
Doni langsung memebalalakkan matanya dengan sangat lebar kepada Anindita yang ada disana dan dengan cepat Doni langsung menarik tangan Anindita dengan cukup kuat sampai membentaknya saat itu.
"Anindya jawab ayah dengan jujur apa yang dikatakan oleh tuan Antonio barusan betul? Dan kenapa kau menyembunyikan tanganmu tunjukkan itu!" Bentak Doni dengan suaranya yang keras dan khas.
Seketika Anindita merasa merinding takut melihat amarah yang keluar dari ayah Anindya tersebut, dia menelan salivanya sendiri dengan susah payah dan dia tidak bisa berkutik atau berbuat apapun lagi saat itu, sampai sang ayah Anindya tersebut langsung saja menarik paksa tangan Anindita dengan sekuat tenaganya hingga dia bisa melihat dengan jelas bahwa putrinya Anindya benar-benar mengenakan sebuah cincin yang terbuat dari bahan yang mahal juga terdapat berlian merah di tengahnya.
Seketika Doni semakin kaget dan terlihat wajahnya seperti menahan kekesalan dan amarah saat itu, Anindita sangat takut sehingga dia berusaha untuk menenangkan sang ayah Anindya dan berusaha menjelaskan kejadian yang sesungguhnya kepada Doni saat itu juga agar kesalah pahaman ini tidak terus berlanjut.
"Kau.... Apa ini maksudnya Anindya?" Bentak Doni sekali lagi membuat Anindita semakin tertekan saat itu,
"A..ayah.. maksud semua ini tidak sama dengan apa yang kau pikirkan, oke iya aku memang tidur di rumahnya dan aku juga tidur di sampingnya malam tadi tapi aku sama sekali tidak melakukan apapun yang di luar batas dengannya, aku juga tidak tahu kenapa dia bisa ada di sampingku saat tadi pagi, aku serius ayah aku tidak berbohong kepadamu aku bicara dengan jujur dan sebenarnya" ucap Anindita sambil memegangi kedua tangan Doni dengan erat.
Anindita sudah sangat takut, cemas dan merasa sangat tegang saat itu, dia bingung tidak karuan dan terus memasang wajah memelas di hadapan Doni berharap Doni akan mempercayai ucapannya dan berhenti untuk tidak memarahi dia seperti itu lagi sampai akhirnya tiba-tiba saja Doni memeluk dirinya dengan cukup erat dan malah tertawa gembira begitu saja.
"Aahaha....sayangku kamu benar-benar sudah dewasa kamu sudah bisa bicara jujur denganku sekarang ohh.. Anindya ayah sangat senang dan bangga denganmu itu adalah keputusan yang benar ahahah" ucap Doni malah merasa bahagia dan mengatakan bahwa dirinya bangga kepada Anindita saat itu.
Anindita merasa heran dan aneh sehingga dia dengan cepat mengerutkan kedua alisnya merubah ekspresi wajah dia yang tadinya takut dan cemas menjadi kebingungan dan sedikit kesal, dia pun langsung mendorong Doni cukup kuat sampai sang ayah melepaskan dia dari pelukannya saat itu.
"Eh ...tunggu ayah tunggu, kenapa kau malah tiba-tiba saja tertawa senang dan bahagia seperti itu, bukankah tadi kau sangat marah kepadaku?" Tanya Anindya dengan perasaan yang sangat heran dan tidak karuan.
Lalu Doni justru malah langsung merangkul Anindita dan dia justru memuji juga langsung saja merestui hubungan antara dirinya dengan tuan Antonio yang sama sekali tidak pernah terjadi apapun sebenarnya dan semua itu hanyalah sebuah kesalahan pahaman bagi Anindita.
"Aahhh... Anindya kesayangan ayah, sudahlah kamu jangan berpura-pura lagi ayah tahu kau kok kamu pasti senang ketika ayah tidak memarahiku bukan? Anindya ayah sama sekali tidak marah kepadamu tadi ayah hanya syok dan kaget justru ayah merasa sangat senang dan bersyukur karena kamu bisa memilih pasangan sehebat tuan Antonio ini dan ayah tidak keberatan jika kau mau tidur dengan tuan Antonio atau menikah sekalipun" ujar Doni dengan begitu santainya seakan dia memberikan putrinya dengan begitu mudah kepada seorang pria yang merupakan bos kejahatan selama ini.
