TAKDIR YANG TERTUKAR

TAKDIR YANG TERTUKAR
Berdebar


__ADS_3

Namun walau sudah di tolak ajakannya oleh Anindita rupanya tuan Antonio tetap saja tidak menyerah dia terus mengajak Anindita untuk tetap pergi ke rumah sakit karena dia tidak bisa merasa tenang selama belum memastikan kondisi dari kesehatan Anindita secara sungguh-sungguh saat itu.


"Anindita kamu harus tetap di periksa, ini semua juga demi kebaikan dirimu juga, kau tidak boleh menolaknya," ucap tuan Antonio yang tetap memaksa saat itu.


Namun Anindita bukanlah seseorang yang bisa di paksa dengan cara seperti itu, jadi dengan lantang dan penuh keberanian Anindita langsung menolak paksaan yang di minta oleh tuan Antonio dan dia sama sekali tidak merasa takut dengannya.


"Tidak ..aku tidak akan pergi, Antonio aku ini tidak sakit, sudahlah jangan terlalu mencemaskan kondisiku, kau ini menjadi lebay begini membuat aku sedikit kesal dan tidak nyaman, sudah lebih baik kau jadi dingin dan kejam saja seperti sebelumnya, itu akan lebih baik untukku," bala Anindita kepadanya.


Yang membuat tuan Antonio merasa tidak senang atas ucapan yang dia dapatkan dari Anindita, padahal saat itu tuan Antonio sudah berusaha semampu yang dia bisa untuk menjadi pasangan terbaik bagi Anindita dan ingin terus membahagiakan Anindita dengan caranya sendiri saat itu, namun rupanya Anindita justru malah merasa tidak nyaman dengan apa yang dia berikan kepada dia saat itu.


"Anindita niatku itu sangat baik aku hanya mencemaskanmu dan aku terlalu memperdulikan dirimu, nanti juga jika sesuatu terjadi denganmu maka kau sendiri yang akan merasakan akibatnya sendiri dan aku tidak ingin semua itu terjadi kepadamu Anindita," ucap tuan Antonio menjelaskan maksud dari niatnya saat itu.


Anindita juga mengerti jika masalah hal tersebut, hanya saja dia tidak ingin pergi lagi ke rumah sakit sebelumnya karena dia tahu pasti dokter Gavin akan berada di sana lagi nantinya dan dia takut akan ketahuan oleh dokter Gavin nantinya.


"Antonio sekali aku bilang tidak ya tidak kenapa kau memaksa aku terus sih, aku kan sudah bilang berkali-kali padamu aku bukan waktu yang bisa di paksa begitu, aku sama sekali tidak bisa melakukan hal yang sama sekali tidak aku sukai, apalagi hal yang memang tidak ingin aku lakukan," balas Anindita dengan tegas menjawabnya kepada tuan Antonio saat itu.


Bahkan saking kesalnya Anindita sampai bangkit berdiri dan hendak pergi dari sana menjauhi tuan Antonio dengan cepat saat itu karena dia tidak ingin memperpanjang perdebatan ini lagi dengannya.


"Aahhh..sudahlah aku mau pergi nonton tv saja kau juga sebaiknya pergi bekerja ini kan sudah sangat siang," ucap Anindita menghindarinya.


Sedangkan dia lupa bahwa hari ini adalah hari Minggu dimana tuan Antonio tentu saja libur bekerja, tidak mungkin juga dia masih harus pergi ke kantor di saat hari libur seperti ini, meski akan ada beberapa karyawannya yang mungkin tetap bekerja di jari libur seperti ini di dalam kantornya saat itu.


Tuan Antonio menahan senyum sendiri mengetahui Anindita lupa dengan hari ini, dan dia segara datang menghampiri Anindita dan duduk di sampingnya cukup dekat sambil terus mengambil cemilan yang ada di atas meja yang sudah di bawa oleh Anindita sebelumnya saat itu.


Anindita mulai menatap heran ke arah tuan Antonio yang malah menghampiri dia dan mengikuti tingkahnya yang duduk di depan televisi sambil mengemil makanan saat itu.


"Hei...hei...kenapa kau mengikuti apa yang aku lakukan apa kau sedang mempermainkan aku ya?" Ucap Anindita dengan sedikit membentak saat itu kepadanya.


