TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Mengerjai Balik


__ADS_3

Anindita sempat tersentak kaget saat mendengar suara gelas tersebut, namun dia bisa dengan cepat menenangkan dirinya lagi lalu membalas ucapan dari tuan Antonio dengan menggelengkan kepala pelan, dan hal itu kembali membuat tuan Antonio terlihat semakin kesal kepadanya.


Anindita menggelengkan kepalanya saat itu karena memang dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh tuan Antonio kepadanya saat itu, dia juga tidak tahu siapa dia sebenarnya, di mata tuan Antonio saat ini, dan karena alasan itu juga Anindita melakukan hal seperti ini, padahal dia sendiri juga merasa cukup takut dan cemas ketika melihat wajah tuan Antonio yang bergetar menatap ke arahnya menahan emosi yang terlihat sangat besar saat itu.


Tanpa pikir panjang lagi tuan Antonio langsung memberitahu Anindita siapa dia sebenarnya di rumah tersebut.


"Jika kau benar-benar tidak tahu siapa kau sebenarnya di rumah ini dan di sampingku, oke.. aku akan memberitahumu sekarang siapa kau saat ini." Balas tuan Antonio sampai tiba-tiba saja memasukkan obat milik Anindita ke dalam mulutnya dan tiba-tiba saja dia menempelkan mulutnya dengan bibir Anindita, tuan Antonio dengan sengaja menyuapi Anindita meminum obat dengan mulutnya sendiri saat itu.


Anindita kaget dan dia tidak sempat menghindar, dia juga sangat kaget merasakan obat itu mulai masuk ke dalam mulutnya dan dia tidak bisa mendorong tubuh tua Antonio saat itu, sehingga terpaksa Anindita harus menelan obat itu terlebih dahulu, sampai akhirnya dia bisa lepas dari tuan Antonio.


"Apa yang dia lakukan, apa dia sekarang tengah menciumku, dia menyuapi aku dengan mulutnya, astaga... Apa-apaan ini, aaahh" batin Anindita yang merasa tidak karuan dan panik saat itu.


"Ahh..hah..hah..hah...Antonio apa yang kau lakukan kau mengambil ciuman pertamaku!" Bentak Anindita saat itu dengan wajah yang kesal dan merah padam.


Dia merasa malu dan kesal yang menjadi satu pada tuan Antonio, sedangkan tuan Antonio sendiri malah terlihat santai dan biasa saja dia mengusap bibirnya sedikit dengan jarinya lalu langsung menggendong Anindita membawanya pergi menaiki tangga begitu saja, membuat Anindita langsung berontak dan berusaha melepaskan diri dari tuan Antonio karena saat itu dia merasa tuan Antonio sedang menindasnya.


Terlebih tatapan dan deru nafas tuan Antonio terasa cukup berbeda olehnya itu membuat Anindita merasa takut Antonio akan melakukan sesuatu yang di luar batas kepadanya saat itu, sehingga Anindita terus berusaha untuk berontak darinya.


"Eee....eee..ehhh...Antonio lepaskan aku kenapa kau malah menggendongku, Antonio lepaskan aku, Antonio!" Teriak Anindita sambil terus menepuk dada tuan Antonio dengan sekuat tenaganya.


Namun itu sama sekali tidak bereaksi apapun bagi tuan Antonio karena dia juga sudah mulai terbiasa mendapatkan hal seperti itu dari Anindita dan tentu saat ini bukan yang pertama kalinya dia dip*kuli oleh Anindita saat dia menggendongnya.


"Diam, atau aku akan memakanmu!" Ucap tuan Antonio memberikan tatapan yang cukup dingin dan menyeramkan sampai membuat seorang Anindita langsung kesulitan menelan salivanya sendiri dan dia langsung saja berhenti menepuk dada bidang tuan Antonio karena merasa takut mendapatkan tatapan seperti itu darinya.