Tentu saja mendengar itu Anindita langsung menatap kaget dan sangat terperangah menatap satu per satu diantara ayahnya Doni juga kepada tuan Antonio saat itu yang terlihat tersenyum senang dan puas atas jawaban yang di ucapkan eh ayah Anindya tersebut.
"Hah? Ayah apa kau bercanda, kenapa kau mengijinkan aku untuk bersama dengan seorang pria sepertinya, dia bukan orang baik ayah, dia orang jahat dia memaksamu untuk. Mencuri banyak barang berharga dan aneh dia juga hampir selalu melakukan hal kasar dan dia sungguh aaahhh aku benar-benar tidak habis pikir denganmu ayah" balas Anindita dengan perasaan kesal dan tidak karuan.
Sialnya Doni justru malah semakin mendukung hubungan antara tuan Antonio dengan Anindita saat itu, sampai tidak lama Ben tiba-tiba saja datang ke tempat itu dan dia muncul dari balik pintu secara tiba-tiba.
Anindita merasa sangat kaget dan bingung saat itu dia melihat Ben yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu dan langsung saja menatap tajam ke arahnya dan dia ternyata sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Doni barusan dimana saat itu Doni tengah menyetujui hubungan diantara Anindya dengan tuan Antonio.
"Sayang ayah tidak salah dan semua itu memang benar kau dan tuan Antonio memang berjodoh kalian sanga cocok jadi kalian harus tetap bersama ayo kau berdiri di sampingnya itu sangat cocok dan ayah setuju dengan hubungan kalian" balas Doni yang masih menyetujuinya dan merestui tuan Antonio sepenuhnya.
Hal tersebut tentu saja membuat seorang tuan Antonio merasa sangat besar kepala dan dia langsung tersenyum kecil menatap ke arah Anindita yang sangat membencinya saat itu.
__ADS_1
Hingga ketika Anindita hendak di tarik tangannya oleh tuan Antonio untuk berdiri di sampingnya Ben langsung muncul dan menahan tangan tuan Antonio yang hendak menarik tangan Anindita saat itu.
"Berhenti! Lepaskan tanganmu darinya!" Ucap Ben dengan tatapan yang tajam menusuk kepada tuan Antonio saat itu.
Anindita yang melihat Ben tiba-tiba saja muncul dia sangat kaget dan hanya bisa terperangah melihatnya, Anindita langsung saja bertanya kepada Ben dengan cepat.
"Ya ampun Ben sejak kapan kamu berada disini?" Tanya Anindita yang dia rasa sangat cemas pasalnya dia sudah tahu bahwa dia saat itu adalah Anindya dan dia tahu bahwa Ben menyukai Anindya sehingga hal tersebut dan apa yang sudah di katakan oleh Doni itu tentu saja Anindita tahu bahwa itu akan menyakiti perasaannya.
"Anindya kamu tenang saja aku tahu kamu tidak menyukai pria kasar ini dan aku akan melindungimu" ucap Ben dengan begitu kerennya berkata seperti itu kepada Anindita.
Dia merasa sangat senang dan tersenyum kepada Ben ketika mendapatkan perlakuan dan perkataan semanis itu dari Ben namun baru juga dia menikmati wajah Ben hanya beberapa saat, tuan Antonio langsung menghempaskan tangan Ben dan dia menarik Anindita dengan kuat hingga berada dalam pelukannya saat itu dan Anindita sama sekali tidak bisa berontak kepadanya sebab tuan Antonio benar-benar memiliki otot yang kuat untuk menahannya.
"Aahh.... Tuan lepaskan aku hey... Lepaskan aku dasar pria sialan!" Bentak Anindita sangat kesal dan menatapnya dengan tatapan benci dan bengis,
"Lepaskan dia apakah kau tidak dengar bahwa dia tidak suka denganmu" ucap Ben yang berusaha melepaskan Anindya dari tuan Antonio saat itu.
Sayangnya disaat Ben hendak meraih tangan Anindita dengan cepat Doni menarik tangannya ke sisi lain dan menyuruh Ben untuk tidak menganggu dirinya lagi.
"Doni cukup! Apa yang kau lakukan kau hanya sahabat putriku dan kau tidak berhak menyuruh tuan Antonio yang sudah jelas adalah calon suami putriku untuk bersamanya" ucap Doni membuat Ben langsung menatap dengan kesal kepada wajah tuan Antonio.
"Ben... Tidak itu semua bohong, kau tahu bagaimana ayahku bukan dia berbohong aku sama sekali tidak akan menikah dengan pria seperti dia" ucap Anindita berusaha meyakinkan Ben.
