
Sedangkan tuan Antonio sendiri hanya melihatnya dengan santai tersenyum kecil dan sama sekali tidak meminum teh susu miliknya yang ada di hadapannya saat itu, sehingga hal tersebut membuat Anindita sedikit heran ketika melihatnya.
"Ehh Antonio kenapa kau tidak meminum milikmu, apa kamu tidak suka dengan teh susu ya?" Tanya Anindita kepadanya.
"Tidak aku bukan anak kecil sepertimu." Balas tuan Antonio kepadanya.
"CK ... Ya sudah kalau kamu tidak suka, biar aku yang habiskan saja, sini." Balas Anindita sambil dengan cepat merebut minuman itu dan kembali memakannya bersamaan sekaligus dengan teh susu miliknya sendiri.
Hal tersebut membuat tuan Antonio ingin menahan tawa saat melihatnya sebab dia tidak menduga bahwa Anindita bisa menyedot minuman dua botol sekaligus seperti itu, bahkan sampai membuat pipinya tirus ke dalam sebab dia terus menyedotnya dengan sangat kuat saat itu.
Tuan Antonio menahan tawa melihatnya dan Anindita terus saja menikmati minuman itu sampai habis, hingga setelah keluar dari tempat tersebut, Anindita kembali meminta tuan Antonio untuk menonton film horor yang selama ini selalu dia ingin lihat.
"Heh..kau mau kemana lagi, ini sudah sore apa kau tidak mau pulang?" Tanya tuan Antonio karena Anindita terus mengajaknya jalan-jalan sedari tadi.
Padahal sebenarnya Anindita tidak asal jalan-jalan saja, tetapi dia tengah mencari lokasi bioskop yang ada di mall tersebut, sampai dia yang tidak kunjung berhasil menemukannya mulai menyerah dan mengatakan semua itu kepada tuan Antonio.
"Antonio kau kan mau mengajakku menonton film, aku masih belum menemukan bioskopnya, aku ingin pergi kesana sekarang." Ucap Anindita mengatakannya.
Tuan Antonio menghembuskan nafas dengan kesal sebab dia baru tahu jika ternyata sedari tadi dia berjalan berkeliling di mall tersebut hanya karena Anindita yang mencari letak bioskop disana, padahal saat itu dia berada di lantai satu sedangkan bioskopnya berada di lantai dua tentu saja dia tidak akan pernah menemukannya sampai kapanpun.
"Astaga..jadi sedari tadi kau terus menarik tanganku kesana kemari hanya untuk mencari bioskop?" Ucap tuan Antonio yang tidak habis pikir dengannya.
"Eumm...memangnya apa lagi, kau tahu dimana bioskopnya?" Balas Anindita dengan wajah polosnya itu.
"Huuuh...tentu saja aku tahu, seharusnya sejak awal kau mengatakan itu, jadi kita tidak perlu berkeliling tidak jelas seperti sebelumnya. Aishhhh kau ini benar-benar konyol, ayo cepat ikut aku, kita akan naik ke lantai dua," ajak tuan Antonio sambil menggandeng tangan Anindita dan membawanya ke dekan eskalator yang ada disana.
Namun disaat Anindita hendak melangkahkan kakinya pada tangga berjalan tersebut, tiba-tiba saja dia melihat ada ibu Kasih yang turun dari lantai atas menggunakan eskalator yang berada di sampingnya saat itu.
Mengetahui hal tersebut tentu saja Anindita sangat panik dan cemas dia buru-buru mendekatkan diri pada tuan Antonio dan dengan cepat memeluk tuan Antonio sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam jas yang dikenakan tuan Antonio saat itu, karena Anindita takut ibunya akan mengenali wajah dia.
"Astaga...bukankah itu ibu, aahhh dia pasti akan mengenaliku, aku harus menyembunyikan wajahku darinya, tapi bagaimana caranya, tangganya terus berjalan, aaahh tidak ada cara lain," gerutu Anindita memikirkannya.