"Tidak...aku hanya sedang ingin duduk di sampingmu saja, memang kenapa apa aku tidak boleh untuk sekedar duduk saja di sampingmu, lagi pula ini kan sofaku, itu tv ku dan ini rumahku, bebas untukku mau duduk dimanapun bukan?" Ujar dia begitu saja.


Anindita hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar karena memang apa yang dikatakan oleh tuan Antonio sangat benar, sampai dia mulai memiliki ide untuk mengutarakan apa yang sebenarnya menjadi niat utama dirinya kembali pada Antonio saat ini, Anindita kini mulai menoleh ke arah tuan Antonio dan dia mulai menyuruh tuan Antonio untuk menoleh ke arahnya juga dengan ucapan bahwa ada hal penting yang ingin dia bicarakan saat itu kepada tuan Antonio.


"Antonio...kenapa kau tidak pergi bekerja, apa kau akan terus menganggur begitu, kau kan CEO perusahaan, harusnya kau sedang sibuk sekarang ini," ucap Anindita merasa heran dengan dia.


"Hei...apa kau lupa ini hari apa, ini akhir pekan untuk apa aku masih harus pergi ke kantor di akhir pekan seperti ini, apa kau bodoh ya?" Ucap tuan Antonio membalas Anindita.


Anindita yang baru saja sadar dengan hal itu dia hanya bisa tersenyum kecil menanggapi ucapan sini dari tuan Antonio kepadanya.


"Ehehe..begitu ya, santai saja dong, tapi Antonio bisakah kau menghadap ke arahku sebentar ada hal penting yang ingin aku katakan padamu," ucap Anindita dengan segera mengutarakan niatnya saat itu.


Tuan Antonio mulai menoleh ke hadapannya dan kini mereka duduk saling berhadapan satu sama lain hingga Anindita mulai membicarakan mengenai keluarga dia dan apa yang tengah terjadi padanya saat ini, sampai mau meminta bantuan dari tuan Antonio sebagai syarat dia yang akan bertunangan dengannya.


"Begini Antonio kau tahu aku bukan Anindya sejak awal, dan kau tahu bukan dengan begitu Doni artinya bukan ayahku tetapi sekarang rupanya Doni itu adalah ayahku, aku juga putrinya namun aku terpisah dengan saudara kembarku ketika kami masih bayi, dimana aku...," Ucap Anindita yang tertahan saat itu karena tuan Antonio langsung saja menghentikannya.


"Karena kau mengikuti ibumu sedangkan kakakmu mengikuti ayahmu, keluarga kalian berantakan dan saling membenci karena sebuah perceraian kedua orang tua yang tidak bertanggung jawab, iya kan?" Ucap tuan Antonio yang meneruskan ucapan dari Anindita begitu saja.


Anindita menatap dengan tatapan yang sangat kaget dan membulatkan kedua matanya dengan sangat lebar, dia begitu kaget dan tidak menduga dengan apa yang dikatakan oleh tuan Antonio saat itu, sebab dia tidak pernah mengira bahwa tuan Antonio bisa mengetahui semua itu tentang dirinya.


"Hah? Darimana kau tahu semua itu, apa kau memata-matai aku ya?" Tanya Anindita kepada tuan Antonio sambil memberikan tatapan yang penuh dengan kecurigaan saat itu, dan menatapnya semakin lekat.


Tuan Antonio sudah terlanjur keceplosan sehingga dia langsung saja mengakui semuanya bahwa di belakang Anindita dia memang menyuruh sekretaris dan anak buahnya untuk mencari tahu mengenai keluarga ibu Kasih sejak awal dia mengikuti Anindita pergi ke rumah mewah tersebut sebelumnya.

__ADS_1


Dan tuan Antonio juga sudah mencari tahu tentang Anindya tersebut lebih dulu jauh sebelum dia mencari tahu mengenai Anindita sendiri saat itu.


"Ohh...itu aku memang mencaritahu tentangmu karena sebelumnya kau sempat kabur dariku bukan, dan kebetulan aku melihat kau pergi jadi aku mengikutimu sampai ke depan rumahmu, karena aku penasaran tentu saja aku menyuruh anak buahki untuk menyelidikinya dan aku baru membaca semua datanya semalam jadi jelas aku masih ingat semua tentangmu, dan aku juga tahu apa niatmu sebenarnya kembali lagi padaku, kau hanya ingin meminta bantuanku karena kekuatan dan kekuasaan yang aku miliki bukan?" Ucap tuan Antonio yang rupanya sudah mengetahui semua niat yang ingin di ucapkan oleh Anindita saat itu.


