TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Hasil Tes DNA Anindya


__ADS_3

Anindita sendiri benar-benar merasa sangat kesal dan dia sungguh tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh tuan Antonio sebenarnya, dia sudah membalas kelakuan jahil Anindita dengan cara yang sangat tidak lazim untuknya.


"Aishh... bagaimana bisa dia malah menjahiliku dengan cara seperti itu, jika dia benar-benar hanya menggodaku saja, kenapa juga dia harus menyuapi obatku dengan cara seperti tadi...aahhh..bibirku benar-benar ternodai karena kelakuannya yang sangat mesum itu, sebaiknya aku harus banyak menjaga diri dari orang sepertinya, dia menjadi berbahaya untukku dan bisa kapan saja menjadi hal paling buruk untukku." Ucap Anindita sebelum dia tertidur malam itu.


Sedangkan ke esokan paginya Ben yang sudah menyiapkan semua berkas dan pergi ke rumah sakit untuk mulai memeriksa hasil dari tes DNA yang sudah dia lakukan dari rambut milik ibu Kasih juga milik Anindya saat itu, dia mulai menunggu hasilnya sendiri dan tengah duduk dengan perasaan yang tidak menentu.


"Semoga saja hasilnya tidak cocok, aku tidak berharap Anindya akan menjadi anak orang kaya yang lebih daripada aku, jika dia sudah menjadi kaya, tentu saja dia tidak akan membutuhkan bantuan ku lagi aku tidak bisa melakukan semua ini dan membiarkan dia meninggalkan aku begitu saja." Ucap Ben yang terus merasa cemas.


Sungguh Ben sangat tidak ingin jika sampai Anindya benar-benar menemukan ibu kandung dan adiknya sendiri saat ini, sebab dia hanya ingin terus membuat Anindya bergantung padanya, agar dia bisa terus berada di samping Anindya selamanya.


Bagi seorang pria yang menyukai wanita tentu adalah hal biasa dan sudah wajar jika dia ingin bisa menjadi orang yang diandalkan oleh wanitanya, menjadi orang yang diutamakan dan selalu dihubungi dalam hal apapun lebih dulu oleh wanitanya, sehingga Ben pikir jika Anindya sudah bisa memiliki segalanya, dia mungkin saja akan tersingkir dan itu sangat tidak ingin dia rasakan.


Apalagi saat ini hubungannya dengan Anindya masih tidak jelas meskipun mereka berdua sudah saling mengetahui bahwa mereka saling mencintai namun tetap ada sedikit keraguan di dalam hati Ben, sebab Anindya masih belum meresmikan hubungan mereka berdua, Ben ingin sesuatu hubungan yang lebih serius yang bisa meyakinkan dirinya bahwa Anindya benar-benar hanya wanita miliknya, yang tidak akan pergi dari sisinya dan akan selalu berada di samping dirinya untuk waktu yang lama dan sepanjang hidupnya. Tapi karena hal yang rumit ini, tentu saja mereka menjadi terhambat.


Hingga tidak lama dokter tiba dan memberikan hasil tes DNA yang sudah dilakukan beberapa hari yang lalu, kurang lebih selama tujuh hari Ben sudah menunggu hasil dari tes DNA tersebut.


Saat dokter memberikannya, Ben sudah merasa sangat cemas dan dia terus saja mulai membuka kertas tersebut dan membaca hasil tes di dalamnya.


Saat sudah membacanya mata Ben langsung terbelalak dengan sangat lebar, dia kaget dan benar-benar tidak bisa mempercayai semua itu, dimana hasil tes DNA nya sangat cocok 99% menyatakan bahwa Anindya adalah putri kandung dari ibu Kasih.


"Astaga....apa ini, jadi mereka sungguh adik kakak? Mereka kembar yang terpisah?" Ucap Ben sambil menutup mulutnya yang terperangah dengan kaget.


Dia langsung membawa hasil tes DNA tersebut dan pergi menuju kediaman Anindya, tidak lupa Ben juga sudah membuat salinannya agar dia bisa memberikan hasil tes itu kepada Anindita juga, jika suatu saat dia bertemu dengannya.