Dia langsung memeluk tuan Antonio dan memasukkan tangannya ke dalam jas tuan Antonio saat itu, sedangkan tuan Antonio sendiri tentu saja sangat kaget melihat Anindita yang memeluk dia secara tiba-tiba dengan cara seperti itu, ditambah dia terus menarik jasnya dengan cukup erat, membuat tuan Antonio mengerutkan kedua alisnya saking merasa herannya pada Anindita.
"Hei..apa yang kau lakukan, apa kau takut menaiki eskalator? Kenapa memelukku seperti ini?" Tanya tuan Antonio saat itu.
"Iya..aku takut, kau diamlah terus seperti ini sampai kita sampai." Ucap Anindita terus merasa cemas.
Sedangkan tuan Antonio mulai merasakan dekat jantungnya yang begitu kencang karena dia di peluk seperti itu oleh Anindita secara tiba-tiba, tentu itu membuatnya sedikit gugup dan tuan Antonio bahkan tidak berani untuk membalas pelukan dari Anindita saat itu.
__ADS_1
Sampai mereka sudah sampai di atas dan ibu Kasih juga sudah berjalan menuju pintu keluar mall tersebut saat itu.
Hingga Anindita mulai di sadarkan oleh tuan Antonio karena mereka sudah sampai di lantai atas saat itu dan Anindita tetap tidak melepaskan pelukannya untuk beberapa saat.
"Anindita...hei...apa kau akan terus memelukku begini, orang-orang melihat ke arah kita sekarang." Ucap tuan Antonio segera saja menyadarkannya.
"Aahh.....ahaha..sudah sampai ya, sudah ayo kita pergi dimana bioskopnya?" Ucap Anindita sambil segera berjalan lebih dulu dan tuan Antonio hanya tersenyum kecil sambil segera menyusul dia dengan cepat.
Sejujurnya bukan hanya tua Antonio saja yang merasa gugup dan baper ketika berpelukan sebelumnya tetapi Anindita juga merasakan hal yang sama namun dia lebih merasakan kecemasan dengan ibunya, dia takut sang ibu akan mengetahui keberadaan dia saat itu, dan jika sampai dia diketahui maka semuanya akan sangat bahaya.
Sehingga saat sampai disana Anindita langsung mengajak tua Antonio untuk cepat pergi dari tempat tersebut menuju bioskop yang dia maksudkan.
Anindita pikir jika dia sudah masuk ke dalam bioskop maka dia akan aman tidak akan ada orang yang bisa mengenalinya nanti.
Tuan Antonio justru malah mengira hal yang berbeda dia hanya berpikir bahwa Anindita takut menaiki eskalator dan dia memeluknya hanya karena hal tersebut saja.
Hingga sesampainya di bioskop tuan Antonio menyuruh Anindita untuk memilih film mana yang ingin dia tonton, karena disana berjajar banyak banner tentang berbagai film yang sangat banyak dan bagus semuanya.
"Cepat kau pilih ingin yang mana," ucap tuan Antonio kepadanya.
Dengan cepat Anindita langsung melihat satu per satu semua jenis film yang ada disana, dan dia terus saja mencari hal yang menarik dan bisa menantang nyali dalam dirinya sendiri, hingga Anindita menemukan sebuah film horor dengan nuansa yang cukup menyeramkan, bahkan dalam banner nya saja sudah terpampang sebuah cover yang cukup seram dan ngeri itu menunjukkan film tersebut cukup menakutkan sehingga Anindita memilih film tersebut, karena dia sangat menyukainya dan penasaran dengan film tersebut.
"He..hei..diam kau seperti anak kecil saja, mengatakannya sekali juga aku dengar, apa kau pikir aku ini tuli, aishh..cepat kemari dan tunggulah disana, jangan kemana-mana!" Ucap tuan Antonio yang langsung dianggukkan oleh Anindita.