Untungnya meskinsaat itu Ben terlihat sedikit sedih tapi dia masih mempercayai Anindita dan dia langsung berbalik menatap ke arah Anindita di saat Anindita memanggilnya saat itu.
"Aku tahu Anindya dan aku paham dengan semuanya kau jangan mencemaskan diriku aku akan menyelamatkan kamu dari dua orang yang hanya mementingkan harta ini" balas Ben sambil menatap ke arah tuan Antonio juga Doni yang ada disana.
Mendapatkan sindiran seperti itu dari Ben tentu saja Doni merasa sangat kesal dan marah terlebih sejak dulu dia memang selalu tidak menyukai Ben sebab dia pikir seniman lukis seperti dirinya tidak akan pernah sukses dan tidak memiliki masa depan dalam hidupnya karena hanya fokus melukis dan melukis juga tidak memiliki pekerjaan yang pasti seperti kebanyakan orang lainnya.
Sedangkan Doni tidak tahu saja jika lukisan hasil Ben bisa di beli oleh orang dengan harga yang pantastis dimana penjualannya tidak hanya di dalam negeri saja melainkan ke luar negeri sekaligus.
Anindita sendiri merasa sangat senang ketika mendapatkan jawaban dari Ben yang ternyata dia tidak bisa di salah pahami oleh ucapan ayah ya tersebut tapi walau begitu Doni dengan cepat langsung mengusir Ben dari rumah itu dengan sekuat tenaganya bahkan sampai menyeret Ben dengan kasar keluar dari rumah tersebut.
"Sudah... Kau itu mengganggu saja dasar pengangguran tidak berguna, ayo cepat pergi kau dari rumahku, untuk apa lagi kau masih disini hah, sana pergi atau aku yang akan menyeretmu kelaur sendiri" ucap Doni yang menatap Ben dengan sangat tajam.
Sayangnya Ben masih terus saja bersih keras untuk tetap disana dan berusaha menarik tanganku juga membawa aku pergi dengan dirinya dari tempat tersebut, dan itu membuat Doni sangat emosi dan kesal di buatnya, sehingga Doni langsung menyeret Ben keluar dengan paksa dan kasar.
__ADS_1
"Tidak Oma aku tidak akan pergi dari sini, aku akan bersama dengan Anindya selama kau tidak menyuruh pria itu pergi maka aku juga tidak akan pergi dari sini sebelum kau mengijinkan aku untuk memberikan Anindya kepadaku di banding dengan pria kasar ini!" Bentak Ben dengan penuh keberanian saat itu,
"Aishh .. kau benar-benar sangat menjengkelkan dan sudah seperti tikus yah, baiklah kau rasakan sendiri dan terpaksa aku akan menyeretku, kemari kau aku keluar dari rumahku sadar seniman tidak laku!" Ucap Doni sambil terus menarik tangan Ben dengan kuat dan terus saja menarik dia membawanya hingga keluar dari rumah dan terus saja mengusir Ben dengan sekuat tenaganya.
"Sana pergi mau apa lagi kau disini, pergi sana ayo pergi jangan ganggu putriku lagi aishhh kau benar-benar sangat membuat aku jengkel karena tingkahmu itu" ucap Doni yang terus mengomeli Ben saat itu.
Tapi walau sudah di usir dan sudah di seret dengan kencang oleh Doni hingga keluar dari rumah itu dan masih di usir lagi oleh ya dengan perkataan yang kasar.
Ben masih tetap tidak menyerah dan dia terus memohon kepada Doni untuk membawa Anindya bersama dengannya, dia tidak rela mihat wanita yang dia cintai harus berakhir dengan pria kejam dan sangat kasar seperti tuan Antonio itu.
"Om ..saya mohon tolong beri saya sedikit kesempatan satu kali ini saja, saya sangat mencintai Anindya dan saya akan membahagiakan dia dengan segala usaha yang bisa saya lakukan, kau juga tidak perlu mencemaskan itu karena keluargaku juga kaya raya aku bisa menanggung hidupnya dan membuat dia bahagia sepanjang hidupnya denganku, tolong berikan dia untukku, restui aku dengannya om" ucap Ben memohon kepada Doni,
"Sudah diam kau meski kau kaya raya dan sebagainya tetap saja yang nomor satu disini adalah tuan Antonio kau sama sekali tidak ada bandingannya dengan dia, kau hanya benalu untuk orang tuamu dan kau hanya menjalankan bisnis kecil, mana bisa aku memberikan putri tercintaku untuk orang sepertimu dan merelakan orang sehabat tuan Antonio aaahh jangan mimpi kau, sudah sana pergi dari sini!" Bentak Doni dengan keras dan kejam.
