
Hingga setelah selesai makan Anindita langsung saja pergi keluar meninggalkan tuan Antonio lebih dulu, padahal saat itu tuan Antonio tengah membayar tagihan di restoran tersebut, dan Anindita pergi ke dalam mobilnya lebih dulu.
Sampai tuan Antonio kembali dan segera masuk juga pada mobilnya lalu tiba-tiba saja dia memberikan sesuatu kepada Anindita secara tiba-tiba.
"Ini, bukankah kau menginginkannya?" Ucap tuan Antonio kepada Anindita saat itu.
Ketika melihat tiba-tiba saja tuan Antonio memberika sesuatu pada kotak yang dia pegang Anindita langsung saja membelalakkan matanya dengan sangat lebar dan dia terlihat menaikkan kedua alisnya saking bingungnya dengan apa yang di berikan oleh tuan Antonio kepada dirinya secara tiba-tiba seperti itu.
"Apa ini? Kenapa kau memberikannya kepadaku?" Tanya Anindita dengan wajah yang kebingungan saat itu,
"Ambil saja dan buka sendiri kau kan memiliki tangan tidak perlu aku yang membukanya bukan, aku harus menyetir" balas tuan Antonio kepadanya.
Dengan cepat Anindita segera mengambilnya dengan kesal dan langsung merampasnya dengan wajah yang menatap sinis pada tuan Antonio saat ini.
"CK.....apa lagi yang mau kau lakukan padaku, benar-benar mencurigakan" gerutu Anindita sambil mengambil kotak itu.
Dia pun segera membukanya dengan perlahan dan betapa kagetnya Anindita saat melihat ternyata di dalamnya ada beberapa mangkuk puding dengan bentuk yang lebih kecil pada beberapa wadah di dalam box itu dan dia sangat merasa senang ketika melihatnya mendapatkan banyak pudding yang lezat tersebut.
"Wahhh...apakah ini puding yang tadi aku makan?" Tanya Anindita kepada tuan Antonio dengan sorot matanya yang begitu cerah dan senang,
"Iya...apa kau senang?" Balas tuan Antonio menanyakannya lagi,
"Ahaha...tentu saja aku senang, sering seringlah kau berbuat baik seperti ini kepadaku, jadi aku tidak perlu memasang wajah menyebalkan kepadamu, ahhh...aku sangat ingin mencobanya, apa aku boleh memakannya di dalam mobilmu?" Tanya Anindita yang sudah sangat tidak sabar.
Sebenarnya tuan Antonio sangat benci ketika ada orang yang makan di dalam mobilnya apalagi saat dia tengah melakukan mobilnya seperti ini, bukan apa-apa tetapi dia hanya takut makanan itu akan jatuh dan mengotori mobil kesayangannya tersebut itu juga salah satu alasan tuan Antonio tidak pernah mengijinkan siapapun masuk ke dalam mobil kesayangannya itu kecuali dirinya dan Anindita saja.
Tapi kali ini karena melihat Anindita yang sudah tidak sabar sekali untuk memakan puding tersebut di tambah sebelumnya Anindita sudah merajuk padanya, terpaksa tuan Antonio pun mengijinkan Anindita untuk bisa memakan puding itu selama di perjalanan.
"Aishh....kau boleh memakannya tapi ingat jangan sampai tumpah pada mobilku, apa kau mengerti hah!" Ucap tuan Antonio memperingati Anindita.
"Ahaha....tenang saja, aku akan memakannya dalam sekali suapan saja jadi tidak mungkin akan tumpah, kau tidak perlu cemas" balas Anindita dengan tersenyum sangat senang.
Dia langsung saja mengambil salah satu puding tersebut dan langsung membukanya dengan perlahan karena dia takut akan menumpahkannya, hingga setelah sedikit terbuka dia langsung saja memakannya sekaligus, benar-benar dalam sekali suapan saja ke dalam mulutnya dan itu bisa dia masukkan seluruhnya sama dengan apa yang dia katakan sebelumnya.
Namun hal itu membuat wajahnya terlihat menjadi lucu, selain pipinya yang menjadi kembung karena diisi oleh banyak pudding dengan penuh dia juga terlihat mengunyahnya dengan cara yang sangat lucu sehingga tuan Antonio yang melihat itu, dia langsung saja tersenyum kecil mihatulut Anindita yang mengunyah sangat lucu di tambah di sekitar mulutnya yang habis belepotan dengan sisa air pada puding yang dia makan sebelumnya.
