
Selang beberapa saat setelah tuan Antonio terus berusaha untuk menenangkan Anindita akhirnya Anindita berhenti menangis dan dia sudah mau melepaskan genggaman tangannya pada tuan Antonio saat itu, sampai akhirnya tuan Antonio sudah tidak merasakan cemas dan khawatir lagi terhadap Anindita saat itu.
"Anindita ayolah kau harus tenang ini hanya mimpi kau harus tenang oke, aku disini dan tidak ada yang akan meninggalkan dirimu mau akan ada di sampingku seterusnya aku juga tidak akan meninggalkan dirimu, kau tidak akan mati kau akan terus hidup dengan sehat, jangan takut apapun, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepadamu, karena aku Antonio aku bisa melakukan apapun untuk menyembuhkan dirimu." ucap tuan Antonio yang terus menenangkan Anindita tanpa henti sampai Anindita benar-benar bisa menjadi lebih tenang, dan perlahan dia bisa tidur dengan normal juga.
Tuan Antonio juga segera mengusap sisa-sisa air mata di wajah Anindita karena dia menangis terlalu banyak mengeluarkan air mata sebelumnya, meski sedikit jengkel kepada Anindita namun tuan Antonio tetap saja memperhatikan hal sekecil apapun tentang Anindita sama seperti apa yang tengah dia lakukan saat ini padanya.
"Aahh..syukurlah jika dia sudah diam, bagaimana bisa dia mengigau sampai menangis tersedu-sedu seperti ini, aneh sekali?" Gerutu tuan Antonio saat itu.
Dia pun segera saja pergi dari sana secepatnya sebelum imannya akan tergoyahkan sebab melihat Anindita yang tengah berbaring di ranjangnya saat itu, sampai tuan Antonio terus saja mengusap wajahnya beberapa kali agar dia bisa terus merasa tenang dan bisa mengontrol dirinya sendiri agar tidak berlaku diluar batas kepada Anindita.
Hingga ke esokan paginya Anindita bangun kesiangan dan saat itu tuan Antonio jelas sudah pergi ke kantornya sejak pagi sekali, dan dia malah bangun jam sepuluh saat itu.
Anindita terus pergi ke luar dan memanggil nama tuan Antonio, namun dia tidak menemukannya hingga seorang penjaga meberitahukan padanya bahwa tuan Antonio sudah pergi ke kantor sejak pagi.
"Antonio....Antonio dimana kau...Antonio aku ingin ponsel itu, berikan padaku!" Teriak Anindita yang terus memanggil tuan Antonio hendak meminta ponsel tersebut kepada tuan Antonio kembali.
Namun sayangnya dia tidak menemukan tuan Antonio sama sekali.
"Mohon maaf nona tetapi tuan Antonio sudah pergi ke kantor sejak pagi dia juga sudah menyediakan sarapan untuk nona di meja makan, silahkan di nikmati dahulu sarapannya nona," ujar salah satu penjaga yang menghampiri Anindita dan memberitahunya saat itu.
Anindita sangat kesal karena dia malah di tinggal begitu saja oleh tuan Antonio, sehingga dia terus menggerutu dan ingin meminta tuan Antonio agar kembali ke rumah saat itu juga bagaimana pun caranya kepada penjaga tersebut.
"Apa? Kenapa dia tidak membangunkan aku dulu, jika memang mau pergi ke kantor sepagi tadi, aahh....aku mau dia kemari aku ingin ponsel itu dia harus kembali sekarang juga!" Bentak Anindita sangat kencang sambil terus memegangi penjaga itu dan mendesak dia terus menerus tanpa henti sampai membuat penajag itu kewalahan karena ulah Anindita yang sulit sekali untuk di beritahu, bahkan sudah tiga penjaga yang menahannya namun tetap saja Anindita membentak mereka dengan keras sambil melempari mereka dengan bantal kecil hiasan sofa disana terus menerus.