Sesampainya di kediaman Anindya Ben benar-benar bisa masuk dengan menyusup secara diam-diam ke dalam kediaman mewah tersebut, sampai dia bisa memanjat rumah tersebut dengan tangga yang sudah di siapkan oleh Anindya sebelumnya, Ben meloncat masuk ke dalam balkon kamar Anindya dan dengan cepat Anindya juga segera membantunya, dia mulai menatap terperangah kepadanya dan sudah sangat tidak sabar untuk melihat hasilnya tersebut.


"Aahh .. Ben akhirnya kau sampai juga, cepat mana hasilnya, aku harus segera melihatnya, Ben....Ben...ada apa denganmu? Mana hasilnya aku ingin lihat!" Ucap Anindya yang sudah sangat tidak sabar untuk melihat hasilnya tersebut.


Dengan perasaan yang gugup dan masih merasa berat hati, Ben pun mulai mengulurkan amplop coklat tersebut kepada Anindya yang langsung saja di rampas oleh Anindya saat itu juga dia membukanya dengan kasar dan langsung membaca hasil dari tes DNA tersebut dan Anindya menatap termenung dia langsung duduk di samping ranjang, sambil tertunduk dengan lesu.


"AA.....AA...aku..ternyata...semua ini benar, ibu Kasih dan Anindita mereka adalah keluargaku, dia adalah adik kembarku yang sudah aku coba cari selama ini, Ben aku sangat senang sekali, terimakasih kamu selalu membantuku, terimakasih banyak Ben aku sangat menyayangimu." Ucap Anindita yang langsung memeluk Ben dengan sangat erat dan terus berterimakasih kepadanya.


Hal itu tentu saja diluar dari dugaan Ben sebelumnya, dia langsung membalas pelukan dari Anindya dan merasa sangat senang juga, dia pikir pada awalnya Anindya akan meninggalkan dia setelah mengetahui kebenaran itu hingga Ben sempat berpikir untuk membuat salinan dan memalsukan hasilnya namun dia berubah pikiran lagi karena dia tidak bisa membohongi orang yang sangat dia cintai tersebut, di tambah mereka adalah sebuah keluarga, Ben tidak bisa menjadi sangat kejam memisahkan kedua kakak beradik yang sudah terpisah dalam waktu sangat lama selama ini, juga seorang putri kecil dari ibu kandungnya sendiri, dan kini Ben sudah bisa menerima semuanya dia sama sekali tidak menyesal sudah memberitahu Anindya semua kebenarannya dan membantu dia sejak awal hingga saat ini.

__ADS_1


"Anindya bisakah kita menjadi pasangan kekasih sekarang, aku ingin kau mengatakannya dengan jelas agar aku tidak merasa cemas lagi dengan hubungan diantara kita, kau tahu aku sangat menyayangimu bukan, aku tidak ingin kamu meninggalkanku Anindya." Ucap Ben sambil menggenggam erat kedua tangan Anindya saat itu.


Anindya tersebut lebar menanggapinya dan dia langsung mengangguk membalas ucapan dari Ben saat itu.


"Ya...tentu saja, bukankah sejak awal kamu mengungkapkan perasaanmu padaku dan saat aku mengutarakannya padamu itu sudah menjadi tanggal jadian kita, kenapa kamu seperti ini, aku juga sangat menyukaimu Ben, aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi, kau percaya kepadaku kan?" Balas Anindya membuat Ben sangat senang.


Mereka sekarang sudah menjadi pasangan yang benar-benar resmi Ben memberikan sebuah kalung yang cantik pada Anindya sebagai hadiah darinya, dia sudah tidak merasa ragu lagi dengan hubungan dia dan Anindya, dia sudah cukup luas dan merasa sangat senang sekarang, Anindya pun merasakan hal yang sama.