"Astaga... kenapa dia terlihat sangat menyeramkan, ohh..tuhan apa yang akan dia lakukan kepadaku sekarang." Batin Anindita terus saja merasa cemas tidak karuan saat itu.


Dia benar-benar merasa sangat cemas, jantungnya juga tidak bisa diajak bekerjasama, dimana dia terus merasakan detak jantungnya yang semakin kesini menjadi semakin kencang, itu membuatnya semakin tidak karuan hingga tuan Antonio menyuruhnya untuk membukakan pintu kamarnya saat itu.


"Buka pintunya." Ujar tuan Antonio kepada Anindita saat itu.


"AA..AA..ahh Antonio terimakasih sudah membantuku, tapi aku bisa masuk sendiri kau bisa menurunkan aku disini sekarang," balas Anindita kepadanya karena dia merasa cemas dan tidak ingin tuan Antonio ikut masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Bukankah kau ingin tahu siapa aku dan siapa kau disini, dan bukankah kau juga mau meminta penjaga untuk membantumu mengganti pakaian, aku tidak mengijinkan itu karena kau adalah tunangan, cincin itu masih melekat dengan kuat di jari manismu, jadi biar aku saja yang membantumu mengganti pakaianmu, bukankah itu tidak masalah, kita juga akan menikah, jadi ayo buka pintunya!" Balas tuan Antonio yang sekarang di mengerti oleh Anindita.


"Ya..ampun...ini semua salahku, aahhh.. bagaimana ini," gerutu Anindita di dalam hatinya yang terus saja merasa semakin kacau.


Sebenarnya Anindita tidak ingin membuka pintu kamarnya saat itu, namun karena tuan Antonio terus memberikan tatapan tajam kepadanya dan dia terus mendesak untuk menyuruh Anindita membuka pintunya, alhasil Anindita tidak bisa berbuat banyak lagi sehingga dia pasrah sambil memikirkan cara lain lagi untuk menghentikannya nanti.


"Antonio aku bisa melakukannya sendiri karena aku sudah meminum obat sebelumnya jadi kau turunkan saja aku disini," ucap Anindita yang masih berusaha saat itu.


"Buka pintunya, atau aku akan melemparkanmu pada macanmu!" Balas tuan Antonio yang memberikan ancaman paling mematikan bagi Anindita.


Tidak ada alasan lain dan tidak ada cara lain untuk menyelamatkan diri dan nyawanya sendiri sehingga Anindita mulai meraih gagang pintu kamarnya tersebut dan dia membukanya dengan perasaan tidak terima dan sangat takut saat itu, bahkan tangannya saja sudah terlihat bergetar cukup kuat ketika dia mencoba membuka pintu kamarnya.


Hingga tuan Antonio masuk ke dalam dan dia menendang pintu kamar Anindita menggunakan sebelah kakinya saat itu, dia langsung menurunkan Anindita di ranjang dengan perlahan dan mulai mendekati Anindita, tapi dengan cepat Anindita langsung bergegas mundur menjauh dari tuan Antonio saat itu.


Dan dia masih mencoba untuk menghentikan tuan Antonio saat itu.


"Antonio aku sudah tahu siapa aku, aku tidak akan melakukan hal seperti itu, lagi lupa tadi aku hanya asal bicara karena kau pergi begitu saja, aku hanya ingin kau membantuku untuk naik ke atas karena kakiku sungguh lemas sekali, hanya itu saja Antonio, tolong jangan seperti ini padaku, aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau mencoba mendekatiku!" Ucap Anindita berbicara mengungkapkan semuanya karena dia tidak memiliki cara lain.


"Antonio hentikan, jangan lakukan itu lagi, Antonio aku membencimu dan benar-benar akan membencimu selamanya jika kau berani menciumku lagi!" Bentak Anindita sangat keras.