Tuan Antonio segera pergi untuk membeli tiket tersebut, dan Anindita menunggu seorang diri dia melihat ada beberapa orang yang masuk ke dalam bioskop dan kebanyakan dari mereka menonton film romantis, ditambah mereka semua juga berpasang-pasangan, itu adalah hal baru yang diketahui oleh Anindita karena dia sama sekali belum pernah datang untuk menonton film ke bioskop sehingga hal tersebut terasa aneh olehnya.
"Kenapa semua orang datang berpasangan dan begitu romantis, apa mereka semua pasangan kekasih semuanya? Wahhh hanya aku yang datang kesini seorang diri, apa seharusnya aku menemukan pacar dulu baru bisa masuk ke dalam bioskop sama seperti orang-orang itu?" Gerutu Anindita sambil terus memperhatikan semua orang yang melewatinya.
Ada yang saling bergandengan tangan, ada yang bergelayut memeluk tangan prianya, ada juga yang saling rangkul begitu romantis, mereka juga membawa minuman dan popcorn di tangannya yang cukup besar, tersenyum lebar dan terlihat begitu bahagia sekali, sampai Anindita mulai merasa iri dengan semua orang itu.
"Hmm..andaikan dokter Gavin mau menerima cintaku, mungkin sekarang aku bisa datang ke tempat ini dengannya, merasa bahagia dan bisa seperti orang-orang itu." Gerutu Anindita sambil menatap penuh kesedihan.
Dia merasa dirinya terlalu menyedihkan sebab hanya dia yang duduk seorang diri disana menunggu tuan Antonio membelikan tiket untuknya.
Disisi lain tuan Antonio yang baru saja selesai membeli tiket untuk mereka berdua, dia melihat Anindita dari kejauhan yang terus memperhatikan semua orang yang berjalan melewatinya dengan wajah cukup sedih, meski tuan Antonio tidak tahu apa yang menyebabkan Anindita terlihat murung seperti itu, padahal sebelumnya dia begitu antusias dan sangat bersemangat sekali.
Tapi karena dia melihat Anindita menyebutkan popcorn dan minuman dia mulai paham apa yang diinginkan Anindita saat itu, sehingga tuan Antonio kembali berbalik dan membeli popcorn ujar satu minuman dua minuman untuknya dan untuk Anindita saat itu.
Sampai dia mendatangi Anindya dan memberikan minuman itu kepadanya.
__ADS_1
"Hei..bantu aku membawanya," ucap tua Antonio yang mengagetkan Anindita karena tiba-tiba dia sudah membawa popcorn juga dua minuman untuknya.
Anindita yang melihat itu dia langsung bangkit berdiri dan tersenyum sangat senang karena dia pikir tuan Antonio tidak akan membelikan popcorn juga minuman seperti orang kebanyakan karena dia bukan pacarnya, tetapi melihat kini tuan Antonio membawanya dia sangat senang sekali karena dia bisa menjadi seperti orang-orang.
"Wahh...Antonio kau membelikan ini untukku?" Tanya Anindita kepadanya dengan wajah yang berseri-seri dan mata yang begitu cerah.
"Iya..memangnya untuk siapa lagi, aku tidak mungkin meminum keduanya bukan, ayo cepat ambil kau tidak lihat apa, aku sangat kesulitan begini." Balas tuan Antonio yang langsung saja di anggukkan oleh Anindita dan dia segera mengambil minuman tersebut dari tangan tuan Antonio secepatnya.
Mereka mulai berjalan dan Anindita merasa sedikit aneh karena tuan Antonio selalu saja berjalan lebih dulu meninggalkan dia di belakang tidak pernah berjalan beriringan layaknya orang-orang yang ada di sekitar sana sehingga kali ini disaat dia hendak masuk Anindita memberanikan diri untuk menggandeng tangan tuan Antonio lebih dulu.
Hal itu membuat tuan Antonio langsung berhenti berjalan dan menatap aneh kepadanya dengan wajah yang cukup dingin dan menyeramkan.
