong seorang Anindita dan tidak bisa dia pungkiri bahwa di dalam hati kecilnya diam-diam tuan Antonio mungkin saja menyimpan perasaan yang sesungguhnya kepada Anindita saat itu, hingga tidak lama kemudian bukannya membawa Anindita keluar dari mall itu dan pergi ke mobilnya tuan Antonio justru malah melanjutkan niatnya untuk pergi ke tempat toko ponsel yang paling canggih juga mahal di dalam mall besar tersebut.
Hal itu membuat Anindita merasa sangat heran dan kaget ketika dia membuka matanya dan melihat sekeliling di saat tuan Antonio pertama kali menurunkan dia di depan sebuah toko ponsel tepat sekali di hadapannya sudah ada beberapa pelayang yang tengah menyambut mereka berdua dengan ramah dan membungkuk memberi hormat.
"Selamat malam pak, silahkan masuk kami akan membantu anda untuk memilih ponsel pintar yang anda butuhkan" ujar salah satu pelayan di toko ponsel tersebut,
"Ehhh.... Antonio apa yang kamu lakukan kenapa kau malah membawaku ke tempat seperti ini, astaga ada apa lagi ini" ucap Anindita sambil menatap tajam pada tuan Antonio dan protes keras kepadanya.
Tuan Antonio sendiri justru malah tetap terlihat santai dan membalas tatapan dari Anindita yang jengkel dan jelas hanya dengan tatapan biasa saja juga menaikkan kedua alisnya secara perlahan saat itu.
"Apa? Sudahlah ayo masuk, bukankah tadi ponselmu aku buang, jadi kau bebas memilih gantinya sekarang" balas tuan Antonio yang sama sekali benar-benar tidak peka terhadap wanita juga tidak memahami apa yang di inginkan oleh Anindita sebenarnya.
Anindita hanya bisa mengeratkan giginya dengan kesal dan menghentakkan kakinya cukup keras ke lantai serta menggerutu kesal sendiri merutuki tuan Antonio di belakangnya saat itu.
"Aishh... benar-benar manusia pemaksa dia selalu saja mengikuti kehendaknya aahh aku ingin menghajar kepalanya itu!" Gerutu Anindita sambil gregetan ingin sekali dia menepuk kepala tuan Antonio kala itu.
Sayangnya tuan Antonio langsung berbalik seakan bisa tahu apa yang di ucapkan oleh Anindita dan semua itu membuat Anindita kaget sehingga dia langsung saja memalingkan pandangan dan tuan Antonio sendiri langsung menggandeng tangannya membawa dia masuk ke dalam toko ponsel tersebut dengan cepat.
Hingga ketika mereka berdua sudah .asuk dan tengah memilih ponsel yang akan di gunakan oleh Anindita, tuan Antonio langsung saja meminta ponsel paling canggih dan paling bagus di toko tersebut sehingga sang pelayan segera pergi mengambilnya sedangkan Anindita sendiri sama sekali tidak perduli dengan semua hal yang seperti itu, karena semuanya begitu membosankan dan tidak ada yang menarik disana, hingga tidak lama ketika Anindita tengah menatap ke arah lain sebab tidak ingin berhadapan dengan tuan Antonio, dia tidak sengaja melihat dokter Gavin yang masuk ke dalam toko ponsel tersebut, melihat itu Anindita refleks hendak memanggil dan menyapa dokter Gavin tetapi di saat dia baru saja hendak melambaikan tangannya dia baru ingat bahwa saat itu dirinya bukanlah Anindita dan akan sangat gawat jika sampai dokter Gavin melihatnya berada di luar rumah seperti ini terlebih dengan seorang pria di sampingnya.
"Ehh...bukankah itu dokter Gavin ya...dok....." Ucap Anindita tertahan karena dia langsung tersadar dengan cepat.
Anindita langsung saja membalikkan tubuhnya karena dia tidak ingin dokter Gavin melihat ke arahnya apalagi mengetahui tentang keberadaannya saat itu.
"Aishh...bodoh sekali kenapa aku bisa lupa sekarang ini aku adalah Anindya bukan Anindita, gawat jika sampai dokter Gavin datang menemui aku atau menemukanku disini aaahhh bagaimana sekarang, apa dia berjalan kemari?" Batin Anindita terus saja merasa sangat resah.