Anindita yang melihat Ben di perlakukan kasar oleh Doni ayahnya Anindya dia sangat tidak terima melihatnya dan dia tidak bisa membiarkan Ben yang merupakan pria baik harus menerima semua itu, hingga Anindita berusaha untuk melepaskan diri dari Antonio dan dia terus berontak dengan keras hingga berhasil melepaskan diri dan terus saja berlari keluar menahan Doni yang saat itu hampir melayangkan tangannya ke arah Ben.
"Berhenti ayah! Jangan berani beraninya kau melakukan hal kasar lagi kepada Ben, Anindya... E..euuu... Maksudku aku sangat mencintainya dan dia adalah orang pertama yang menjadi alasan kenapa aku bertahan sampai saat ini, aku hanya menyukai dia dan hanya dia yang aku inginkan di dunia ini, jika kau ingin aku menuruti keinginanmu untuk bersama dengan tuan Antonio, maka aku akan melakukannya tanpa perlawanan apapun tapi kau harus berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan memperlakukan Ben dengan buruk lagi, kau tidak boleh menyulitkan dia lagi dan jangan berani mencelakainya di belakangku" ucap Anindita sengaja mengatakan itu.
Ben langsung menggelengkan kepala ke arah Anindya karena dia tidak ingin gadis yang sangat dia cintai membela dia seperti itu dan malah menerima dengan mudahnya keputusan yang dia sendiri tidak inginkan.
"Baiklah jika kau bisa melakukan janjimu sendiri dengan tepat maka ayah akan memenuhi janjimu itu, ayah akan berikan kalian waktu untuk berbicara yang terakhir kalinya, ingat waktunya hanya lima belas menit saja" ucap Doni sambil segera masuk dan menutup pintu rumahnya.
Anindita bisa merasa sedikit lega dia mengangguk kepada Doni dan kini harus menghadapi Ben yang terus saja terlihat merah dan kesal atas apa yang sudah dia ucapankan sebelumnya padahal dia dengan sengaja mengelabui kedua orang itu agar Anindya bisa bersama dengan Ben sebab Anindita tahu bahwa mereka berdua saling mencintai satu sama lain.
Sedangkan Ben yang tidak mengetahui bahwa orang yang bersamanya saat ini bukanlah Anindya dia malah langsung marah besar dan terus berbicara banyak kepada Anindita saat itu.
"Anindya apa yang kau katakan barusan, ayo kita pergi dari sini aku akan membawamu kabur dari negara ini dan kita bisa pergi di tempat baru lalu memulai hidup yang baru hanya berdua aku bisa menghapus semua jejak kita dan kau bisa melupakan semua kenangan burukmu dengan ayahmu ataupun pria kasar itu" ucap Ben yang langsung saja menarik tangan Anindita sangat kencang saat itu.
"Ehhh....eh... Lepaskan tanganku, aishh kau ini sangat cerewet sekali aahh tanganku sakit karena ditarik kesana kemari oleh semua orang, hidup gadis polos itu benar-benar sangat menguras energi dan merepotkan, aaahhh ini sangat menyebalkan" gerutu Anindita sambil dengan cepat menghempaskan tangan Ben yang menggenggamnya dengan kuat.
Ben yang melihat Anindya menggerutu kesal dengan bahasa kasar dan dia bisa menghempaskan genggamannya saat itu, dia langsung saja menatap curiga dengan mengerutkan kedua alisnya kepada Anindita yang masih memegangi pergelangan tangannya karena masih terasa sakit baginya.
"Kau.... Anindya ada apa denganmu?" Tanya Ben merasa kebingungan sendiri,
"Apa? Kau heran kenapa Anindya bisa bersikap kasar hah? Aishh... Kau benar-benar buta aku bukan Anindya yang kau pikir jadi sebaiknya kau tutup mulut dan dengarkan aku yang akan menjelaskan sesuatu kepadamu, tapi ini rahasia besar kau harus bisa menjaganya dengan baik jika kau benar-benar mencintai Anindya dan ingin bertemu dengannya" balas Anindita memberikan peringatan terlebih dahulu kepada Ben.
__ADS_1
Ben semakin merasa bingung saja saat itu, dia semakin mengerutkan kedua alisnya dan terus terperangah tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Anindya yang jelas ada di hadapannya saat itu.