Mendapatkan tatapan seperti itu dari tuan Antonio tentu saja Anindita menjadi cukup takut dan gugup dia pun perlahan melepaskan kembali tangannya namun untung saja dengan cepat tuan Antonio memperbolehkan dia melakukan hal itu.
"AA..aaa..aahh..aku hanya ingin seperti mereka saja," ucap Anindita dengan wajahnya yang gugup dan canggung.
"Huh....kau bisa melakukannya, aku tidak keberatan, aku hanya kaget saja." Balas tuan Antonio membuat Anindita semakin senang.
Dia langsung menggandeng tangan tuan Antonio dengan erat dan mereka masuk ke dalam saat itu juga mencari kursi dan duduk bersebelahan satu sama lain.
Tuan Antonio menaruh minuman dan popcorn tersebut di meja kecil yang ada di tengah kursi antara kursinya dan kursi Anindita, dia mulai melihat filmnya yang segera tayang saat itu.
Anindita benar-benar sangat serius menonton film itu dia bahkan sampai tidak bisa bergerak sakit takutnya dan terbawa akan suasana yang ada di dalam film tersebut, tuan Antonio justru tidak menonton film di depan dia hanya terus memperhatikan wajah Anindita yang sangat lucu baginya, dia terus mengamati wajah tegang Anindita yang menonton film horor tanpa berteriak sedikitpun dan dia tidak bergerak, sangat berbeda dengan wanita lain yang ada di sekitar sana dimana mereka pada umumnya berteriak kencang dan memeluk pasangan prianya dengan erat, sehingga suasana romantis dimulai saat itu juga.
Tetapi Anindita sendiri justru malah terlihat begitu tegang, mata yang terbelalak lebar dan tidak berkedip juga badannya yang sama sekali tidak bergerak saat itu, tentu saja tuan Antonio yang melihatnya menjadi menahan tawa, karena baru kali ini dia melihat seseorang menonton film sampai setegang Anindita seperti itu.
"Fffttt...dia lucu sekali." Batin tuan Antonio saat itu.
Anindita mulai mengambil popcorn di sampingnya dan dia terus mengunyah tanpa henti, dia juga salah mengambil minuman bukannya mengambil minuman milik dia, tetapi Anindita yang matanya tidak lepas dari layar dia malah mengambil minuman milik tua Antonio saat itu, dan tuan Antonio yang melihat hal itu dia sempat ingin menghentikannya namun sudah terlambat karena Anindita sudah meminumnya saat itu.
"Eee...ee....ehh..itu minumanku!" Ucap tuan Antonio sudah terlambat karena Anindita sudah memasukkan sedotannya ke dalam mulut dia dan sudah meneguk minumannya.
"Aahh? Kenapa kau terlihat kaget begitu, apa salahnya jika aku meminum milikmu, hanya minuman kan? Kenapa harus sepanik itu." Balas Anindita kepada tuan Antonio saat itu.
"Hah? Hanya minuman kau bilang? Apa kau tidak tahu jika aku sudah meminumnya juga? Itu sama saja dengan....aahh suda lupakan saja," ucap tuan Antonio agak kesal karena Anindita yang menganggap itu hanya sekedar sebuah minuman saja di matanya.
"Aishh...apa yang salah dengannya, dasar aneh," gerutu Anindita yang kembali fokus dengan filmnya di depan.
Tuan Antonio merasa kesal dan menatap sinis pada Anindita karena baginya hal itu sama saja dengan sebuah ciuman yang tidak langsung, tetapi Anindita sama sekali tidak menyadari hal itu dan malah menyepelekannya begitu mudah.
__ADS_1
"Dia benar-benar tidak mengerti bahwa hal seperti itu sangat sensitif untuk orang dewasa, benar-benar menjengkelkan, dia sudah memelukku dan menggandeng tanganku sebelumnya, tapi dengan mudah menyepelekan hal seperti itu, aahhh." Gerutu hati tuan Antonio yang terus saja merasa tidak terima atas jawaban yang diberikan oleh Anindita kepada dia sebelumnya.