Ternyata saat itu dokter Gavin justru malah datang berjalan ke samping Anindita dan tepat sekali berada tidak jauh dari sampingnya sehingga Anindita langsung menghadap ke arah tuan Antonio dan secara refleks juga tidak sengaja Anindita justru melah memegangi tangan tuan Antonio dengan cukup erat saat itu karena dia sangat cemas dokter Gavin akan melihat dirinya, sedangkan pelayan yang melayaninya baru saja datang dan menjelaskan mengenai fungsi yang terdapat dari ponsel keluaran terbaru dan sangat bagus di tokonya tersebut.
Anindita sudah tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun dia juga sama sekali tidak perduli dengan ponsel, di saat tuan Antonio menanyainya agar memilih ponsel mana yang akan di ambil Anindita sama sekali tidak bisa bicara dia tidak ingin mengeluarkan suara karena dia yakin dokter Gavin bisa saja mengenali suaranya saat itu.
"Hey....ayo cepat pilih ponsel mana yang akan kau ambil?" Tanya tuan Antoni terhadap Anindita saat itu.
"Yang mana saja...aku tidak perduli ambil cepat yang mana saja" ucap Anindita dengan bicara sangat pelan.
Tuan Antonio yang merasa sangat heran dengan perubahan sikap Anindita dia hanya bisa .engeritkan kedua alisnya secara bersamaan hingga hampir menyatu dan dia langsung saja berjongkok sedikit menyetarakan tubuhnya dengan tinggi badan Anindita saat itu, lalu mulai bertanya lagi kepadanya.
"Hey...apa yang kau katakan bicara yang benar" ucap tuan Antonio saat itu.
Anindita benar-benar merasa sangat kesal dan gemas sekali kepada tuan Antonio karena kelakuannya yang seperti itu justru malah memicu semua orang menatap ke arah mereka dan menjadikan mereka sebagai pusat perhatian, banyak orang yang memuji lagi tuan Antonio dan mengatakan bahwa hal semacam itu sangat romantis dan sebagainya, padahal Anindita sendiri tengah berada keadaan yang tegang juga sangat panik tidak menentu saat itu.
"Benar-benar manusia bodoh dan sialan, aaahhh bagaimana ini aku harus bagaimana sekarang" batin Anindita terus saja merasa cemas.
Sampai tidak lama ketika Anindita mengintip ke samping sedikit dia melihat dokter Gavin mendekatinya dan Anindita sangat panik saat itu sehingga dia langsung menunjuk salah satu ponsel dan mengatakan bahwa dia menginginkan itu sambil tiba-tiba langsung saja memeluk tuan Antonio dan dengan sengaja menenggelamkan wajahnya ke dalam tubuh tuan Antonio yang terhalang dengan setelan jasnya saat itu.
"Itu...aku mau yang itu, cepat bungkus ayo kita pergi aku tidak ingin disini" ucap Anindita yang membuat tuan Antonio sangat kaget dan terperangah dengan heran saat itu.
"Ahhhh..tolong di bungkus, ini" ucap tuan Antonio sambil memberikan kartunya dan pembayaran pun selesai.
"Ada apa dengan bocah satu ini, kenapa dia tiba-tiba memelukku begitu erat, bukankah dia sangat membenciku dan tidak ingin berada dekat denganku, sekarang kenapa dia malah memelukku secara tiba-tiba di depan umum dan membuat semua orang semakin memperhatikan dirinya, dasar gadis bodoh" batin tuan Antonio merasa kebingungan sendiri.
Tuan Antonio segera mengambil ponsel yang sudah di bungkus rapih oleh pelayan tadi lalu dia langsung saja menyuruh Anindita untuk melepaskan pelukan darinya, namun Anindita sama sekali tidak bisa melepaskan pelukan itu karena dia masih mendengar suara dokter Gavin yang sangat jelas tengah memilih ponsel juga di tempat itu, dan lebih parahnya Anindita juga tahu bahwa dokter Gavin saat itu berada tepat di sampingnya.
"Ayo kita kembali, sampai kapan kau akan memelukku seperti itu apa kau tidak malu di lihat banyak orang ya?" Ujar tuan Antonio kepadanya,
"Tidak aku tidak malu, ayo gendong aku, ayo cepat aku tidak mau jalan aku mau kau menggendongku!" Ucap Anindita yang membuat tuan Antonio kembali membelalakkan matanya dan dia mengerutkan kedua alisnya bersamaan.