"Nona tolong tenang sejenak nona, tuan Antonio sedang bekerja dia tidak bisa kita minta untuk kembali kesini di waktu seperti ini, tolong anda memahaminya nona," ujar salah satu penjaga disana sambil terus menangkis lemparan dari Anindita.
"Tidak mau, aku mau dia kemari atau aku yang kesana untuk menemuinya, aku ingin bertemu dia titik!" Bentak Anindita yang tetap keras kepala dan sulit di tenangkan.
Yang pada akhirnya salah satu penjaga itu menyanggupi keinginan Anindita dia segera menelpon tuan Antonio dan mengatakan semua hal juga kekacauan yang dibuat oleh Anindita di kediamannya saat itu, sampai pada akhirnya tuan Antonio mengijinkan agar Anindita datang ke kantornya saat itu.
Dan tanpa tuan Antonio sadari disaat dia baru saja selesai menutup panggilan telpon dari penjaganya, tiba-tiba saja masuk seorang gadis perempuan yang tidak dia kenali sebelumnya, memakai pakaian yang sangat terbuka hingga menampakkan belahan dadanya yang begitu jelas, bahkan pakaiannya hampir saja menyatu begitu melekat pada tubuhnya saat itu, dia masuk tanpa mengetuk pintu pada ruangan tuan Antonio dan langsung saja duduk di meja kerja tuan Antonio.
"Siapa kau, lancang sekali kau berani masuk ke dalam ruanganku!" Bentak tuan Antonio dengan menatap tajam kepadanya saat itu.
__ADS_1
Wanita tersebut terus saja terlihat begitu santai dan terus mendekati tuan Antonio dengan tenang juga tanpa rasa malu, duduk di meja tuan Antonio sambil menyilangkan kakinya dan dia mulai hendak menyentuh pundak tuan Antonio saat itu.
Namun untungnya dengan cepat tuan Antonio segera menghindar darinya dengan cepat dan tepat waktu sehingga wanita gila itu tidak sempat memegangi pundaknya.
"Ohh..Antonio apa kamu sudah melupakanku? Aku adalah Melisa. Aku wanita yang selalu mengikutimu beberapa tahun yang lalu dan aku adalah calon istrimu yang ditakuti semua orang di kantor ini, tidak mungkin kamu melupakan wanita seperti aku bukan?" Ujar wanita tersebut sambil tersenyum kecil kepada tuan Antonio.
Tuan Antonio menatap wanita itu dengan semakin tajam dan dia berusaha untuk mengingat-ingat wajahnya lagi saat itu.
Hingga tak berselang lama akhirnya tuan Antonio mengingatnya bahwa wanita tersebut adalah putri dari salah satu pemimpin perusahaan perhotelan yang terkenal dan pernah bekerja sama dengan perusahaan Antonio beberapa tahun yang lalu, dia juga mengingatnya bahwa dulu dia hampir saja akan di nikahkan dengan gadi gila yang senang bermain dengan banyak yang tidak lain adalah Melisa, wanita yang selalu mengganggu hidupnya selama ini dan selalu ingin dia singkirkan, walau kedua orangtuanya sudah tidak menyukai tuan Antonio karena mereka tahu bahwa tuan Antonio adalah orang yang kejam dan selalu tidak memberikan ampun kepada pengganggu namun putrinya Melisa ini kini telah kembali setelah diasingkan oleh kedua orangtuanya sendiri ke luar negeri agar dia tidak merusak bisnis dan kerjasama diantara keluarga mereka dengan tuan Antonio kala itu.
Namun sekarang setelah dia sudah berhasil menjadi seorang aktris dan pemain film terkenal dia sudah semakin berani bahkan kembali menampakkan dirinya di hadapan tuan Antonio kali ini.
Tuan Antonio sendiri sangat kaget ketika mengingat wanita itu dan dia langsung saja mengusir Melisa dari sana secepatnya.