Sampai akhirnya ucapan dia itu berhasil membuat tuan Antonio menghentikan tingkahnya dan tuan Antonio pun mulai tersadar dia segera bangkit duduk menjauh dari Anindita sekaligus memperingati Anindita agar tidak membuatnya kesal seperti tadi lagi.


"Anindita, aku bukan pria brengsek yang akan merusak wanita sebelum pernikahan, tetapi walau bagaimanapun aku tetap seorang pria jika kau mencoba terus menggodaku dan menguji aku dengan cara murahan seperti tadi lagi, akan aku pastikan kau tidak bisa lolos dariku, mau akan berakhir di bawahku nanti sampai tidak bisa bergerak saat kau bangun!" Ancam tuan Antonio sengaja menakut-nakuti Anindita agar Anindita tidak membuat dia jengkel lagi kedepannya.


Anindita sendiri juga merasa sangat lega dan dia terus mengusap dadanya pelan karena merasa sangat tenang sekali saat tuan Antonio tidak melanjutkan tingkahnya, walaupun memberikan dia ancaman seperti itu, tapi Anindita tidak terlalu memperdulikannya dan dia hanya bisa segera mengangguk patuh kepada tuan Antonio agar dia bisa lepas darinya saat itu saja.


"Iya ...iya aku kan sudah bilang aku minta maaf, aku yang salah aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi kepadamu, apa kau puas sekarang?" Balas Anindita masih dengan nada yang tinggi da kesal pada Antonio saat itu.


Tua Antonio gaya tersenyum kecil menanggapi jawaban dari Anindita yang pada akhirnya wanita keras kepala itu bisa tunduk dan bisa berhenti membuat dia jengkel bahkan berani meminta maaf dan mengakui kesalahannya kepada dia saat itu. Melihat Anindita yang seperti itu sudah membuat tuan Antonio cukup luas dan dia segera bangkit berdiri lalu mendekati Anindita lagi yang membuat Anindita kembali membelalakkan matanya dan merasa kaget, namun ternyata tuan Antonio hanya mengusap pucuk kepalanya saja perlahan.


"Jangan takut denganku, aku tidak akan melakukan apapun padamu, aku juga hanya mengerjaimu, dasar bodoh!" Ujar tuan Antonio tersebut kecil sambil mengacak rambut Anindita dengan semakin kasar.

__ADS_1


"APA? Jadi kau hanya mengerjai aku saja? Antonio kau benar-benar menjengkelkan!" bentak Anindita langsung memasang wajah yang emosi.


Itu membuat Anindita sangat kesal dan dia langsung saja menghempaskan tangan tuan Antonio yang memegangi kepalanya saat itu, dia membentak tuan Antonio dengan semua kekesalan yang dia tahan sedari tadi dan sepuasnya merutuki tuan Antonio di hadapan orangnya saat itu.


"Aishh..dasar kau sialan, Antonio! Kemari kau aku tidak akan melepaskanmu, aarrrkkkk!" Teriak Anindita sangat kesal dan emosi.


Namun sayangnya tuan Antonio sudah berlari keluar dari kamarnya dan Anindita sendiri tidak bisa pergi untuk menangkapnya sebab dia masih belum pulih dan masih belum bisa berjalan dengan normal, itu membuat Anindita menyimpan dendam dan kekesalan di dalam hatinya kepada tuan Antonio yang tidak sempat untuk dia lampiaskan saat itu.


"Aishh...beraninya kau kabur dariku Antonio. Awas saja kau, dasar manusia menjengkelkan kau manusia batu kerikil, awas saja aku akan benar-benar menghajarmu dengan sekuat tenagaku jika aku sembuh nanti, aaarkkkk.... Antonio sialan!" Teriak Anindita sambil menepuk ranjangnya sendiri dengan kekuatan yang tersisa di dalam dirinya saat itu.


Sedangkan tua Antonio sendiri justru malah tersenyum lebar dan berusaha menahan tawa di balik pintu kamar Anindita saat itu, dia terus saja tertawa sangat lebar tapa membuat suara karena tidak ingin Anindita atau siapapun mengetahui hal tersebut.


