
"Aku... yang menjemput kau dari rumahmu dan aku juga yang menggendongmu berkali-kali sampai membuat tanganku sakit dan pegal sekarang, kau itu sangat berani dan cerewet juga sangat menjengkelkan di tambah satu lagi kau sangat, sangat merepotkan, jadi tolong jangan membebani aku lagi, apa kau mengerti hah?" Ucap tuan Antonio dengan tegas dan wajahnya yang begitu tegang kepada Anindita.
Membuat Anindita sendiri merasa sedikit bingung juga takut melihat wajah tuan Antonio yang memberitahu dia dengan cara bicaranya yang seperti sangat gemas dan ingin memangsa aku sepertinya.
Anindita hanya menatapnya dengan perasaan sedikit heran karena melihat Antonio yang terlihat begitu marah dan gemas dengannya bahkan kedua matanya membulat sempurna dengan gigi yang dia meratakan sangat kuat juga kedua tangannya yang dia kepalkan saat itu.
"Hey ...aku kan hanya bertanya kenapa kau harus terlihat emosi sampai seperti itu, santai aja dong" balas Anindita kepadanya.
Tuan Antonio kembali harus menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan dia tidak tahu lagi bagaimana cara menyadarkan Anindita bahwa dia sangat menjengkelkan untuk dirinya dan dia ingin sekali menghajarnya sekarang ini dengan tangan dia sendiri sebab dia tidak bisa berhenti bicara dan tidak membiarkan dia untuk pergi dari sana secepatnya.
"Aaahh...sudahlah, sebaiknya kau tidur aku tidak ingin bicara dengan orang bodoh sepertimu lagi, kau selalu membuatku naik darah, nanti jika kesabaranku benar-benar sudah habis, aku akan menendang mu ke kandang macam!" Bentan tuan Antonio sangat keras dan dia langsung keluar dari kamar Anindita sambil membanting pintu kamar itu cukup keras.
Bahkan Anindita sendiri merasa sangat kaget ketika melihat pintu kamarnya di banting sangat kuat oleh tuan Antonio seperti itu, dia memegangi dadanya yang kaget terperangah melihat kemarahan tuan Antonio yang sangat mengerikan.
"Astaga ... ternyata tadi itu dia sungguh marah padaku, aku pikir dia hanya biasa aja seperti kemarin, lagi pula dia sendiri yang mengusirku lalu menjemput ku kembali ke rumah sekarang malam membawaku kemari, apa yang salah dengan otaknya itu" gerutu Anindita merasa heran sendiri.
Dia pun segera menarik selimutnya tersebut dan tertidur dengan cepat melanjutkan tidur dia yang sempat terganggu sebelumnya, sedangkan disisi lain tuan Antonio yang sangat emosi dia langsung mengacak kamarnya sendiri untuk melupakan emosinya terhadap Anindita yang membuat dia sangat jengkel sekali seharian ini.
"Aarrkkkk... benar-benar wanita yang sangat menjengkelkan aku tidak akan bersikap baik lagi padamu, lihat saja nanti kau Anindya, aku akan membuatmu menjadi tunduk denganku dan menuruti semua ucapanku!" Ucap tuan Antoni penuh dengan kekesalan.
Dia bahkan meminum obat tidur dengan dosis lebih banyak dari biasanya karena ingin tidur lebih cepat malam ini agar dia bisa melupakan semua kekesalan dan emosi dia dengan Anindita, sebab dia tahu jika dia tidak akan bisa tidur dengan tenang jika masih dalam keadaan marah dan terus memikirkan orang seperti Anindya yang terus membuatnya emosi tanpa ada jeda.
Sampai ke esokan paginya Anindita keluar dari kamarnya dengan memakai piyama pendek juga baju yang pendek juga berwarna hitam, dia selalu memakai warna hitam kemanapun dia pergi dan apapun yang dia kenakan karena itulah warna kesukaannya berbeda dengan Anindya yang sebenarnya dimana dia sangat menyukai warna putih juga merah muda.
Ketika Anindita keluar dari kamar saat itu tuan Antonio juga baru saja menuruni tangga untuk membukakan pintu bagi sahabatnya sekretaris Seno yang akan datang ke rumahnya hari ini untuk menjemput dia ke kantor bersama sekaligus membantunya membawa beberapa berkas yang cukup banyak di ruang kerjanya tersebut.