Meski sebelumnya Anindita merasa sangat kesal dan jengkel kepadanya sebab tuan Antonio malah pergi mencari tahu tentang dirinya dan keluarga dia tanpa sepengetahuan dan tanpa izin dari dia sebelumnya, tetapi semuanya sudah terlanjur dan tidak ada yang bisa di rubah atau di ulang lagi sehingga Anindita hanya bisa menghembuskan nafas yang kasar sambil mengatur emosi di dalam dirinya sendiri saat itu sehingga dia hanya bisa memperingati tuan Antonio agar tidak melakukan hal seperti itu lagi di belakangnya atau dia memang akan membenci Antonio lebih dari pada sebelumnya.


"Aahhh? Jadi kau sungguh sudah mengetahui semuanya, aishh..kenapa kau membuntuti aku dan memata matai aku seperti ini? Itukan hal yang dilarang dan tidak sopan kenapa kau melakukannya padaku?" ucap Anindita yang merasa cukup kesal sekali kepadanya saat itu.


"Ya..mau bagaimana lagi sebab jika aku menanyakannya secara langsung kepadamu, memangnya kau akan memberitahukan aku? Tidak juga bukan? Dan sebelumnya aku bahkan harus menakut nakuti dirimu dan mengancam kamu ke dalam kandang macanmu untuk membuatmu mau bicara dan mengakui semuanya secara jujur dan aku rasa kau tidak mau aku melakukan hal yang sama seperti sebelumnya denganmu, jadi terpaksa aku harus melakukan hal ini meskipun hal seperti ini mungkin tidak lebih baik juga dari sebelumnya," balas tuan Antonio dengan santainya menjawab ucapan dari Anindita.


"Aishh..huuuuh..sabar Anindita sabar," gerutu Anindita yang terus saja mengelus dadanya sendiri untuk berusaha mengatur emosi di dalam dirinya sendiri saat itu agar tidak sampai benar-benar meledak di saat itu juga.


"Untung saja aku masih membutuhkan bantuan darimu, jika tidak aku pasti sudah akan menghajar kau dengan tanpa ampun sebelumnya, aishh...kenapa kau sangat menjengkelkan sekali sih!" Bentak Anindita dengan wajahnya yang sangat kesal kepada tuan Antonio saat itu.


"Sudah kau tenang saja selama kau patuh dan bersedia untuk melakukan semua yang aku katakan padamu, maka aku bisa saja membantumu dengan mudah dan satu lagi, kau bisa memakai namaku sama seperti yang kau gunakan untuk mengancam orang asing itu sebelumnya," ucap tuan Antonio yang rupanya dia juga mengetahui bisikkan ancaman yang di berikan oleh Anindita kepada Ben sebelumnya.


Sehingga Anindita langsung saja membelalakkan matanya dengan sangat lebar karena dia pikir jika bisikkan sekecil itu saja bisa di ketahui oleh tuan Antonio berarti semua ucapan dia yang membicarakan Antonio di dalam rumah dia sebelumnya pasti akan di ketahui oleh tuan Antonio juga.


"Hah? Ma.. maksudnya ancaman apa? Aku tidak mengerti maksudmu," ucap Anindita yang berpura-pura tidak mengerti saat itu.


"Sudahlah aku juga tahu kau menyadarinya, Anindita kau jangan meragukan aku, kekuasaan aku lebih tinggi di bandingkan penguasa di negara ini, aku juga bisa dengan mudah mengogok semua pegawai yang tinggal di rumahmu untuk memasang beberapa penyadap suara ataupun kamera cctv terkecil di rumahmu hanya untuk memata matai dirimu, itu terlalu mudah untuk mantan mafia seperti aku yang pernah berada di dunia gelap sebelumnya," ucap tuan Antonio menatap tajam dan sedikit menaikkan sebelah bibirnya saat itu.


Hal tersebut benar-benar membuat Anindita merasa takjub dengannya dan dia benar-benar di buat menggelengkan kepala olehnya sambil tidak menduga bahwa tuan Antonio benar-benar bisa melakukan hal seperti itu kepadanya saat itu, sampai dia benar-benar merasa tidak habis pikir dengan semua itu.


"Ha...hahah..kau memang sangat luar biasa tuan Antonio yang terhormat, aku tidak akan bisa menandingi orang sehebat dirimu," balas Anindita yang sudah tidak mau berdebat lagi dengannya.


