TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Tantangan


__ADS_3

Doni sangat takut melihat lirikan sinis sekilas dari tuan Antonio saat itu, sehingga dia langsung mengeluarkan suaranya dan memohon kepada tuan Antonio untuk membebaskan putrinya dan membiarkan dirinya sendiri yang mengerjakan semua tugas berbahaya darinya sendirian.


"Tuan... Saya mohon jangan libatkan putri saya, dia hanya suka ber omong kosong, itu semua hanya ucapan yang tidak bermakna dia sama sekali tidak benar-benar berani dia hanya berusaha untuk melawanmu karena mencemaskan aku" ucap Doni sengaja berbicara seperti itu untuk meyakinkan seorang tuan Antonio yang terkenal dengan kekejamannya tersebut.


Namun sayangnya Doni salah besar, justru dengan mengatakan hal tersebut itu malah membuat seorang Anindita semakin merasa tertantang dan dia justru malah terus menjadi lebih berani untuk melawan sang Antonio yang sangat menjengkelkan dan cukup mengganggu untuknya saat itu.


"Tidak... Aku sama sekali tidak mengatakan omong kosong ayah, aku memang tidak takut dengannya ataupun dengan kematian, dan kau tidak perlu mencemaskan aku, putrimu tidak akan mati!" Balas Anindita dengan tegas.


Doni yang mendengar itu dia sangat kaget dan langsung saja membelalakkan matanya dengan lebar, dia berusaha memberikan kode kepada Anindya untuk berhenti berbicara seperti itu, namun sayangnya dia memang bukan Anindya yang Doni kenal selama ini, sehingga dirinya tetap tidak bisa menahan keberanian putrinya sendiri saat itu.


"Astaga..... Anindya apa yang kau katakan kau akan membuat kuburan untuk dirimu sendiri aaahh bagaimana aku menyelamatkanmu sekarang" batin Doni yang semakin merasa cemas tidak karuan.


Antonio semakin tertarik saja dengan sikap putri Doni tersebut sehingga dia semakin berjalan mendekati Anindita yang di kira semua orang disana sebagai Anindya, lalu Antonio langsung saja memberikan perintah sekaligus tantangan kepada Anindya untuk membuktikan ucapannya itu.


"Wow... Bagus sekali, aku sangat penasaran dengan semua ucapan yang keluar dari mulutmu itu gadis yang pemberani, apakah kau cukup tangguh dan kuat untuk bisa membantu ayahmu dengan mengambil berlian merah milikku yang baru dua hari ini di curi oleh seorang brandalan kecil yang cukup kejam di jalanan" ucap Antonio mulai tersenyum sinis lagi kepada Anindya.


"Jadi kau datang kemari hanya untuk menyuruh ayahku mencuri berlian milikmu itu?" Balas Anindita kepadanya dengan tatapan menyepelekan,

__ADS_1


"Tentu saja, karena itu adalah pekerjaannya, bagaimana apakah kau berani untuk menggantikan tugasnya kali ini? Jika kau berani dan berhasil mendapatkannya, lalu menyerahkan berlian itu tanpa cacat kepadaku sama seperti yang sering ayahmu lakukan, maka aku akan memberikan imbalan yang sangat besar untukmu lebih dari yang pernah aku berikan kepada ayahmu selama ini" ucap Antonio mengatakan semuanya,


"CK... Aku tidak butuh semua uangmu karena aku memiliki segalanya tapi aku akan tetap menyetujui tantangan itu darimu, karena aku akan menunjukkan bahwa aku benar-benar tidak takut dengan apapun, tapi ingat kau tetap harus melepaskan ayahku jika aku berhasil melakukannya" balas Anindita bertaruh hal lain demi keselamatan sang ayah.


Padahal dia bukan ayahnya melainkan ayah dari Anindya namun entah kenapa saat itu dia merasa bahwa Doni adalah ayahnya juga sehingga dia tidak bisa diam saja ketika melihatnya di bawah tekanan dan ancaman seorang Antonio yang begitu kejam dan arogan seperti itu.