Namun disaat dia menuruni tangga tuan Antonio melihat Anindita memakai pakaian yang pendek dimana itu memperlihatkan kaki jenjang dan tangannya yang mulus, tentu saja tuan Antonio sangat marah dan kembali jengkel di buatnya.
Dia langsung memanggil nama Anindya dengan keras lalu berjalan dengan cepat menghampirinya.
"Astaga....anak itu, kenapa dia sangat senang membuat aku marah dan jengkel" gerutu tuan Antonio pada pertama kali melihatnya.
"Anindya!" Teriak tuan Antonio yang sangat kencang membuat Anindita menghembuskan nafas kasar sambil menengok ke arahnya dengan santai.
"Huuuhh....ada apa lagi sih dengan pria satu ini, kenapa dia tidak bisa sekali saja membiarkan aku hidup dengan tenang dan damai, selalu saja berteriak memanggil namaku seperti itu dan memarahiku" gerutu Anindita yang juga sudah merasa sangat bosan.
Tuan Antonio menghampirinya dengan cepat sebelum Seno akan masuk ke dalam rumahnya dan melihat Anindita dalam keadaan seperti itu.
"Anindya cepat kembali masuk ke dalam kamarmu dan jika kau ingin keluar ganti pakaianmu dengan yang lebih baik, ayo cepat apa lagi yang kau tunggu?" Ucap tuan Antonio yang tiba-tiba saja langsung mendorong tubuh Anindita untuk masuk ke dalam kamarnya secara paksa.
Anindita langsung berontak dan dia mendorong balik tubuh tuan Antonio karena dia memang tidak ingin masuk ke dalam kamarnya saat itu, tetapi tuan Antonio malah terus saja memaksa dia dan terus mendorong tubuhnya dengan kuat.
"Tidak....aku tidak mau, aku baru saja keluar kenapa aku harus masuk lagi ke dalam? Aku tidak mau, aku mau makan perutku lapar" ucap Anindita terus saja berontak dan tidak patuh kepada tuan Antonio,
"Kau harus masuk ...ayo cepat kau harus masuk" balas tuan Antonio saat itu.
Hingga terjadilah aksi saling dorong diantara mereka berdua yang memiliki pemikiran dan sikap keras kepala yang sama hingga akhirnya tuan Antoni memang sudah terlambat karena sahabatnya Seno sudah masuk ke dalam rumahnya, dan melihat aksi mereka berdua yang saling dorong dan terus saja memaksa satu sama lain dimana saat itu posisinya tuan Antonio memeluk Anindita dari belakang dan dia berusaha untuk membawa Anindita masuk ke dalam kamarnya kembali yang tidak jauh dari sana namun Anindita sendiri berusaha berontak untuk melepaskan tangan tuan Antonio dari tubuhnya saat itu.
Seno yang melihat kejadian itu dia langsung terbelalak kaget karena ini adalah pertama kalinya sepanjang hidup dia selama berteman dengan tuan Antonio bisa melihat seorang tuan Antonio yang anti dan kejam dengan wanita dia malah terlihat memeluk seorang wanita dan bertengkar seperti itu di hadapannya secara langsung.
"Ekhmm...... Tuan" ucap sekretaris Seno membuat Anindita dan Antonio langsung berbalik menatap ke arah Seno dengan tatapan yang kaget sekali saat itu.
Tuan Antonio yang kaget melihat Seno sudah ada di depan sana dia pun segera menarik tubuh Anindita ke belakang tubuhnya bermaksud untuk menyembunyikan Anindita dari tatapan Seno, karena dia tahu bahwa Anindita memakai pakaian tidur yang sangat pendek saat itu, namun Anindita yang sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari tuan Antonio dia justru malah terus saja menyapa sekretaris Seno bahkan dia berusaha melepaskan diri dari tuan Antonio saat itu.
"Astaga...gawat jangan sampai si Seno sialan ini melihat pahanya, aaahh ini sangat tidak boleh" batin tuan Antonio yang panik sendirian.
"Ehh... sekretaris Seno, hai....selamat pagi" ucap Anindita yang malah menyapanya dengan tersenyum ramah.
Tentu saja hal tersebut di balas dengan ramah juga oleh sekretaris Seno sedangkan tuan Antonio menatap dengan tajam kepada sekretaris Seno juga langsung beralih memberikan tatapan tajam itu kepada Anindita, sampai membuat Anindita menaikkan kedua alisnya merasa heran.