Namun semua itu tentu saja tida akan terjadi jika saja bukan Anindita yang mengawalinya, sehingga kini mereka berdua bekerja sama untuk mencari keberadaan Anindita dan berusaha untuk melepaskan Anindita dari cengkraman tuan Antonio yang terkenal dengan kekejaman dan kekuasaannya yang begitu besar di negara ini, dia adalah orang paling berpengaruh dan sulit sekali untuk dilacak keberadaannya, sehingga mungkin akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mereka mencari keberadaan Anindita, apalagi ponsel Anindya yang sempat diberikan pada Anindita sudah tidak bisa dilacak lagi, itu tidak bisa membantu mereka untuk menemukan jejak keberadaan Anindita saat ini.


"Ben... Kita harus menemukan Anindita secepatnya, aku juga ingin mengakhiri semua ini, aku ingin memberitahu ayah Doni bahwa aku sudah menemukan ibuku, aku juga ingin Anindita mengetahui hal bahagia ini, aku yakin dia akan senang mendengarnya juga, begitupun dengan ibu Kasih." Ucap Anindya begitu bersemangat.


"Tapi, apa kau akan meberitahukan semua ini lebih dulu pada ibu Kasih?" Tanya Ben kepadanya dengan sorot mata yang penasaran.


"Tentu saja tidak, jika aku memberitahunya sekarang maka rahasia tentang pertukaran tempat antara aku dan Anindita akan mereka ketahui juga, dan mungkin dia akan membenci aku, sebab entah kenapa aku merasa mereka sangat menjaga Anindita, bahkan lebih ketat di bandingkan dari menjaga seorang putri, aku bisa merasakan semua itu, jadi menurutku lebih baik kita menjelaskan semuanya bersamaan, dengan kembalinya Anindita juga, itu akan lebih baik, kau mau membantuku untuk mencari Anindita bukan?" Ujar Anindya kepada Ben yang langsung mendapatkan anggukkan penuh darinya.


"Tentu... Kalau begitu aku akan pergi sekarang, kau jangan mencemaskan apapun aku akan melakuakn melakukan yang terbaik dan berusaha tanpa henti untuk mencari keberadaannya." Balas Ben kepada Anindita.


"Tok....tok..tok... Anindita apa kau baik-baik saja? Bicara dengan siapa kau di dalam.... Anindita!" Teriak Oma di balik pintu saat itu.


Anindya langsung saling tatap dengan Ben dan suasana yang sangat tegang menyelimuti mereka berdua saat itu.


Anindya langsung saja menyuruh Ben untuk bersembunyi di balik ranjangnya karena tidak mungkin jika saat itu Ben harus kembali turun dengan terburu-buru, sebab balok kamar Anindya tersebut cukup tinggi, itu terlalu beresiko baginya dan belum tentu juga keadaan di bawah aman atau tidak, jadi dengan cepat Anindya menyuruh Ben untuk bersembunyi di balik ranjangnya saat itu.


"Astaga...apa yang harus kita lakukan?" Ucap Ben pelan dengan perasaan gugup tidak karuan,


"Aahh...cepat kemari Ben ayo sembunyi dulu, aku akan menghadapi Oma dan membawanya keluar kau harus kabur saat itu, oke." Ucap Anindya yang langsung dianggukkan oleh Ben secepatnya.


Anindya berusaha untuk menenangkan dirinya dan dia juga menyembunyikan kertas hasil tes DNA ke bawah selimutnya saat itu, kemudian dia mulai membuka pintu dan segera keluar dari kamarnya dengan cepat untuk menghadapi sang Oma.


"Aahh...Oma ada apa memanggilku?" Tanya Anindita sambil tersenyum kepadanya.


Oma menatap dengan mengerutkan kedua alisnya bak seperti orang yang tengah menyelidiki dengan begitu lekat kepada Anindya saat itu.

__ADS_1


"Tadi Oma hanya berjalan dan tidak sengaja mendengarmu seperti tengah bicara dengan seseorang, ada siapa dikamarmu?" Tanya Oma kepada Anindya yang membuatnya cukup gugup saat itu.


"Ohh ..itu aku tengah menonton film kesukaanku, Oma juga tahu kan jika tidak belajar apa lagi yang bisa aku lakukan selain makan dan menonton film, aku sengaja membesarkan volumenya karena bosan tidak ada yang bisa aku lakukan, ibu juga belum pulang dan tadi Oma sibuk dengan pijitan Oma kan." Balas Anindya sambil langsung memalingkan ucapannya dan berusaha dengan keras untuk membuat Oma tersebut mempercayai dirinya.