Sampai Anindita mulai meminta tuan Antonio untuk benar-benar memasang sebuah penyadap suara di kamar dia yang ada di kediaman rumahnya sendirinya yang saat ini di tinggalin oleh Anindya saudara kembarnya sendiri.


Dan yang tidak dia sangka tuan Antonio benar-benar mewujudkan keinginannya itu dengan begitu mudah tanpa berpikir sekalipun dan dia hanya tingga menelpon entah pada siapa dan bisa langsung beres dengan begitu cepat di hadapan matanya secara langsung saat itu.


"Hallo... lakukan apa yang sebelumnya dilakukan simpan alat penyadap di kamar Anindita putrinya ibu Kasih itu," ucap tuan Antonio pada panggilan telponnya saat itu.


Panggilang yang sangat cepat dan singkat itu sudah berakhir dan Anindita masih saja terperangah melihatnya karena kini dia bisa benar-benar mempercayai sosok tuan Antonio dan memang orang yang tengah berhadapan dengan dia saat ini tidak bisa di sepelekan dia memang bisa dengan mudah melakukan semuanya hanya dengan hentikan jari saja dan beberapa kata dari mulutnya itu.


"Sudah.... Kau mau aku melakukan apa lagi untukmu?" Ucap tuan Antonio lagi kepada Anindita yang terlihat masih syok terperangah di hadapannya saat itu.


"Hah? Wah..wah, Antonio kau ini memang sangat luar biasa, tidak salah aku kembali padamu dan meminta bantuan darimu, dengan begini aku yakin Ben dan Anindya bisa aku kalahkan," ucap Anindita kepadanya.


"Kau tenang saja kebaikan akan selalu menang," ucap Antonio sambil mengusap lembut kepala Anindita yang membuat Anindita membuka matanya dengan sangat lebar.


Sudah cukup lama sekali dia tidak pernah merasakan perasaan yang sangat luar biasa seperti ini, sebelumnya orang pertama yang melakukan hal seperti itu kepadanya adalah Doni pria yang ternyata adalah ayah kandungnya itu dan dia merasa sangat di sayangi dengan hal sederhana seperti itu saja, lalu kini untuk kedua kalinya dia mendapatkan perlakuan yang sama dari Antonio.


Tentu hal itu membuat Anindita langsung dia tertegun menatap ke arah tuan Antonio dengan lekat sedangkan tuan Antonio terus mengusap pucuk kepala Anindita dengan lembut sambil menunjukkan sebuah senyum yang lebar dan begitu manis kepadanya.


Sampai Anindita langsung saja menahan tangan Antonio dan berbicara dengan sangat serius kepada Antonio untuk memperingati dia agar tidak melakukan hal yang bisa membuat jantungnya bergetar seperti itu.


"Antonio, jangan pernah kamu mengusap kepalaku seperti ini lagi, jantungku berdebar jika kau melakukannya, aku tau kau tidak menyukai aku dengan benar jadi jangan lakukan hal seperti ini jika kau tidak menyukai aku!" Ucap Anindita dengan tegas kepadanya saat itu.


Lalu Anindita langsung bangkit berdiri dan dia pergi sendiri ke kamarnya walau dengan jalan yang perlahan untuk menaiki tangganya saat itu dan dia terus saja memegangi dadanya yang masih saja terasa berdebar terus menerus padahal kepalanya sudah tidak di elus oleh tuan Antonio lagi, sedangkan tuan Antonio sendiri malah tersenyum menatap kepergian Anindita saat itu, dan dia merasa sangat senang ketika Anindita bicara seperti itu kepadanya dan dia merasa bahwa akan berhasil untuk memenangkan hati Anindita hanya untuk dirinya seorang saja.


"Seandainya kamu tahu Anindita aku juga merasakan hal yang sama denganku, bedanya aku sadar kalau aku menyukai dirimu tapi kau masih belum menyadari hal itu dan aku akan terus membuatmu menyadari semua itu," ucap tuan Antonio sambil menatap punggung Anindita yang perlahan semakin menjauh dari sana sampai dia tidak terlihat lagi dan tuan Antonio kembali menonton televisi di depan saat itu.