Bahkan bukan hanya tuan Antonio yang kaget mendengar ucapan itu, dokter Gavin yang ada di samping mereka juga ternyata menatap ke arah Anindita yang masih memeluk tuan Antonio dengan erat, dokter Gavin merasa aneh melihat pasangan yang berpelukan seperti itu di depan umum dan dia langsung saja menepuk pundak Anindita dengan pelan sambil menggodanya karena saat itu dokter Gavin pikir wanita tersebut bukanlah Anindita.
"Hey...gadis kecil pacarmu sangat kaget saat mendengar ucapanmu, kau harus berhati-hati dengannya" ucap dokter Gavin kepada Anindita saat itu.
Tuan Antonio yang melihat bahu Anindita di sentuh pria lain dia langsung saja menatap dokter Gavin dengan tatapan yang tajam menusuk, tetapi Anindita sendiri langsung saja diam membeku tidak bisa melakukan apapun lagi.
"Heh...jangan beraninya kau menyentuh wanitaku, minggur kau!" Ucap tuan Antonio yang langsung saja menggendong Anindita dengan cepat pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
Sedangkan dokter Gavin sendiri hanya tersenyum kecil dan dia kembali fokus pada barang yang akan dia beli sebelumnya saat itu.
"Anak muda jaman sekarang memang gaya pacarannya sangat aneh" gerutu dokter Gavin saat itu sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Sedangkan disisi lain tuan Antonio yang sudah membawa masuk Anindita kini dia mulai menyetir mobil kembali ke kediamannya dengan perasaan yang gugup dan tidak menentu, sepanjang perjalanan tidak ada percakapan diantara tuan Antonio dan Anindita, mereka sama-sama diam dan tidak berani mengeluarkan sepatah katapun.
Anindita juga merasa sangat bingung sebab dia tahu apa yang baru saja dia lakukan kepada tuan Antonio akan membuat tuan Antonio salah paham terhadap dirinya, sedangkan tuan Antonio sendiri diam karena dia marah dan kesal sebab Anindita masih membuat pria lain memberikan perhatian kepadanya apalagi menyentuh pundaknya saat itu, tepat di hadapan dirinya sendiri.
Hingga mereka sampai di mension tuan Antonio, masih tidak ada yang mau memulai obrolan satu sama lain dan Anindita bingung dia akan tidur dimana saat ini maka dari itu terpaksa Anindita menahan tangan tuan Antonio dan menanyakan kepadanya kamar mana yang bisa dia tempati.
"Ehh... Antonio tunggu" ucap Anindita sambil menahan tangannya.
Tuan Antonio langsung berbalik dan dia menatap ke arah Anindita yang memegangi tangannya sampai membuat Anindita segera melepaskan genggaman tangannya dari tuan Antonio dengan cepat.
"Aahh...aku minta maaf aku tidak bermaksud memegangi tanganmu, aku hanya ingin bertanya kamar mana yang bisa aku tempati?" Tanya Anindita sambil segera meminta maaf agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka lagi,
"Kau tidak perlu meminta maaf hanya karena memegangi tanganku, karena mau adalah calon istriku" ucap tuan Antonio membuat Anindita kaget dan langsung memebalalakkan matanya dengan lebar.
"HAH?... Aku belum setuju dengan hal itu, aishh... Kenapa kau malah mengungkit hal seperti itu sih, sangat menyebalkan" balas Anindita yang tidak bisa menahan emosi di dalam dirinya sendiri saat itu.
Tuan Antonio tersenyum sendiri mihat Anindita yang sudah kembali dengan karakternya yang semula dan dengan melihat Anindita yang marah seperti itu kepadanya tuan Antonio justru merasa senang sebab dia bisa melihat Anindita yang asli lagi.
"Itu kamarmu ada diatas saja tepat di samping kamarku" balas tuan Antonio sambil segera dia pergi menaiki tangga dan di ikuti oleh Anindita saat itu.
Anindita segera pergi ke kamarnya dan dia langsung menutup pintu dengan cepat namun rupanya ada yang telah dia lupakan sampai tuan Antonio datang mengetuk pintu kamarnya saat itu.