"Eh....apa kau ini bayi umur tiga tahu ya? Bagaimana bisa kau memakan puding saja sampai belepotan seperti itu, ini bersihkan mulutmu itu" ucap tuan Antonio sambil memberikan tisyu kepada Anindita.
"Aku bisa mengambil tisyu sendiri dan aku akan membersihkan mulutku jika sudah selesai makan, aku belum selesai sekarang kenapa kau menyuruhku untuk membersihkannya lebih awal" balas Anindita dengan wajah yang kesal.
Dia bahkan tidak menerima tisyu pemberian dari tuan Antonio saat itu, dan dengan cepat Anindita mengambil tisyu dengan tangannya sendiri lalu membersihkan mulutnya dengan benar hingga terlihat bersih dan rapih kemudian Anindita terdiam dan memegangi box berisi puding di dalamnya itu.
Dia tidak akan mengijinkan pudingnya di ambil lagi oleh tuan Antonio sehingga dia terus mendekat puding itu dan terus saja tersenyum sangat senang sambil menatap ke depan, hingga mereka sampai di mension tuan Antonio, Anindita masih saja membawa puding itu dalam dekapannya sangat erat seakan dia takut akan ada orang yang mencuri itu darinya sehingga hal tersebut cukup mengganggu Antonio.
"Heh.....apa kau sangat mencintai puding itu, kenapa kau harus memeluknya terus seperti ini, apa istimewanya puding seperti itu" ucap tuan Antonio yang melihat Anindita sibuk hendak memakan puding itu lagi,
"Ya......aku sangat menyukainya memangnya kenapa? Masalah buatmu?" Balas Anindita sama sekali tidak memperdulikannya.
__ADS_1
Anindita terus saja menikmati semua puding itu bahkan lagi dan lagi dia memakannya dengan suapan yang besar, hingga membuat mulutnya penuh dengan puding, dia sangat menikmati puding itu bahkan memakannya dengan memejamkan mata dan terus menikmati puding itu seorang diri.
"Eummm...ini sangat enak, aku sudah lama sekali tidak memakan puding seenak ini, eumm luar biasa ini sangat enak sekali" ucap Anindita yang terus saja mengunyah dan mengunyah tanpa henti.
Hal tersebut membuat tuan Antonio yang sebelumnya berniat menaiki tangga menuju kamarnya, kini dia mengurungkan niatnya itu kalau malah duduk di samping Anindita dan terus memandangi Anindita yang sibuk memakan pudingnya dengan lahap.
"Apa seenak itu ya, perasaan aku sudah mencobanya saat di restoran dan tidak terlalu enak" balas tuan Antonio kepada Anindita,
"Tidak terlalu enak bagaimana, kau saja menghabiskannya" balas Anindita yang membuat tuan Antonio sedikit tersentak atas ucapannya itu.
"Aahh...itu karena aku lapar, coba sini aku ingin memakannya lagi" ucap tuan Antonio sambil hendak mengambil puding yang ada di hadapan Anindita.
Dengan cepat Anindita langsung saja menepuk tangan tuan Antonio dan dengan cepat mengambil puding itu agar tuan Antonio tidak mengambilnya.
"Peletak....." Suara tangan tuan Antonio yang di tepuk oleh Anindita saat itu,
"Hey...kenapa kau malah menepuk tanganku seperti itu? Ini kan aku yang membelikannya kenapa kau melarangku untuk mengambilnya" ucap tuan Antonio protes dan tidak terima dengan perlakuan Anindita kepadanya bahkan sampai menepuk tangannya begitu.
Anindita menatap tuan Antonio dengan sorot matanya yang sangat tajam dan dia sudah mengambil semua puding yang tersisa diatas meja, Anindita sangat menyukai puding tersebut sehingga dia tidak bisa mengijinkan orang lain untuk mengambilnya termasuk tuan Antonio sekalipun dia yang membelikan puding tersebut untuknya.
"Tuan dengar ini baik-baik, kau kan membelikan puding ini untukku, berarti puding ini sudah menjadi milikku karena kau sudah membelikannya, jadi hanya aku yang bisa memakannya, apa kau mengerti?" Ucap Anindita membuat tuan Antonio kesal mendengar jawaban itu darinya.
"Aishh...ini hanya sebuah puding saja, kenapa kau sangat perhitungan kepadaku, aku ini orang yang membelinya dan aku yang terus membiayai semua untukmu, jadi jangan perhitungan deganku" balas tuan Antonio lagi dengan memberikan tatapan yang kesal juga tak kalah tajam dari Anindita sebelumnya.