Untungnya Oma bisa mempercayai Anindya dengan mudah dia langsung saja tersenyum dan mengajak Anindya untuk segera pergi dengannya dan menarik tangan Anindya dengan pelan.


"Ahaha...begitu ya...sudah kalau begitu Oma mintamaaf padamu, sekarang ayo kita pergi membuat sesuatu yang enak, ibumu akan segera pulang lebih awal hari ini dan dia bilang akan memberikan sebuah hadiah untukmu, agar kamu tidak bosan terus di rumah terus, ayo." Ucap Oma mengajaknya dan langsung dianggukkan oleh Anindya secepatnya.


Anindya sudah sangat cemas dan jantungnya berdetak sangat kencang, dia takut Oma akan mengetahui hal yang dia sembunyikan namun setelah melihat reaksi dari Oma seperti itu, barulah Anindya bisa benar-benar bernafas lega dan dia langsung berjalan dengan membantu Oma perlahan menuruni tangga rumahnya saat itu.


Disisi lain pada waktu yang sama Anindita justru tengah sarapan seorang diri di meja makan dia hanya bisa memakan roti dengan selai kacang yang disukai oleh tuan Antonio, meski sebelumnya dia sudah pernah bilang bahwa dia tidak menyukai selai itu, tetap saja tidak ada yang berubah di rumah tersebut meski Anindita sudah tinggal cukup lama disana, setiap hari Anindita masih harus sarapan dengan selai yang sama atau pun dengan sandwich yang sama, itu membuatnya sangat bosa sehingga Anindita tidak menghabisi sarapannya hari ini.


Kebetulan saat Anindita hendak bangkit berdiri, tua Antonio baru saja tiba di meja makan dan dia merasa heran melihat Anindita meninggalkan sisa makanannya di meja saat itu.


"Heh...kenapa kau tidak menghabiskan sarapannya?" Ucap tuan Antonio kepada Anindita sambil mengancingkan kemejanya saat itu.


"Tidak enak, aku kan sudah pernah bilang, aku hanya suka selai stroberi bukan selai kacang, kau terus saja memakan selai kacang aku sangat bosan, tidak bisa memakannya lagi." Balas Anindita sambil terus berjalan dan duduk di sofa rumahnya.


Saat itu tua Antonio memang tidak datang pagi hari ke kantornya karena dia sudah mengatakan bahwa akan datang siang hari ini sebab dia masih mencemaskan kondisi Anindita dan saat melihat Anindita tidak menghabiskan sarapannya tuan Antonio langsung menghembuskan nafas dengan berat dan segera menghampirinya.


"Ayo kita pergi." Ucap tuan Antonio mengajak pada Anindita.


Anindita hanya menatapnya dengan kedua alis yang dia naikkan bersamaan, karena dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh tuan Antonio kepadanya saat itu.


"Apa? Kau mau mengajakku pergi kemana, aku masih mau di rumah, keluar juga tidak menyenangkan," balas Anindita saat itu.


"Kita akan pergi mencari makanan yang cocok untukmu, kau suka selai stroberi bukan? Jadi ayo kita membelinya," balas tuan Antonio yang membuat Anindita langsung terperangah dan tersenyum sangat senang.


Dia masih merasa tidak menduga bahwa tuan Antonio benar-benar bisa mengabulkan keinginannya tersebut, sehingga Anindita segera menanyakannya kembali dengan wajah yang terlihat cerah dan lebih bersinar di bandingkan sebelumnya yang terlihat payah juga lesu, terlihat seperti orang yang tidak memiliki gairah hidup.


"Benarkah? Kau tidak sedang mengerjai aku kan?" Ucap Anindita memastikannya.


"Tidak, ayo bersiap-siap, pakai pakaian yang benar, aku akan menunggumu disini." Balas tuan Antonio yang membuat Anindita langsung berlari menaiki tangga pergi ke kamarnya dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2