
Meski sudah dikatai seperti itu oleh Anindita tetapi tuan Antonio sama sekali tidak memberikan respon apapun lagi dia terus saja berjalan sambil menggendong Anindita dan membawanya ke ruang tengah rumahnya hingga mendudukkan Anindita di sofa ruang depan televisi miliknya secara perlahan, Anindita sendiri merasa sangat kesal dan emosi dia sama sekali tidak bisa berpikir jernih karena di matanya saat itu, dia hanya membenci dan membenci Antonio.
Sebab Antonio hampir saja membunuh dia dengan cara memasukannya ke dalam kandang macam miliknya, itu memang sangat sulit untuk di percaya tetapi kenyataan sudah mengatakan yang sebenarnya, dimana Antonio benar-benar sangat berani untuk melakukan semua itu kepadanya, dia bahwa tidak terlihat ragu sama sekali ketika memerintahkan para penjaganya untuk memasukkan Anindita ke dalam kandang macan yang sangat buas tersebut.
Kini Anindita terus memalingkan pandangan dari tuan Antonio sedangkan tuan Antonio berjongkok di hadapannya dan mulai memberikan air minum kepada Anindita saat itu.
"Ini minumlah, aku tahu kau syok," ucap tuan Antonio memberikan minum kepada Anindita.
Namun sayangnya Anindita sama sekali tidak ingin menerima sesuatu apapun dari tangan tuan Antonio bahkan jika itu hanya segelas air mineral biasa saja, dia segera menolaknya dan menyuruh tuan Antonio agar tidak berpura-pura baik di hadapannya saat itu, karena Anindita terlihat sangat muak juga kesal ketika melihat sikapnya tersebut.
"Kenapa kau diam saja ayo ambil gelasnya," tambah tuan Antonio kepada Anindita,
"Cukup Antonio kau tidak perlu bersikap seolah-olah bahwa kau perduli denganku, aku bisa mengambil air sendiri jika aku memerlukannya," balas Anindita dengan wajahnya yang menatap penuh kebencian kepada tuan Antonio.
Tuan Antonio juga hanya berdecak kecil ketika menanggapi balas dari Anindita sebab dia sudah tahu bahwa Anindita pasti akan menolak ya seperti itu.
"Baiklah jika kau memang tidak ingin minum, aku tidak akan memberikan minum kepadamu untuk selamanya dan kau tidak akan di izinkan untuk mengambil air di dalam rumahku atau pun di luar rumahkan selama air itu milikku," balas tuan Antonio menambah kekesalan Anindita dan membuat Anindita membelalakkan matanya dengan sangat lebar.
Karena mendengar ancaman halus seperti itu Anindita langsung merampas air yang ada di tangan tuan Antonio saat itu dan segera meneguk ya hingga sekaligus habis lalu kembali menaruhnya di meja dengan cukup keras.
"Bagus, seharusnya kau menurut seperti ini kepadaku sejak awal, jadi aku tidak perlu melontarkan ancaman dahulu kepadamu, itu akan membuatmu semakin kesulitan, apa kau mengerti?" Balas tuan Antonio sambil menatap tajam pada Anindita.
Kemudian dia segera bangkit dan duduk tepat di samping Anindita saat itu dia juga mulai melontarkan pertanyaan kepada Anindita tentang apa yang seharusnya Anindita katakan kepada dia saat itu juga.
"Karena kau sudah minum dan aku lihat kau masih baik-baik saja, segeralah kau katakan padaku yang sebenarnya, sebelum aku akan bersikap lebih kasar lagi denganmu dari pada yang sebelumnya," ujar tuan Antonio kepada Anindita dengan nada yang sangat tegas dan cukup mendominasi.
Sudah jelas bahwa saat itu tuan Antonio tengah mendesak dan memaksa Anindita untuk mengatakan semuanya saat itu juga sehingga Anindita segera berbalik menghadap ke arah tuan Antonio saat itu juga dengan wajahnya yang terlihat cukup serius juga menatap dengan lekat kepada tuan Antonio.