"Tetap saja tidak bisa, aku sangat menyukainya aku ingin menyimpannya untuk besok, ini juga hanya tersisa satu potong lagi, ini bagian yang paling enak aku sengaja memakannya terakhir agar bisa menikmati dengan puas kau malah memintanya" balas Anindita sangat tidak rela.
Sedangkan tuan Antonio tetap saja sama keras kepalanya dengan Anindita dan dia sama sekali tidak mau mengalah terhadapnya, tuan Antonio masih tetap saja menginginkan puding tersebut, padahal dia sudah pernah menikmatinya juga saat di restoran sebelumnya, entah kenapa dia sangat penasaran padahal itu adalah puding dengan bentuk yang sama dan rasanya sudah bisa di pastikan akan sama juga.
"Ayolah Anindita aku hanya ingin mencicipinya saja sedikit apakah kau sepelit ini pada orang yang sudah membelikannya dengan baik hati padamu, aku bisa membelikan mu lagi nanti" ucap tuan Antonio kepada Anindita.
Karena melihat tuan Antonio yang terus memintanya, Anindita pun mengalah dan dia menaruh kembali puding itu di meja, lalu mulai membuka bungkusannya dan memberikan tuan Antonio untuk mencicipinya.
"Baiklah aku akan memberikanmu untuk mencicipi puding ini tapi kau hanya boleh mengigitnya sedikit apa kau mengerti hah?" Ucap Anindita memberitahunya saat itu.
Tuan Antonio nampak tersenyum senang dia pun langsung mengangguk dengan cepat walau dalam hatinya dia sanga ingin memakan semua puding itu.
"Iya...iya sini aku akan mencicipinya satu gigitan saja" balas tuan Antonio menyetujui hal itu.
Saat tuan Antonio hendak mengambil puding dari tangan Anindita, dengan cepat Anindita menahannya dan dia lebih memilih agar dirinya saja yang menyuapinya pada tuan Antonio karena dia takut tuan Antonio tidak menepati ucapannya sama seperti yang dia lakukan ketika di restoran saat itu.
"Eh ...e..eh...tidak biar aku saja yang memegangnya kau hanya tinggal mengigitnya saja sedikit" balas Anindita menahan tangan tuan Antonio saat itu.
Karena tidak ada pilihan lain tuan Antonio pun menyetujuinya dan dia langsung menarik kembali tangannya lalu langsung membuka mulut dengan cepat saat itu juga.
"Baiklah aaa...ayo masukkan aku ingin mencicipinya segera" ucap tuan Antonio sambil membuka mulutnya saat itu,
Dengan wajahnya yang cemberut dan merasa sangat kesal Anindita terpaksa harus memberikan tuan Antonio untuk mencicipi puding terakhir yang paling enak miliknya tersebut, Anindita mulai mengarahkan puding itu pada tuan Antonio dan dia mulai mendekatinya, hingga tiba-tiba saja tuan Antonio malah mengigit banyak sekali puding tersebut dan Anindita terbelalak kaget melihatnya.
__ADS_1
Karena tidak terima melihat tuan Antonio yang hampir memakan setengahnya dari puding tersebut Anindita yang panik bukannya menarik tangan dia yang memegangi puding itu, dia justru malah langsung melahap puding tersebut yang juga tengah di makan oleh tuan Antonio sehingga secara tidak sengaja mereka layaknya berciuman saat itu, dan Anindita tidak menyadari hal tersebut.
"Aaaa..aaa....ahh...Antonio kau" ucap Anindita sambil dengan cepat melahap puding itu juga menggunakan mulutnya langsung.
Tuan Antonio yang sadar dengan hal tersebut dia hanya membuka matanya dengan sangat lebar dan terus saja dia mematung tidak menentu, merasakan detak jantungnya yang berdebar semakin kencang dan dia yang menjadi gugup dalam seketika.
"A..AA..apa yang kau lakukan barusan?" Ucap tuan Antonio masih sulit mengendalikan dirinya sendiri saat itu.
"Apa aku hanya mengambil hal yang seharusnya aku dapatkan, bukannya kau makan semua puding itu, menyebalkan untung saja aku dengan cepat memakannya jika tidak stoberi di atasnya akan kau embat juga kan?" Balas Anindita yang masih saja tidak sadar dengan hal tersebut.
Mendengar jawaban dari Anindita yang masih tidak menyadari hal itu tuan Antonio sedikit senang namun juga sedikit kecewa, dia hanya terlihat linglung dengan tatapan mata yang tidak fokus, sambil segera bangkit berdiri dari sana dengan cepat pergi menaiki tangga menuju kamarnya saat itu.
"Ahh..haha...hahaha...kau tidak mengerti ya..haha.. benar-benar konyol" ucap tuan Antonio sambil terus berjalan linglung memegangi bibirnya sendiri saat itu.
Anindita hanya menatapnya dengan wajah heran dan kedua alis yang dia naikkan dengan perasaan tidak menentu.
"Apa yang terjadi padanya, hanya karena memakan puding begitu saja apa dia bisa langsung jadi gila ya? Wajahnya itu kenapa dia terlihat aneh apa dia baik-baik saja?" Gerutu Anindita merasa sedikit cemas melihatnya.
Tuan Antonio langsung saja masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu kamarnya cukup keras bahkan Anindita yang masih berada di bawah bisa mendengar suara pintu tersebut dengan sangat jelas, saling kerasnya tuan Antonio membanting pintunya tersebut.
"Brakkk!" Suara keras pintu yang di banting oleh tuan Antonio dengan kuat.
"Astaga...ada apa dengannya, dia benar-benar aneh, sudahlah tidak perlu apa dan kenapa dia seperti itu, aku mau tidur saja" ucap Anindita sambil segera pergi menaiki tangga dan hendak masuk ke dalam kamarnya yang berada di samping kamar tuan Antonio.
Namun disaat Anindita hendak memegangi gagang pintu kamarnya dia mulai teringat dengan ponsel yang di berikan oleh tuan Antonio kepadanya yang Antonio lemparkan pada tong sampah yang ada di kamarnya.
"Aahh .. sayang sekali jika ponsel itu benar-benar dia buang, apa sebaiknya aku meminta kembali saja padanya, setidaknya aku bisa memiliki ponsel dan bisa menghubungi nomor ku pada Anindya" pikir Anindita saat itu.
Dia pun segera mengetuk pintu kamar tuan Antonio beberapa kali, namun dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari dalam ataupun mendapatkan Antonio membukakan pintu untuknya.
"Aishhh...sedang apa dia di dalam sampai tidak membukakan pintu untukku, apa dia marah deganku hanya karena puding itu? Tapi kan dia sendiri yang tidak menepati janjinya harusnya aku yang marah padanya" gerutu Anindita merasa sangat aneh dan kebingungan sendiri.
Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari dalam, akhirnya Anindita memutuskan untuk langsung masuk saja karena kebetulan sekali saat Anindita memegangi pintu kamar tuan Antonio, rupanya pintu itu sama sekali tidak di kunci sehingga Anindita bisa masuk dengan leluasa.
"Ehhh ..ternyata tidak di kunci? Tau begini aku masuk sedari tadi tidak perlu menunggunya cukup lama di luar" pikir Anindita sambil segera masuk secara diam-diam ke dalam.
Saat dia masuk tidak ada keberadaan tuan Antonio di dalam sana dan hanya terdengar gemericik air dari kamar mandi, sehingga Anindita mengetahui bahwa Antonio mungkin saja tengah mandi saat itu.
"Aaahhh...rupanya dia di kamar mandi, pantas saja tidak mendengar ketukan pintu dariku, dasar di tempramen itu, oh ya dimana tong sampahnya aku harus mencari ponsel itu dengan cepat sebelum dia keluar dari sana" gerutu Anindita sambil segera mencari keberadaan tong sampah mini tersebut, hingga dia mulai menemukannya dan dengan cepat Anindita mencari ponsel tersebut pada tong sampah itu namun dia tidak berhasil menemukannya dan mencoba untuk mencari di tempat lain.
Tanpa Anindita sadar beberapa saat ketika dia tengah mengacak-ngacak tong sampah di kamar tuan Antonio, sebenarnya saat itu tuan Antonio sendiri sudah keluar dari kamar mandi dan dia berdiri mematung dengan mengepalkan kedua tangannya dan menahan kekesalan melihat Anindita mengacak-acak tong sampah juga semua benda di kamarnya.
Mulai dari laci juga semua benda diatas mejanya saat itu, tanpa banyak bicara tuan Antonio langsung berjalan mendekati Anindita dan dia langsung saja menarik tangan Anindita secara tiba-tiba sehingga membuat Anindita sangat kaget dan berbalik menatap ke arah tuan Antonio yang hanya memakai handuk yang dia ikatkan pada pinggangnya saat itu.
"Apa yang kau lakukan disini" ucap tuan Antonio dengan kedua alis yang dia kerutkan,
"Aahhh....aaakkkkkkkk..." Teriak Anindita yang kaget melihat tubuh tuan Antonio tanpa pakaian saat itu.
__ADS_1