Antonio langsung saja tertawa mendengar ucapan dari Anindya yang menolak uang juga imbalan darinya, namun malah memilih untuk dia membebaskan ayahnya tersebut, sehingga karena Antonio ingin melihat pembuktian dari Anindya yang berlagak sangat kuat dan pemberani itu, dia pun menyetujui keinginan dan syarat yang dia berikan.


"Dia semakin membuat aku tertarik pada keberaniannya, lihat saja nanti kau gadis sombong!" batin Antonio saat itu.


"Baik beri aku alamat dimana tempat berandal itu menaruh berlian merah milikmu aku akan melakukannya malam ini juga!" Balas Anindita dengan penuh keyakinan di dalam dirinya.


Entah kenapa Anindita memang selalu berani bahkan sejak dia masih kecil, dia bisa bela diri walau hanya sedikit jurus saja yang dia kuasai namun setidaknya itu bisa membuat dia mempertahankan dirinya sendiri dari beberapa bahaya yang pernah dia lewati, dan dia juga sangat yakin pada dirinya sendiri bahwa dia bisa melakukan hal seperti itu sebab dia kira brandal itu jangan brandal jalanan biasa saja.


Antonio juga segera memberikan alamat tersebut yang dia tulis di ponselnya dan Anindita bisa langsung mengingat alamat itu dengan cepat, sampai Antonio langsung saja pergi dari rumah tersebut setelah Anindita mengusirnya.


"Oke... Aku akan pergi ke sana malam ini juga dan kau pergilah dari rumahku, tunggu aku hingga berhasil mendapatkan berlian sialanmu itu" balas Anindita dengan penuh percaya diri,

__ADS_1


"Baiklah kau tidak perlu mengusirku dengan kebencian seperti itu gadis manis, aku akan pergi dengan sendirinya karena urusanku dengan kalian sudah selesai" balas Antonio yang sangat membuat Anindita jengkel melihat gayanya tersebut,


"Lepaskan dia, ayo kita pergi" perintah Antonio kepada kedua bodyguard yang menahan tangan Doni.


Mereka pun dengan cepat melepaskannya dan Doni langsung saja berjalan memeluk Anindita, setelah tuan Antonio pergi dari kediamannya Doni langsung menutup pintu dan menguncinya dengan rapat dia langsung menghampiri Anindita yang saat itu tengah bersiap-siap untuk melakukan operasi pertamanya mencuri barang seseorang.


Doni yang melihat itu dia berusaha menahan sang putri agar tidak melakukan hal berbahaya seperti inis seorang diri.


"Anindya tunggu apa yang sedang kamu lakukan, apakah kamu sungguh akan melakukan apa yang di ucapkan oleh tuan Antonio barusan?" Ucap Doni menanyakannya seakan tidak percaya dengan putrinya sendiri saat itu,


"Tentu saja ayah, dan kau hanya perlu diam di rumah menungguku hingga kembali beberapa saat lagi" balas Anindita memakai perlengkapan di tubuhnya yang sebelumnya dia lihat semua perlengkapan itu di pakai oleh ayahnya.


Itu hanya sebuah tali di pinggang yang bisa di gunakan untuk menaiki gedung atau menuruni gedung tinggi tanpa di ketahui oleh siapapun dan satu pistol yang dia selipkan di samping pinggang lalu segera menyembunyikan itu di balik gaunnya yang cantik.


Anindita juga terus berdandan cukup seksi untuk mengelabui musuhnya nanti karena dengan berpenampilan mencolok itu akan mengurangi kecurigaan orang-orang disana kepada dirinya.


Doni tidak bisa membiarkan putrinya untuk pergi ke sana karena dia sendiri sangat mengenal seberapa berbahayanya para berandalan tersebut, dan sang putrinya Anindya sama sekali belum pernah berpengalaman melakukan hal seperti ini, apalagi seorang diri tanpa dirinya yang mengarahkan, dia sangat ragu apakah putrinya bisa melakukan semua itu dengan lancar atau tidak sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2