"Tok ..tok....tok....heh..gadis bodoh jangan pura-pura tidur cepat buka pintunya" teriak tuan Antonio di balik pintu kamarnya.
Anindita memang saat itu sudah membaringkan tubuhnya di ranjang dan dia memang sengaja tidak mendengarkan teriakkan dari tuan Antonio yang terus mengetuk pintu sedari tadi, namun rupanya perbuatan dia seperti itu sudah di ketahui oleh tuan Antonio bahkan tanpa dia perlu melihatnya secara nyata.
"Aishh....ada apa lagi sih manusia sialan itu," gerutu Anindita dengan kesal dan emosi.
Dia segera saja bangkit dari ranjangnya dan pergi membukakan pintu untuk tuan Antonio.
"Heh...ada apa lagi kau malah mengetuk pintu kamar orang di tengah malah seperti ini, apa kau tidak bisa membuat aku istirahat sejenak saja, aku lelah aku ingin tidur apa kau tidak tahu hah!" Bentak Anindita yang langsung saja menyemprot tuan Antonio dengan kemarahannya sekaligus.
"Apa kau sudah selesai berbicara omong kosongnya?" Balas tuan Antonio membuat Anindita sedikit merasa tidak enak hati,
"A..ahhh...sudah, ayo cepat katakan kau mau apa mengetuk pintu kamarku" balas Anindita masih dengan emosi dan kesal,
"Ini kau melupakan ponselmu" balas tuan Antonio sambil memberikan ponsel itu kepada Anindita.
Sayangnya saat itu Anindita sama sekali tidak membutuhkan hal tersebut dari tuan Antonio dan dia juga sangat tidak ingin mendapatkan barang atau apapun dari tuan Antonio sebab dirinya sama sekali belum menyetujui tuan Antonio untuk menikahinya, dan dia pantang menerima barang dari lawan jenis jika memang mereka tidak memiliki hubungan apapun seperti dirinya dengan tuan Antonio.
Sehingga saat itu juga Anindita langsung saja menolak pemberian dari tuan Antonio barusan.
"Aku tidak butuh itu, dan kau tidak perlu membelikan apapun untukku, kita bukan siapa-siapa dan aku tidak senang menerima pemberian dari orang asing" balas Anindita sambil langsung saja menutup kembali pintunya dengan cukup keras.
Itu adalah pertama kalinya tuan Antonio menerima sebuah ucapan penolakkan dan sangat sadis dari seorang perempuan sampai membuat hatinya terasa sakit dan harga dirinya cukup tergores oleh Anindita.
"Apa? Aish....berani sekali gadis sialan itu menolakku dan malah mengatakan aku orang asing untuknya, apa dia bisa melupakan kejadian di mall itu dengan begitu cepatnya?" Gerutu tuan Antonio sangat kesal dan geram.
Dia menggantungkan tote bag kecil berisi ponsel edisi terbaru tersebut pada gagang pintu kamar Anindita dan segera saja dia pergi kembali masuk ke dalam kamarnya dengan sangat emosi, bahkan sampai membanting pintu kamarnya sangat keras hingga Anindita sendiri bisa mendengarnya dan cukup kaget saat itu.
"Brak...." Suara pintu yang di banting oleh tuan Antonio sangat keras saat itu,
"Wahhh....apa dia sangat amarah hanya karena aku menolak pemberiannya,
"CK...kenapa juga dia harus marah, aku sudah bilang padanya untuk tidak membelikan aku hal apapun termasuk ponsel itu, dia sendiri yang memaksa maka jangan salahkan aku" gerutu Anindita sambil segera saja menarik selimutnya dan tidur dengan cepat malam itu.
Anindita sama sekali tidak perduli apapun kepada tuan Antonio sekalipun dia marah besar dan sangat jengkel dalam menghadapi dirinya, karena memang dia sendiri tidak bisa membohongi hati dan perasaannya bahwa hanya dokter Gavin yang dia sukai sejak dulu hingga saat ini.
Sampai ke esokan paginya Anindita sudah bersiap memakai pakaian rapih dan membawa tas kecil di tubuhnya dia keluar dari kamar dan melihat ada ponsel itu menggantung di pintunya dia sangat sebal saat melihat ponsel itu dan langsung saja mengambilnya lalu mengetuk pintu kamar tuan Antonio dengan keras.
"Tok....tok....tok....tok....heh.. Antonio apakah kau sudah bangun? Antonio cepat buka pintunya atau aku akan merusak pintu kamarmu!" Ancam Anindita yang berhasil membuat tuan Antonio segera pergi membukakan pintu untuknya,
"Ada apa kau pagi-pagi sekali mengacau di depan kamarku" balas tuan Antonio yang saat itu sudah memakai pakaian rapih dan tengah memegangi dasi di tangannya,
__ADS_1
"Kau sudah bangun dan rapih tapi sangat lama membukakan pintu untukku, cih......dasar kau manusia lelet, ini aku hanya ingin memberikan ini kepada tangan yang seharusnya menerima, aku sudah bilang sejak awal kepadaku aku tidak akan menerima apapun darimu, karena aku tidak setuju kau menikah denganku, apa kau mengerti sekarang?" Balas Anindita kepada Antonio dan memberikan ponselnya tersebut kehadapan Antonio.
Namun sayangnya tuan Antonio tidak bisa menerimanya dan dia sangat kesal sekali saat itu, sebab Anindita terus saja menolak pemberian darinya, padahal baginya itu hanyalah sebuah ponsel saja.
Anindita yang melihat tuan Antonio hanya dia mematung sambil menatap datar kepadanya dia tidak ingin terus berdiri berlama-lama di hadapan Antonio yang terus menatapnya seperti itu sehingga dia menarik tangan Antonio san memaksakan tangan Antonio untuk memegangi ponsel tersebut.
"Aishh...sudah ini kau pegang baik-baik dan jangan berikan lagi padaku, sudah sana pergi aku juga akan pergi sekarang" tambah Anindita membuat tuan Antonio tidak bisa menahan kesabarannya lagi saat itu.
Antonio langsung saja melemparkan ponsel tersebut tepat masuk ke dalam tong sampah yang ada di kamarnya saat itu.
Anindita kaget saat melihat ponsel yang baru di beli dengan harga pantastis dia buang begitu saja dengan sangat mudah.
"Ehhh....kenapa kau membuangnya apa kau bodoh, ponsel itu sangat mahal" ujar Anindita kepada tuan Antonio saat itu,
"Aku membelikannya untukmu dan jika kau tidak bisa menerimanya untuk apa lagi ponsel itu, di buang lebih baik" balas tuan Antonio dan langsung saja menutup pintunya dengan keras sampai membuat Anindita tersentak kaget saat itu.
"Brak..." Suara pintu yang di banting tuan Antonio untuk kedua kalinya.
"Astaga...apa dia ini bodoh ya, sudah tahu ada aku kenapa harus membanting pintu sekarang ini, apa dia benar-benar marah denganku? Aaaahh bodoh amat kenapa juga harus perduli dengan orang menyebalkan sepertinya, sangat menguras energi dan menyia-nyiakan waktuku" tambah Anindita bicara sendiri saat itu.
Dia segera turun ke lantai bawah dan melihat di atas meja makan sudah tersaji roti yang berjajar rapih juga selai yang tersedia dengan berbagai macam rasa disana, namun sayangnya tidak ada selai rasa stroberi padahal Anindita sangat menyukai rasa stroberi dalam hal apapun selama ini.
"Ehhh...kenapa tidak ada selai stroberi, aku ingin rasa stroberi jika tidak ada aku tidak akan sarapan saja" ucap Anindita dengan kesal dan melipatkan kedua tangannya di dada saat itu.
Pelayan disana menatap dengan kebingungan satu sama lain karena memang di rumah itu tidak pernah ada selai stroberi sebab tuan Antonio yang tidak pernah menyukai hal tersebut sebab hal seperti itu terlalu kewanitaan dan dia juga hanya memakan selai coklat dan kacang selama ini sehingga hanya itu yang selalu di sediakan oleh para pelayan disana setiap pagi.
Pelayan yang menyajikan makanan itu segera meminta maaf kepada Anindita karena memang mereka tidak bisa menyajikan selai stroberi sesuai dengan apa yang Anindita inginkan itu.
"Maaf nona tetapi tuan Antonio tidak menyukai selai stroberi sehingga kami tidak di izinkan untuk membelinya apalagi menyajikannya di meja makan" balas pelayan disana.
Anindita sangat kesal sampai dia pun memutuskan tidak makan.
Sekaligus itu kesempatan baginya agar membuat Antonio kesal dan menyerah kepadanya karena dia yang merepotkan dan selalu membuatnya kesal dalam setiap waktu.
"Ya sudah aku tidak akan sarapan aku akan pergi" balas Anindita yang langsung saja berdiri hendak pergi dari sana.
Sedangkan di belakangnya sudah ada tuan Antonio yang baru saja turun dari tangga dan langsung berteriak memanggil nama Anindita dengan keras.
"Anindya! Berani kau keluar satu langkah saja dari rumah ini aku akan memotong kakimu!" Ancam tuan Antonio dengan sangat keras saat itu.
Anindita yang kaget dia langsung saja berdiri menghentikan langkahnya dan diam mematung tidak bisa melakukan apapun, hingga Antonio datang menghampirinya dan menarik tangannya lalu membawa dia untuk segera kembali ke meja makan, bahkan saat itu Antonio dengan sabar mendorongkan kursi untuk Anindita.
"Ayo duduk" ujar tuan Antonio kepadanya,
"Antonio aku tidak mau, tidak ada makanan yang bisa aku makan disini, tidak ada selai stroberi dan hanya ada selai kacang aku tidak suka, aku tidak akan makan!" Balas Anindita dengan wajah yang cemberut,
"Jika aku memaksamu apa kau akan makan?" Balas tuan Antonio sambil mengoleskan selai kacang tersebut pada roti di tangannya,
Anindita langsung saja menatap ke arah tuan Antonio dengan wajah yang keheranan, dan dia sama sekali tidak akan menurut dengan tuan Antonio dengan mudahnya sekalipun tuan Antonio akan memaksanya saat itu.
"Tidak meski kau memaksaku aku tidak akan makan, aku juga tidak lapar nafsu makanku sudah hilang sejak tadi" balas Anindita yang masih saja keras kepala saat itu.
Padahal di dalam hatinya Anindita merasa sangat senang sekali ketika melihat wajah lelah Antonio yang selalu menahan emosi kepadanya, dia merasakan bahwa rencananya untuk membuat Antoni membenci dia akan berhasil, dan dengan begitu dia bisa meloloskan diri juga bisa terbebas dengan cepat hingga tidak jadi menjadi istrinya Antonio yang sangat kejam dan menjengkelkan tersebut.
"Ahahaha...dia pasti sangat kesal dan jengkel menghadapi ku, lihat saja nanti aku akan membuat kau semakin kesal denganku dan kau sendiri yang akan melepaskan aku dari rumah ini hehe" batin Anindita saat itu.
Disaat Anindita melamun dan memikirkan mengenai hal tersebut dia sedikit tidak fokus dengan sekelilingnya dan disaat tuan Antonio memanggil namanya dia langsung saja berbalik menoleh ke arah tuan Antonio sambil berbicara dan membuka mulutnya tetapi justru mah tuan Antonio yang menciumnya secara tiba-tiba saat itu bahkan dia memasukkan roti dari mulutnya ke dalam mulut Anindita yang membuat Anindita merasa sangat mual saat menerimanya.
"Anindita kemari" ucap tuan Antonio saat itu sengaja membuat Anindita masuk dalam jebakannya dengan begitu mudah,
"Ada ap.....eumm sialan apa yang kau lakukan, dimana tisyunya eumm" ucap Anindita yang langsung saja mencari tisyu agar dia bisa memuntahkan roti di dalam mulutnya saat itu.
"Sekali kau memuntahkannya aku akan melemparkan dirimu ke kandang macam saat ini juga!" Ancam tuan Antonio dengan memberikan tatapan yang tajam kepada Anindita saat itu.
Karena kaget dan takut Anindita tanpa sadar menelan roti di dalam mulutnya tersebut dan dia baru sadar dengan mengedipkan matanya beberapa saat merasakan roti itu sudah hilang tertelan olehnya.
"Aahhh...rotinya...aishh..aku menelannya aaahh aku tidak ingin menelannya aku tidak ingin huaaa" rengek Anindita yang membuat tuan Antonio tersenyum kecil melihat tingkahnya yang konyol tersebut.
__ADS_1