__ADS_1


Anindita sendiri dia masuk ke dalam kamarnya dan masih saja merasa kebingungan sendiri dengan apa yang dia rasakan sebelumnya, karena dia belum pernah merasakan hal seperti ini bahkan disaat dia merasa dia sangat menyukai dokter Gavin, dia tidak pernah sampai merasa jantungnya bergetar secepat ini sampai sulit untuk dia kendalikan sendiri saat itu, meski dia sudah berusaha mengatur nafasnya sendiri tetapi dia tetap saja gagal untuk melakukannya.


"Huuuhh...aaaahhh...huuu...aishh..kenapa tetap gagal, apa yang terjadi denganku, aku tidak pernah merasa aneh seperti ini?" Gerutu Anindita yang merasa kesal sendiri karena perasaan dia yang tidak menentu dan tidak bisa dia kendalikan.


Bahkan saking kesalnya dan masih sulit untuk mengendalikannya juga Anindita sampai harus pergi mandi untuk mendinginkan otak dia sendiri saat itu, dia merendam dirinya di dalam bak mandi untuk beberapa saat lalu dia segera saja kembali memakai pakaiannya dan segera menyisir rambutnya saat itu, sampai tidak lama terdengar ketukan pintu dari luar cukup keras sampai mengharuskan dia membuka pintunya dahulu karena suaranya yang begitu nyaring sangat mengganggu telinganya.


"Tok....tok...tok...tok.." suara ketukan pintu yang terlalu banyak dan begitu sering saat itu.


"Eehh..siapa sih yang mengetuk pintu sebanyak itu apa dia pikir aku ini tuli apa? Aaahh ini pasti Antonio," ucap Anindita sambil terus saja menggerutu dengan kesal saat itu.


Dia terus saja segera membukakan pintunya dan sesuai dengan apa yang dia pikirkan bahwa orang itu memang Antonio sebab sudah sangat jelas tidak akan ada siapapun yang berani mengetuk pintu kamarnya di tempat itu selain dari tuan rumahnya sendiri yang tidak lain adalah Antonio sendiri.


"Ada apa kau terus mengetuk pintuku seperti itu, berisik sekali tahu," ucap Anindita kepada tuan Antonio dengan tatapan matanya yang sangat jutek sekali saat itu.


"Ganti pakaianmu dengannyang lebih bagus, aku mau mengajakmu makan malam di luar," ajak tuan Antonio yang membuat Anindita sangat kaget sekaligus begitu senang mendengarnya.


"Apa? Hahah..kau sungguh mau mengajakku makan malam di luar? Apa ini tidak salah dengar?" Ucap Anindita kepadanya lagi saat itu karena dia masih belum bisa mempercayai tuan Antonio seutuhnya.


"Ya tentu saja untuk apa juga aku membohongi manusia bodoh sepertimu, bahkan tanpa di bohongi pun kau sudah sering di bodohi dirimu sendiri yang konyol itu," ucap tuan Antonio yang membuat Anindita sangat emosi dan dia hendak lamgsung menutup pintu kamarnya dengan cepat karena sangat kesalbdengan jawaban yang diberikan oleh tuan Antonio yang terkesan malah menghina dia secara terang terangan seperti itu di hadapan wajahnya sendiri yang membuat Anindita sangat emosi di buatnya.


Tapi dengan cepat tuan Antonio langsung menahan pintu kamar yang hendak di tutup oleh Anindita saat itu dengan tangannya yang panjang dan cukup kuat untuk menahannya.


"Eehhm..tunggu dulu, kenapa kau sensitif seperti itu sih, aku kan hanya menjawab ucapan darimu saja, lagi pula kau banyak sekali bertanya seakan tidak mempercayai ucapanku padahal aku sungguh ingin mengajakmu," ucap tuan Antonio kepadanya.


"Ck..... Aku memang tidak pernah mempercayai dirimu, jangan ke gr ran kau sejak awal juga aku sama sekali sangat tidak percaya kepada orang sepertimu, jangan lupakan kau hampir merenggut nyawaku!" ucap Anindita yang lagi-lagi membawa urusan dia yang hampir menjadi santapan seekor macan milik tuan Antonio sebelumnya.


"Aishh..sudahlah jangan membahas hal itu lagi, cepat ganti pakaianmu dan rias lah wajahmu ini sedikit agar tidak terlihat pucat kau seperti orang yang sakit saja jika tidak memakai apapun di wajahmu ini," ucap tuan Antonio sambil menunjuk kepada wajah Anindita saat itu.