"Antonio berjanjilah sesuatu kepadaku sebelum aku akan mengatakan yang sebenarnya," ucap Anindita meminta Antonio untuk berjanji kepadanya.
Tuan Antonio terlihat sedikit merasa heran dan dia mengerutkan kedua alisnya menaruh rasa curiga kepada Anindita yang tiba-tiba saja memintanya untuk berjanji saat itu secara tiba-tiba, padahal dalam ucapan dia sebelumnya tidak ada masalah janji dan sebagainya yang harus di lakukan oleh dirinya agar wanita di hadapannya ini yang dia anggap sebagai Anindya menjelaskan yang sebenarnya kepada dia.
Tetapi karena melihat wajah Anindita yang sangat serius dan menatapnya cukup lekat akhirnya tuan Antonio memberikannya sedikit keringanan dan mengangguk menyetujui keinginan dari Anindita segera.
"Baiklah aku akan berjanji kepadamu, katakanlah janji apa yang harus aku buat denganmu?" Balas tuan Antonio menyetujuinya dengan sangat cepat.
"Aku hanya tidak ingin kau membicarakan rahasia ini kepada siapapun apalagi membocorkannya kepada Doni, dia tidak boleh mengetahui semua hal ini dan jika kau setuju untuk menyimpan rahasia ini hingga semuanya selesai dan aku bisa kembali ke tempatku lagi aku juga akan berjanji denganmu, aku tidak akan terlalu merepotkan dirimu selama aku tinggal denganmu, aku akan membantumu mengusir para wanita yang mendekatimu itu," balas Anindita dengan wajahnya yang sangat serius sekali.
Dia terlihat memiliki penuh keyakinan ketika mengatakan janjinya tersebut karena dia harus melakukan semua itu agar membuat Antonio bisa mempercayainya dengan penuh dan dia bisa membuat Antonio tutup mulut sehingga dia tidak perlu cemas atas Anindya nantinya, dia hanya tidak ingin melanggar janjinya kepada Anindya hanya itu saja.
Tetapi untuk membuat seorang tuan Antonio setuju atas janji tersebut tentu lah tidak akan semudah itu meski tuan Antonio sudah menyetujuinya namun kali ini tuan Antonio nampak sedikit berpikir dan tatapannya begitu tajam bak seperti orang yang tengah menyelidiki ekspresi pada Anindita dengan sangat serius sekali.
Bahkan tatapan itu membuat Anindita merasa cukup tidak nyaman dan dia sedikit merasa cemas sebab tuan Antonio tidak kunjung membalas ucapannya juga.
"E..ee..eumm... Antonio kenapa kau diam saja, apa kau tidak setuju dengan apa yang aku ucapkan barusan?" Tambah Anindita menanyakannya lagi.
__ADS_1
Tuan Antonio langsung memperlihatkan senyum di wajahnya dan dia nampak terlihat lebih baik daripada ekspresi wajah yang dia perlihatkan sebelumnya.
"Haha....baiklah aku akan setuju dengan perjanjian itu, tetapi kenapa kau harus membuat janji seperti itu denganku?" Tanya tuan Antonio.
"Sebenarnya rahasia ini sangatlah besar, dan ini bukan hanya rahasia milikku saja, ini adalah rahasia diantara aku dan Anindya yang kau maksud, jadi aku hanya tidak ingin melanggar janjiku kepadanya, karena aku bukanlah orang yang tidak tepat dalam perkataan, maka dari itu membuatmu tutup mulut itu sangat baik untukku dan cara terbaik agar aku tidak melanggar janjinya untuk tidak memberitahu ayah ya mengenai hal ini," balas Anindita dengan wajah yang sedikit lesu.
Tuan Antonio yang sudah semakin penasaran ketika mendengar hal itu sekilas dari Anindita, dia langsung saja menyuruh Anindita agar segera mengatakan yang sebenarnya dengan jujur dan detail.