Namun sialnya saat dia menatap ke bawah, sudah ada beberapa penjaga yang menatap ke arah dia, dan semua penjaga itu menatap membelalakkan matanya merasa sangat heran dan aneh melihat seorang tuan Antonio yang tersenyum lebar bahkan menahan suara dari tawanya sendiri sampai seperti itu.


"Aishh...sial kenapa mereka malah ada disana sih, aku harus menjaga harga diriku di hadapan mereka." Batin tuan Antonio saat itu.


Antonio juga segera mengubah ekspresi wajahnya dalam hitungan detik kembali datar dan memasang tatapan tajamnya lalu menyuruh para penjaganya untuk pergi dari sana dan kembali pada pekerjaan mereka lagi, agar tidak terus menatap ke arahnya seperti itu.


"Apa yang kalian lihat? Kembali bekerja!" Bentak tuan Antonio yang membuat semua penjaga yang ada langsung pergi ke tempat semulanya.


Ada yang menjaga di depan pintu masuk juga ada yang di pintu keluar, mereka cukup banyak jumlahnya dan tentu ada juga yang terus berkeliling di luar rumah, namun mereka selalu masuk dengan bebas ke dalam rumah untuk mengambil minuman atau pergi ke kamar mandi sehingga saat itu tidak sengaja tuan Antonio terciduk oleh beberapa penjaganya sendiri ketika dia tengah tertawa seperti itu sebab tingkah dan amarah dari Anindita yang sangat lucu dan membuat dia begitu puas karena berhasil membalas kejahilan Anindita terhadap dia sebelumnya, itu sangat membuat dia senang hingga dia sendiri tidak bisa menahan senyuman sendiri.


Sampai malah tertawa dengan cukup lebar membuka mulutnya dan terus berusaha mengecilkan suara tawanya saat itu, bahkan saat sudah terciduk oleh beberapa orang karyawannya tuan Antonio segera masuk ke kamarnya dan saat sudah di dalam dia justru malah melanjutkan tawanya itu dan langsung tertawa cukup keras, terus saja menertawakan wajah Anindita yang terlihat begitu lucu ketika dia mengerjainya tadi, dan semua ekspresi konyolnya Anindita sudah terekam dengan jelas dalam otak tuan Antonio, sehingga setiap kali mengingat kejadian itu.


Tuan Antonio bisa langsung membayangkannya dengan jelas dan itulah yang membuat dia tidak bisa lagi menahan tawa, dia juga bisa bebas tertawa ketika berada di dalam kamarnya karena hanya itulah tempat yang tidak bisa di dengar oleh siapapun karena ruangannya itu kedap suara, sudah di rancang secara khusus saat membangun rumah tersebut sebelumnya.


"Ahaha...hahahaha.....konyol wajahnya tadi sangat konyol, hahah...aku benar-benar berhasil mengerjainya balik ha..haha...tapi bibirnya itu, aahhh sudah dua kali ini terjadi, dia mendapatkan ciuman pertamaku sial!" Gerutu tuan Antonio yang berhenti sejenak saat dia mengingat apa yang sudah dia lakukan sebelum mengerjai Anindita.


Dia sudah mencium Anindita saat itu, dan hampir saja akan melakukan hal yang kasar pada Anindita, namun untungnya pengakuan Anindita membuat dia tersadar sehingga tuan Antonio bisa meredakan emosi dan nafsu yang ada di dalam dirinya, sehingga dia bisa menahan semua itu, sampai pada akhirnya mengatakan bahwa semua itu hanyalah untuk mengerjai balik seorang Anindita saja, padahal ciuman itu tidak termasuk.


Sebab saat melakukannya tuan Antonio benar-benar sangat marah kepada Anindita maka dari itu dia melakukannya berniat agar Anindita bisa sadar bahwa dia adalah tunangannya.

__ADS_1


__ADS_2