"Heh... bagaimana aku bisa begitu aku memang tidak sehat meski aku memakai apapun di wajahku bahka aku sama sekali tidak memiliki make up apapun di dalam kamar ini lihatlah semuanya bersih, apa kau pikir aku harus memakai cabai agar membuat bibirku merasa sampai aku menjadi seperti di sengat lebah, iya?" Ucap Anindita dengan tatapan sinis dan membentaknya sedikit saat itu.


Tuan Antonio hanya menahan tawa saja mendapatkan jawaban seperti itu dari Anindita dan dia segera saja mendorong tubuh Anindita untuk segera masuk ke dalam kamarnya lagi dan mengganti pakaiannya dengan segera saat itu.


"Ahaha..sudah sudah nanti aku akan belikan untukmu sekarang cepat masuk dan ganti pakaianmu dahulu oke, cepat ya mungpung ini masih cukup siang kita bisa pergi jalan-jalan dulu loh," teriak tuan Antonio kepada Anindita saat pintunya sudah di tutup saat itu.


Tuan Antonio sengaja mengatakan itu dan mengajak Anindita ke luar di waktu yang masih awal untuk makan malam seperti ini agar dia bisa menghabiskan waktu seharian ini hanya dengan Anindita lagi sama seperti yang dia lakukan dengan Anindita sebelumnya di time zone dan menonton di bioskop sebelumnya.


Hingga Anindita hanya bisa menurutinya dan dia segera pergi keluar setelah selesai mengganti pakaian dan tuan Antonio langsung berdiri sambil berkacak pinggang dan dia sudah mempersiapkan tangannya agar Anindita menggandeng tangan dia saat itu, namun sayangnya Anindita yang sama sekali tidak peka dengan hal tersebut dia justru malah mendorong tuan Antonio dan menyuruhnya agar menyingkir dari jalannya saat itu.


"Heh sedang apa kau berdiri di depan pintu kamarku dengan berkacak pinggang sebelah begitu? Minggir, kau menghalangi jalanku saja, sudah tahu kakiku masih belum sembuh sepenuhnya masih saja menghalangi jalanku begitu," ucap Anindita sambil terus menggerutu sendiri tidak jelas.


Tuan Antonio membelalakkan matanya dan dia cukup merasa kesal karena Anindita benar-benar sulit sekali untuk diajak romantis dan akur dengan dia saat itu padahal dia sudah mempersiapkan dirinya cukup lama disana menunggu Anindita sampai dia keluar agar dia bisa menyambutnya dan bisa bergandengan dengan Anindita seperti yang biasa di lakukan banyak pasangan di luar saja dimana sang wanitanya akan menyilangkan tangan dia kepada tangan sang pria yang sudah dia menyambut dirinya saat itu.


Namun sayangnya Anindita ini memang berbeda dengan wanita pada umumnya dia lebih tidak normal dan tidak bisa di berikan kode seperti itu sedikitpun.


"Aishh....dasar wanita ini dia selalu saja sangat bodoh!" Gerutu tuan Antonio sangat gemas dalam menghadapi Anindita saat itu.


"Bicara apa kau barusan?" Ucap Anindita berbalik kepada tuan Antonio karena dia merasa tuan Antonio menggerutu di belakangnya saat itu.


"Ahhhha...tidak, aku tidak bicara apapun aku hanya merasa kau sedikit berbeda jika mengenakan gaun seperti ini, itu cocok untukmu, sudahlah ayo kita pergi mobil sudah siap di bawah," ucap tuan Antonio dengan cepat memalingkan pembicaraan dia karena tidak ingin membuat Anindita menjadi kesal lagi dan bisa saja rencana dia akan gagal total nantinya.


Sehingga tuan Antonio langsung berjalan berdampingan dengan Anindita dan begitu juga dengan Anindita yang masih bisa berjalan sendiri meski kakinya itu masih dalam masa penyembuhan, dia memang terlalu mandiri jadi agak sulit untuk menaklukan wanita yang terbiasa untuk melakukan semua hal sendiri seperti Anindita begini.

__ADS_1


Sebab dia sudah bisa melakukan semua hal meski tanpa seorang pria di sampingnya terlebih sejak kecil Anindita sudah tidak mengetahui tentang ayahnya sendiri dan dia selalu di tinggal kerja oleh sang ibu tidak memiliki teman dan selalu saja bak seperti seorang Rapunzel yang di kurung dalam sebuah menara, bedanya Anindita di kurung oleh ibunya sendiri karena demi kesehatan dia sendiri.


__ADS_2