
Tuan Antonio langsung menatap tajam dengan kedua alis yang dia kerutkan saat itu sambil menatap tajam ke arah Anindita yang sudah masuk ke dalam mobilnya begitu saja, bahkan disaat dia sudah tidak mengijinkannya untuk masuk, dia pun langsung saja membentak Anindita dan menarik tangannya berusaha untuk mengeluarkan Anindita dari mobilnya saat itu.
"Heyy... Apa yang kau lakukan, beraninya kau masuk ke dalam mobilku seenaknya, ayo keluar kau, keluar dari mobilku!" Bentak tuan Antonio sangat keras sambil terus menarik tangan Anindita dengan paksa.
Sedangkan Anindita terus saja berusaha mempertahankan posisi dirinya dan dia memegang dengan erat ke jok depan mobil tersebut menggunakan sebelah tangannya yang lain karena dia tidak mau keluar dari mobil tersebut, sebab dia sangat membutuhkan tumpangan untuk pergi ke ATM terdekat di sekitar sana.
"Ahh... Tidak aku tidak mau turun, tolong beri aku tumpangan aku hanya ingin mencari ATM terdekat, aku tidak akan membuat kekacauan untukmu, tolong bantu aku sebentar saja" ucap Anindita memohon dan terus menahan dirinya sendiri.
Setelah mendengar Anindita mengatakan itu akhirnya tuan Antonio mau melepaskan tangan Anindita dan membiarkan dia untuk tetap ada di mobilnya karena dia juga sudah cukup lelah menarik tangan Anindita dan tidak berhasil memaksa dia untuk keluar dari mobilnya dengan cara seperti itu.
"Aishh... Dasar kau wanita biang rusuh, oke aku akan membawamu tapi kau harus benar-benar turun dari mobilku ketika menemukan ATM itu, apa kau mengerti hah?" Bentak tuan Antonio dengan keras dan dia langsung saja menghempaskan tangan Anindita dengan keras saat itu.
Anindita pun langsung tersenyum kecil dan dia merasa sangat senang karena akhirnya dia mendapatkan tumpangan dari pria bernama Antonio yang sudah merampas lukisan mahal itu, namun setidaknya dia saat ini memiliki misi dan tujuan yang lebih penting di bandingkan mengambil lukisan tersebut lebih dulu.
"Aahaha... Terimakasih kau mau membantuku, kalau aku tidak salah ingat di depan sana ada ATM jadi aku tidak akan lama berada di mobilmu kau tenang saja aku tidak akan melakukan hal buruk padamu, aku ini orang baik tahu" balas Anindita kepadanya tuan Antonio.
Yang saat itu sama sekali tidak di tanggapi apapun oleh tuan Antonio dan tuan Antonio sendiri terus menatap ke depan dengan lurus serta kedua tangan yang dia lipatkan di dadanya dengan perasaan sangat kesal dan mengeratkan giginya dengan kuat, dia tidak bisa merasa tenang sedikitpun disaat masih ada Anindita di dalam mobilnya.
Sedangkan Anindita yang mendapatkan pengabaian seperti itu dari tuan Antonio dia juga tidak terlalu memperdulikan hal tersebut sehingga dia hanya langsung menatap ke arah jendela mobil untuk terus melihat dan mencari ATM terdekat yang ada di sekitar sana saat itu.
"CK.... Dia mengabaikan aku, untung saja aku membutuhkan bantuannya jika tidak aku sudah menghajar dia sejak awal, aaahhh sangat menjengkelkan!" Gerutu Anindita dengan kesal.
Sampai tidak lama dia melihat mesin ATM di samping jalanan yang berada tidak jauh dari sana sehingga Anindita pun segera menyuruh supir itu untuk menghentikan mobilnya secepat mungkin.
__ADS_1
"Ahh... Itu disana ada mesin ATM yang aku cari, berhenti ayo cepat hentikan mobilnya, hey... Berhenti ayo!" Ucap Anindita mendesak sampai akhirnya Seno segera menghentikan mobil tersebut.
Anindita sedikit kesal karena Seno menghentikan mobil lewat beberapa meter dari tempat mesin ATM nya berada sehingga dia menggerutu kesal dengan keras dan sengaja mengatakannya untuk menyinggung Seno.
"CK .. kau supir yang sangat buruk, bagaimana bisa orang sepertimu bisa menjadi supir, dasar menyebalkan, sudahlah terimakasih atas tumpangannya tuan Antonio pencuri lukisan matahari" ucap Anindita sambil segera keluar dari mobil itu dan langsung membanting pintu mobil tuan Antonio dengan cukup keras.
Sedangkan di sisi lain Antonio yang mendapatkan perlakuan seperti itu dia langsung menatap tajam dengan kesal dan saat itu dia hampir saja turun dari mobil untuk membalas ucapan Anindita yang sangat mengganggu dia namun sayangnya sebuah panggilan dari perusahaan masuk ke dalam ponselnya sehingga dia harus segera pergi ke kantor saat itu dan dia tidak bisa membuang-buang lagi waktunya yang sangat berharga.
"Aishh... Kau beruntung sekarang tapi aku tidak akan melewatkan mu lagi dengan semudah saat ini, awas saja kau putri pencuri barang antik!" Ancam tuan Antonio dengan tatapan tajam melihat Anindita yang saat itu berjalan masuk ke dalam tempat pengambilan uang disana.
Dia segera menyuruh sekretaris Seno untuk kembali melajukan mobilnya menuju ke perusahaan secepat mungkin karena ada hal mendesak yang harus dia lakukan saat itu.
"Seno ayo jalan" ucap tuan Antonio memberikan perintah.
Sedangkan saat itu Anindita yang sudah berhasil mendapatkan banyak uang miliknya yang ia cairan dari tabungan miliknya sendiri dia pun segera pergi menuju rumah milik pria pemabuk yang memberi dia makan beberapa hari terakhir ketika dia tertukar dengan wanita bernama Anindya sebelumnya.
Ketika dia sampai di tempat tersebut dia melihat seorang wanita yang keluar dari rumah itu sangat mirip dengannya dari segi apapun dan Anindita langsung saja berlari ke arah wanita itu lalu menarik tangannya dengan cepat dan membawa wanita itu ke belakang gedung tersebut yang ada di sekitar sana.
Tentu saja Anindya sangat kaget saat itu karena tiba-tiba saja dia di tarik oleh seseorang dan mulutnya di bekap hingga dia tidak bisa berteriak sedikitpun saat itu, sampai ketika berada di tempat yang sepi dan Anindita baru melepaskan bekapannya Anindya langsung menatap kaget dan terperangah heran melihat wanita yangbada di hadapannya mirip sekali dengan dirinya bak pinang yang di belah dua dan dia seperti tengah bercermin menatap dirinya sendiri ketika melihat wanita di hadapannya tersebut.
"KA..KA..kau, siapa kau, kenapa kau terlihat sangat mirip denganku, apa kau mengoperasi wajahmu untuk sama denganku?" Ucap Anindya menduganya.
Anindita sangat kesal mendengar itu dan dia langsung saja menghentikan pikiran aneh dan dugaan yang liat itu dari Anindya.
__ADS_1
"Aish... Bodoh mana mungkin aku melakukan itu, aku juga merasa heran dan aneh bagaimana aku bisa bertemu orang yang memiliki wajah sama persis dengan wajahku, tidak heran kita tertukar sebelumnya" balas Anindita kepada Anindya.
Anindya masih merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat itu, sehingga tangannya langsung saja berusaha untuk menyentuh wajah Anindita yang terlihat sangat mirip dengannya namun dengan cepat saat itu juga Anindita langsung menghempaskan tangan Anindya yang hampir menyentuh wajahnya sembarangan.
"Heh, apa yang mau kau lakukan, jangan berani-beraninya kau menyentuh wajahku, aishh kau ini kita tidak saling kenal satu sama lain kenapa kau mau menyentuh wajahku seperti tadi" ucap Anindita dengan sedikit kesal,
"A..a..ahhh.. maafkan aku, tadi aku hanya di luar kendali karena aku sangat penasaran mengapa wajah kita terlihat sangat mirip satu sama lain" balas Anindya dengan wajahnya yang masih terperangah melihat wajah Anindita sangat mirip dengan wajahnya saat itu.
"Hey... Jangan terlalu kuno dan syok seperti itu, di jalan sekarang memang banyak orang yang memiliki wajah mirip satu sama lain meski mereka bukan saudara ataupun tidak memiliki hubungan darah sedikitpun, jadi kau jangan terlalu kuno seperti itu" balas Anindita yang memang ada benarnya.
Sehingga ucapan itu langsung saja menyadarkan Anindya dan dia segera mengangguk menyetujui apa yang di ucapkan oleh Anindita saat itu.
"Tapi kenapa kau tiba-tiba datang menemuiku dan membawa aku kemari?" Tanya Anindya dengan heran dan bingung,
"Begini aku hanya ingin memastikan kenapa kau begitu tegas mencuri lukisan matahari di acara pelelangan, aku tahu kau yang melukisnya bukan dan aku tahu kau dan ayahmu siapa sebenarnya, kau tidak bisa macam-macam denganku karena aku sudah mengantongi banyak bukti yang kuat ketika aku tinggal dengan ayahmu beberapa hari yang lalu" ucap Anindita sengaja mendesak Anindya untuk mengakui hal tersebut dengan cepat.
Mendengar itu seketika Anindya merasa sangat gugup dan ketakutan tidak menentu, dia sejak awal memang tidak pernah menginginkan untuk melakukan hal sejarah dan selicik ini sebelumnya namun dia juga di paksa dan di desak oleh sang ayah berkali-kali dan dia tidak bisa melakukan apapun kalanitu sehingga hanya bisa menuruti ayahnya sebab dia sangat membutuhkan uang untuk membayar sewa rumahnya.
Anindya yang diam dan tertunduk bingung membuat Anindita jengkel dan tidak sabar untuk mendengar jawaban darinya sehingga Anindita kembali langsung mendesak dia lagi dengan cepat dan berbicara dengan lebih keras lagi.
"Hey... Ayo jawab aku, kenapa kau malah diam saja seperti itu?" Tambah Anindita merasa tidak sabar saat itu.
"A..a..aku sungguh tidak bermaksud melakukan hal itu, tapi aku membutuhkan uangnya dan ayahku terus mendesak aku dengan memberikan banyak ancaman kepadaku sehingga aku harus melakukannya, lagi pula ayahku hanya mencuri lukisan itu dari pencurinya, karena pemilik asli dari lukisan itu memanglah tuan Antonio, orang yang meminta ayah untuk mengambil kembali lukisan tersebut dan mengembalikannya kepada dirinya sendiri selaku pemilik asli dari lukisan langka tersebut" ujar Anindya menjelaskan semuanya pada Anindita saat itu juga.
__ADS_1