"Kau....beraninya kau kembali muncul di hadapanku, pergi kau dari sini atau aku sendiri yang akan menendang mu ke luar!" Ucap tuan Antonio dengan sangat keras.
Sayangnya Melisa ini tetaplah berani untuk mendekatkan tuan Antonio bahkan saat itu dia malah langsung semakin mendekati tuan Antonio hingga membelai dadanya sampai membuat tuan Antonio sudah kehabisan kesabaran terhadapnya dan dengan cepat tuan Antonio mendorong Melisa agar menjauh darinya saat itu juga.
"Minggir kau, beraninya kau menyentuhku, keluar dari sini..satpam...satpam ..dimana kau bawa wanita sialan ini keluar!" Teriak tuan Antonio sangat kencang.
"CK...ternyata kelakuan dia di belakangku selama ini seperti ini? Benar-benar pria brengsek!" Batin Anindita yang sudah salah paham kepada tuan Antonio.
Tuan Antonio juga sangat kaget dia membelalakkan matanya dengan sangat lebar dan langsung berjalan cepat menghampiri Anindita dia sangat takut Anindita akan salah paham dan dia juga lupa bahwa Anindita hendak pergi ke kantornya sebelum dia bertemu dengan Melisa saat ini.
"Aishh..sial, aku lupa kalau dia mau kemari," gerutun tuan Antonio sedikit frustasi dengan dirinya sendiri yang bisa melupakan tentang Anindita.
Dia segera mendekati Anindita dan langsung menanyakan keberadaan Anindita disana sekaligus hendak menjelaskan semua kejadian yang sudah terlanjur di lihat oleh Anindita sebelumnya.
"Anindita? Sejak kapan kamu berada disini?" Tanya tuan Antonio kepadanya dengan sorot mata penuh dengan kecemasan.
"Tentu saja sejak wanita itu menggodamu dan mengelus dadamu itu." Balas Anindita dengan wajah yang benar-benar menahan kekesalan kepada tuan Antonio.
"Aahh... Anindita dengarkan aku oke, semua itu sama sekali tidak benar, semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan dan tidak seperti yang kamu lihat, wanita itu dia adalah j*Lang sialan yang memang selalu menggodaku, tapi kau lihat bukan aku mendorongnya aku menjauhi dia dan berlalu kasar padanya, aku dan dia tidak ada melakukan apapun dan tidak ada hubungan apapun." Ucap tuan Antonio yang langsung saja menjelaskannya kepada Anindita, padahal saat itu Anindita sama sekali tidak meminta agar tuan Antonio menjelaskan semua itu kepadanya.
__ADS_1
"Antonio kenapa kau haru susah payah menjelaskan semuanya kepadaku, memangnya kau siapaku? Aku tidak perduli meski kau mau bermain-main dengan wanita manapun di luaran, aku datang kemari hanya memiliki kepentingan denganmu, itu saja." Balas Anindita menahan emosi di dalam dirinya sendiri.
Tuan Antonio terperangah lagi dia tidak menduga jika Anindita bisa mengabaikan dia seperti ini dan di tambah Melisa yang langsung saja merangkul tangan tuan Antonio dia terus bergelayutan dan memeluk tangan tuan Antonio dengan begitu erat.
"Antonio siapa dia, kenapa kamu terlihat begitu panik saat melihat dia datang kemari, apa dia kekasihmu?" Tanya wanita itu kepada tuan Antonio.
Tuan Antonio yang sudah kecewa dan mendengar ucapan dari Anindita tidak mengakui dirinya, tentu saja dia begitu kesal dan kini dia malah bersikap baik kepada Melisa sengaja ingin membuat dirinya tidak menanggung malu terhadap Anindita, dan untuk memastikan apakah Anindita akan marah dan kesal dengannya atau tidak saat melihat dia benar-benar dengan wanita lain sama seperti apa yang dia ucapkan sebelumnya.