"Apa...kenapa kau menatapku setajam itu, memangnya aku tidak boleh menyapa sahabatmu sendiri?" Tanya Anindita dengan polosnya saat itu.
Tuan Antonio langsung saja memeluk Anindita dan dia menggendongnya sekalian membawa dia menaiki tangga dan langsung memasukkan Anindita ke dalam kamarnya lalu dia menjatuhkan Anindita di ranjangnya dengan cukup kasar saat itu sampai membuat Anindita mulai merasa takut dengan dirinya.
"Tu...tu..tuan...kau mau apa hah? Kenapa kau malah membawaku ke kamarmu?" Ucap Anindita dengan wajah yang mulai panik saat itu.
__ADS_1
Sementara tuan Antonio terus saja mendekatinya secara perlahan dan terus mendesak Anindita hingga dia tidak bisa kabur lagi saat itu, wajah mereka terlalu dekat dan Anindita sangat panik sekali, pikirannya sudah melayang kemana-mana dan dia tidak bisa menghindar dari sana saat itu sebab kedua tangan tuan Antonio terlalu kokoh untuk dia singkirkan.
"Tuan lepaskan aku, kau mau apa hah!" Bentak Anindita semakin tidak karuan.
"Aku bisa memakan mu kapan saja jika aku ingin, tapi aku terus berusaha menahannya, kenapa kau tidak mengerti itu Anindya! Sekarang kau malah memakai pakaian seperti ini tanpa rasa malu sedikitpun dan kau malah menyapa sahabatku Seno, apa kau mau menggodanya juga, iya?" Bentak tuan Antonio yang membuat Anindita membuka matanya sangat lebar kemudian dia langsung tersenyum kecil karena dia sudah tahu mengapa tuan Antonio semarah itu kepadanya sekarang.
Sedangkan tuan Antonio yang melihat Anindita malah menahan senyum seperti itu dia tentu saja semakin kesal dan marah sampai dia kembali membentaknya saat itu juga.
"Apa yang kau tertawakan, apa kau pikir aku ini lucu hah? Apa kau pikir dengan sikapmu seperti tadi itu bagus, iya?" Bentak tuan Antonio lagi.
"Antonio kau menyukaiku bukan?" Balas Anindita begitu saja sampai membuat tuan Antonio langsung merasa gugup dan dia memalingkan pandangannya dengan cepat dari Anindita untuk menyembunyikan rasa gugupnya tersebut.
"Ha...hahaha...jangan terlalu percaya diri kau, aku menerimamu karena tanganmu yang cocok dengan cincin itu dan hanya kau yang bisa membuat para wanita di luar sana tidak akan mengganggu aku lagi" balas tuan Antonio langsung bangkit terduduk di tepi ranjang dan menjauhi Anindita.
Anindita terus tersenyum karena dia berhasil membuat tuan Antonio akhirnya menjauhkan dirinya dari dia sehingga dia bisa segera bangkit saat itu, dan duduk di samping tuan Antonio yang masih terlihat gugup.
Anindita yang melihat itu dia yang memang selalu jahil justru malah dengan sengaja menggoda tuan Antonio, dia menggeser duduknya mendekati tuan Antonio hingga mereka sangat dekat dan dia langsung menatap tuan Antonio dengan lekat sambil kembali bertanya kepadanya.
"Antonio apa kau yakin tidak menyukai aku? Lihat kemari jika kau benar-benar tidak menyukaiku" ucap Anindita sengaja menantang Antonio.
Tentu tuan Antoni menolaknya dengan membuat alasan sangat kuat saat itu sebab dia tidak ingin terbongkar dan dia sendiri juga masih belum merasa bahwa dirinya menyukai Anindita saat itu, dia masih berpikir bahwa ini hanya perasaan normal karena dia tidak ingin kesalahan pahaman terjadi dan dia hanya menjaga rahasianya supaya hanya dirinya dan Anindya saja yang mengetahui mengenai hal ini.
"CK...untuk apa aku menatap wanita yang tidak aku sukai, sia-sia saja" balas Antonio saat itu.
Anindita semakin senang menggoda Antonio dan dia langsung berjongkok di hadapan Antonio lalu menatapnya yang membuat Antonio tidak bisa lari lagi dari tatapan Anindita saat itu, dia menatap Anindita yang tersenyum manis kepadanya.
"Antonio apa kau masih tidak menyukai aku sekarang? Atau kau membenciku?" Tanya Anindita lagi dan lagi membuat Antonio berada dalam pilihan yang sulit.
Namun dengan cepat tuan Antonio langsung saja mengatakan bahwa dia membenci Anindita dan lagi-lagi dia mengatakan dia hanya memanfaatkan Anindita saja untuk kepentingan mereka berdua.
"Tidak...aku tidak menyukaimu dan aku sangat membencimu, apa kau belum mengerti deng...." Ucapan tuan Antonio yang tidak sampai karena Anindita tiba-tiba saja mencium pipinya saat itu secara tiba-tiba.
Hal itu langsung membuat tuan Antonio membelalakkan matanya dengan sangat lebar dan dia langsung memegangi pipinya dengan menatap lekat kepada Anindita.
"Kenapa?..... Kau membenciku kan, jadi aku menciummu agar kau tidak membenci aku lagi, aku akan tinggal disini jika kau tidak ingin sahabatmu itu melihatku keluar dengan pakai seperti ini, jadi sebaiknya sekarang kau keluar, sekretaris Seno sudah menunggumu" balas Anindita yang dengan santai duduk di sofa yang ada di dalam kamar Antonio dan dia menyalakan tv di sana dengan santainya berbaring seperti tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya antara dia dan Antonio.
"Kenapa kau masih disini? Ohh kau mau aku berikan kecupan lagi ya, sini aku bisa memberikannya untukmu" tambah Anindita semakin menggodanya dengan sengaja.
Tuan Antonio langsung saja bangkit berdiri dan dia membentak Anindita dengan keras.
"Aishhh ...dasar kau wanita sialan, aku harus mencuci wajahku karena kau, awas saja kau jika berani lagi menyentuhku, aku akan mematahkan tanganmu itu!" Bentak tuan Antonio sambil segera pergi dari sana secepatnya.
Anindita yang mihat tuan Antonio pergi dengan wajahnya yang gugup juga terus memegangi sebelah pipinya seperti itu dia benar-benar merasa sangat puas dan terus saja tertawa dengan begitu keras disana.
Dia sudah berhasil menggoda Antonio habis-habisan dan dia benar-benar tidak menduga jika tuan Antonio yang kejam itu ternyata memang benar-benar menyukai dirinya sehingga membuat Anindita merasa sangat puas sekali saat itu.
"Ahahah....dia sangat konyol, wajahnya itu konyol sekali, jika tahu begitu sejak awal aku akan melakukannya, agar dia tidak berani membentak aku atau mengancamku yang tidak-tidak, dasar pria konyol" ucap Anindita terus saja tertawa keras sambil berguling di ranjang tuan Antonio saat itu.
Tetapi disaat dia tengah terus tertawa sangat puas dia baru saja ingat bahwa saat ini dia tidak menjadi Anindita di mata tuan Antonio melainkan Anindya sehingga dia berpikir jika nanti dia berbalik tempat lagi dengan Anindya maka dia juga akan pergi meninggalkan tuan Antonio dan dia pikir mungkin Anindya yang asli tidak akan senang dengan masalah ini nantinya.
"Aaahhhh...bodoh, kenapa aku tidak ingat dengan hal itu, aku kan Anindya bukan Anindita lagi, jika nanti dia melihat Anindya nya berbeda? Apa yang akan terjadi yah? Tapi Anindya kan saling jatuh cinta dengan Ben, uhhh .....kasihan sekali sih pria ini, dia akan menjadi si kejam yang kesepian dan terus merasa sakit hati karena Anindya tidak mungkin menerima cintanya nanti, malang sekali nasibnya, lebih mending aku walau akan mati muda, tapi aku tahu dokter Gavin tidak memiliki wanita di sampingnya dan hanya aku yang bisa dekat dengannya" tambah Anindita memikirkan hal tersebut.
Dia pun berniat untuk menjaga jarak dengan Antonio, karena dia tidak boleh membuat Anindya nantinya merasa kesulitan dengan si konyol Antonio ini, sebab Anindita tahu jika yang ada disini sekarang Anindya asli dia pasti akan sangat menurut dengan Antonio tidak akan bisa melawannya sedikit pun dan dia pasti akan lebih menderita di bandingkan dirinya saat ini yang jelas sekali bisa melawan Antonio kapan dia mau.
Anindita pun memilih untuk pergi keluar setelah dia tidak mendengar suara Antonio ataupun sekretaris Seno lagi di sekitar rumahnya itu.
"Aahh sepertinya mereka sudah pergi, sudah saatnya aku keluar, aku sangat lapar sekali" gerutu Anindita sambil segera berjalan keluar dan pergi mencari makanan ke dapur namun saat sampai di dapur tidak ada makanan apapun disana.
Disaat Anindita memanggil bibi pelayan di rumah itu yang biasa menyajikan makanan dan membereskan rumah, dia juga tidak melihatnya, Anindita merasa sangat heran karena rumah menjadi sangat sepi seperti ini padahal ini baru saja hari sabtu tapi para pelayan di rumah itu tidak kelihatan sama sekali, padahal biasanya mereka sering terlihat berjalan di sekitar ruang depan dan dapur, ada yang membersihkan lantai ada yang memasang dan lainnya tapi hari ini benar-benar tidak ada siapapun di rumah ini, dan Anindita pun segera berlari memanggil orang-orang yang biasanya ada disana saat itu.
Namun dia tetap tidak menemukan keberadaan mereka sedikit pun, atau satu orang pun, dia hanya terus berlari tidak jelas mengelilingi rumah yang besar itu tapi tidak bertemu dengan siapapun, sampai dia benar-benar yakin bahwa dia di tinggal sendirian di dalam rumah itu sekarang.
"Aahh....apa aku sungguh ditinggal sendiri di rumah sebesar ini? Hiks...hiks..sangat menyedihkan, aku tidak ingin sendiri disini aku harus pergi ke kantor Antonio tapi aku tidak tahu dimana kantornya" rengek Anindita merasa bingung.
Hingga dia memiliki ide yang cukup bagus, dia segera pergi keruang kerja Antonio dan mencari berkas atau barang apa saja yang berhubungan dengan perusahaan miliknya hanya untuk mencari alamat perusahaan tersebut hingga akhirnya Anindita berhasil menemukan alamat perusahaan Antonio, dia pun segera pergi ke sana dengan berbekal tekad dan keberanian saja, juga uang yang dia miliki dari satu kartu tabungannya tersebut.
__ADS_1
Anindita segera mengganti pakaiannya dengan cepat dan dia segera saja pergi keluar dengan memakai pakaian berwarna hitam, dia pergi dengan cepat memakai taxi menuju perusahaan tuan Antonio saat itu, dengan perutnya yang sudah lapar sekali sejak lama.
Karena dia tidak bisa menahan rasa laparnya dia tidak sengaja melihat beberapa jajanan di pinggir jalan yang membuat dia tidak bisa melewatinya begitu saja karena sangat tergiur ketika mihat makanan yang terlihat enak tersebut.
Anindita pun akhirnya malah berhenti di pinggir jalan dan dia membeli banyak sekali makanan jalanan secara acak.
Dia berjalan sambil terus menikmati makanan itu dengan lahap karena dia merasa makanan itu sangat, enak mulai dari jajanan seperti gorengan, telur gulung, nasi goreng juga minuman dingin yang lainnya.
Dia benar-benar sangat senang bisa berjalan dengan bebas dan bisa membeli jajanan secara acak seperti itu, hingga setelah perutnya kenyang dia segera pergi melanjutkan tujuan utamanya ke perusahaan tuan Antonio saat itu, hingga sesampainya disana dia justru tidak bisa masuk ke dalam perusahaan tuan Antonio karena tidak memiliki akses kartu karyawan untuk masuk kesana sehingga pihak sekuriti disana menahannya.
"Pak...saya ini ruangannya tuan Antonio lihat ini kau tidak mungkin tidak mengenali cincin ini bukan, aku sungguh tunangannya aku ingin bertemu dengannya" ucap Anindita kepadanya.
Satpam itu tetap saja tidak mempercayai Anindita dan dia justru malah mengusir Anindita untuk pergi dari tempat itu dan menyuruhnya agar tidak membuat keributan disana.
"Maaf nona sebaiknya anda pergi saja dari sini, sudah banyak wanita yang mengatas namakan tunangan tuan Antonio tetapi kami semua tahu bahwa tuan Antonio sangat anti dengan seorang wanita apalagi wanita asing seperti anda, jadi sebaiknya anda pergi dari sini sekarang juga atau saya terpaksa akan bersikap kasar dan tegas kepada anda" ucap satpam itu membuat Anindita merasa sangat kesal.
Dia tidak mau pergi dari sana sehingga dia pun memutuskan untuk menunggu hingga Antonio keluar dari kantornya saja.
"Baiklah kalau kau tidak bisa mengijinkan aku masuk, aku akan menunggu Antonio disini saja dan kau tidak bisa mengusirku karena ini di luar kantornya, lagi pula siapa juga yang ingin membuat keributan" balas Anindita dengan menatap sinis kepada satpam tersebut.
Satpam itu akhirnya membiarkan Anindita berdiri di sana menunggu tuan Antonio sampai keluar dari perusahaan, dan kini Anindita benar-benar harus menunggu tuan Antonio disana dengan perasaan kesal dan lemas, dia terus saja diam berdiri mematung dengan perasaan yang kesal dan emosi saat itu, sehingga dia hanya bisa berdiri sambil terus berjalan mondar mandir menunggu kedatangan tuan Antonio yang juga tidak muncul juga meski sudah berjam-jam Anindita menunggu dia di luar sana.
Samya Anindita merasa kesal dan emosi karena tuan Antonio tidak keluar juga dari perusahaan tersebut dan dia terus saja menggerutu dengan keras sambil terus mengamuk tidak jelas dan terus saja menghentakkan kakinya dengan keras serta kedua tangan yang dia lipatkan di depan dadanya dengan keras.
"Eughh ..... Sialan kenapa dia tidak keluar juga, dasar manusia sialan, benar-benar sangat menjengkelkan, aahhh ini sudah siang aku sudah berapa jam berdiri disini sangat menyebkan huaa.....aku harus bagaimana sekarang" gerutu Anindita merasa sangat kesal saat itu.
Dia terus saja merasa tidak nyaman dan tidak bisa melakukan apapun sebab satpam di depan perusahaan tersebut terus memperhatikan dia dan dia hanya bisa terus berdiri dengan lemas memegangi kakinya yang sudah sangat pegal karena berdiri berjam-jam disana.
Anindita pun memutuskan untuk berjongkok sambil memijat kakinya itu dan dia terus saja malah tertidur disana saking lelahnya sedari tadi menunggu tuan Antonio sangat lama sedari pagi, dia hanya bisa menundukkan kepalanya ke bawah dengan tertunduk lesu sampai akhirnya tuan Antonio keluar dari perusahaan bersama dengan sekretaris Seno yang saat itu hendak pergi ke restoran yang tak jauh dari sana.
Sampai ketika mereka melewati pintu sekretaris Seno melihat kenarah Anindita dengan mata terbelalak kaget melihat gadis itu berjongkok sambil tertidur di depan perusahaan tuan Antonio saat itu.
"Heyy.... Antonio tunggu, lihat ke sana bukankah itu tunanganmu Anindya putrinya si Doni anak buahmu itu ya?" Ucap sekretaris Seno memberitahu tuan Antonio.
Antonio yang melirik ke arah yang di tunjukkan oleh Seno dia langsung saja sangat kaget dan berlari dengan cepat menghampiri Anindita.
"Astaga ..kenapa dia bisa ada disini?" Ucap tuan Antonio sambil segera berlari menghampiri Anindita.
Tuan Antonio langsung saja membangunkan Anindita dengan perlahan saat itu karena dia juga merasa heran mengapa Anindita bisa berada di depan perusahaan miliknya juga dalam keadaan tertidur sambil berjongkok seperti itu, sungguh sangat menyedihkan untuk dia lihat siang ini.
"Hey....cewek...bar..bar... Bangun, Anindya bangun, hey...ayo bangunlah" ucap tuan Antonio membangunkannya.
Hingga akhirnya tidak lama Anindita pun mulai mengangkat kepalanya dan mengerjakan matanya secara perlahan-lahan hingga dia mulai menatap wajah tuan Antonio yang sudah berada di hadapannya saat itu, Anindita tersenyum senang untuk beberapa detik ketika melihat akhirnya Antonio bisa keluar dari gedung perusahaannya yang besar tersebut, namun dengan cepat Anindita langsung saja mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat menyeramkan dia mengerutkan kedua alisnya dan menatap sangat tajam kepada Antonio yang sudah membuat dia harus menunggu hingga ketiduran di tempat itu juga kepanasan dari pagi hingga siang seperti ini.
"Hey.... Antonio kenapa kau tidak keluar disaat aku sudah menunggumu sejak pagi di depan sini, kau lihat aku sangat lelah terus berdiri di depan sini menunggumu, kenapa sulit sekali untuk bisa bertemu denganmu apa kau ini seorang presiden, CEO saja mengapa harus sesulit itu untuk menemuimu bahkan ketika aku menjadi tunanganmu itu tetap saja tidak berguna" bentak Anindita dengan kasar.
Satpam tadi yang melihat kejadian itu dia terlihat takut dan mulai cemas karena melihat tuan Antonio yang cukup perhatian dengan wanita tersebut juga wanita itu yang berani sekali berbicara lantang kepada tuan Antonio dia mulai mengira bahwa wanita yang baru saja dia tahan tersebut adalah tunangan sungguhan dari tuan Antonio sehingga dia mulai ketakutan sekarang ini.
Sedangkan Antonio yang mendengar ucapan dari Anindita barusan dia hanya bisa mengerutkan kedua alisnya merasa heran sendiri mengapa Anindita bisa bicara seperti itu kepadanya dan dia juga tidak mengerti mengapa Anindita harus menemui dia sampai menyusul ke perusahaan ini.
"Hey...hey...kenapa kau langsung marah seperti itu, siapa juga yang mempersulit dirimu untuk masuk ke perusahaanku" balas Antonio saat itu.
Anindita langsung melirik ke arah seorang satpam yang berdiri tidak jauh dari tempat itu dan seketika Antonio memahami hal tersebut dia menepuk jidatnya pelan dan langsung saja menarik tangan Anindita untuk membawanya pergi dengan cepat dari tempat tersebut, namun sayangnya disaat Antonio menarik tangan Anindita, dengan cepat Anindita menghempaskan tangannya dan dia langsung berjalan sendiri lebih dulu.
"Aishhh...sudahlah dia mungkin tidak tahu jika kau tunanganku, kau jika melihat gadis ini kemari kau harus membebaskannya apa kau mengerti" ucap tuan Antonio kepada satpam tersebut.
Satpam itu terbelalak kaget mendengar ucapan dari tuan Antonio yang hanya bicara seperti itu saja dalam memperingati dia, padahal dia pikir nasibnya sudah habis kali ini karena sudah membuat tunangan bos nya yang sangat kejam dan tidak ada ampun itu harus menunggu di luar sepanjang hari, bahkan tidak hanya satpam itu saja sekretaris Seno yang merupakan sahabat Antonio sendiri juga sama kagetnya mendengar ucapan dari Antonio yang terlihat jauh berbeda dengan sikap Antonio yang biasanya.
"Ayo biar kau ikut aku saja" ucap Antonio menarik tangan Anindita,
"Lepaskan aku, kau pikir aku pincang aku bisa berjalan sendiri, minggir jangan menghalangi jalanku, dasar menyebalkan" ucap Anindita yang sangat kesal dan dia terus saja berjalan memegangi betisnya sesekali yang terasa pegal juga kakinya yang sedikit lecet saat itu.
Tapi Anindita sengaja tidak memberitahu Antonio tentang hal yang dia rasakan hanya Antonio saja yang sudah mengetahui hal tersebut lebih dulu.
Dia tahu Anindita kesakitan dan dia melihat Anindita yang masih saja berpura-pura kuat dengan menolak ukuran tangan darinya dan malah berjalan lebih dulu padahal dia tahu bahwa Anindita tidak sehat dan dia terlihat selalu meminum obat sebelum dia tidur di setiap malamnya, meski Antonio belum tahu itu obat apa tetapi melihat dari fisiknya saja bisa di lihat dengan jelas bahwa Anindita adalah sosok yang lemah.
__ADS_1
Meski Doni selalu mengatakan bahwa Anindya selalu sehat dan jarang mengalami sakit, dia adalah wanita kuat di mata ayahnya Doni namun yang di lihat tua Antonio disini memang pada dasarnya bukanlah Anindya yang di pikirkan oleh Doni tetapi dia adalah Anindita yang memang berbeda dengan Anindya putrinya Doni.