"Baiklah aku akan melakukannya jadi cepat kau jelaskan semuanya dengan benar padaku, mulai dari siapa kau sebenarnya," balas tuan Antonio menatap sangat serius kepada Anindita saat itu.
Anindita nampak menarik nafas yang sangat panjang dan dia membuangnya perlahan, dia awalnya terlihat gugup namun dia mulai bicara berbicara dengan lancar sebab dia bisa menenangkan dirinya lebih baik lagi setelah sudah bicara cukup banyak kepada tuan Antonio saat itu.
"Se..SE...SE.. sebenarnya..a..a..aku...aku adalah Anindita, aku bukan Anindya, wajahku dan wajahnya memang sangat mirip bahkan aku sendiri sulit untuk membedakan kami berdua, ketika melihat wajahnya aku seperti tengah bercermin dia benar-benar begitu mirip denganku, tapi kamu tidak saling mengenal sebelumnya hingga entah kenapa aku bisa sampai tertukar tempat dengannya dalam acara lelang aman sebelumnya, dan karena hal itu aku kembali ke rumahku tetapi Anindya meminta padaku agar aku dan dia terus meneruskan hal ini agar terjadi selama waktu yang dia tentukan yakni enam bulan, dia bilang dia ingin merasakan hidup mewah dan mendapatkan kasih sayang dari ibu dan omaku di rumah, aku tidak bisa menolaknya karena aku merasa kasihan dengannya, aku juga ingin bebas dan ingin merasakan dunia luar lebih banyak sebelum aku akan benar-benar meninggalkan duni ini, jadi aku menyetujui permintaan darinya, hingga terjadilah hal pertukaran tempat seperti sekarang ini," balas Anindita menjelaskan semuanya dengan sejujur-jujurnya.
Tuan Antonio terus memperhatikan semua ucapan yang di keluarkan oleh Anindita saat itu, dia terlihat sangat tertarik dan begitu serius ketika mendengarkan Anindita bercerita serta mengungkapkan semua itu.
Dia juga tidak terlalu kesal lagi setelah mendengar balas dan Anindita karena tahu bahwa Anindita sudah mau berkata jujur dan menjelaskan semuanya kepada dia saat itu, sehingga membuatnya merasa cukup senang sekarang.
Namun selain itu ada yang membuat tuan Antonio merasa cukup heran kepada Anindita karena dia bersikap terlalu baik kepada Anindya tersebut, sebab dia menjaga rahasia ini dengan sangat baik selama ini bahkan dia terus bersikap layaknya Anindya yang asli ketika di hadapan sang ayah Anindya Doni.
"Jika kau memang bukan Anindya berarti kau harus bersyukur karena aku sudah membawamu keluar dari rumah itu, bagaimana bisa seseorang yang tidak memiliki hubungan darah bisa tinggal bersama, apalagi dia menganggap dirimu sebagai putrinya tentu dia akan menyentuhmu dengan bebas, jadi aku perintahkan kau untuk tidak dekat-dekat dengan Doni lagi, apa kau mengerti?" Balas tuan Antonio yang membuat Anindita menaikkan kedua alisnya karena tidak mengerti dengan apa yang Antonio maksudkan lewat ucapannya barusan.
"Eehh.. apa yang kamu pikirkan Doni tidak seperti itu, dia ayah yang baik aku sudah menganggap dia sebagai ayahku juga, karena tidak tahu kenapa aku selalu merasa nyaman dan aman ketika di sampingnya aku merasa dia adalah orang yang baik dan selalu mengutamakan aku lawan terkadang dia sering menjengkelkan," balas Anindita kepada tuan Antonio saat itu.
Dengan cepat Anindita segera membalasnya sambil menganggu karena dia tidak bisa menolak ucapan dari tuan Antonio disaat dia masih belum bisa keluar dari cengkeramannya saat ini.
"Aishh....iya..iya, lagi pula jika aku tidak boleh dekat dengan ayahnya Anindya kenapa juga aku harus tinggal denganmu, bukankah kau juga hanya orang asing untukku?" Balas Anindita membalikkan ucapan dari Antonio sebelumnya.
Seketika tuan Antonio terlihat cukup gugup dan kebingungan dia segera mencari alasan untuk membela diri dan menjawabnya dengan penuh keberadaan, meski dia sendiri terdengar cukup gugup ketika mengatakannya pada Anindita saat itu.
"AA..AA...ahhh... Tentu saja aku dan dia sangat berbeda dia itu ayah palsu untukmu sedangkan aku adalah tunanganmu aku calon suamimu yang akan segera menikahimu, jadi akan sah..sah...saja jika kau tinggal denganku, berbeda dengan jika kau tinggal bersama si sialan Doni itu," balas tuan Antonio mencari alasan dengan sangat mudah.
Anindita hanya berdecak pelan karena dia sudah tahu apa yang diucapankan oleh tuan Antonio kepadanya saat itu hanyalah sebuah pembelaan untuk dirinya sendiri.
Itu membuat Anindita cukup muak mendengarnya namun mau tidak mau dia masih harus mendengarnya karena itu tuan Antonio sendiri yang mengatakannya bukan.
"Ya..ya... terserah kau saja, apa sekarang aku bisa pergi aku ingin istirahat," ucap Anindita mengalihkan pembicaraan.
Karena dia pikir dia sudah bercerita cukup panjang pada Antonio dan dia rasa dia juga sudah mengatakan semuanya sehingga dia sangat malas untuk melihat wajah Antonio yang selalu membuat dirinya naik pitam.
Tetapi disaat Anindita bangkit berdiri dengan cepat Antonio menarik tangannya cukup kuat hingga membuat Anindita jatuh dalam pangkuannya dan tentu saja itu membuat seorang Anindita kaget di buatnya dan menjadi tidak karuan.
"Aaahhhh....KA..kau...apa yang kau lakukan menjauh dariku," ucap Anindita sambil berusaha bangkit dan mendorong dada bidang Antonio.
Namun sayangnya tuan Antonio justru malah memegangi tubuh Anindita dengan lebih erat dan dia kembali menggendong Anindita hingga membawanya keluar dari rumahnya tersebut.
__ADS_1
"Eh ..eh..eh ..Antonio apa yang ingin kau lakukan denganku, lepaskan aku Antonio kau mau membawaku kemana hey...Antonio!" Teriak Anindita dan terus berusaha berontak sangat kencang juga sekuat tenaga saat itu.
Sayangnya meski sudah mencoba melepaskan diri dari tuan Antonio, Anindita tetap gagal dan tidak bisa melepaskan diri darinya sebab tenaga tuan Antonio berada jauh lebih kuat di bandingkan dengan tenaganya.
Terlebih lagi Anindita baru saja mengalami syok yang cukup berat disaat dia hampir menjadi santapan seekor macan yang sangat ganas, tentu dia tidak memiliki energi sekuat sebelumnya.
"Diam...aku akan membawamu ke tempat yang ingin kau kunjungi, bukankah kau tadi bilang jika kau ingin bebas dari kekangan ibumu, dan ingin menikmati dunia luar, maka aku akan menunjukkan kepadamu seberapa indahnya dunia luar itu," balas tuan Antonio saat memasukkan Anindita ke dalam mobilnya.
Anindita yang mendapatkan jawaban seperti itu dari tuan Antonio dia langsung saja membelalakkan matanya dengan sangat lebar, Anindita sama sekali tidak mengerti dengan pola pikir tuan Antonio saat itu, dia juga tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh tuan Antonio kepadanya.
Dia sama sekali tidak meminta tuan Antonio untuk membawanya ke suatu tempat dia hanya ingin istirahat saja kali ini, sungguh hanya sebuah waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya saja.
"Antonio kau mau membawaku kemana, ini sudah hampir malam tidak akan ada tempat yang buka di jam seperti ini?" Ucap Anindita menanyakannya.
"Aku punya tempat yang bagus untuk kita datangi dan tempat itu hanya akan ada malam ini saja," balas Antonio kepadanya.
Anindita hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan cukup kasar, dia tahu bahwa dirinya tidak bisa berontak lagi kepada seorang tuan Antonio yang semua keputusan ada di tangannya, bahkan semenjak dia masuk ke dalam mension Antonio justru Anindita merasa bahwa dirinya lebih terkekang di bandingkan sat dia tinggal bersama ibu dan omanya, hal itu juga yang selalu membuat seorang Anindita menyesali perbuatannya untuk bertukar tempat dengan Anindya sebelumnya.
"Huuhh...andai saja saat itu aku tidak menyetujui keinginan gila gadis itu, pasti sekarang tidak akan seperti ini, aku benar-benar sial, dunia selalu tidak berpihak kepada gadis sepertiku," gerutu Anindita dengan wajah yang di tekuk cemberut.
Tuan Antonio mendengar semua yang di ucapkan oleh Anindita dan semua keluhannya saat itu, tapi tuan Antonio masih harus fokus menyetir hingga mereka sampai di depan sebuah danau yang berada di pinggir jalanan taman disana.
Tempat itu cukup cantik dengan lampu taman yang menghiasi sekeliling danau yang tidak terlalu besar tersebut.
Tuan Antonio segera keluar dari mobilnya sedangkan Anindita sama sekali tidak tertarik untuk pergi keluar saat itu, sehingga tuan Antonio langsung mengajaknya keluar dan memaksanya dengan sedikit ancaman lagi, agar Anindita mau turun dan keluar dari mobilnya segera.
"Apa lagi yang kau tunggu, cepat keluar atau aku akan menggendongmu lagi," ancam tuan Antonio yang berhasil membuat Anindita menyerah dengan sikap keras kepalanya tersebut.
"Aahhh ..iya.. baiklah...baiklah, aku akan keluar segara minggir kau," balas Anindita dengan nada bicara yang cukup sinis.
Dia segera turun dan tuan Antonio langsung menarik tangannya membawa Anindita ke tepi danau tersebut hingga menyuruh Anindita untuk menutup matanya saat itu.
"Tutup matamu!" ucap tuan Antonio memerintah begitu saja.
Anindita langsung mengerutkan kedua alisnya merasa sangat heran dengan perintah yang diutarakan oleh tuan Antonio kepadanya dan lagi lagi Anindita menolak perintah tuan Antonio yang membuat tuan Antonio sangat kesal di buatnya.
"Tidak mau ini suda terlalu gelap untuk apa lagi aku harus menutup mataku," balas Anindita yang menolaknya dengan cepat,
"Ayo tutup atau aku akan harus mengancammu lagi!" Ucap tuan Antonio, membuat Anindita segera menutup matanya meski dia sangat kesal dan tidak ingin melakukan semua itu sebenarnya.
"Aaahhh...iya..iya..aku akan menutup mataku, apa...apaan sih kau ini, selalu saja melontarkan ancaman, pemaksaan dan desakkan terus menerus kepadaku, apakah kau tidak bisa membuat hidupku sedikit menjadi nyaman dan damai barang sehari saja atau kalau tidak satu jam pun tidak papa," ucap Anindita yang terus menggerutu kesal sendiri.
Hingga tidak lama tuan Antonio mengambil beberapa kembang api di mobilnya dan segera membakar kembang api tersebut secara diam-diam dia menancapkan kembang api tersebut di ujung danau hingga mulai menyalakannya dan kembang api mulai melesat ke atas langit dan terlihat meledak sangat cantik memperlihatkan beragam warna yang keluar dari kembang api tersebut, juga suara ledakannya yang cukup meriah.
"Wahhh....kembang api? Jadi ini tempat yang kau bilang bagus...wahh...kembang apinya sangat bagus...apa kau menyalakannya sendiri, apa kau masih memilikinya?" Ucap Anindita yang terlihat sangat senang dan begitu antusias.
__ADS_1