"Tidak ada, dia hanya wanita yang tidak sengaja aku kenal, ayo kita pergi dari sini." Ucap tuan Antonio sambil melewati Anindita dan membawa Melisa pergi dengannya begitu saja
Anindita yang melihat itu dia benar-benar semakin kesal dan saat tuan Antonio sudah keluar dari kantornya barulah Anindita menggerutu dan mengamuk dengan kesal, dia terus berteriak dengan kencang dan menggerutu tanpa henti saat itu sampai diketahui oleh sekretaris Seno yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
"Aarrkkkkk...Antonio sialan, dia benar-benar pria berengsek, manusia menjengkelkan aku ingin menghajar dia dengan kuat aku akan mem*kuli dia nanti awas saja kau Antonio!" Teriak Anindita sangat kencang sekali saat itu.
Sekretaris Seno yang baru saja masuk ke dalam ruangan dia kaget melihat Anindita yang terlihat sangat marah dan sudah berteriak ingin menghajar tuan Antonio saat itu.
"Ya ampun Anindya ada apa denganmu apa kamu baru saja menangis kenapa juga kamu ingin menghajar tuan Antonio, ada apa denganmu? Dan dimana tuan Antonio sekarang?" Tanya sekretaris Seno terus saja bertanya bertubi-tubi kepada Anindita.
Meski saat itu Anindita tidak menangis kencang namun sisa air mata di pipinya masih bisa terlihat jelas oleh sekretaris Seno saat itu makanya Anindita semakin kesal dan dia langsung mengusap kasar sisa air matanya yang malah terus keluar dari pelupuk mata dia, padahal dia sudah berusaha keras untuk menahannya agar tidak jatuh dan membasahi pipinya saat itu.
"Ckk..siapa yang menangis aku sama sekali tidak menangis aku hanya kelilipan dan air mata yang keluar dari mataku ini bukan karena menangis tapi karena mataku perih," balas Anindita sengaja berbohong dan menyangkalnya dengan cepat.
Sekretaris Seno hanya bisa mengerutkan kedua alisnya sendiri saat mendengar jawaban dari Anindita kepadanya yang disertai dengan emosi di wajahnya saat itu.
Dia terlihat kebingungan dalam menghadapi Anindita yang terlihat menyolok dan marah kepada dia disaat dia hanya bertanya saja saat itu.
"Hei..hei..aku kan hanya bertanya biasa saja dong, kenapa kamu terlihat kesal begitu, kau juga belum menjawabku dimana tuan Antoniomu itu sekarang?" Tanya sekretarias Seno lagi kepada Anindita.
Anindita yang sudah sangat kesal dan emosi kepada tuan Antonio dia bahkan tidak ingin membahas atau mendengar namanya lagi dari siapapun saat ini sehingga ketika sekretaris Seno terus menanyakan mengenai dia kepadanya tentu saja Anindita merasa sangat emosi dan kesal terus menerus.
"Tidak tahu, jangan tanyakan manusia sialan itu kepadaku, aku bukan pengasuhnya. Minggir kau!" Ucap Anindita sambil berjalan menyenggol bahu sekretaris Seno cukup kuat saat itu.
"Astaga...kenapa dia malah marah dan menyenggol pundakku begitu, aahhh mana ini sakit lagi, apa jangan-jangan mereka bertengkar ya?" Gerutu sekretaris Seno memikirkannya.
__ADS_1
Sekretaris Seno pun segera menghubungi tuan Antonio dengan ponselnya karena dia yang tidak bisa menemukan keberadaan tuan Antonio di kantornya sendiri saat itu.
Dia terus berusaha menghubungi tuan Antonio berkali-kali namun sayangnya tetap saja tuan Antonio tidak bisa dia hubungi saat itu, sampai membuat sekretaris Seno kesal dengannya dan dia pun memutuskan untuk dirinya yang kembali harus menyelesaikan semua urusan di perusahaan seperti biasanya, ketika tuan Antonio yang selalu tiba-tiba saja menghilang seperti ini tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu.